
Matsuyama POV.
Kebahagiaan itu seperti nyanyian penghantar tidur, begitu semu dan memabukkan.
Tak seperti diriku yang sekarang, tak seperti yang banyak orang bayangkan. Dulu aku bukanlah samurai legendaris atau semacamnya.
Dahulu sewaktu aku kecil, aku hanyalah anak biasa bahkan dulu aku adalah orang yang lemah.
Aku selalu terluka, karena berkelahi atau jatuh, sehingga ibu selalu marah dan khawatir.
Tapi ibu benci kekerasan, ibu melarang ayah memasukkan ku belajar aikido atau semacamnya.
Aku juga tak pandai menjaga apapun, itulah sebabnya aku tak ingin memiliki apapun jika harus kehilangan.
Hidupku terasa hampa, tidak ada kawan yang tulus berkawan denganku, hanya karena aku keturunan klan matsu ras atas atau karena wajahku yang tampan.
Hingga suatu hari saat baru menginjak kelas 3 SD, aku meminta ayah untuk pindah ke Indonesia, negeri dengan orang yang ramah, ibu berharap agar aku bisa menemukan teman yang dapat membuat ku bisa mengekspresikan perasaan sendiri. Karena aku jarang bicara, dingin, jarang tertawa, bahkan aku tak pernah menangis.
Hingga aku bertemu dengannya, gadis berambut coklat yang ceria yang mampu mewarnai hidupku yang hitam putih. Saat itu flamboyan berguguran, setelah turun dari kereta aku melihat seorang gadis yang tengah menolong seekor kucing yang kelaparan di stasiun. Untuk pertama kalinya aku tertarik untuk mengenal seseorang, dan ingin berkawan dengannya.
Tapi dulu aku terlalu naif, berpikir dengan melindungi nya aku bisa terus bersamanya, setelah ibu tiada akhirnya ayah memaksaku untuk kembali ke Jepang dengan alasan agar aku bisa lebih kuat dari siapapun.
Setelah kehilangan ibu, akupun memutuskan untuk tidak ingin berusaha memiliki sesuatu yang akan membuatku kehilangan, itulah alasan mengapa aku menjauhinya, aku tak ingin kehilangan dia.
***
Yasmine POV.
Aku dimana?
Rasanya seperti aku berada di tempat yang asing....
Matsuyama?....
Matsuyama!!!!
Kamu dimana?
Kenapa disini begitu terang?
Kenapa disini begitu sunyi?
Matsuyama....
Apakah kita akan bertemu lagi?
Aku merindukan mu....
***
Normal POV.
Matsuyama tidak menemukan Yasmine di kamarnya, dia sudah berangkat pagi sekali.
"Sial!!! Kalau bukan rapat bersama petinggi desa sampai larut, aku takkan kesiangan!" umpatnya kesal.
Meski tak tau kemana Yasmine pergi, Matsuyama memutuskan untuk mencarinya meski entah kemana.
Ia meloncat dari pohon ke pohon layaknya ninja pada umumnya, disisir seluruh Yume bahkan ke hutan juga tak ia temukan.
"Sebenarnya kemana pergi nya gadis pikun itu?! " gerutunya kesal.
"Kekuatan langka seperti yang Ana san miliki, pasti banyak yang mengincarnya. Jika jatuh ke tangan yang salqh maka akan berbahaya, dan jika kekuatan nya di rebut paksa darinya maka dia akan.... Tiada" ujar Hamada waktu itu.
Huhhh Matsuyama yang bodoh, bukannya fokus mencari ia malah berpikir macam-macam. Ke ujung duniapun Matsuyama akan mencarinya, apapun yang terjadi. Ia yakin Yasmine pasti baik baik saja.
Senja akhirnya melenggang, burung burung sudah kembali ke sarang, mentari pula pulang ke peraduan, akhirnya Matsuyama memutuskan untuk pulang sejenak ke padepokan untuk sekedar mengecek apakah gadis itu sudah kembali.
Setelah melangkahkan kaki masuk padepokan, ia terkejut.
