
Daun Ginko berguguran kuning indah tertiup angin, dihari yang dingin itu, Yasmine memutuskan untuk sekadar makan angin.
Ia melangkah menyusuri jalanan sepi sendiri.
Kemudian duduk sambil merogoh sesuatu dari sweater nya, sebuah ubi rebus.
Sedikit tersenyum iapun memakannya.
"Hmmm... Oishi (enak)" gumamnya.
Sembari menguntai masa lalu yang indah dan juga kelam.
Ia melihat lagi kalung pemberian ibunya, kalung kristal dengan liontin berbentuk snowflakes.
Entah mengapa kalung itu sangat unik.
"Ibu... Kenapa engkau pergi dan tak pernah kembali? Aku... Merindukanmu" ujarnya hampir menitikkan airmata.
Sesaat ia mendengar sebuah percakapan yang tak jauh dari sana, segera ia beranjak lalu bersembunyi dan melihat siapa itu.
"Itukan.... Matsuyama dan tunangannya..." gumam Yasmine sedih,
"Jadi... Mereka sudah sangat dekat sekarang?" batinnya sendu.
Bukanlah hal yang asing jika sepasang tunangan jalan bersama, namun entah mengapa hatinya sangat sakit melihat mereka bersama.
Yasmine hanya bisa menahan sakit yang menusuk hatinya, ia memutuskan untuk pergi dari sana sebelum ia menurun kan salju sebelum waktunya.
Hanabi berbincang banyak mengenai perihal pertunangan mereka, Namun Matsuyama agak acuh akan hal itu, Ia melihat seorang gadis bersyal merah yang melangkah pergi dari balik pohon dengan raut pilu.
"Yasmine?" Gumam nya.
"Aku harus menjelaskan nya bahwa kami tak melakukan apapun" Batin Matsuyama.
"Tapi tunggu, buat apa aku menjelaskan padanya? Itukan bukan urusannya! Dan apapun yang kami lakukan tak ada hubungan nya dengan gadis itu! Tapi entah mengapa... Aku merasa kalau dia sedang terluka" Batinnya dengan tak menghiraukan ocehan Hanabi yang kesal akan sikap dingin dan acuh Matsuyama.
"Akhhh.... Apa peduliku? J-Jika dia terluka maka biar saja!" Gumam nya.
"Siapa yang terluka?" tanya Hanabi yang ternyata mendengar gumaman Matsuyama.
"Bukan siapa siapa" Ujar Matsuyama dingin.
"Jadi itu semua yang dikatakan ayah, Ne! Kiteru?!!( hei! Kau dengar tidak?!)" ujar Hanabi kesal karena belum mendapat tanggapan dari Matsuyama setelah lama mengoceh tentang apa nasihat ayahnya untuk calon menantunya.
"Kiteru yo( ya aku dengar)" Jawab Matsuyama datar.
"Baiklah aku akan kembali dulu ke rumah" Ujar Hanabi sambil melangkah pergi.
"Hai' Jaa ( sampai jumpa)" ujar Matsuyama dingin.
"Dasar gunung es menyebalkan! Apa sih dari pemuda itu yang membuat gadis itu jatuh cinta?" Gumam Hanabi kesal.
***
Matsuyama membisu sembari menatap Dandelion yang rontok tertiup angin, Dandelion rapuh hancur berkeping keping oleh hembusan angin, tak ada yang bisa lakukan apapun untuk menahan angin menerpa Dandelion. Entah mengapa ia tak suka kalau gadis itu ikut misi, entah kenapa ia merasa harus melindungi gadis itu.
Mungkin karena rasa kasihan atau... Entahlah.
Seorang gadis datang dengan tergesa menghampiri Matsuyama,
"Ketua!! Konnichiwa!!" teriak gadis itu sambil berlari mendekat.
"Konnichiwa" ujar Matsuyama datar.
"Ketua aku dapat informasi penting tentang Yuukine gakure" ujar gadis itu sembari mengambil nafas.
"Informasi apa Aikana -san?" ujar Matsuyama agak tertarik.
"Seorang utusan dari Yuukine dan Rui -san (Kanazawa) diculik saat sedang menuju kemari" ujar Xin lie dengan nada panik.
"Apa?!!!. Baiklah katakan pada anggota lain bahwa kita akan mengadakan misi darurat!" ujar Matsuyama beranjak. Xin lie mengangguk.
"Hai' laksanakan" Ujar Xin lie kemudian menghilang.
"Ini pasti ada hubungan nya dengan Shiro" gumam Matsuyama sambil mengepal tangan murka.
