
"Anda bersedia kan sensei melepas segel ini?" Ujar Matsuyama pada Hamada yang terlihat tak setuju.
Matsuyama adalah tipe pemuda yang sangat acuh terhadap orang lain, baru kali ini ia bahkan rela membahayakan nyawa nya untuk orang lain, ah ini kedua kalinya, pikir Hamada.
"Tapi.." Belum sempat Hamada berujar, seseorang datang menyela.
"Aku menentangnya!!" Ujar seseorang dengan suara lantang. Semua orang berbalik melihat asal suara itu.
"Syimonoseki -kun?" Ujar Hamada tak menduga paruh baya itu akan datang ke rapat.
"Harusnya aku tak pernah membawamu kesini jika yang kau lakukan hanya mengantar nyawa sendiri!" Bentak Syimonoseki pada Matsuyama, iris nya nampak penuh kemurkaan.
"Jadi baru sekarang ayah menyesal?" Ujar Matsuyama dingin.
Syimonoseki terdiam penuh amarah, perasaannya campur aduk, tangannya mengepal hampir melayangkan pukulan ke muka Matsuyama, tapi tak tega.
"Ayah sudah membawaku kesini dari negeri terindah itu, sekarang Ayah harus menerima konsekuensinya! Setiap kekuatan memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi... Dan sekarang sebagai warga negeri ini, ini adalah tugas yang harus ku pikul" Ujar Matsuyama menatap paruh baya itu sendu, dingin.
"Kenapa harus kau? Aku sudah kehilangan istriku dan sekarang putraku satu satunya.." Ujar Syimonoseki pedih, jikalau tak ada yang melihat sudah pasti ia akan meneteskan air mata.
"Karena... Hanya aku yang mampu melakukannya, kalau bukan aku lalu siapa lagi? dan aku akan.. Tidak, aku harus melakukannya!. Sayonara ayah" Ujar Matsuyama melangkah pergi diikuti Hamada yang melangkah dengan berat.
"Tidak! Aku harus melakukan sesuatu, Ya, hanya dia yang bisa menyelamatkan Matsuyama, aku harus mencari dia!" Batin Syimonoseki kemudia bergegas diikuti oleh Taki yang tadi menunggu di luar.
***
Hembusan angin musim dingin menyelimuti jiwa yang luka, Yasmine menatap cakrawala kelabu dihadapannya sendu.
Ia mengingat semuanya...
Setiap detik yang ia habiskan bersama Matsuyama masih segar diingatannya.
Semuanya terasa manis dan juga pahit...
Tidak. Ia tak boleh menyerah, meskipun ia harus menerjang badai terdasyat ia harua tetap melangkah kedepan!
"apapun resikonya aku tetap akan ikut di medan perang! aku akan menjadi perisainya" batin Yasmine yakin.
Ia segera mengambil baju Zirah, pedang, panah dan busur.
Ia segera harus pergi sebelum Souzy menyadarinya.
Dengan tekad dalam hatinya, Yasmine melangkah menuju Yuukine.
"Kau berjanji bahwa kita akan pergi ke Yuukine bersama... Sekarang akan ku susul engkau dan kau akan menyesal telah meninggalkanku seperti ini!!" Ujar Yasmine yang berhasil keluar dari pintu gerbang dan melumpuhkan semua penjaga dengan beberapa jarum beracun pemberian Rin Hye dulu.
"Anastasya -san mari makan dahulu.... Are? Kemana dia? Tadi ada disini? Jangan - jangan... Oh tidak!" Ujar Souzy panik.
***
Yasmine berlari dan terus berlari, menerobos badai salju dan telah acuh pada nasib tubuhnya.
Ia tau dimana Yuukine, karena ia banyak membaca peta dan buku buku sebelumnya, ia sudah membulatkan tekad, jauh jauh hari ia sudah mempersiapkan diri.
Maka dari itu apapun yang terjadi ia tak peduli ia akan terus melangkah, ia harus berada disisi Matsuyama dan berperang bersamanya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia nenyadari kalau ada yang mengikutinya.
Segera ia menarik pedangnya dan berbalik.
Namun sudah terlambat, orang itu sudah berhasil membuat Yasmine tak sadarkan diri dengan jurusnya yang cepat bak kilat.
Yasmine ambruk diatas tumpukan salju, setelah itu yang dia lihat hanya gelap.
"Tidak....Jangan... aku harus..."
