Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)

Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)
Episode 8 : Wakkaranai


__ADS_3

"Aku selalu yakin bahwa kau akan kembali...hiks....terima kasih....sudah kembali....hiks....aku...." Yasmine masih memeluk erat pemuda itu, sedang pemuda itu hanya diam, bahkan tak membalas pelukan itu.


Sejenak hanya hening saja, sementara di kejauhan Jae hyun hanya melihat sambil tersenyum samar.


Hingga dengan kasar seakan tersadar akan sesuatu pemuda itu melepaskan pelukan Yasmine.


Sejenak Yasmine tersentak.


"Menjauhlah dariku!" Kata pemuda itu dingin.


"Rama......"


"Namaku adalah


Matsuyama! " bentaknya, Yasmine tak kuasa menahan air mata.


"Terima kasih sudah menolong.."


"Itu hanya kebetulan! Jadi jangan salah paham!" Bentak Matsuyama dingin.


Dia berubah...


Dia tidak seperti Rama yang aku kenal...


Bahkan dia juga tidak seperti Matsuyama yang selama ini memayungiku saat hujan...


Apakah ini hanya mimpi?


Atau jangan jangan dia bukan Matsuyama?


Lalu siapa dia...


"Siapa kau?!!" Tanya Yasmine pada pemuda itu.


"Aku tak harus menjawab pertanyaan yang kau sendiri sudah tau jawabannya" ujarnya dingin.


"Bukan! Kau bukan Rama bahkan kau bukan Matsuyama yang aku kenal...ka.." tak selesai omongan Yasmine, Matsuyama menyela.


"Tau apa kau tentang diriku?!!! " Bentaknya kasar


"Kau adalah Lentera ku..."


"AKU BUKAN LENTERA MU!!! APA AKU HARUS BERTERIAK AGAR KAU MENDENGARNYA??!!!" .


Yasmine sungguh terluka, ia tak pernah berharap kalau lentera yang selama ini ia cintai membentaknya seperti ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu....hiks....Rama...apa kau marah padaku? Kenapa kau berubah?" Tanya Yasmine sambil menatap sendu pemuda bermata biru itu.


Matsuyama hanya diam, tangannya mengepal seakan menahan sesuatu.


Tanpa sepatah katapun akhirnya Matsuyama melangkah pergi, meninggalkan Yasmine di bawah guyuran hujan yang mulai turun.


Jae hyun menepuk pundak Yasmine sambil tersenyum palsu.


"Tenanglah...mungkin Matsu-san hanya lelah, setelah hal buruk yang ia alami, wajar kalau dia jadi seperti ini"


Yasmine mengangguk paham.


"Iya Jae hyun san benar, dia masih hidup saja aku sudah sangat bersyukur, kalaupun sekarang dia ingin membenciku...aku tak apa" ujar Yasmine mencoba untuk tetap tabah.


"Baiklah Jae hyun san, aku akan kembali ke padepokan, sampai jumpa"ujar Yasmine sambil berlari pergi.


"Huhhh...." Jae hyun hanya bisa mendesah sendu.


~***~


Semua orang bahagia karena sekarang Matsuyama sudah kembali, tak terkecuali Hamada sensei yang selalu menganggap Matsuyama seperti cucunya sendiri.


Namun Yasmine merasa hatinya berontak,


Semenjak Matsuyama kembali...


Dia tak pernah melatihnya lagi seperti dulu, bahkan dulu Matsuyama sering mengejeknya tapi sekarang bahkan dia tak pernah mengajak Yasmine bicara,


Pandangan pemuda itu selalu acuh padanya, bahkan sekarang Matsuyama tidak makan bersama dia lebih memilih makan di kedai


Matsuyama terkesan Menjauhinya dan menghindar darinya


Sebenarnya apa sebabnya Matsuyama jadi seperti itu, apa salah Yasmine?.


Yasmine melangkah menyusuri lorong padepokan, melangkah dengan gontai seakan gairah hidupnya pudar.


Ternyata di arah berlawanan melangkah pula seorang pemuda ,Matsuyama.


Mereka hampir berpapasan, Yasmine hendak menyapanya, namun Matsuyama acuh dan melewatinya begitu saja.


" Wakkaranai!!!! (Aku tak mengerti)" bentak Yasmine, Matsuyama berhenti melangkah.


" Wakkaranai!! Sebenarnya apa mau mu?! Kenapa kau jadi seperti orang asing?! Sebenarnya apa salahku? apa karena aku lemah dan pembawa sial? huh?!! ayo jawab!!!" tukas Yasmine sambil berlinang.


