Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)

Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)
Episode 25 : Air mata yang tertinggal


__ADS_3

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang membuat tubuh tertusuk dinginnya salju, Matsuyama dan pasukan Sora No Yume sampai di Yuukine.


Disana mereka langsung disambut oleh beberapa orang bertudung, salah satu nya adalah utusan yang mengirim pesan permintaan bantuan ke Sora No Yume dan sempat diculik dulu.


"Selamat datang di Yuukine, perkenalkan saya Kanade Ryouta, sebelumnya terima kasih telah menyelamatkan saya dan sudah mau ikut berperang membantu kami" Ujar utusan itu, Matsuyama mengangguk.


"Mari ikut kami, kami akan memperkenalkan kalian pada pimpinan kami dan menunjukan markas rahasia kami" ujar Ryouta, Matsuyama dan lainya pun mengikuti mereka memasuki lingkungan yang asing, dan sangat tersembunyi dibawah sebuah goa yang kokoh, didalamnya ternyata lumayan lapang dan terang oleh letera, semacam goa buatan yang memungkinkan untuk ditinggali.


Setelah mereka masuk, semua penghuni goa memandang mereka segan dan membungkuk hormat. Ditengah mereka duduklah seorang paruh baya dengan wajah teduh dan terlihat berkuasa.


"Perkenalkan beliau adalah yang mulia Arya Kusuma, suami dari Ratu Yuuki Liliana" ujar Ryouta memperkenalkan.


Matsuyama dan kawan membungkuk hormat.


"Selamat datang, dan terima kasih atas kesediaan kalian membantu kami" ujar Arya sahaja.


"Mencegah kehancuran dan menyelamatkan negeri adalah kewajiban kami juga" Ujar Matsuyama.


"Apakah anda adalah ayah dari Anastasya Yasmine?" Tanya Matsuyama tiba-tiba, Arya membelalak, dan segera beranjak menghampiri Matsuyama.


"Jadi kau mengenalnya? Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja Apakah dia sehat?" ujar Arya penasaran dan antusias semua mata tertuju pada matsuyama, semua mata terbelalak kaget terutama kawan Yasmine di Sora No Yume.


" jadi Yasmine adalah Putri dari Ratu Yuukine? Pantas saja dia memiliki kekuatan es yang langka" bisik Kanazawa pada Okayama.


"Tenang saja, Dia baik baik saja. Saya ingin setelah perang usai anda segera menemuinya, dia datang jauh dari Indonesia untuk mencari anda" Ujar Matsuyama.


" terima kasih nak, namun kau siapa?" Tanya Arya penasaran akan hubungan mereka.


"Aku hanya... Temannya" Ujar Matsuyama sembari tersenyum terpaksa, senyuman yang getir .


"Terima kasih sudah menjadi teman putriku!" Ujar Arya senang, Matsuyama mengangguk.


"aku sudah menemukan ayahmu, setelah ini aku harap kalian dapat bertemu dan hidup bahagia" batin Matsuyama.


***


"Apakah dengan mudahnya kau melupakan semua kenangan itu? Apakah rasa itu sudah pudar secepat itu?" Ujar Yasmine sembari menatap cakrawala yang memuntahkan bulir salju.


Salju turun kian lebat, ia tak menghiraukan betapa dingin menusuk sampai ke tulang, jika terus berada disana maka akan berdampak buruk.


"Dasar Matsuyama payah, dia bersama yang lain pergi ke Yuukine sedang aku dan Anastasya san ditinggal disini! Dan lihat ditengah hujan salju yang lebat gadis itu malah duduk disana! Tak kan ada bedanya kalau begini caranya tanpa Matsuyama dia juga akan mati kena hypothermia" ujar Souzy kesal, sudah lelah membujuk gadis itu untuk masuk.


Pandangan Yasmine mulai kabur, tiba-tiba semua menjadi buram dan... Gelap.


Brukkk.


Yasmine terjatuh tak sadarkan diri diatas hamparan salju nan membekukan.


"Anastasya -san! " Teriak Souzy panik sekaligus terkejut, segera ia hendak menolong dan menghampiri gadis itu, namun tiba-tiba seseorang menahan bahunya.


"Biar aku saja" ujar pemuda itu,


"Matsuyama? Kau belum berangkat?" Ujar Souzy terkejut ternyata pemuda itu masih disini,


"Aku mampir untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku pergi selamanya aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu, tak ku sangka dia begitu cengeng" Ujar Matsuyama melangkah menghampiri Yasmine, kemudian menggendongnya.


