Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)

Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)
Episode 27 : Yuuki to Haru (salju dan semi)


__ADS_3

TING!!!


Pedang Matsuyama masih beradu berkali kali dengan pedang Keita, sejenak entah mengapa dadanya sesak.


Ia teringat akan wajah sayu itu, wajah gadis yang ia cintai.. Bahkan sampai sekarang ia tak sempat mengucapkan kata itu padanya, bahwa ia benar benar mencintai gadis pikun.


"Maafkan aku... Yasmine" batin Matsuyama, matanya mulai berubah merah.



Benar, hanya Yasmine yang bisa membolak balikkan perasaan nya, Yasmine adalah kekuatan serta kelemahan Matsuyama juga.


Aura disekelilingnya mulai berubah drastis, angin berhembus kencang entah dari mana, kegelapan mulai menyelimuti Matsuyama.


Semua orang berhenti bertarung demi melihat apa yang terjadi, semua mata tertuju pada Matsuyama dan Keita.


"Apakah sudah saatnya? Berjuanglah Matsuyama" gumam  Jae hyun.


Iapun memberi kode pada pasukannya, semuanya pun mengangguk mengerti. Semua pasukan Matsuyama kemudian mundur menjauh, pasukan lawan akhirnya kebingungan, dan berpikir bahwa mereka akan segera memenangkan pertarungan.


"Apa yang dia rencakan? Jangan jangan..." Keita terbelalak, segera ia melangkah mundur.


Dengan terburu-buru Ia meneriaki pasukannya untuk segera mundur dan pergi dari tempat itu, namun sudah terlambat.


Api yang membara dan luar biasa panas keluar dari tubuh Matsuyama, membakar semuanya, seluruh pasukan Keita terpelanting dan terbakar, jeritan dan api ada dimana mana.


"Wahh kekuatan macam apa ini?!!! Ahhh!!! Panas!!" Teriak pasukan lawan.


"Lari!! Cepat lari!!".


"Tidak mungkin!! Ayo serang!!!" Ujar sebagian prajurit yang masih congkak.


Banyak yang mencoba menyerang namun percuma, hanya mengantarkan nyawa, mereka mati terbakar.


Matsuyama terus melangkah maju menyerang tiap prajurit Shira tanpa henti dengan kekuatan api nya yang mengagumkan.


Keita yang cerdik akhirnya berhasil kabur.


"Sekarang bukan perang ku lagi" Ujarnya seraya menghilang entah kemana.


Srattt!!! Whoshhh!!!


Api telah menelan tempat itu, sehingga sejauh mata memandang hanya ada lautan merah yang panas.


"Ini kedua kalinya ketua menyelamatkan kita dan desa dengan nyawanya sendiri" Ujar Xin lie sendu.


"Sekarang tugas utama kita!" Ujar Okayama, semua orang yang telah berada jauh dari tempat pertempuran mengangguk lalu segera berlari menuju istana, untuk menggagalkan rencana Shira.


Kekuatan itu semakin menggerogoti tubuh Matsuyama, namun ia masih bertahan.


Rasa perih tak tertahankan mulai menjamah tubuhnya, darah mulai mengalir dari hidungnya.


Namun ia masih terus melawan seluruh pasukan itu sendiri.


"Masih belum.. Aku harus bertahan lebih lama lagi!!"gumam Matsuyama pada dirinya sendiri.


***


Dia hanya perlu berlari menuju medan perang untuk membantu Matsuyama.


Namun ditengah jalan tiba-tiba ia dihadang oleh beberapa orang bertudung hitam.


Orang yang sama dengan yang telah merenggut Ibunya selamanya.


Segera Yasmine mengangkat busurnya dan menarik anak panah, lalu membidiknya siap untuk dilepaskan.


"Siapa kalian?!! Apa mau kalian?!!" Bentak Yasmine geram.



"Kau tak perlu tau siapa kami! Jika kau masih sayang nyawamu! Maka ikutlah dengan kami!!!" ujar salah satu dari mereka.


"Sampai mati pun aku tak akan mau ikut kalian!!!" Teriak Yasmine berang.


Yasmine melesatkan beberapa anak panah, lagi dan lagi.


Namun orang orang itu begitu gesit menghindar.


Dengan susah payah Yasmine melepaskan diri dari mereka, Yasmine yang sendirian berusaha bertarung melawan beberapa orang tangguh yang mencoba menangkap atau bahkan membunuhnya.


"Menyerahlah!!" Ujar salah satu dari mereka hampir menebas Yasmine dengan pedang, namun untung saja Yasmine berhasil menangkisnya dengan pedang yang segera ia tarik dari sarungnya.