***
Di dalam sebuah ruangan yang megah, dengan segala keindahan arsitekturnya dan segala pernak pernik kerajaan.
Yuuki Shira duduk tenang diatas singgasananya.
Seorang pemuda paruh baya yang gagah perkasa, meski wajahnya tak bertambah tua, rambutnya telah menampakkan keletihan. Matanya coklat tajam penuh kebencian, keserakahan telah mengubahnya menjadi orang lain.
Sang kakak penyayang telah membunuh banyak orang, membantai desa dan sekarang demi kekuatan luar biasa dia akan melakukan apa saja.
Tak ada yang bisa menghentikannya!. Siapakah yang bisa menariknya kembali dari jalan kegelapan?.
Shira telah sepenuhnya terjatuh ke dasar palung paling gelap dan tak lagi melihat cahaya ataupun 'Shira' (putih).
Kekuasaan, iri dengki dan dendam telah merenggut semuanya.
Beberapa prajurit bersimpuh dihadapannya dengan rasa takut.
"Apa pasukan sudah siap?" Ujar Shira dingin sembari memainkan gelas Sake (minuman beralkohol khas jepang).
"Sudah yang mulia" jawab mereka serentak.
"Bagus!, sebentar lagi perang akan dimulai!, aku ingin ritualku tak ada halangan dan aku bisa cepat melihat keponakanku tersayang" Ujar Shira dengan seringaian licik, gelas anggur yang ia genggam pecah ditangannya.
__ADS_1
"B-baik yang mulia, laksanakan" Ujar mereka lalu buru buru pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sesuai kesepakatan, jika aku berhasil menguasai negeri ini dan kekuatan kegelapan, akan ku berikan Yume padamu dan kau akan menjadi panglimaku" Ujar Shira pada Koriyama sembari menyeringai licik.
"Baik, pasukan Shiro-ku juga sudah siap berperang" Ujar Koriyama yakin.
Shira melangkah menuju tempat ritual. Sebuah tempat yang terbuka diatasnya sehingga gerhana bulan darah akan langsung mengenainya, dibawahnya adalah lantai dengan simbol rumit dan beberapa lilin merah yang menyala.
Sedangkan beberapa petinggi Yuukine mengelilingi tempat itu untuk membantu Shira dalam ritual kegelapan itu, bahkan udara disana telah terasa mencekam.
"Yang kurang hanyalah darah keturunan Ke tujuh Yuuki, Keponakan tersayangku! Aku harus mendapatkannya sebelum gerhana bulan darah berakhir!" Ujar Shira geram.
"Tenang yang mulia, masih ada banyak waktu sebelum tengah malam, gadis itu pasti akan kita tangkap!" Ujar seorang petinggi.
"Kau boleh saja lolos dari perang itu adik ipar, namun kali ini anakmu akan menebus kesalahanmu HAHAHA!!" Ujar Shira dengan tawa yang menakutkan.
"Bawa Anastasya Yasmine, hidup atau mati" Perintah Shira, Semua pasukan langsung bergegas pergi melaksanakan apa yang dia ucapkan.
***
Sementara itu perang memang sudah dimulai bahkan lebih awal, pasukan Yuukine yang dipimpin oleh Shira memang sangat tangguh, terlebih beberapa prajurit memiliki kekuatan spesial turunan dari bangsanya.
Matsuyama dan pasukannya juga kuat, dengan seluruh ninja dan samurai Sora No Yume, bahkan seluruh Yume dibantu pasukan pemberontak yang mendukung Arya, kini mereka bisa lebih imbang.
Suara pedang berbenturan dimana mana, lesatan anak panah berhujaman bak hujan, api membara di atas salju.
Langit yang seharusnya memuntahkan salju, atas mantra Shira akhirnya langit itu tak menampakkan satupun mendung, hanya awan tipis.
Cakrawala mulai memunculkan semburat keemasan, mentari akan segera kembali ke peraduan.
Matsuyama menepis panah panah yang menuju ke arahnya dengan pedang tajamnya hingga terpotong menjadi beberapa bagian.
Keita menyerangnya dengan katana tajam, Matsuyama dengan cepat mampu menghindar dan menangkis katana itu dengan pedangnya.
Segera ia menyerang balik Keita dengan cepat sehingga membuatnya sedikit kewalahan.