***
Jangkrik menyenandungkan kidung yang menyayat kala malam, Purnama pun bersembunyi dibalik bayangan awan. Meski malam telah terlampau larut SevenFellowship masih terjaga, mereka tengah pening memikirkan rencana penyelamatan untuk utusan dari Yuukine itu.
Matsuyama membuka sebuah gulungan kertas, diatas meja bundar yang diterangi lentera amat terang.
"Bukankah ini denah?" tanya Souzy, Matsuyama mengangguk.
"Tepatnya denah markas Shiro" ujar Matsuyama menegaskan.
Sebenarnya Yasmine juga tau denah itu karena dia pernah disandra juga, namun mungkin hanya dia satu satunya yang mengingat nya, karena Matsuyama lupa akan semua tentang apa yang telah mereka lalui bersama.
"Wow, dari mana kau dapat itu?" tanya okayama.
"Kau lupa kita punya anggota yang berbakat?" ujar Rin hye sambil menatap Xin lie.
__ADS_1
"Ahh kau benar" ujar Okayama paham, Xin lie tersenyum.
" Siapa memang? Aku tak mengerti" Ujar Souzy polos.
"Sstttt!! Jangan munculkan kelambatan berfikir mu sekarang! Yang penting ini!" Ujar Matsuyama sambil menunjuk peta diatas meja.
"Lambat berpikir katanya?! Dasar!!" Gumam Souzy kesal.
Mereka pun mulai menatap lekat denah itu.
"Mustahil kita dapat menerobos tanpa bantuan Matsutaka Keyta, lewat manapun tersegel dan dijaga ketat" ujar Okayama.
"Mereka akan langsung tau kalau ada orang asing, bahkan burung pengintaiku hampir saja mati, darat atau udara nihil" ujar Xin lie frustasi.
"Ada cara lain..." Ujar Matsuyama, semuapun berkerut dahi, akhirnya otak jenius Matsuyama mulai bekerja.
"Cara lain?" ujar anggota lainnya, Matsuyama mengangguk.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, lagipula kita harus percaya pada ketua kita" Ujar Okayama untuk pertama kalinya, nampaknya dia mulai mengakui rival sejatinya itu.
"Jadi mulailah rencananya ketua!" sambung Okayama lagi, Matsuyama tersenyum lalu mengangguk.
"Jika diatas tanah mereka menemukan kita, mengapa tak coba dibawah tanah?" Ucap Matsuyama memulai rencananya.
"Meskipun ini terdengar konyol".
"Maksudnya kau mau menggali lubang?" tanya Souzy memastikan.
"Sebuah terowongan dalam tanah ya?" Ujar Yasmine, nampaknya ia paling paham tapi Matsuyama masih acuh padanya.
"Kita akan menggali mulai dari tanda X ini, tugas ini cocok untukku, dan Okayama. Lalu kita akan keluar disebuah ruang kosong, maka cara untuk keluar dari ruangan itu kita serahkan pada Xin lie, lalu masih dalam mode menyamar kita harus melumpuhkan kira kira 10 orang untuk bisa sampai keruang sandera" Ujar Matsuyama menjelaskan rencananya.
"Tapi orang Shiro sangat tangguh, kita kalah jumlah kita tak bisa melawan langsung lewat fisik bisa bisa ketahuan anggota shiro yang lain" ujar Rin hye.
"Ini adalah tugasmu dan Souzy.." Tegas Matsuyama, Souzy dan Rin hye saling pandang.
"Kenapa?" tanya Souzy.
"Karena kita akan membuat senjata yang dapat melumpuhkan dalam sekejap, tidak bersuara dan ampuh.." Ujar Matsuyama.
"Apa itu?" Tanya Souzy.
"Racun?" ujar Rin hye paham, Matsuyama mengangguk.
"Gas beracun, jarum beracun dan kunai beracun! Kita bisa gunakan itu" Timpal Rin hye lagi.
Matsuyama tersenyum, gadis ini memang berbakat.
"Serahkan padaku!" ujar Souzy mengangguk paham.
"Bagaimana denganku?" Tanya Yasmine yang sejak tadi diabaikan oleh Matsuyama.
"Tak ada, diam dan ikut saja, atau malah merepotkan!" Ujar Matsuyama, Yasmine menunduk sedih. Xin lie merasa kasihan.
"Tunggu dulu, bukankah seharusnya disini ada perlindungan api?" kata Xin lie menunjuk sebuah tempat didenah.
"Sekarang itu bagian mu! Padamkan api itu dengan elemen es mu, kata Sensei kau bisa elemen es kan? kau puas?!" Ujar Matsuyama ketus, Yasmine mengangguk.