Seseorang yang Ia cari ternyata tengah berbincang dengan Xin Lie.
"Ya- chan!! Kemana saja kau seharian ini aku khawatir tau! Katanya kau pergi tanpa permisi" oceh Xin lie.
"Ahh... Daijobou. Aku baik baik aja kok" ujar Yasmine datar.
Tapi entah mengapa ada yang berbeda dari gadis itu, entahlah Matsuyama merasa ada yang berbeda darinya.
"Ehh dari tadi Matsu san mencarimu lho, itu dia orangnya. Aku pergi dulu ya" bisik Xin lie lalu melangkah pergi.
Yasmine melangkah mendekati Matsuyama,
"Kenapa saja kau!! Kau sengaja membuatku mencarimu ya!!" ujar Matsuyama geram.
"Kenapa? Kau kangen ya?" ujar Yasmine sambil membelai pipi Matsuyama. Sontak pipi Matsuyama langsung merah padam.
"Ap... Apa apaan kau ini?!" ujar Matsuyama lalu melangkah mundur.
"Kenapa? Bukankah kita saling menyukai? Kenapa malu malu begitu?" ujar Yasmine datar. Tak seperti biasanya gadis itu nampak agresif dan... Ada yang aneh dari cara bicara dan tatapan matanya.
"aku..." Matsuyama merona pipi, ia bingung mau mengatakan apa.
"Hihihi... Baiklah sampai besok, aku mau tidur. Atau kau mau tidur bersamaku?" ujar Yasmine dengan kerlingan nakal.
" k..kau sudah hilang akal ya?!! " ujar Matsuyama salah tingkah.
Yasmine tekekeh kecil lalu melangkah pergi.
"Ada yang aneh dengan gadis itu... Seperti orang asing" batin Matsuyama sambil memandangi punggung gadis itu yang mulai menjauh.
Esoknya, Yasmine semakin menggila, semua orang membicarakan nya, terutama para pemuda yang terpesona dengan penampilan barunya.
" wahhh ternyata anastasya san cantik dan seksi juga ya" begitulah bisik para pemuda.
Matsuyama mengamati gadis itu dengan kerutan di keningnya.
Berbeda dengan yasmine yang selalu berpakaian tertutup, kalem meski ceria dan selalu memakai syal merah pemberian nya.
Yasmine yang ini....
Berpakaian minim, dan tak lagi mengenakan syal merah pemberian nya, dan juga.... Agak agresif dan centil.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu?.
****
Matsuyama memutuskan untuk menjernihkan pikirannya dengan berdiam di bawah pohon sakura seperti kebiasaannya.
Namun saat hendak ke tempat spesialnya, ia melihat Yasmine bersama laki laki lain. Pemuda itu akan menciumnya. Segera Matsuyama menghampiri dan langsung menonjok pemuda itu.
"Dasar lelaki bang*t!!!!" umpatnya kesal sambil menonjok pemuda itu, pemuda itu langsung lari ketakutan.
"Yahhh... Jadi kabur kan?! Kau sih!" ujar Yasmine tetlihat kecewa. Sontak Matsuyama membelalak.
Tidak.
Dia bukan Yasmine.
Siapa dia?.
Matsuyama menarik pedangnya lalu mengacungkannya ke leher Yasmine.
"Siapa kau?!! Jawab!!! Dimana Yasmine?!! Atau ku tebas lehermu!!" ujar Matsuyama dingin.
"Apa karena kau cemburu jadi ingin membunuhku? Aku adalah Yasmine yang kau cintai"ujar gadis itu sambil memegang pedang Matsuyama.
"DIAM!!!!! Kau hanya wanita j*lang!!! Cepat beritau dimana Yasmine!! Kau ingin mati?!!! Aku sangat mengenal Yasmine! Dia tak akan pernah mungkin mau disentuh oleh lelaki manapun selain aku, dan bahkan aku tak pernah menyentuhnya!!!" bentak Matsuyama, gadis itu tersenyum licik.
