Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)

Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)
Episode 17 : sebuah siluet janji


__ADS_3

Yasmine membuka matanya tiba- tiba seakan mendengar sesuatu.


"Matsuyama..." Gumamnya.


Akhirnya ia sadar akan sesuatu,


"Jangan...Yasmine... Kau terlalu baik dan sempurna untuk diriku yang hina..." Rintih pemuda itu.


Matsuyama yang babak belur waktu itu, ada yang aneh dengannya. Selama ini Matsuyama tak pernah memujinya, bahkan dia jarang memanggil namanya, biasanya Matsuyama memanggil nya 'si gadis pikun'. Tapi pemuda mirip Matsuyama ini memujinya bahkan merendahkan diri, kebalikan dari Matsuyama yang ia kenal.


Jangan jangan...


Dia bukan Matsuyama.


Jika memang bukan, maka ia tak perlu khawatir, dia harus segera kabur dari tempat ini.


Dia tak boleh mati sekarang.


Yasmine segera melepas ikatan ditangannya dengan kekuatan es yang tersisa.


Ia menghunuskan pedang esnya, dengan sisa daya yang ia miliki ia coba untuk berdiri.


Semua penjaga SHIRO nampak terkejut. Tak terkecuali Koriyama yang nampak geram.


"Akhhh....padahal tinggal sedikit lagi ritual nya selesai!!" umpatnya kesal.


"Kalian! Tangkap dia!" bentak Koriyama, para penjaga berbondong bondong hendak menangkap Yasmine.


Jreb! Jreb! Bruk


Satu per satu para penjaga Shiro tumbang, kali ini Yasmine benar-benar menggunakan kekuatan nya yang langka.


Aku harus kuat...


Aku tak boleh menyerah...


Perlahan mata Yasmine mulai kabur. ujung rambutnya mulai memutih.


sehabis terambil paksa oleh ritual itu, kekuatan nya benar-benar menipis, jika dia sampai kehilangan seluruh tenaga dan kekuatan nya maka...


Koriyama tersenyum picik,


"Kenapa gadis es? Sudah? Hanya segitu kekuatan mu?" ujar Koriyama sambil menarik pedangnya,


"Ahh sayangnya jika kau mati sekarang, maka kekuatan unik itu tak kan kudapatkan, tapi.. Tidak akan kubiarkan siapapun memiliki nya!" Koriyama siap menebas leher Yasmine.


Srattttt!!!


TING!!!!


Sebuah pedang beradu dengan pedang Koriyama


Seorang pemuda dengan tatapan tajam menghadang Koriyama, matanya berkilat penuh kemarahan.



"Sehelai rambut saja kau menyentuhnya, maka aku akan membunuhmu! kau tau kan sekarang kekuatanku sudah bangkit? Berani beraninya kau ingin menyakiti gadisku!!!!" Entah sadar atau tidak ucapan pemuda itu, namun hawa mencekam tiba-tiba menyelimuti nya, mata pemuda itu berubah merah.


"Oh tidak, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyerang kekuatan bulan biru yang bangkit" Batin Koriyama.


Angin yang entah darimana berhembus kencang menyelimuti ruangan itu,


Suasana berubah mencekam.


"Matsuyama..." Yasmine mulai khawatir.


Kekuatan api keluar dari tubuh Matsuyama menyerang Koriyama dan para pengikutnya.


Koriyama terpental menghantam tembok, ia meringis


"Kekuatan ini...akh...." Darah keluar dari sela bibirnya.


"Untuk sekarang aku harus pergi" Batin Koriyama hendak kabur.


"Mau kemana kau?" Ujar Matsuyama tak terkendali, tangan kegelapan menjulur keluar dari tubuhnya dan membanting Koriyama dengan keras tanpa sempat ada perlawanan.


Yasmine tercengang melihat darah tercecer dimana mana, ia tak ingin Matsuyama menjadi monster, ia tak ingin Matsuyama membunuh lagi.


Saat Matsuyama hendak membakar Koriyama dengan kekuatan api dahsyatnya, Yasmine berdiri didepannya.


"Tidak! Cukup! Sadarlah! Dia sudah tidak berdaya!" ujar Yasmine dengan air mata berlinang menyaksikan orang yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang lain.