Yasmine bodoh! mengapa ia harus bertanya hal seperti itu


Ia harap Matsuyama mengatainya sinting atau sedang hilang akal


atau lebih baik Matsuyama diam saja bila tidak bisa menjawab TIDAK.


"iya." jawab Matsuyama datar seraya tetap membelakangi gadis itu.


"maka pergilah dari ini, pulanglah ke tempat asal mu! disini bukan tempat mu!". Sambung Matsuyama lalu melangkah pergi.


hiks...hiks...


masih lebih baik Matsuyama yang selalu mengejekku ketimbang Matsuyama yang dingin dan selalu diam ini


aku ingin kau berbicara padaku lagi


tapi saat kau mulai menjawab pertanyaanku


bukannya sembuh namun luka itu malah semakin meradang


seakan luka ditaburi garam


maafkan ketidak berdayaan ini Rama...


seandainya aku tak pernah datang kemari


seandainya aku tak keras kepala memintamu untuk membawaku


pasti ini tak akan pernah terjadi...


Yasmine telah membulatkan tekad untuk pergi.


pagi pagi sekali ia akan meninggalkan padepokan ini.


hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus semua jasa Matsuyama.


"Sayonara...Arigatou...Matsuyama Rama..."

__ADS_1


ia mencengkeram erat syal merah berharganya.


Yasmine yang ceria...


berubah menjadi Yasmine yang murung....


~***~


dari kejauhan...


Matsuyama mengamati gadis itu lekat, seakan ingin mengungkapkan banyak hal...


namun ia tak bisa


"ada banyak alasan mengapa aku berubah...." gumamnya sendu.


"hidup ini memang wakkaranai..."


~***~


"jadi...bagaimana cerita yang kau janjikan itu?" Tanya Hamada pada Matsuyama.


"oh sebab aku masih hidup?"


"iya"


"jadi........saat itu......"


Semilir angin menghempas dedaunan kering, Semenjak salju turun sesekali, dedaunan mulai menguning.


seorang paruh baya berdiri didepan sebuah nisan, meski sebetulnya jasadnya bukan disitu melainkan di desa Rinai, itu cuma tiruannya saja supaya senantiasa mengingat yang telah tiada itu.


"huhhh....hampir saja aku juga kehilangan Rama-kun, aku bersyukur akhirnya dia kembali...padahal nilainya selalu terbaik tapi ternyata tidak bisa menyelamatkan dia dari bahaya...lalu aku harus apa ? Shinta..." gumam Paruh baya itu sendu.


"kita tak bisa mengubah takdir, itu kesimpulannya". jawab seseorang yang datang entah dari mana.


"seperti Shinta san yang pergi selamanya" lanjut orang itu.


"setidaknya aku sudah berusaha keras...iya kan Taki Matsu?" Ujar Paruh baya itu sambil menatap cakrawala, Taki hanya mengangguk.


"itu benar Paman Syimonoseki, maksudku Matsu san" jawab Taki.


"tak apa sesama klan adalah keluarga, jangan terlalu formal begitu" ujar Syimonoseki sambil menepuk pundak Taki.


"oh iya paman...Matsuyama san dia sudah pernah terluka parah, takutnya segel itu bisa saja rusak dan bahkan hancur, bagaimana kalau Matsuyama san tidak bisa mengendalikan dirinya?" Ujar Taki gelisah.


"darah Shinta yang lembut mengalir di dalam diri Rama, aku yakin ia mampu mengendalikan dirinya" ujar Syimonoseki sambil tersenyum palsu.


"dan lagi ada gadis payah itu, aku tambah yakin, dulu sewaktu kecil Rama sangat lengket padanya" tambahnya lagi.


"tapi paman...mungkin sekarang Matsuyama san berpikir untuk menjauhinya" Jawab Taki.


"huhhh....kau benar, sifat dingin dan keras kepalaku menurun padanya, andai saja ia tak terlahir dengan takdir mata biru itu....pasti ia tak akan mengalami banyak kesulitan". keluh Syimonoseki sambil meletakkan sekuntum bunga tulip ke nisan itu.


Angin berhembus kencang menebarkan dedaunan kering pohon ginko,


Syimonoseki menatap sendu nisan seorang yang amat berarti baginya.


"Jika Bahkan cinta ku tak sanggup untuk melindungimu, maka apa yang akan terjadi pada anak kita? tak seharusnya Matsuyama dan kau ku ajak ke Indonesia dulu, jadi kau pasti akan tetap hidup sekarang" Gumam Syimonoseki sendu.


~*~*~*~


Seorang pemuda dengan kaca mata melingkar di matanya , tengah asyik bersenandung sambil mengumpulkan beberapa tanaman obat.


