Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
dendam dan kekecewaan


__ADS_3

"horee" teriak anak kecil yang berada tak jauh dari ku


"Agnes, ayo naik" ajak bapak


"ayo, pak" sahut ku yang sudah tidak sabar untuk menaiki biang Lala


"cepetan Bu" ajak ku


Ibu langsung menaiki tangga untuk menuju ke biang Lala


"bapak, tolong bawa ini" ucap ibu yang memberikan satu kantong kresek


kami menaiki biang Lala yang berputar ke atas, dengan lampu warna warni.


"hore, bagus sekali" ucap ku yang melihat biang Lala mulai berputar .


Secara kasat mata memang kami cuma bertiga yang menaiki biang Lala, namu secara tak kasat mata di bianglala yang kami naiki ada 5 orang di dalam nya.


"ibu, lihat, itu bagus sekali" ucap ku yang menunjuk ke arah lampu perkotaan yang sangat terang


"iya, sayang, itu di kota, dekat dengan tempat kerja bapak" jelas bapak


"oh, ya pak, Agnes mau ikut bapak kerja, biar bisa lihat lampu yang banyak" sahut ku sambil tersenyum senyum ruang gembira


Sekitar 15 menit kami menaiki biang Lala, rasanya waktu masih kurang lama Karana pemandangan di atas sangat indah.


"Agnes, ayo bersiap untuk turun" ajak ibu


"iya, Bu" ucap ku sambil berpegangan pada tiang biang Lala


"kapan - kapan, naik biang Lala lagi ya,pak" ucap ku yang masih senang.


"iya, sayang" sahut bapak sambil mengusap kepala ku


aku, ibu dan bapak turun dari biang Lala, setelah itu kami berkeliling Kembali mencari jajanan anak- anak.


"Agnes, mau itu" ucap ibu sambil menunjuk ke arah penjual cilok


"gak, Bu, Agnes sudah kenyang" sahut ku


"ya, sudah " sahut ibu


Kami masih berkeliling, saat aku berada di dekat penjual martabak mini pandangan ku tertuju pada sosok nenek yang berada di samping penjual martabak, nenek itu melihat tajam kepada penjual martabak, seperti ada rasa kekecewaan.


"grasia, nenek itu" ucap ku yang menunjuk ke arah nenek yang berada di sebelah penjual martabak


"kasian nenek itu" sahut Grahan


"ada apa" tanya ku


"ada rasa kecewa dan dendam" sahut Grahan


aku masih memperhatikan ucapan Grahan dan sesekali aku melihat ke arah nenek tersebut.


"bapak, aku mau itu" ucap ku yang menunjuk ke arah penjual martabak mini.


"iya, ayo kesana" sahut bapak


Kami semua melangkah ke tempat penjual martabak mini itu berada. Aku mencoba mendekati nenek itu.


"nenek" panggil ku


"Kamu bisa melihat nenek" sahut nenek


Aku mengguk kepad nenek tersebut.


"orang jahat" ucap nenek yang Melik ke penjual martabak mini.


"nenek kenapa" sahut ku

__ADS_1


"Dia yang membuat ku seperti ini" jelas nenek


Nenek tersebut sedikit menangis, dia menceritakan gimana dia bisa menjadi sosok hantu yang penuh dengan kekecewaan dan dendam.


"aku ditabrak oleh nya, di suatu tempat, dan dia meninggal kan ku dengan keadaan ku yang sedang sek*rat" jelas nenek


"aku ingin membalas nya, aku ingin membun*hnya juga" jelas nenek


"jangan nek, itu perbuatan yang tidak baik, ini semau sudah takdir, nenek harus ikhlas" jelas ku


"tidak bisa, gara- gara dia anak dan cucu ku sedih" jelas nenek lagi


"gggrrrr" Grahan mengerang


"sosok hantu yang tidak menerima takdir" sahut Garahan


"aku harus membalas kan dendam ku" sahut nenek


"jangan, nek" teriak ku


"Agnes, ada apa" tanya bapak


"itu, itu, pak" sahut ku yang gugup


"Agnes" panggil ibu


"iya, Bu"


Saat Agnes lengah, nenek yang berada di dekat penjual martabak mini ingin berbuat jahat kepad Agnes, dengan. sigap grasia dan Grahan menepis tangan nenek dan juga tubuh nenek


"energi negatif muncul" sahut Grahan


"ssssseeeettt"


"juuk"


"brruukk"


"singa si*lan" ucap nenek yang kasar.


"Jagan sekali-kali kamu menyakiti Agnes" ucap grasia yang memasang muka marah nya.