TING!! TING!! SRATT!!


Pedang itu berhasil menggores lengan Yasmine hingga mengeluarkan cairan merah segar, nafas Yasmine mulai tak beraturan, ia mulai letih.


Ternyata itu yang mereka rencanakan, setelah Yasmine kelelahan, segera mereka mengerahkan kekuatan mereka secara bersamaan.


Whoshhh!!! Brakkk!!!


"Apa?!!! Tidak...." Pandangan Yasmine mulai gelap, ia terpelanting cukup jauh hingga membentur pepohonan, darah mengalir dari mulutnya.


Ia terbatuk batuk sambil memegangi dadanya.


"Tidak... Aku tak boleh menyerah disini!... Aku harus menyelamatkan Matsuyama..." Ujar Yasmine sebelum benar benar tak sadarkan diri.


***


Malam yang gelap berubah begitu terang oleh cahaya api yang membara, sebagian besar pasukan telah  dikalahkan oleh Matsuyama, sebagian menyerah dan kabur.


Meski perang telah usai namun, Matsuyama tak dapat menghentikan kekuatan nya, Ia mulai menjerit.


"Arrghhhhh!!!!!!!!".


Api itu mulai membakarnya hidup hidup. Ia sudah merasakan kesadaran mulai hilang darinya, Ia mulai menyadari bahwa waktunya tak lama lagi.


"Maafkan aku.... Yasmine".


"Matsuyama!!!" Terdengar suara suara samar saat ia mulai memejamkan mata dan tubuhnya mulai lunglai semetara api membara ditubuhnya.


"Matsuyama!!!!" Suara itu semakin jelas.


"Apa aku sudah mati? Atau halusinasiku saja?" Batinnya.


Matanya tiba-tiba terbuka, seseorang memeluknya erat.


Kekuatan mengaliri tubuhnya, rasa sakit mulai memudar, api dalam dirinya mulai padam, salju mulai turun kembali.


Seluruh api padam digantikan oleh salju turun menyelimuti semuanya.



"Yasmine?...." Gumam Matsuyama tak percaya.


Akhirnya Yasmine menggunakan kekuatan es terakhirnya, rambutnya mulai memutih, matanya mulai redup dan biru.


"Yasmin?!!! Apa yang kau lakukan?!!!" Matsuyama mulai panik, matanya berkaca kaca.


"Matsuyama... Aku harap setelah ini kau akan menemukan musim semi.... Tersenyumlah selalu... J-jangan bersedih lagi.... Ak-aku... Mencintaimu... Selamat tinggal...."


Flashback.


"Bawa dia!" Perintah salah satu dari mereka, sebagian pemuda berjubah hitam itupun mengangguk lalu menggendong Yasmine dan melesat pergi.

__ADS_1


Saat mereka sudah hampir sampai di tempat ritual, langkah mereka terhenti.


Seseorang menghadang langkah mereka.


"Berhenti!!! Lepaskan dia!!" Ujar pemuda berambut coklat.


"Kau?!! Kau mau berkhianat??" ujar seorang dari mereka.


"Sejak awal aku tidak pernah ada di pihak kalian, aku bergabung dengan Shiro hanya karena ingin mengumpulkan informasi dan kelemahan Shiro untuk Yume" ujar pemuda itu, Tanaka Aji.


"Kurang ajar!!! Serang dia!!" perintah seorang dari mereka,


Aji akhirnya bertarung dengan mereka, meskipun kalah jumlah namun Tanaka masih bisa unggul, karena dia yang sekarang sudah lebih kuat.


"Aku berlatih selama ini, untuk menjadi tangguh seperti sekarang adalah untuk melindungi adikku!! Sekarang aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu! Yasmine!" batin Tanaka sambil terus bertarung melawan mereka semua.


"Untuk apa kalian mengabdi pada orang seperti Shira?!! Kalian hanya alatnya!!!" Ujar Tanaka geram.


"Bukan urusanmu!!! Mati lah sana!!!" kata seorang dari mereka sembari terus menyerang Tanaka.


Jreb Jreb!! Brukk!!


Tiba-tiba beberapa dari mereka tumbang, datanglah seorang entah dari mana membantu Tanaka, pemuda berambut hitam.


"Butuh bantuan??" ujar paruh baya yang muncul setelah nya.


"Tidak juga" ujar Tanaka sambil tersenyum masam.


Setelah beberapa lama, akhirnya dengan kekuatan pemuda berambut hitam, mereka berhasil dikalahkan dan tumbang.