"Hahaha.... Jadi sudah ketahuan ya? Padahal aku ingin bermain lebih lama lagi" ujar gadis itu kemudian melangkah mendekati Matsuyama.
"Kau melangkah satu langkah lagi maka lehermu akan lepas!!" ancam Matsuyama.
Gadis itu masih melangkah mendekat, Matsuyama sudah bersiap dengan pedangnya.
Gadis itu kemudian melewati Matsuyama dan berdiri membelakanginya.
"Gadis payah itu....kau mau tau dimana? Dia berada di tempat yang sangat jauh" ujar gadis itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!! Dimana Yasmine?!!!!" ujar Matsuyama mulai murka.
"Dia sudah........... Mati!". Bisik gadis itu.
Mata Matsuyama membelalak.
Mustahil.
Ini tak mungkin.
Ini pasti bohong.
"*Pasti ada saat dimana kau tak bisa melindungiku lagi....
Aku bisa saja menghilang
seperti kembang api*" ujar Yasmine sambil memandang cakrawala, Matsuyama duduk disamping nya.
"Matsuyama.... Aku mencintai mu! Aku tak akan pernah menyerah padamu! Aku akan menjadi simfonimu!!".
Kebahagiaan itu seperti nyanyian penghantar tidur....
Begitu semu dan memabukkan...
Namun aku tak bisa tidur tanpa lullaby...
Seperti dirimu, aku tak bisa tidur tanpa mengingat wajahmu...
Namun seperti lagu penghantar tidur juga... Kau menghilang saat aku terbangun dari mimpiku....
Dasar gadis pikun!
Seberapa pikunnya dirimu hingga lupa jalan untuk pulang?!
***
Yasmine mulai masuk lebih dalam, hutan yang tak berujung mulai membuatnya gusar.
Setelah lama melangkah akhirnya ia menemukan sebuah bangunan tua, ia yakin bahwa itu adalah markas shiro.
"Hei gadis ceroboh! Sudah kubilang, kekuatan mu adalah kekuatan langka! Banyak yang menginginkannya! Jika kekuatan itu diambil paksa darimu maka kau akan mati! Jadi berhati-hati lah" ujar Matsuyama memenuhi pikiran nya.
Maaf Matsuyama...
Aku harus menemukan jati diriku
Aku tidak takut bila harus mati
Tapi bila aku mati...
Kau akan tetap mengingatku kan?
Yasmine berdiri didepan bangunan usang yang nampak menyeramkan. Banyak kelelawar berterbangan layaknya itu adalah sarangnya, angin sepoi sepoi yang menggugurkan dedaunan menambah aroma singup bangunan itu.
Di depan bangunan itu terdapat banyak penjaga bertopeng dan berjubah hitam.
"Akhirnya kau datang juga! Kukira kau tak kan berani datang" ujar seorang pemuda bermata coklat yang dipanggil kakak oleh Yasmine.
"Aku harus datang" ujar Yasmine sambil memegangi syalnya karena gemetar.
"Ayo, masuk! " ajak pemuda itu.
"Tidak bisa disini saja! Aku ingin kau mengatakannya disini!" ujar Yasmine enggan masuk.
"Sayangnya bukan kau yang mengatur disini!" Ujar pemuda itu berubah raut wajahnya. Pemuda itu memberi kode pada para penjaga, penjaga itu kemudian memegangi tangan Yasmine dan menyeretnya masuk.
"Lepaskan aku! " ronta Yasmine, ia tak
cukup kuat untuk melawan dua lelaki kekar. Ia hendak menggunakan kekuatan nya, kekuatan yang bisa membekukan orang.
"Jika kau menggunakan kekuatan mu maka kau tak akan pernah bisa melihat pemuda bermata biru itu lagi! Aku akan menghabisinya!" ujar pemuda itu seakan tau apa yang akan yasmine lakukan.
"Matsuyama tak akan kalah dari orang seperti mu! Aku membencimu! Kau bukan Tanaka Aji yang kukenal kau bukan kakak yang kukenal!" ujar Yasmine dengan muka merah padam.