Hampir saja kekuatan itu mengenai Yasmine, untung saja Matsuyama berhasil mengendalikan dirinya.


Kekuatan kegelapan nya sedikit demi sedikit menghilang,


Yasmine menyentuh pipi Matsuyama dan terseyum


"Daijobou... Aku baik baik saja... Aku mohon kembalilah menjadi Matsuyama yang aku kenal".


Mata merah Matsuyama perlahan menjadi biru lagi, sedikit demi sedikit ia sudah bisa menguasai dirinya, angin ribut dan hawa kegelapan beringsut pudar.


"Dasar gadis pikun ceroboh!" ujar Matsuyama akhirnya, Yasmine tersenyum bahagia dan langsung memeluknya erat.


"Syukurlah... Hiks...." gumam Yasmine lega.


"Kau sangat ceroboh! Bagaimana bila tadi kena kekuatan ku! Kau mau mati?!" Ujar Matsuyama geram, untuk pertama kalinya membalas pelukan itu.


Yasmine melingkarkan syal merah miliknya ke leher Matsuyama bersama dengannya kemudian tersenyum.


"Yosh Yosh sekarang tersenyumlah Rama" Seketika pipi Matsuyama memerah.



Yasmine tertawa.


"Aku selalu percaya padamu" Ujarnya.


Koriyama yang sudah terluka parah kemudian menggunakan jurus teleport dan menghilang.


***


Dedaunan bergoyang lembut tersapu angin malam, bintang bintang berkelip di angkasa.


Yasmine dan Matsuyama berjalan beriringan menapaki jalanan setapak hutan rimba.


Setelah dilihatnya sebuah danau dengan bermandikan sinar rembulan akhirnya mereka tertarik untuk rehat sejenak dan duduk ditepi.


Matsuyama menatap gadis itu sekilas kemudian berkerut keningnya,


"Ujung rambutmu, kenapa berubah putih?" tanya Matsuyama penasaran.


"ahh aku mewarnai nya, kerenkan?" ujar Yasmine bohong.


"Dasar bodoh! Karena ku memanggil mu gadis pikun kau malah ingin jadi nenek nenek sungguhan" Ejek Matsuyama, Yasmine memukul bahunya.


"Iihhhh dasar menyebalkan!" Ujar Yasmine kesal, namun matanya meredup.


Matsuyama tersenyum hampir tertawa.


"Aku lebih suka rambut coklat yang biasanya" Ujarnya.


"Sesukaku dong mau cat warna apa" ujar Yasmine berusaha menutupi kebenaran itu.


Aku tak ingin kau tau...


Kalau aku akan menghilang suatu saat nanti...


Yasmine memandang cakrawala bermandikan bintang.


"Matsuyama...kencan yuk! Ayo kita lihat bintang jatuh juga di ladang dandelion kesukaan mu itu!" ajak Yasmine sembari menatap memohon.


Matsuyama menatapnya sejenak, lalu menghela nafas.


Ia kemudian mengangguk.


"Baiklah..." Ujarnya, Yasmine berbinar matanya.


"Asikk!!! Okey janji ya?! 5 hari lagi saat festival lampion?!" Ujar Yasmine terlihat bahagia dan bersemangat.


"Hai' hai'..." Ujar Matsuyama datar meski tubuhnya digoncang goncang oleh Yasmine.


Entah mengapa serasa ada milyaran kupu kupu yang terbang dari perutnya, entah mengapa melihat gadis itu tersenyum bahagia serasa musim semi hadir lebih cepat.


Matsuyama tersenyum simpul.


"Bolehkah kamu janji satu hal lagi?" Ujar Yasmine, Matsuyama menoleh lagi.


"Dasar gadis pikun! Banyak sekali mau mu!" ujar Matsuyama, Yasmine tertawa.


"Ayolah... Ya? ya?" rengek Yasmine, Matsuyama mendesah pasrah.


"Iya apa?" ujarnya ogah-ogahan.


"Berjanjilah... Kau tak akan pernah melupakan ku... Berjanjilah suatu saat kita akan bermain di taman flamboyan di Indonesia lagi...di markas rahasia kita dulu" pinta Yasmine, Matsuyama tertegun sejenak.