Segera Tanaka menghampiri Yasmine yang tergeletak diatas salju. Menyandarkan Yasmine dipangkuannya Lalu menyembuhkan nya dengan tenaga dalam.


"Bertahan lah.. Yasmine!" ujar Tanaka gusar.


"Dia akan baik baik saja" ujar paruh baya yang membantunya diikuti anggukan pengikutnya sang pemuda berambut hitam bermata hijau.


Yasmine membuka matanya perlahan, ia segera terkejut dan menghindar ketika sepenuhnya sadar dan mengetahui siapa orang yang ada didekatnya.


"Mau apa kau disini!!" ujar Yasmine takut sekaligus marah. Tanaka paham akan sikap adiknya yang mungkin sekarang membenci nya, tak lain karena apa yang telah ia perbuat selama ini.


"Aku tak akan menyakiti mu! Aku tau kau tak akan memafkanku dan membenci ku... Tapi aku bisa menjelaskan nya" Ujar Tanaka sendu.


"Maka... Jelaskan" Ujar Yasmine dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau mau mendengarkan?" Tanya Tanaka tak percaya, Yasmine mengangguk.


Tanaka akhirnya menceritakan semuanya, semua yang menjadi pertanyaan Yasmine.


Yasmine menangis haru kemudian memeluk Tanaka erat.


"Terima kasih... Kakak" Ujar Yasmine haru.


"Maafkan aku" Ujar Tanaka merasa bersalah, namun Yasmine telah memaafkan Tanaka dan ia senang bahwa kakaknya tidak pernah pergi.


Namun Yasmine melepaskan pelukannya saat sadar bahwa ada orang lain selain dirinya.


"Paman Syimonoseki?" ujar Yasmine.


"Nak.. Maafkan paman, tapi aku mohon... Selamatkan lah Matsuyama!" Pinta Syimonoseki sambil membungkuk.


"jangan harap aku akan membiarkan Yasmine pergi menyelamatkannya begitu saja!!" Ujar Tanaka marah. Yasmine menahan bahunya.


"Apa yang terjadi paman?" Tanya Yasmine sambil menghentikan Syimonoseki dari bungkukannya.


Kemudian Syimonoseki menceritakan rencana Matsuyama yang membuatnya bisa kehilangan nyawa.


"Aku akan menyelamatkannnya!!" Ujar Yasmine yakin.


"Maafkan aku kak, tapi ini adalah jalan yang ku pilih, aku mohon... Kabulkan permintaanku kali ini! Biarkan aku menyelamatkan orang yang ku cintai... Dia adalah lenteraku... Aku mohon kakak!!!!" Pinta Yasmine, Tanaka terdiam bisu.


Akhirnya setelah lama terdiam, diapun mengizinkan Yasmine pergi. Segera Yasmine berlari menuju medan perang.


"Tunggu aku!! Matsuyama!!! Aku datang!!!" Ujar Yasmine menatap cakrawala yang dipenuhi bintang, walau seharusnya salju turun.


Flashback over.


Tubuh Yasmine mulai dingin, Perlahan matanya pun terpejam,


"Tidak... Tidak!!!! Yasmine!!! Buka matamu!!! Aku mohon!!! Aku mohon!!! Yasmine!!!" Teriak Matsuyama histeris sambil terus mengoncang tubuh Yasmine, namun nihil, bahkan detak jantungnya tak lagi terdengar.


Matsuyama untuk pertama kalinya menangis...


Untuk pertama kalinya air mata secara sadar menetes dan mengalir...


Ia tak bisa menahannya lagi, luka kematian Ibunya...


Luka kehilangan masa kanaknya di Indonesia...


Dan sekarang ia tak bisa menahannya lagi...


Luka kehilangan orang yang sangat berarti baginya, orang yang paling ia cintai...


"Yasmine... Bangunlah aku mohon...


Selama ini aku hanya berpura pura membencimu agar kau menjauhiku dan pulang ke Indonesia, aku hanya tak ingin kau terluka...


Yasmine... Aku sangat mencintaimu!! Aku mohon beri aku kesempatan untuk melihat musim semi bersamamu!!... Yasmine.... Bangun!!! Aku janji kali ini aku akan membuat mu bahagia... Yasmine... Hiks...


Bangunlah!! Buka matamu!! Hoi gadis pikun!!! Hiks... Yasmine!!!!!!!!!" teriak Matsuyama histeris.


Tubuh Yasmine tak bergerak, bahkan mulai dingin, Matsuyama menangis sambil memeluknya erat.





Ia mengingat semuanya dengan jelas...


Semua kenangan bersama gadis itu...


Saat ia tersenyum, saat ia merajuk, saat ia menangis, saat ia marah....


semua kenangan yang mereka lalui bersama ...