"Sakamoto sensei pasti senang, aku menemukan banyak tanaman obat" gumamnya bangga.


"Tunggu dulu...aku mencium bau anyir!" Ujarnya kemudian bergegas menyibak nyibak semak belukar.


"Astaga....." ujarnya terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Souzy senpai!! Souzy sen...."teriak adik seperguruannya.


"Diamlah Kotaro! Cepat cari bantuan!" Ujar Sang pemuda berkacamata yang nyatanya bernama Souzy.


"Tapi kenapa?" ujar Kotaro penasaran.


"Lihatlah sendiri!"ujar souzy kemudian menarik Kotaro untuk melihat apa yang ia temukan.


"Inikan.....hai' aku akan segera menanggil teman lainnya" kotaro membelalak panik kemudian bergegas pergi.


...


"Sensei!! Sensei!!" Panggil Souzy buru buru


"Ada apa Nosyiro Souzy? Kenapa teriak teriak, apakah ada masalah?"ujar Sakamoto cemas.


"Lihatlah guru apa yang aku temukan"ujar Souzy sambil membopong seseorang.


"Diakan......cepat bawa ke ruang medis!" Suruh Sakamoto


"Hai' Sensei. Hei Kiro ayo bantu aku!"


"Baik"


Souzy membaringkan seseorang yang terluka parah itu lalu memeriksa denyut nadi nya.


Ia terkejut lalu bergeleng


"Sayang sekali..."


"Bagaimana keadaannya nak?"


Tanya Sakamoto.


Souzy hanya diam menatap orang yang terluka parah itu dan tidak menjawab pertanyaan gurunya.


"ya sudah mari kita berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dia" ujar Sakamoto, Souzy mengangguk.


...


Perlahan cahaya menusuk matanya, perlahan kesadarannya kembali.


"akh...dimana aku? aku masih hidup?" Ujar pemuda berambut hitam yang tubuhnya banyak dibalut perban.


"Ne...akhirnya kau sadar juga, aku pikir kau akan mati ternyata kau kuat juga" Ujar Souzy yang masuk ke ruangan itu dengan membawa obat herbal.


"Dare ka? (Kau siapa?)" Ujar Matsuyama sambil berusaha duduk.


"Ore? aku yang sudah menyelamatkan hidupmu, Namaku Nosyiro Souzy, panggil Souzy saja" jawabnya sambil nyengir.


"oh...Arigatou (terima kasih)" jawab pemuda itu datar.


"Anata namae wa?(dan namamu)?" Tanya Souzy.


"aku tak harus memberitau orang asing namaku". jawabnya dingin.


Pemuda itu tiba tiba gelisah,

__ADS_1


"nande ? (Kenapa?)" Tanya Souzy heran.


"Syal...kau tau dimana syal merah ku?" Tanya pemuda beriris biru safir itu sambil mencari cari.


"oh...Syal usang itu? aku yang menyimpannya" jawab Souzy sambil menerawang.


"ke..kembalikan!! kembalikan padaku!!!" pemuda bermata biru itu mencengkeram kerah Souzy.


"E-ekkk...t-tenang...tenang.. lagipula itu kan hanya syal jelek yang sepertinya habis terpotong" elak Souzy.


"kembalikan padaku!!! sekarang!!! atau aku akan membunuhmu!!" Bentaknya kasar seakan takut kehilangan syal merah berharganya, dengan luka nya yang masih baru ia meraih pedangnya cepat.


"ahhh iya iya nanti" Souzy terlihat ogah mengambilnya, reaksi yang sangat santai mengetahui ada orang yang membawa samurai di depannya.


"Sekarang!! Aku harus segera kembali ke Yume...semua orang pasti khawatir" Pemuda itu beranjak dari tempat tidur dan membuat luka nya terbuka.


"dengan keadaan seperti ini? tidak bisa" cegah Souzy.


"aku harus pulang!!!" bentaknya lagi sambil mencengkeram kerah Souzy.


"tidak boleh!! Aku sudah capek capek mengobatimu , jika lukamu terbuka lagi kerja kerasku akan sia sia" ujar Souzy kesal.


"huhhhh!!!!" Pemuda itu menghembuskan nafas kesal, iapun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Souzy.


"setelah lukamu sembuh, aku akan mengembalikan syalmu dan kau bisa pulang" ujar Souzy sambil tersenyum.


"kenapa..."


"he?".


"kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau menolongku? apa sebenarnya mau mu?" Tanya pemuda itu penuh curiga.


Souzy malah tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"jadilah temanku... Matsuyama".