"Semua orang berubah seperti musim! Kau hanya terlalu naif Yasmine!". Ujarnya sambil mencengkram dagu Yasmine. hingga membuatnya meringis.
"Dan tentu saja aku bisa membunuh Matsuyama, seperti aku membunuh... Ibu" tambahnya dan sungguh membuat Yasmine hilang akal, ia tak bisa mencerna apa yang baru pemuda itu ucapkan.
Itu mustahil.
"Dan sekarang... Giliran mu adik kecil" ujar pemuda itu sambil menyeringai licik.
Beberapa pemuda berbadan kekar menyeretnya seakan dia adalah tahanan.
Shiro tau kelemahan Yasmine.
Ya itu adalah Matsuyama, akan tetapi Matsuyama adalah kekuatannya juga.
Tidak. Ia tidak boleh menyerah sekarang.
Yasmine memfokuskan pikiran.
Sratt
Jreb jreb!!
Ia berhasil menumbangkan beberapa orang Shiro dengan kunai es nya.
Ia memang ingin mengetahui jati dirinya, tapi ia tak ingin mati sekarang. Kakaknya sendiri telah menghianatinya, ia tak bisa menerima takdir itu, terlalu tiba tiba dan sangat memilukan.
"Jika kau menyerang lagi, maka dia akan mati!" Ujar Aji dengan membawa seorang pemuda yang telah babak belur dan membiru wajahnya. Yasmine membelalak, membisu seketika.
"Matsuyama..." Air matanya menetes memanggil nama pemuda yang sudah tak berdaya itu.
"Aku mohon... Lepaskan dia! Aku kan yang kalian mau? Maka tangkap aku saja! Dia tak ad a hubungannya dengan ini!" Pinta Yasmine tak kuasa melihat pemuda yang ia cintai terluka.
"Jangan...Yasmine... Aku terlalu baik dan sempurna untuk diriku yang hina..." Rintih pemuda itu.
Yasmine hanya menatap pemuda itu dengan senyuman palsu.
"Aku selalu melindungiku, kini giliranku untuk melindungimu..." Ujar Yasmine sendu.
"Seret dia ke ruang penyegelan! Setelah ini kita akan memiliki kekuatan langka itu!" Ujar Aji sambil tertawa licik. Yasmine menatap nya nanar, ia benar benar belum bisa percaya bahwa dia adalah kakaknya.
Kakaknya Aji yang ia kenal adalah orang yang periang sepertinya, pintar, pengertian, humoris, dan baik hati,
Kebalikan dari apa yang ia lihat saat ini, bahkan mata tajam itu seakan dia adalah orang yang berbeda.
"Mulai ritualnya!" perintah pemuda berambut merah, sedang Aji berdiri disampingnya.
Yasmine secara paksa didudukkan disebuah kursi yang berada ditengah lingkaran mantra.
Tangannya diikat kebelakang dan lima orang bertopeng mengelilinginya.
Setelah para pria bertopeng itu membaca mantra, keluar cahaya biru dari tubuh Yasmine yang seakan mengalir ke dalam sebuah prasasti raksasa.
Rasanya seperti ditusuk ribuan pedang.
Sakit sekali.
Yasmine menjerit pilu.
Apakah inilah akhir dari kisahku?
Kisah yang tak lengkap
Kisah rumpang yang memilukan
padahal masih banyak anganku
Masih jauh mimpiku
Bahkan aku belum melihat musim semi yang sesungguhnya...

Aku dimana?
Rasanya seperti aku berada di tempat yang asing....
Matsuyama?....
__ADS_1
Matsuyama!!!!
Kamu dimana?
Kenapa disini begitu terang?
Kenapa disini begitu sunyi?
"Kerja bagus" ujar pemuda berambut merah itu.
"sekarang tinggal apa yang harus kita katakan pada 'dia' jika menanyakan gadis itu" Ujar Aji.
"Itu salah nya sendiri menyembunyikan sesuatu yang berharga dari Shiro, tinggal bilang saja bahwa kita menemukan harta karun dan tak tau siapa pemiliknya" ujar pemuda berambut merah itu sambil tersenyum licik.