Jika dia tau kalau ia akan kehilangan gadis itu seperti ini, niscaya ia akan selalu membuatnya tertawa, berkata 'aku mencintaimu'...


Namun semuanya sudah terlambat...


Dia telah pergi selamanya...


Ke tempat dimana Matsuyama tak akan pernah menemukannya lagi...


Air mata Matsuyama menetes di leher Yasmine, didekapnya erat tubuh yang mulai mendingin itu.


Mungkin musim semi datang menghampiri karena perang telah berakhir, semua akan bahagia, namun tidak dengan Matsuyama.


Salju yang paling dingin datang dengan cara yang begitu menyakitkan.


Bulir bulir salju nan putih lagi dingin bertajuhan dari angkasa, semilir angin berhembus lembut seakan-akan alam pun ikut menangis pilu.


"Yasmine!!!!!!! Anna!!!!".

__ADS_1


Waratteita no wa "Tsuyogari" kara ja naku


Nakigao nanka mou mitakunai desho?


Hoshikuzu mitai na hitotsubu no deai


Sayonara?


Saigo no kotoba ga mitsukaranai


Aku tersenyum, bukan untuk berpura tegar


Namun, karena engkau tak ingin melihat lagi Wajahku yang penuh airmata, 'kan?


Pertemuan kita bagai butiran bintang Hanya seperti sebutir perjumpaan


Selamat tinggal?


Tak kutemukan kata perpisahan untuk mengakhiri kisah kita


Sou da yo watashi wa heiki da yo tsuyoi kara


Kao agete "Gomen ne" tte mou iwanai de tsurai kara


Ya, Aku akan baik saja karena aku kuat


Angkat wajahmu dan jangan katakan “Maafkan aku, ya” untuk kedua kalinya


karena itu sangat menyakitkan


It's so precious konna hazu ja nakatta kedo


Now I miss it hitori de mo aruiteku


Betapa berharganya Semua tak seharusnya berakhir seperti ini


Dan, sekarang aku merindukannya Aku akan terus melangkah, meski sendiri


Waratteita no wa "Tsuyogari" kara ja naku


Nakigao nanka mou mitakunai desho?


Hoshikuzu mitai na hitotsubu no deai


Daijoubu


Tsugi no hikari nara sugu soko ni


Aku tersenyum, bukan untuk berpura tegar


Namun, karena engkau tak ingin melihat lagi Wajahku yang penuh airmata, 'kan?


Pertemuan kita bagai butiran bintang Hanya seperti sebutir perjumpaan


Aku akan baik saja,


karena di sana akan kutemukan lagi secercah cahaya


Sou da yo kanashii kao wo suru kurai nara


Kao agete itsumo yori mo hohoendeitai kara


Ya, Engkau berwajah sedih karena bersusah hati


Angkat wajahmu Kuingin engkau tersenyum berseri lebih daripada biasanya


You're so precious kimi to no jikan no subete


Now I miss you dakishimete aruiteku


Engkau begitu berharga


Waktu kebersamaan kita adalah segalanya


Sekarang, aku merindumu akan kudekap semua sembari terus melangkah


Waratteita no wa "Tsuyogari" kara ja naku


Nakigao nanka mou mitakunai desho


Ichiban kirei na watashi wo oboetete


Mou BAI BAI?


Saigo no kotoba ga mitsukaranai


Aku tersenyum, bukan untuk berpura tegar


Namun, karena engkau tak ingin melihat lagi Wajahku yang penuh airmata, 'kan?


Terus ingatlah kenangan terindah tentangku


Sudah saatnya kita berpisah


Tak kutemukan kata perpisahan untuk mengakhiri kisah kita


Imasara namida ga tomaranai yo...


Meski sekarang, sudah terlambat Air mataku mengalir tiada hentinya


Nozondeita no wa oogesa na koto ja naku


Koko ni ite mo ii yo tte kotoba dake


Hoshikuzu mitai na watashi wo oboetete


Daijoubu


Tsugi no deai nara sugu soko ni


Aku tak mengharapkan sesuatu yang megah


Yang kuingin hanya, kata-katamu yang mengizinkanku untuk selalu di sisimu


Meski aku kecil, bagaikan butiran bintang Namun, kuingin engkau selalu mengingatku


Aku akan baik saja


karena pertemuan selanjutnya akan ketemukan lagi di sana



Hoshikuzu Venus - Aimer


Lyrics by aimerrythm


Composed by Tobinai Masahiro


Arranged by Kenji Tamai and Tobinai Masahiro


To be Continued.


__ADS_1


__ADS_2