Meskipun misi ini berbahaya, apapun yang terjadi Yasmine akan tetap berdiri disamping pemuda itu, setidaknya mungkin ini saatnya ia membalaskan semua kebaikan pemuda itu, bahkan bila maut menebas mimpinya bahkan bila itu terjadi dan Matsuyama masih tak mengingat nya atau enggan melihat kearahnya ia akan lebih tidak peduli lagi.
"Semuanya bubar! Istirahat yang cukup, besok akan menjadi hari yang sulit" ucap Matsuyana pada semua, lalu merekapun mengangguk dan melangkah pergi, tersisa Yasmine dan Matsuyama berdua saja.
Entah mengapa Matsuyama menatap Yasmine penuh arti, apakah itu respon tak rela? Namun tak rela akan apa? , apakah ia tak rela Yasmine mengikuti misi ini karena khawatir, atau tak rela karena takut Yasmine hanya akan menjadi duri dan ia membencinya?. Akhirnya pemuda itu memalingkan wajahnya dan berbalik.
"Nanti saat misi... Berhati-hatilah". Deg! Kata kata Matsuyama Yasmine tertegun.
"Apa? Maaf tadi kau bilang apa?" Yasmine mencoba memastikan apakah pendengaran nya bermasalah atau tidak.
"Aku bilang... Jangan kacaukan misi ini! Kalau bisa akan lebih baik kalau kau tak ikut!" ujar Matsuyama dingin lalu melangkah pergi. Mereka menyusuri lorong gelap menuju kamar masing masing, Yasmine berjalan dibelakang nya. Bukan menguntit tapi memang kamar mereka bersebelahan.
Matsuyama melewati pintu kamar Yasmine lalu masuk dikamar sebelahnya, Yasmine menatap punggung pemuda itu hingga lenyap dari balik pintu.
Nampaknya memang benar argumen kedua , Matsuyama hanya menganggapnya sebagai duri dan mungkin ia harus segera berkonsultasi ke Rin hye mengenai pendengaran nya yang agak bermasalah.
***
Sebelum kokok ayam jantan bergema, Seven fellowship telah melangkah, tiap depa terasa seperti genderang perang telah ditabuh, bagi Okayama, Souzy ,Xinlie dan Rin hye ini adalah kali pertama buat mereka menyusup ke markas Shiro tapi karena Matsuyama telah hilang ingatan berarti pertama buat dia juga.
sedang Yasmine ia sudah pernah hampir mati di Shiro.
"Gunakan jurus pemanggilmu untuk menggali, mulai dari tanda x ini" ucap Matsuyama pada Okayama sambil menggambar tanda x di tanah.
"Maksudmu aku harus memanggil 'Kitoru'?" tanya Okayama memastikan.
"Kalau tidak hewan itu kau mau menggali pakai sekop? Agak cepat kalau berfikir!" ujar Matsuyama dingin, Okayama hanya nyengir lalu bersiul. Akhirnya entah dari mana muncul hewan sejenis tikus raksasa menghampiri Okayama, Okayama mengelusnya. Rin langsung berjingkat kaget lantas bersembunyi dibalik punggung Yasmine.
"Hewan apa itu?!! Kenapa bisa disini??!!!" ujarnya geli.
"Kitoru! Cepat gali dibagian tanda x ini!" perintah Okayama, hewan itupun mulai menggali.
"Aku duluan. Lalu kau seterusnya gantian satu persatu!" ucap Matsuyama pada Okayama, lalu loncat masuk lubang mengikuti Kitoru.
"Yang terakhir menutup menggunakan jurus ilusi" ujar Okayama.
__ADS_1
"Memang kenapa jika langsung tanah?" tanya Souzy polos.
"Kau mau mati kehabisan nafas?" jawab Okayama kesal. Merekapun masuk satu per satu, yang terakhir Rin hye, menggunakan jurus ilusi sehingga seakan tak pernah ada lubang disana.
Akhirnya mereka berhasil menyembul ke atas, diruang kosong sesuai rencana,
"Ini ruang kosong seperti yang ada di denah kan?" Okayama bergumam.
"Tetap waspada, tak mungkin semudah yang kita bayangkan" ujar Matsuyama memperingati.
Semua mengangguk paham.
"Sekarang giliran mu Xinlie!" Ujar Matsuyama sambil menunjuk lubang kunci pada pintu ruangan yang terkunci itu. Xin lie mengangguk, Ia segera melepaskan jepit rambut serupa lidi, tangan pula jari lentiknya dengan ahli melepas melengkak lengkuk jepit itu lalu memasukkannya ke lubang kunci, memutarnya dan
KREK!! pintu pun terbuka.