Matsuyama harus memgumpulkan setiap amarah untuk bisa membuka segel dalam dirinya, untuk membangkitkan kekuatan dari dalam dirinya yang mampu membinasakan dan membakar seluruh koloni musuh.
Matanya masih biru, dan segera sebelum banyak korban dari pihak sendiri maka harus berubah merah.
"Kenapa Matsu atas? Sesuatu mengganggumu? Atau kau sudah siap menemui ajalmu lagi?" Ejek Keita, Matsuyama tersenyum remeh.
"Yang akan mati adalah kau!! dan pasukan hitam mu!" Ujar Matsuyama yakin.
***
Yasmine membuka matanya perlahan, berusaha keras ia mengumpulkan segenap kesadarannya.
Cahaya mulai menusuk matanya.
Yasmine mencoba duduk, sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Hime -sama (tuan putri) sudah siuman!! Hime -sama sudah sadar!!!" Ujar seseorang dengan girang di ikuti yang lainnya, riuh suara puluhan orang bergema di dalam goa itu.
"Dimana aku? Dan... Siapa kalian?" Tanya Yasmine gusar segera mencari keberadaan pedangnya.
"Tenanglah tuan putri, sekarang anda ditempat yang aman" ujar seorang pemuda berambut kelabu.
Yasmine tak menggubrisnya dan segera meraih pedang lalu melangkah. Beberapa orang mencoba menahannya dan memeganginya.
"Tunggu tuan putri! Anda mau kemana?" Tanya orang itu.
"Lepaskan aku! Aku harus pergi dari sini!" Ujar Yasmine mencoba melepaskan diri.
"Tidak boleh tuan putri di luar terlalu berbahaya" tahan beberapa orang.
"Lepaskan! Dan berhenti memanggilku tuan putri! Aku bukan seorang putri!!" Bentak Yasmine kesal. Lalu seorang anak kecil ikut memegang ujung jubahnya.
"Tuan putri jangan pergi" ujar gadis kecil itu merengek. Yasmine merasa iba lalu berhenti berontak, ia akhirnya jongkok agar bisa menyamai tinggi anak itu.
"Kenapa adik manis memanggil kakak tuan putri? Kakak ini bukanlah seorang putri sayang" Ujar Yasmine lembut sambil mengelus puncak kepala bocah itu.
"Tapi kata Paduka baik, tuan putri kami memiliki rambut coklat indah seperti daun oak kering, sangat cantik seperti bunga melati dan.. dan euhm... Sangat baik dan lembut seperti.. Seperti apa ya.. Ha iya seperti ibu peri! Dan itu mirip sekali dengan kakak! Apakah Paduka baik berbohong?" Ujar anak kecil itu polos, kulit putih seperti salju serta rambut hitamnya dikepang dua.
"Anastasya Yasmine..." Panggil seorang paruh baya lembut, Yasmine terkejut karena dia mengetahui namanya, segera ia berdiri lalu berbalik dan melihat siapa orang itu. Entah mengapa hanya dengan mendengar suara orang itu, tanpa sadar air mata mengalir dari pipi Yasmine tanpa sebab yang jelas.
"Raja baik!!" Ujar gadis kecil itu girang.
Paruh baya itu mendekati Yasmine, lalu menyentuh pipinya lembut dengan tatapan haru.
Yasmine terdiam bisu, terpaku seakan tak bisa bergerak.
Paruh baya itu langsung memeluknya erat seolah tak ingin kehilangan, pelukan yang begitu hangat dan nyaman, seakan mereka begitu dekat.
"Ayah kira... Ayah tak akan bertemu denganmu lagi.. Ayah sangat senang sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang cantik, kau mirip sekali dengan Ibu mu" Ujar paruh baya itu tak bisa membendung tangis haru nya.
"Ayah?" Gumam Yasmine, Paruh baya itu melepas pelukannya dan menatap Yasmine dengan senyuman dan anggukan.
"Aku adalah Arya Kusuma, Suami Yuuki Liliana, Ayahmu sayang" Ujarnya dengan wajah bahagia dan haru.
Yasmine tak percaya, sosok yang ia cari selama ini ada di tepat didepannya, sosok yang ia rindukan selama dua puluh tahun.
__ADS_1
Ia ingin bercerita banyak hal...
Ia ingin bertanya banyak hal...
Ia ingin memarahinya...
Ia ingin memeluknya...
Namun...