Iapun tersenyum dan mengangguk,


"Baiklah aku janji" ujar Matsuyama, kemudian jari kelingking mereka bertautan.


Ya...


Mungkin itu hanyalah sebuah janji yang tak akan terwujud....


Akan tetapi telah membuat janji itu denganmu...


Seakan... Benar benar menjalaninya...


Yasmine bersandar dibahu Matsuyama, untuk pertama kalinya Matsuyama membiarkan bahkan ikut bersandar.


Untuk pertama kalinya mereka sangat dekat.


"Terima kasih sudah menyelamatkan ku lagi" ujar Yasmine sambil tersenyum.


"Jika kau bertindak bodoh dan pergi sendiri lagi maka sebagai ketua sekaligus senseimu maka aku akan menghukum mu" ujar Matsuyama kesal.


"Iya iya maaf " Yasmine senang pemuda itu menghawatirkan nya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke padepokan sebelum malam benar-benar larut.


Matsuyama menggendong gadis itu.


"Akhh...ternyata kau berat ya" ejeknya.


"Itu tidak mungkin, aku jarang makan kok!"ujar Yasmine membela diri.


Sebelumnya Matsuyama mengantar Yasmine ke pihak medis untuk mengobati luka lukanya, setelah melihat Yasmine diobati lalu tertidur Matsuyama tersenyum,


Ia mengelus lembut puncak kepala Yasmine yang tertidur sangat pulas.


"Dasar gadis pikun... Kau selalu membuatku berjanji dan kau selalu membuatku khawatir" gumamnya.


Matsuyama kemudian bergegas pergi ke suatu tempat.


***


Matsuyama tiba disuatu tempat terasing, disana seseorang tengah menunggunya.


"Aku datang sesuai janjiku" ujar Matsuyama, orang itu membalikkan badannya kemudian tersenyum licik.


***


Yasmine tak bertemu dengan Matsuyama beberapa hari, mereka bilang Matsuyama pergi entah kemana sejak kepulangan nya malam itu.


Yasmine jadi gelisah, seakan ada sesuatu yang terjadi.


Dimana pemuda itu?

__ADS_1


Kemana dia pergi?


Sebenarnya apa yang terjadi?


Lampion lampion telah dipasang, sebagian diterbangkan kelangit


Begitu indah menghiasi Yume



Ini adalah hari dimana mereka berjanji bersua, Yasmine menunggu nya sejak pagi.


Sekarang sudah malam Yasmine masih menunggu pemuda itu


ditempat mereka berjanji akan melihat bintang jatuh bersama.


Namun pemuda itu tak kunjung datang...


Tiba tiba hujan turun, meski membasahi tubuhnya Yasmine enggan beranjak dari tempatnya


Semalaman ia menunggu namun nihil...


Akankah kau mengingkari janji itu...


Dimana sekarang dirimu?


Hingga akhirnya mata Yasmine berbinar


Sosok yang ia tunggu akhirnya datang


Pemuda itu melangkah dari arah yang berlawanan


Yasmine sangat sumringah, ia segera berlari menghampiri pemuda itu.


"ku kira kau tak akan datang... Syukurlah... Kemana saja kau ini?!" Ujar Yasmine dengan mata sembab.


Pemuda itu berkerut keningnya.


Tak merespon.


Pemuda itu kemudian memiringkan kepalanya,


"Dare ka? (Kau siapa?)...".


***


Semilir bayu menyeruak, menepis dedaunan musim gugur. Syimonoseki melangkah sendiri menyusuri jalanan sepi sebuah desa sehabis rapat antar klan, Taki pengikut setianya tak bisa menemaninya karena pergi untuk mewakili klan Matsu di rapat tempat lain.


Sesaat ia mendengar suara,


Benar saja beberapa bandit berdiri didepannya.


"Serahkan uangmu! Atau kau mati!" Ujar seorang dari mereka.


"Aku tak punya sepeserpun untuk diberikan kepada berandal seperti kalian!!" Ujar Syimonoseki, ada raut kebencian diwajahnya.


Para bandit itu bersiap untuk menyerang Syimonoseki.


Namun..


Sratt! Srrattt!


Bruk! Bruk!


Tiba tiba mereka ambruk tak bangun lagi, secepat kilat seseorang menumbangkan mere ka.