"Apakah kau harus mengorbankan dirimu? Apa tidak ada cara lain?" Ujar Souzy sedih, Matsuyama tersenyum.


"harus ada yang berkorban demi kedamaian dan musim semi, tolong jaga gadis pikun ini untukku ya?" Ujarnya lembut, Souzy mengangguk sedih.


Matsuyama sembari menggendong Yasmine ia mulai melangkah, namun terhenti sejenak.


" Souzy! " Panggil Matsuyama yang akhirnya memanggil namanya dengan benar, Souzy menoleh.


"Hai'?".


"Domo Arigatou, terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, terima kasih sudah merawat Yasmine, terima kasih sudah menyelamatkan hidupku... Jika aku bisa aku ingin membalasnya, kau orang yang benar benar baik semoga kau dapat menemukan musim semi ( kebahagiaan) setelah ini" Ujar Matsuyama tulus sembari tersenyum.


"Kau bukan tipe pemuda yang akan mengucapkan hal drama seperti itu kan? Kau ini!! Huhhh... Kau tak usah memikirkan kebaikanku, karena kita adalah Sahabat kan?" Ujar Souzy sembari meneteskan air mata.


"Dasar lelaki cengeng! Hapus air matamu! Jika ada gadis yang melihat maka kau akan perjaka selamanya" Ujar Matsuyama sembari melangkah segera.


"Apa kau bilang??!!! Awas saja ya aku akan...huhhh" Souzy tersenyum masam menatap punggung Matsuyama yang semakin menjauh.


"Sayonara.. Kawan, aku akan selalu " .


"Andai aku bisa setidaknya berguna dan bisa melakukan sesuatu" Ujar Souzy sambil memukul tembok dengan keras hingga punggung tangannya berdarah.


***


Matsuyama membaringkan Yasmine pelan pelan diatas kasur ruang medis, menatapnya sendu, sembari ia elus puncak kepala Yasmine yang tengah terlelap.


Dengan sigap ia menyelimuti Yasmine dengan selimut tebal dan menyalakan perapian agar rasa dingin Yasmine hilang.


Kemudian ia mengecup lembut dahi Yasmine.


"Maafkan aku yang selalu mengingkari Janjiku, maaf karena selalu melukaimu, setelah ini aku tak akan bisa melindungimu lagi, maafkan aku.. Selamat tinggal" Ujar Matsuyama sendu, kemudian pergi lewat jendela.


Yasmine membuka matanya, air mata mengucur deras dari matanya, ia menangis sesenggukan.


"Berhenti, hentikanlah, jangan terlalu baik padaku


Kucoba mengerti tapi aku tak bisa hiks...hiks.. Rasanya sakit, sakit, Aku tidak tahu ada apa, jangan tinggalkan aku sendiri... Matsuyama.." Yasmine menggenggam erat kalung pemberian ibunya sembari terus mengangis.


" Kau jahat! aku lebih suka jika

__ADS_1


Kau menghancurkan dan merobek tubuhku, memperlakukannya sesukamu


Meskipun aku berteriak, bergelut, dan mataku bengkak


Kau tetap memeluk dan tak melepasku selalu melidungiku dari jauh.. Selagi kau menyakitiku seperti ini... Hiks..


Sudah cukup! Hentikan! Matsuyama...!!!" Yasmine tak bisa menghentikan tangisnya, ia ingin mengakhiri drama ini tapi bagaimana caranya?.


Dia tak ingin kehilangan Matsuyama, ia juga ingin berperang, ia ingin berada di garis depan!.


*Flashback


" mungkin memang benar, klan Matsu atas seharusnya bersanding dengan sesamanya, dan kau hanyalah gadis lemah! Jadi lebih baik jika kau melupakan perasaanmu padaku dan kembali ke Indonesia, carilah pria baik yang menerimamu apa adanya, Tapi tenang saja aku tetap akan menepati janjiku, aku akan mencari ayahmu" Ujar Matsuyama dingin.


" kau pasti bercanda... Hiks... Tidak mungkin! Kenapa tiba tiba? Aku pikir kita sudah mulai saling mencintai.." Ujar Yasmine di sela tangisnya.