"apa?? bagaimana kau--" Matsuyama tak mengerti.


"aku menolongmu karena aku ingin kau jadi temanku, aku tau rasanya, saat sendirian menyakitkan bukan? " jelas Souzy dengan tatapan tak terbaca.


"Jika kau menghianati ku maka semuanya akan sia sia, dan mungkin saja aku akan membunuh mu!" jawab Matsuyama sambil menerima jabat tangan itu, Souzy terlihat senang dan menangguk, ia yakin betul meskipun pemuda bermata biru tajam itu sangat dingin tapi ia memiliki hati yang baik dan hangat, karena ia menerima jabat tangannya, dan tangan pemuda mata biru itu...hangat.


...


"Jadi begitu ceritanya sensei.." ujar Matsuyama setelah bercerita panjang lebar.


"Ohhh menarik..." ujar Hamada sambil mengelus jenggot putihnya.


"kau tau....Sakamoto, aku mengenalnya".


" apa??!!! jadi guru mengenal Hanzo san?" Matsuyama nampak tak percaya.


"Sakamoto Hanzo, dia adalah tabib paling hebat , temanku dulu yang menghilang seperti bayangan"ujar Hamada sambil menatap sendu Cakrawala dari balik jendela. "pantas saja ia tak pernah muncul, ternyata sekarang ia mendirikan padepokan di desa Kabut.


"hai' dan desa itu sangat tersembunyi" timpal Matsuyama.


"dan...apa langkah mu selanjutnya? Yasmine chan sangat terpuruk waktu kau tiada" akhirnya Hamada kembali menyentil hati Matsuyama yang sensitif, Hal yang tak ingin Matsuyama bicarakan.


"aku....berniat menjauh dari nya" jawabnya sendu.


"tapi bukannya kau sudah berjanji untuk melindunginya?" Ujar Hamada tak yakin.


"justru itu adalah alasannya....akan lebih baik kalau dia tak ada didekatku".


"apapun itu nak...guru harap kau tak memilih jalan yang akan kau sesali nantinya".Ujar Hamada sambil menepuk pundak Matsuyama.


.


.


~*~*~*~


Yasmine melangkah gontai menyusuri lorong padepokan, hatinya sungguh terluka, di genggamannya ada tas berisi pakaian.


"mau kemana?!" Tanya seseorang dari belakang.


Yasmine berbalik untuk melihat siapa itu.


"Jae hyun?"


"ku bilang...mau kemana?"Tanya Jae hyun lagi, kemudian meraih tangan Yasmine.


"aku....akan pergi dari padepokan ini" jawab Yasmine sendu.


"kenapa?"Jae hyun nampak tidak rela.


"karena disini bukan tempat ku..tidak ada alasan untuk ku tetap disini" Jawab Yasmine menahan air mata.


"tidak boleh...kau tidak boleh pergi!".


"tapi...aku...".


"pokoknya tidak boleh!!" bentak Jae Hyun, mimik wajahnya terlihat sendu dan nampak butiran bening hampir menetes di sudut bola mata emerald nya.


"Kenapa? apa hak mu melarangku?" Ujar Yasmine kesal.


"alasannya adalah....karena aku...Menyukai mu! Saranghae Yasmine" jawab Jae hyun akhirnya jujur. Yasmine begitu terkejut, tak percaya Jae hyun tiba tiba mengungkapkan perasaannya.


Sejenak hening, hanya degub jantung yang beradu dan hembusan angin saja yang terdengar, Yasmine menggigit bibir nya menahan tangis.


"...terima kasih tapi.....aku.......m...maafkan aku....aku tak bisa.....aku harus pergi...." Ujar Yasmine akhirnya berbicara setelah lama terdiam.


"kapan kau akan kembali?" Tanya Jae hyun berusaha menghibur diri.


...


"kalau aku sudah punya alasan untuk kembali ke sini...." Ujar Yasmine lalu melangkah pergi.


Jae hyun berusaha tegar, hanya diam menatap sendu punggung Yasmine yang semakin menghilang, ia tak mampu menghentikan gadis itu, yah lagipula sehabis ini ia akan kembali ke pusat intelijen desa.


semua orang inginkan kebahagian


tidak ada yang ingin rasa sakit


namun...kau tak bisa melihat pelangi


tanpa sedikit hujan


kali ini aku akan bertahan sedikit lebih lama....


kali ini biarlah hujan turun sedikit lebih lama...


iya kan Rama........


"maafkan aku.....Yasmine" gumam Matsuyama sambil menikmati hujan yang turun kala itu.


hujan yang tiba tiba turun di hari yang cerah.

__ADS_1


To be continued..


__ADS_2