Yasmine menepis tangan Arya kasar, membuat Arya terlonjak kaget, tapi ia maklum jika putrinya akhirnya membecinya.
"Kenapa kau baru muncul setelah dua puluh tahun? Kau pikir dengan meminta maaf bisa mengisi kekosongan masa kanak kanakku tanpamu? Kenapa baru sekarang?" Ujar Yasmine ketus, mencoba menahan sesak dihatinya, tangannya mengepal.
Arya menatapnya sendu, air mata membasahi kerutan di wajahnya.
"Kamu memang benar... Ini salah ayah.. Maafkah Ayah nak... Kau boleh membenciku" Ujar Arya berat penuh penyesalan.
"Bagiku... Aku hanya punya Ibu saja, dan sekarang aku hanya sendirian saja, jadi.. Jangan pernah temui atau cari aku lagi!! Aku mohon!!!" Ujar Yasmine sambil berbalik hendak melangkah.
Semua orang terdiam bisu menyaksikan momen menyakitkan ini tanpa bisa berbuat apa apa.
Anak kecil yang menggelayuti Yasmine menangis ketakutan.
"Tuan putri tidak seperti Ibu peri! tuan putri jahat! " Ujar gadis kecil itu kemudian lari ke pelukan Ibunya.
Maafkan aku ayah...
Aku tahu, Ayah sangat menyayangiku...
Aku tahu bukan maksud ayah meninggalkan kami...
Aku sudah tau semua kebenarannya...
Aku ingin sekali memeluk Ayah dan bercerita banyak sekali...
Aku ingin berbicara denganmu lebih lama...
Aku sangat merindukanmu
Akan tetapi, aku tak bisa membiarkan Ayah dalam bahaya
Aku akan melalui semua ini sendiri...
Aku tak ingin Ayah terluka
Maafkan aku Ayah...
Ini adalah jalan yang ku pilih
Semoga suatu saat kita, Aku, Ibu dan Ayah dapat bertemu lagi...
Meskipun itu bukan di dunia ini
Yasmine melangkah pergi meninggalkan markas rahasia Arya, dengan langkah berat dan sesak di dada. Luka yang lebih sakit dari yang Arya rasakan.
Arya menatapnya dengan wajah sedih dan sendu.
Para pemuda rakyat Arya yang ingin mengejarku, ditahan oleh gelengan sendu Arya.
"Maafkan aku Ayah... Selamat tinggal" Gumam Yasmine sembari berlari dengan air mata yang akhirnya tumpah setelah ia tahan, bersama hujan yang turun, dan berubah menjadi bulir salju seperti biasanya, namun anehnya tiba-tiba salju berhenti seakan ada yang ganjal.
Sejenak Yasmine yang merasa janggal, menatap ke angkasa, namun tak mau berpikir lama lagi ia segera berlari sekuat tenaga.
Dia hanya perlu berlari menuju medan perang untuk membantu Matsuyama.
Namun ditengah jalan tiba-tiba ia dihadang oleh beberapa orang bertudung hitam.
Orang yang sama dengan yang telah merenggut Ibunya selamanya.
Matanya membulat sempurna karena tak percaya, sedangkan tubuhnya bergetar mengingat traumanya karena kejadian itu.
Segera Yasmine mengangkat busurnya dan menarik anak panah, lalu membidiknya siap untuk dilepaskan.
"Siapa kalian?!! Apa mau kalian?!!" Bentak Yasmine geram suaranya serak karena tertekan oleh trauma nya.
Sedang mereka hanya diam dan mendekat dengan santai.
***
TING!!!
Pedang Matsuyama masih beradu berkali kali dengan pedang Keita, sejenak entah mengapa dadanya sesak.
Ia teringat akan wajah sayu itu, wajah gadis yang ia cintai.. Bahkan sampai sekarang ia tak sempat mengucapkan kata itu padanya, bahwa ia benar benar mencintai gadis pikun.
ah benar juga, Yasmine adalah pemicu utama perasaannya yang campur aduk, ia bisa hilang kendali hanya dengan mengingat hal buruk yang pernah menimpa gadis itu, akhirnya dengan segenap tenaga Matsuyama membayangkan apabila rambut Yasmine sempurna memutih dan mati, Seketika nafasnya beradu dan jantungnya berdetak cepat.
"Maafkan aku... Yasmine" batin Matsuyama, matanya mulai berubah merah.
To be Continued.
__ADS_1
~Haru Wo Matteimasu~