"Kau salah paham! Selama ini aku hanya... Menganggapmu sebagai teman masa kecil" ujar Matsuyama cukup melukai hati.


"Lupakan aku! Kau akan baik baik saja tanpaku!" Lanjut Matsuyama dingin.


"Aku harap aku bisa... Tapi aku tidak bisa... " batin Yasmine, air matanya terus mengalir. Matsuyama menatapnya sendu.


Yasmine melepaskan syal pemberian Matsuyama lalu mengenakannya pada leher Matsuyama.


"Aku sudah berjanji untuk tidak melepaskan syal ini kecuali aku mati, namun bagiku hatiku sudah mati sekarang" Ujar Yasmine pilu.


"Maaf karena aku adalah gadis lemah... Andai saja aku hanyalah Anna dan kau hanyalah Rama.. Hiks.." Yasmine berusaha untuk berhenti menangis,


Kemudian tanpa kata Matsuyama melangkah pergi meninggalkan Yasmine sendirian dibawah hujan salju.


"Maafkan aku Yasmine, aku harus melukai hatimu sekali lagi" gumamnya sembari menghela nafas berat.


Namun tiba-tiba Matsuyama menarik pedangnya dan memasang raut siaga, rupanya ada orang tak diundang yang datang entah darimana.


"Jadi caramu melindungi seseorang yang kau cintai ialah dengan menyakiti dan meninggalkan nya?" Ujar orang itu.


"Kenapa aku harus mendengar ocehan dari kakak yang telah meninggalkan adiknya yang masih berumur sepuluh tahun sendirian?" Ujar Matsuyama mengetahui siapa sosok itu.


"Aku tak heran seorang samurai legendaris sepertimu mudah tau siapa aku" Ujar pemuda berambut coklat itu.


"Siapa yang tak tau Tanaka Aji, anggota Shiro dan seorang kakak dari Anastasya Yasmine? Dari rambutmu saja aku sudah tau kalian mirip" Ujar Matsuyama datar.


"Aku tidak menyalahkanmu, karena aku juga melakukan hal yang sama. Aku meninggalkan Yasmine demi untuk keselamatannya, alasan aku masuk di Shiro juga agar aku bisa mencari tau Yuukine yang sekarang karena Shiro bisa berdiri atas bantuan Shira raja terkutuk itu" Ujar Tanaka dengan raut sendu.


Matsuyama cukup tercengang dengan kebenaran tak terduga yang baru ia ketahui,


" lalu apa alasanmu memberitahu rahasiamu padaku? Ada maksud lain bukan?".


"Seperti biasa Samurai legendaris memang cerdas, kau benar ada alasannya. Setelah tau perbuatan Shiro yang mengkhianatiku dengan menculik dan merampas paksa keluatan Yasmine, aku sudah tak tahan lagi, apalagi sekarang mereka akan berperang demi keberhasilan Shira dalam ritual terkutuk itu. Jadi aku harap kau bisa mencegah Yasmine agar mereka tak menangkapnya, karena Yasmine adalah bangsa sekaligus putri Yuuki yang sah maka Shira pasti menginginkan nyawanya" Ujar Tanaka nampak risau.


"Namun dengan kekuatan dan pengaruh Shira sekarang, seluruh Ninja ataupun Samurai Sora No Yume di tambah pasukan ayahku tetap saja peluang kita untuk menang kecil" Ujar Tanaka menghela nafas panjang.


"Ada satu cara, dengan menggunakan kekuatanku secara  penuh, kekuatan terlarang yang di wariskan klan ku" Ujar Matsuyama sembari menatap Cakrawala.


"Karena terlarang pasti ada resikonya, iya kan?" Ujar Tanaka ingin tau dampaknya.


"Kau benar. Karena kekuatan itu besar dan berbahaya resikonya aku bisa saja hilang kendali atas diriku dan jika itu terjadi karena aku darah campuran maka tubuh ini bisa saja tak mampu menahannya dan terbakar oleh kekuatanku sendiri" Ujar Matsuyama sembari memejamkan mata.


"Artinya nyawa orang disekitarmu dan Dirimu sendiri taruhannya?" Ujar Tanaka meyakinkan, Matsuyama mengangguk.


"Kau yakin akan melakukan itu?" Tanya Tanaka.


" kekuatan yang besar nenyimpan tanggung jawab yang besar pula" ujar Matsuyama kemudian mulai melangkah.