"anak yang akan menghambat ku untuk membalas dendam" sahut nenek tersebut.


"bila kau menyakiti Agnes, juga salah kan aku bila aku juga menyakitimu" ucap Grahan


"pergi, jangan ganggu aku" teriak nenek


"nenek, jangan lah kamu membalas dendam, kami akan membantu mu" jelas ku


"aaaauuuu" suara penjual martabak mini


"Kamu, sakit lagi mas" sahut wanita yang sepertinya istri penjual martabak mini tersebut.


"iya" sahut penjual martabak.


Nenek memang memukul dan menekan perut penjual tersebut oleh karena itu penjual tersebut merasakan kesakitan.


"duduk, dulu mas" sahut ibu yang berada dis belah bapak penjual martabak mini.


"aauu, sakit dek" sahut bapak penjual


Aku yang melihatnya langsung berlari menuju ke nenek tersebut.


"hentikan nek" teriak ku yang membuat penjual martabak mini terkejut


"ada apa, nak" tanya ibu istri penjual martabak


"eeh, eh, ada nenek di belakang, bapak penjual martabak" sahut ku yang gugup

__ADS_1


"nenek" tanya bapak penjual


"suruh, dia meminta maaf kepada keluarga ku" titah nenek


"pak, apakah, bapak pernah berbuat salah kepada seseorang nenek" tanya ku


"eemmmm" bapak penjual martabak sedang mengingat apa yang pernah beliau lakukan.


"dek, mas, mau jujur" ucap bapak penjual martabak.


"iya, mas" sahut istri penjual martabak


"satu Minggu yang lalu, aku menabrak seorang nenek-nenek, pejalan kaki yang sedang menyebrang" jelas bapak penjual yang sedang jujur kepada istrinya


"stelah menabrak nenek tersebut, aku lari, takut di pukuli oleh warga, oleh karena itu aku lari dek, dan pergi menjauh" penjual martabak mengakui kesalahannya.


"inin sekali, aku kembali menolong nya, namun aku masih ,takut" jelas bapak penjual martabak


"mas, itu perbuatan kriminal" jelas istri penjual martabak


"tapi mas, takut, karena nenek yang aku tabrak kondisinya sangat parah" jelas bapak penjual martabak lagi


"kita harus menemui keluarganya mas" ajak istri penjual martabak yang mengajak suami nya untuk menemui keluarga nenek yang di tabrak nya.


"aku akan menyerahkan diri ke pihak yang berwajib" jelas bapak penjual martabak


"harus, mas, karena kamu bersalah" ucap istri penjual martabak yang sedikit kecewa


Stelah nenek mendengar percakapan bapak penjual martabak dan istrinya, nenek tersebut mulai menyadari dan tersenyum


"setiap perbuatan harus di bertanggung-jawab kan" ucap nenek


"nenek, harus tenang di sana , kembalilah ke alam nenek" jelas ku


Kami bertiga masih memandangi nenek yang menatap ke arah penjual martabak tersebut


"Terimakasih, nak" sahut enek dengan senyuman


"Agnes, tidak berbuat aoa- apa nek, bapak penjual tadi yang menyadari nya sendiri" jelas ku


"iya, terimakasih, nenek ucapkan kepada mu" jelas nenek


"iya, nek, sama- sama" sahut Ki dan tersenyum


"Agnes, ayo" panggil ibu


"iya, bu, nek, Agnes pulang dulu ya, da da" ucap ku kepada nenek dan melambaikan tangan ku


Aku, Garahan dan grasia pergi dari tempat kami, setelah itu kami semau pulang kerumah Karana hari sudah larut malam ,sedangkan aku besok harus sekolah.


Saat masih berada di jalan kami semua di hadang oleh segerombolan kakak yang membawa senjata tajam.


"berhenti kalian semua" ucap kakak yang membawa senjata tajam sekitar 3 orang mengendarai satu motor.


"mau apa kalian" ucap bapak yang membentangkan tangan nya untuk melindungi aku dan ibu


"serahkan barang yang kalian punya" ucap kakak tersebut yang sepertinya terpengaruh oleh minuman yang mengandung alk*hol.


"tidak, kami tidak punya" ucap ayah.


"habisi saja, mereka" ucap kakak yang lain.


Bapak yang mendengar ucapan mereka memasang kuda kuda untuk mulai melawan mereka


"serang" ucap kakak yang membawa senjata tajam


"aaaaaaa, bapak" teriak ibu


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus novel "wanita berkodam" dengan cara like dan share vote dan jadikan novel favorit kalian, jangan lupa berkomentar dukungan kalian salah satu semangat untuk ku!!!. terimakasih


__ADS_2