Syimonoseki hanya bisa tertegun melihat kehandalan gadis itu.


"Jurus ini... Jangan jangan..."gumam Syimonoseki.


"Apakah anda baik baik saja?" Ujar gadis itu, Syimonoseki tersenyum lalu mengangguk.


"Sebaiknya anda beristirahat dahulu di kediaman saya" ujar gadis itu ramah, Syimonoseki menyetujuinya karena ia ingin memastikan sesuatu.


"Ayah... Tadaima(aku pulang)" ujar gadis itu sembari menggeser pintu.


"Mari tuan" ajak gadis itu mempersilakan Syimonoseki.


Seorang paruh baya keluar dari bilik, menatap putrinya bersama orang asing ia sedikit gusar.


"Siapa dia Hanabi?" Ujar paruh baya itu.


"Perkenalkan ayah, beliau adalah tuan Syimonoseki matsu saya membantunya saat para berandal ingin memalaknya" ujar gadis yang ternyata bernama Hanabi.


"Maaf jika saya lancang, sebelumnya saya sangat berterima kasih atas bantuan putri anda, namun apakah benar anda dan putri anda adalah klan Matsu ras atas juga?" Ujar Syimonoseki.


"Juga? Klan Matsu ras atas sudah hampir punah sejak perang beberapa tahun yang lalu, kini tinggal kami dan seorang dengan anak laki lakinya. Atau jangan jangan... Anda" ujar paruh baya itu, Syimonoseki mengagguk.


"Ya. Saya adalah seorang bersama anak laki laki itu, klan Matsu ras atas".


"Saya sangat beruntung bertemu dengan sesama ras atas terakhir, saya adalah Matsuoka Hakuya, dan ini putri saya Matsu Hanabi" ujar paruh baya itu.


Syimonoseki menamati gadis yang telah menyelamatkannya itu. Gadis berambut hitam sebagai rata rata klan matsu, dengan paras ayu nan anggun.


"Karena klan Matsu ras atas sudah sangat jarang, bagaimana bila kita menyatukan keluarga kita?" Ujar Syimonoseki.


"Tentu saja, mari kita tunangkan anak kita" jawab Hakuya terlihat amat setuju.


"tenang saja, dia adalah pemuda yang tampan dan berbakat seperti nona Hanabi" ujar Syimonoseki.


"Bagaimana nak, apa kau setuju?" tanya Hakuya pada Hanabi.


"Asalkan demi kebaikan klan dan ayah saya tidak keberatan" ujar Hanabi sembari tersenyum.


"Namanya adalah Matsuyama Rama, kalian pasti akan serasi" ujar Syimonoseki.


***


"Maaf Syimonoseki- sama, jika waktu itu saya melindungi anda maka anda tak akan diganggu bandit" ujar Taki merasa bersalah.


"Sudahlah, ini bukan salahmu. Lagipula aku baik saja. Aku memanggilmu kesini karena aku ingin memberimu misi" ujar Syimonoseki sembari melipat tangannya kedada.


"aku akan menunangkan Matsuyama dengan gadis klan Matsu atas , aku ingin kau memisahkannya dari Yasmine, dia keras kepala jadi buat dia melupakan rasa kepada gadis itu" ujar Syimoseki.


"Tapi tuan... Shinta- san bilang.." tak selesai omongan Taki, Syimonoseki menyelanya.


"Aku tau. Tapi gadis Indonesia terlalu lemah, mereka memang indah dan ramah, aku tak menyalahkan Rama karena aku juga menikahi gadis Indonesia, tapi aku ingin dia menikahi gadis yang selevel dan kuat sepertinya" ujar Syimonoseki.


Taki hanya bisa mengiyakan permintaan Syimonoseki, segera ia berlalu pergi.


***


Matsuyama berlari kencang, mengetahui bahwa Yasmine pergi ke Shiro , sungguh mengguncang hatinya, ia tak bisa tak khawatir, apalagi Elize juga sudah berpura-pura sebagai Yasmine.


Ditengah larinya, seorang pemuda berdiri didepannya, membuatnya menghentikan langkah.


"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari jalanku! Taki!" ujarnya geram.


Taki hanya tersenyum menanggapi kekesalan Matsuyama.


"Jika kau ingin menyelamatkan gadis itu, aku bisa membantumu" ujar Taki menawarkan.