"Jika kau mati, lalu bagaimana dengan adikku?" Ujar Tanaka ragu.


"Dia akan baik baik saja tanpaku, karena dia... Gadis yang kuat" ujar Matsuyama sebelum benar benar  melangkah pergi.


***


Semilir angin menerobos masuk melalui tirai jendela, salju dingin bulan Desember memberi kesan buruk bagi hati.


Matsuyama sengaja mengumpulkan anggota tim tanpa Yasmine ketahui, lebih tepatnya sengaja menyembunyikannya dari Yasmine.


"Aku sengaja menyuruh kalian kesini, ini tentang misi penting kita di Yuukine, misi ini juga sangat berat dan berbahaya" Ujar Matsuyama tak mau berbasa basi.


"Tapi ketua! Ada yang kurang, Yasmine belum datang" Ujar Rin hye celingak celinguk menamati ada anggota yang kurang.


"Dia tak akan ikut, kekuatan es nya pastilah menjadi incaran Shira dan lagi keadaanya tak memungkinkan untuk ikut berperang" Terang Matsuyama, semua mengangguk mengerti.


Matsuyama menjelaskan rencananya secara detail kepada seluruh ninja yang akan ikut berperang, bahwa sebelum Matsuyama berhasil membuka segel kekuatannya maka mereka akan berperang semampu mereka, lalu setelah Matsuyama berhasil melepas segel kekuatannya maka seluruh pasukan akan berusaha untuk menghindar darinya dan pergi menggagalkan ritual Shira selagi Matsuyama berperang.


"Anda bersedia kan sensei melepas segel ini?" Ujar Matsuyama pada Hamada yang terlihat tak setuju.


"Tapi.." Belum sempat Hamada berujar, seseorang datang menyela.


"Aku menentangnya!!"


To be Continued.


Gumi ~ Kokoronashi (tak berhati)


Nee, moshimo subete nagesuteraretara


Waratte ikiru koto ga raku ni naru no?

__ADS_1


Mata mune ga itaku naru kara


Mou nani mo iwanai de yo


Hei, jika kutinggalkan semuanya


Apakah hidup dan tertawa jadi lebih mudah?


Karena dadaku sakit lagi


Jangan katakan apapun lagi padaku


Nee, moshimo subete wasurerareta nara


Nakanai de ikiru koto mo raku ni naru no?


Demo sonna koto dekinai kara


Mou nani mo misenai de yo


Hei, jika kulupakan semuanya


Apakah hidup tanpa menangis jadi lebih mudah?


Tapi aku tak bisa melakukannya


Jangan tunjukkan apapun lagi padaku


Kimi ni dore dake chikazuite mo


Boku no shinzou wa hitotsu dake


Mau seberapa dekat aku padamu


Hatiku hanya ada satu


Hidoi yo hidoi yo, mou isso boku no karada wo


Kowashite hikisaite suki na you ni shite yo


Sakende mogaite mabuta wo harashite mo


Mada kimi wa boku no koto wo dakishimete hanasanai


Mou ii yo


Dan kau jahat, buruk, aku lebih suka jika


Kau menghancurkan dan merobek tubuhku, memperlakukannya sesukamu


Meskipun aku berteriak, bergelut, dan mataku bengkak


Kau tetap memeluk dan tak melepasku


Sudah cukupde


Yamete yo yamete yo, yasashiku shinai de yo


Doushite mo boku ni wa rikai ga dekinai yo


Itai yo itai yo, kotoba de oshiete yo


Konna no shiranai yo hitori ni shinai de


Berhenti, hentikanlah, jangan terlalu baik padaku


Kucoba mengerti tapi aku tak bisa


Rasanya sakit, sakit, ajari aku dengan kata-katamu


Aku tidak tahu ada apa, jangan tinggalkan aku sendiri


Hidoi yo hidoi yo, mou isso boku no karada wo


Kowashite hikisaite suki na you ni shite yo


Sakende mogaite mabuta wo harashite mo


Mada kimi wa boku no koto wo dakishimete hanasanai


Mou ii yo


Dan kau jahat, buruk, aku lebih suka jika


Kau menghancurkan dan merobek tubuhku, memperlakukannya sesukamu


Meskipun aku berteriak, bergelut, dan mataku bengkak


Kau tetap memeluk dan tak melepasku


Sudah cukup



Haru Wo Matteimasu

__ADS_1


__ADS_2