"Koriyama memang ketua yang piawai" ujar Aji lalu melangkah keluar ruangan.
"Kau tak mau melihat pemandangan bagus ini?" tanya Koriyama melihat Aji beranjak pergi.
"Banyak hal yang harus aku lakukan, pemuda bermata biru itu pasti tak akan tinggal diam" ujarnya sambil lalu.
Pemuda yang dipanggil Aji itu kemudian keluar dari bangunan itu dengan wajah yang berbeda dari tadi. Sedangkan pemuda bermata biru yang lebam biru wajahnya tiba tiba menghilang seperti asap.
***
"Dia sudah........... Mati!". Bisik gadis itu.
Mata Matsuyama membelalak.
Mustahil.
Ini tak mungkin.
Ini pasti bohong.
"Lihat saja, aku tak akan membiarkan kematian mu menjadi mudah!" ujar Matsuyama dengan wajah merah padam. "Sejak dulu aku sudah menduga, menghilangnya kau dari padepokan pasti ada sangkut pautnya dengan shiro" tambah Matsuyama dengan tatapan tajam.
Gadis yang mirip Yasmine itu agak terkejut dengan semua dugaan Matsuyama yang memang benar adanya, tapi dia sudah menduga, bukan Samurai Api beku Legendaris namanya kalau tidak jenius.
"Kau kasar sekali... padahal kau sangat menawan... Akh..." pekik gadis itu setelah tangannya Mengeluarkan cairan merah tersayat pedang karena hendak mengelus pipi Matsuyama.
"Kau sudah kuperingatkan! Elizabeth himeyi" ujar Matsuyama tanpa rasa bersalah, bahkan ia murka.
"Sekarang katakan saja dimana shiro menyembunyikan Yasmine!" bentak Matsuyama geram.
"Kami sudah menjebak gadis itu, dia tak akan selamat, dan itu semua berkat kau!" ujar Elize
"Sekarang aku tahu dia ada dimana" ujar Matsuyama lalu berlari pergi.
"Kau mungkin bisa menemukan nya, tapi apa bisa dia selamat? Kau adalah kelemahan gadis itu!" gumam Elize sambil berubah ke wujud aslinya.
***
Matsuyama berlari sangat kencang, menebus hutan yang lebat.
"Aku memang kelemahan mu, tapi aku juga kekuatan mu! hei gadis pikun!! Sadar lah! kuatlah! gadis pikunn!!!!" teriak Matsuyama.
Yasmine tiba-tiba membuka matanya,
Seakan mendengar sesuatu.
"Matsuyama..."
To be continued
*Goodbye, goodbye, goodbye my love
Selamat tinggal, selamat tinggal, selamat tinggal cintaku
I can't hide, can't hide, can't hide what has come
Aku tak bisa sembunyi, tak bisa sembunyi, tak bisa sembunyi dari apa yang telah datang
I have to go
Aku harus pergi
I have to go
Aku harus pergi
I have to go
Aku harus pergi
And leave you alone
Dan meninggalkanmu sendiri
But always know
Tapi ketahuilah selalu
Always know
Ketahuilah selalu
Always know that I love you so
Ketahuilah selalu bahwa aku sangat mencintaimu
Goodbye sunshine
Selamat tinggal matahari
Take care of yourself
Jagalah dirimu
La lullaby
Nina bobo
Distract me with your rhymes
Alihkan perhatianku dengan sajak-sajakmu
La lullaby
Nina bobo
La lullaby
Nina bobo
Help me sleep tonight
Bantu aku tidur malam ini
La lullaby
Nina bobo
(La lullaby, la lullaby)
(Nina bobo, nina bobo)
I have to go (goodbye)
Aku harus pergi (selamat tinggal)
Ost.Avril lavigne - goodbye*
**To be continued.
Haru Wo Matteimasu
Thanks for reading! 😉😊
Please leave vote and comment...
Wait for next part
@khansasweet7**
__ADS_1