"Untuk apa aku butuh bantuanmu?!" ujar Matsuyama dingin, sebenarnya ia agak tertarik karena Taki adalah klan Matsu paling berbakat kepercayaan ayahnya, bahkan berulangkali Shiro ingin merekrutnya tapi Taki tetap setia.


"Aku yakin kau akan butuh bantuanku, terutama kau tak mungkin melawan kakakmu kan?" ujar Taki sambil melangkah mendekat.


Benar juga. Disana ada kakak sepupu nya, Matsutaka pemuda dengan seribu wajah dan kekuatan hebat lainnya, tak mudah melawannya apalagi dia kakaknya. Waktunya tak banyak lagi ia harus segera menyelamatkan Yasmine.


"Baiklah, apa syaratnya?" ujar Matsuyama akhirnya, Taki tersenyum.


"Aku akan mengurus Matsutaka, namun setelah itu kau harus menemuiku di lembah Kuro" ujar Taki.


Matsuyama telah menyepakati nya, entah apa yang Taki akan lakukan padanya yang terpenting ia bisa menyelamatkan gadis itu.


***


"Untuk apa kau memanggilku kesini? Taki yang berbakat?" ujar Matsutaka.


"Ku dengar kau sangat terobsesi dengan pil naga, aku akan memberimu satu jika kau dapat memenuhi syarat yang aku ajukan" ujar Taki sambil menunjukan sebuah pil yang berada di semacam toples kecil.


"Apa itu? " ujar Matsutaka.


"Kau harus membiarkan Matsuyama menyelamatkan gadis itu" ujar Taki.


Matsutaka menimang apa yang pemuda itu syaratkan, setidaknya mereka sudah mengambil sebagian kekuatan langka gadis itu, membiarkan gadis itu hidup tak akan masalah demi satu pil naga yang dapat menyembuhkan luka dengan sangat cepat.


Matsutaka tersenyum kagum.


"Padahal mencari bahan untuk membuat pil naga sangat sulit, kau sangat cerdik tau kalau aku tak akan menolak tawaran mu, aku heran kenapa kau sangat setia pada paman Syimonoseki" ujar Matsutaka.


"Itu tak ada urusannya denganmu!" ujar Taki dingin.


"Hah... Baiklah, sesuai janji aku akan membantu pemuda itu masuk ke markas Shiro" Ujar Matsutaka tak mau ambil pusing, ia segera memfokuskan pikiran untuk membuka semua pelidung yang ada untuk menyamarkan dan melindungi markas shiro.


Hanya dia yang dapat melakukan itu tanpa seorang pun yang curiga, dengan kekuatan Matsuyama semua orang akan mengira kalau Matsuyama sendiri yang melakukannya.


Matsuyama akhirnya berhasil menyelamatkan Yasmine, ia sungguh lega bahwa akhirnya ia berhasil tepat waktu.


Jika sampai terjadi sesuatu dengan gadis yang sangat berarti baginya itu maka ia takkan memaafkan dirinya. Namun sebuah perjanjian pasti ada konsekuensi nya, entah apa yang Taki dan ayahnya rencanakan ia harap hal itu tak ada hubungan nya dengan Yasmine.


Ia ingin bersama gadis itu, setelah akhirnya mereka menjadi sangat dekat, ia tak ingin menyakitinya lagi.


Matsuyama mengelus puncak kepala Yasmine yang terlelap,


"Aku harus pergi sebentar, aku akan segera kembali untuk memenuhi janjiku padamu" ujar Matsuyama kemudian mengecup dahi Yasmine sekilas.


Matsuyama bergegas pergi ke tempat yang ia janjikan bersua bersama Taki.


***


Matsuyama tiba disuatu tempat terasing, disana seseorang tengah menunggunya.


"Aku datang sesuai janjiku" Ujar Matsuyama, orang itu membalikkan badannya.


"Kau datang tepat waktu" Ujar Taki.


"Apa mau mu?" Ujar Matsuyama dingin.


"Semua di dunia ini tak ada yang gratis, karena aku sudah membantumu maka kau harus membayar nya" Ujar taki kemudian melangkah mendekat.


"Kau ingin uang?".Ujar Matsuyama,Taki menggeleng.