Memang Xinlie ahlinya di pusat mata mata dan intel, semuapun tersenyum kagum.
"Sekarang apa?" Tanya Souzy.
"Sekarang tugamu dan Rin lah, malah tanya"ucap Okayama.
"Ternyata ada juga kembaran gadis asing itu" ujar Matsuyama ketus. Sekarang dia lebih sering menyakiti hati Yasmine.
"Ya ya aku tau!, ayo Rin!" Ucap Souzy kesal,
Rin hye menguntit dibelakang Souzy yang perlahan mengendap endap.
"Kau atasi yang utara, aku selatan" ujar Rin, Souzy mengangguk.
Dengan sigap dan cepat mereka meloncat sembari melepar jarum beracun, JLEP JLEP ,
Beberapa menancap di leher beberapa di punggung. Dalam 5 detik mereka tumbang.
Rin memberi kode, Matsuyama dan lainnya akhirnya keluar dari ruangan itu.
"Bukankah ini aneh? Seharusnya ada lebih dari 10 orang kan? Tapi kenapa sepi" Ujar Yasmine curiga.
"Jangan - jangan..." Belum selesai ucapan Matsuyama, tiba tiba lantai yang mereka pijaki bergerak, bangunan ikut bergerak.
"Apa apaan ini?! " Keseimbangan Okayama oleng,
"Ini pasti jebakan, sudah ku duga" ujar Matsuyama, satu satunya yang tetap terlihat tenang. Sialnya, lantai itu bergerak semakin kencang Sedetik lagi Yasmine akan sempurna jatuh, namun dengan Sigap dan cepat matsuyama sudah berada di belakangnya untuk menangkap tubuh Yasmin yang akan jatuh dan membentur lantai.
" Apa kau baik-baik saja?" Ujar Matsuyama membantunya menyeimbangkan tubuh.
Namun tiba-tiba dari lantai muncul tembok yang memisahkan mereka dengan okayama, Rin , Souzy dan Xin lie.
"Tidak!!! " namun tembok itu begitu cepat terbentuk memenjarakan nya belum sempat matsuyama melangkah kini mereka berdua sudah berada di ruangan yang berbeda bersama Yasmine.
"Rin! Okayama! Souzy!! Xinlie!!?? Apa kalian mendengarku?!! Hoi!!" Teriak Matsuyama sembari memukul mukul dinding.
***
"Hiattttt!!!!!! " Pekik Keita sembari mulai duluan dengan pedangnya,
TING!!!
Matsuyama berhasil menangkis pedang itu dengan samurai nya, mereka adalah lawan yang imbang, sangat cepat hingga bahkan Yasmine tak bisa melihat gerakan mereka. Keita berniat menebas leher Matsuyama namun secepat kilat Matsuyama dapat berkelit, Matsuma mengayunkan pedangnya dengan cepat dan keita cepat sekali menghindar tapi kelihatannya Matsuyama berhasil menebas sedikit rambutnya, beberapa helai melayang diudara.
"Kelihatannya lama tak bertemu kecepatan mu mulai berkurang, kak!" ujar Matsuyama, Keita bertambah berang.
"Jurus badai api!!!!!" teriak Keita dan seketika muncul api yang berkobar
"Matsuyama!! Awass!!!" teriak Yasmine khawatir, dengan sigap iapun membangun dinding es yang melindungi Matsuyama. Mengetahui jurusnya gagal Keita bertambah murka, ia tatap tajam Yasmine, langsung menyerang Yasmine, namun sekuat tenaga Matsuyama menghadang dan menangkis serangan Keita pada Yasmine.
Namun Matsuyama akhirnya lengah, Keita dapat meruntuhkan pertahanan Matsuyama, pedangnya secepat kilat menuju Matsuyama.
"Tidak!!! Matsuyama awas!!!" teriak Yasmine.
Tidak. Ia tak mau melihat orang yang ia cintai mati didepan matanya lagi.
Namun... JLEBBB!!!
Ketakutan itupun terjadi..
Mimpi buruk itu terjadi lagi..
Mata Matsuyama membelalak, mata Yasmine pula demikian,
Air mata mengalir..
"Yasmine..." Matsuyama bergumam berat, darah segar mengalir.
Matsuyama tertegun, Yasmine dalam pelukannya...
To be continued.
Haru Wo Matteimasu
(Waiting For Spring)
__ADS_1