"Aku ingin sesuatu yang berharga bagimu" Ujar Taki, Matsuyama membelalak, ia tau apa yang Taki maksud.


Mata Taki berubah warna dan bersinar, seketika Matsuyama tertegun, sinar itu menembus mata .


"Matsuyama...kencan yuk! Ayo kita lihat *bintang jatuh juga di ladang dandelion kesukaan mu itu!" ajak Yasmine sembari menatap memohon.


Matsuyama menatapnya sejenak, lalu menghela nafas.


Ia kemudian mengangguk.


"Baiklah..." Ujarnya, Yasmine berbinar matanya.


"Asikk!!! Okey janji ya?! 5 hari lagi saat festival lampion?!" Ujar Yasmine terlihat bahagia dan bersemangat.


"Hai' hai'..." Ujar Matsuyama datar meski tubuhnya digoncang goncang oleh Yasmine.


Entah mengapa serasa ada milyaran kupu kupu yang terbang dari perutnya, entah mengapa melihat gadis itu tersenyum bahagia serasa musim semi hadir lebih cepat.


Matsuyama tersenyum simpul.


"Bolehkah kamu janji satu hal lagi?" Ujar Yasmine, Matsuyama menoleh lagi.


"Dasar gadis pikun! Banyak sekali mau mu!" ujar Matsuyama, Yasmine tertawa.


"Ayolah... Ya? ya?" rengek Yasmine, Matsuyama mendesah pasrah.

__ADS_1


"Iya apa?" ujarnya ogah-ogahan.


"Berjanjilah... Kau tak akan pernah melupakan ku... Berjanjilah suatu saat kita akan bermain di taman flamboyan di Indonesia lagi...di markas rahasia kita dulu" pinta Yasmine, Matsuyama tertegun sejenak.


Iapun tersenyum dan mengangguk,


"Baiklah aku janji" ujar Matsuyama, kemudian jari kelingking mereka bertautan.


Ingatan itu perlahan-lahan menjadi kabur*,


Pelahan wajah itu mulai pudar..


Wajah seseorang yang tak ingin ia lupakan


Perlahan kenangan itu memudar, seakan tak pernah terjadi...


Seakan ia tenggelam dalam palung yang dalam....


Dalam bisu dan ketertegunan, entah mengapa matanya mengeluarkan air..



Kemudian pandangannya mulai kabur....


Dan gelap.


Taki segera membopong Matsuyama.


"Maaf Matsu -san, ini perintah ayahmu" ujar Taki sendu.


Ya kekuatan langka Taki adalah menghapus ingatan tertentu atau tentang seseorang tertentu.


***


Lampion lampion telah menghiasi angkasa begitu indah.


Matsuyama entah mengapa dadanya sesak, seakan ada yang hilang dari dirinya.


Ia begitu gusar, seakan ada yang harus ia lakukan tapi tak tau hal apa yang harus ia lakukan.


Saat terbangun di rumah ayahnya lalu kembali ke padepokan, seakan-akan ada yang hilang darinya dan membuat hatinya sesak.


Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan jalan sejenak menikmati festival lampion, dan ya ia ingin sekali mengunjungi ladang dandelion tempat spesial nya.


Saat ia sampai di tempat itu, berdiri juga seorang gadis asing berambut coklat, ia tak mengenalnya tapi entah mengapa seakan mereka pernah bertemu.


Gadis itu terlihat begitu senang melihat kehadirannya, Matsuyama semakin merasa heran.


Gadis itu sangat sumringah, ia segera berlari menghampiri Matsuyama.


"ku kira kau tak akan datang... Syukurlah... Kemana saja kau ini?!" Ujar gadis itu dengan mata sembab.


Matsuyama berkerut keningnya.


Tak merespon.


Matsuyama kemudian memiringkan kepalanya,


"Dare ka? (Kau siapa?)...".


"Kau pasti bercanda! Ah Matsuyama kau menyebalkan sekali!" ujar Yasmine menguatkan hati.


"Maaf nona, mengapa anda bisa tau nama saya? Anda ini siapa?" ujar Matsuyama dengan raut serius.


"Kau benar benar tak mengingatku? Dan semua yang telah kita lalui bersama?" ujar Yasmine mulai gusar.


"apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku tak mengenalmu sama sekali" ujar Matsuyama.


Gadis itu menangis sejadi jadinya



Tiba tiba hujan turun menghujam, Matsuyama agak heran, setahunya tadi tak ada mendung tapi mengapa tiba- tiba turun hujan?.


Matsuyama menatap gadis itu sendu, apa hubungan gadis itu dengannya? Mengapa ia tak bisa mengingat nya?


Entah mengapa melihat gadis itu menangis rasanya hati Matsuyama sangat perih seakan-akan ditusuk pedang.


Tak ingin lama lama merasakan hal aneh, Matsuyama memutuskan untuk beranjak dari sana meninggalkan gadis asing itu.


*Lagi...


Itu terjadi lagi...


Hatiku yang mulai leleh...


Kini membeku lagi...


Dan yang lebih menyakitkan...


Kau ingkari janji itu...


Kau lah alasan dari bekunya hatiku...


Mau bagaimana lagi...


Aku hanyalah siluet bagimu...


Yang selalu mengejar pelangi...


Yang akan hilang dari benakmu suatu saat nanti*.....


Silhouette | Owl City


I'm tired of waking up in tears,


Aku lelah terbangun dengan bercucuran air mata


'Cause I can't put to bed these phobias and fears


Karena tak bisa kutidurkan fobia dan rasa takut ini


I'm new to this grief I can't explain;


Aku masih baru merasakan duka yang tak bisa kujelaskan ini


But I'm no stranger to the heartache and the pain


Tapi aku tak asing dengan sakit hati dan luka


The fire I began, is burning me alive


Api yang kunyalakan kini membakarku hidup-hidup


But I know better than to leave and let it die


Tapi aku tahu yang lebih baik daripada pergi dan biarkan ia mati


I'm a Silhouette asking every now and then


Aku adalah bayang-bayang yang sering bertanya


Is it over yet? Will I ever feel again?


Sudah usaikah semua ini? Akankah aku merasakan lagi?


I'm a Silhouette chasing rainbows on my own


Aku adalah bayang-bayang yang mengejar pelangi sendiri


But the more I try to move on the more I feel alone


Tapi semakin kumencoba lanjutkan hidup semakin aku merasa sepi


So I watch the summer stars to lead me home


Maka kulihat bintang musim panas tuk menuntunku pulang


I'm sick of the past I can't erase


Aku muak dengan masa lalu yang tak bisa kuhapus


A jumble of footprints and hasty steps I can't retrace


Sekumpulan jejak kaki dan langkah terburu yang tak bisa kukenang


The mountains of things that I still regret


Gunungan hal yang masih kusesali


Is a vile reminder that I would rather just forget


Adalah pengingat usang yang ingin kulupakan


(No matter where I go)


(Kemanapun aku pergi)


The fire I began, is burning me alive


Api yang kunyalakan kini membakarku hidup-hidup


But I know better than to leave and let it die


Tapi aku tahu yang lebih baik daripada pergi dan biarkan ia mati


I'm a Silhouette asking every now and then


Aku adalah bayang-bayang yang sering bertanya


Is it over yet? Will I ever smile again?


Sudah usaikah semua ini? Akankah aku tersenyum lagi?


I'm a Silhouette chasing rainbows on my own


Aku adalah bayang-bayang yang mengejar pelangi sendiri


But the more I try to move on the more I feel alone


Tapi semakin kumencoba lanjutkan hidup semakin aku merasa sepi


So I watch the summer stars to lead me home


Maka kulihat bintang musim panas tuk menuntunku pulang


'Cause I walk alone, no matter where I go (3x)


Karena aku berjalan sendiri, kemanapun aku pergi


I'm a Silhouette asking every now and then


Aku adalah bayang-bayang yang sering bertanya


Is it over yet? Will I ever love again?


Sudah usaikah semua ini? Akankah aku mencinta lagi?


I'm a Silhouette chasing rainbows on my own


Aku adalah bayang-bayang yang mengejar pelangi sendiri


But the more I try to move on the more I feel alone


Tapi semakin kumencoba lanjutkan hidup semakin aku merasa sepi


So I watch the summer stars to lead me home

__ADS_1


Maka kulihat bintang musim panas tuk menuntunku pulang


To be continued.


__ADS_2