Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
siluman yang menyerupai kakek


__ADS_3

Aku yang melihat kakek di bekas kamarnya belia, aku langsung menghampirinya dan memeluk kakek.


"gggggrrrr"


Grahan masih tetap saja mengerang dan menunjukan mode siaga saat melihatku.


"Agnes, hati" ucap grahan


grasia yang masih saja menyapa ku juga menunjukan mode marah yang mengerikan.


"kakek, Agnes rindu" sahut ku


"Agnes, menjauh" ucap grasia.


Aku yang mendengar ucapan grasia sedikit kaget.


"juukk"


"bruuukk"


Tubuh yang menyerupai kakek terjatuh saat Grahan menendang tubuh tersebut.


"Grahan, kenapa kamu nyakitin kakek" jelas ku yang marah.


badan ku masih di pegang oleh grasia, karena aku di larang mendekat ke kakek.


"lepas kan aku grasia" teriak ku.


"kakek" panggil Ku


"Agnes, ada apa nak" sahut ibu yang mendengarku berteriak langsung mencari ku.


"Agnes" ucap ibu sambil memegangi tangan ku


"ibu, Grahan menyakiti kakek" ucap ku kepada ibu.


"itu, bukan kakek kamu, nes" sahut grasia


"kakek, ku" ucap ku lagi sambil menagis


"cup, cup, diam nak, Grahan begitu pasti ada alasannya" jelas ibu


"juuk"


"juuk"


"bruuk"


"juuk"


"grasia lindungi Agnes" ucap Grahan yang masih bertarung dengan sosok yang menyerupai kakek.


Grasia memegangi ku, ibu juga menangkan ku.


"kur*Ng aj*Ar kenapa kalian mengganggu ku" ucap sosok itu


sosok tersebut langsung mengubah dirinya karena sedari tadi di tendang dan di cakar oleh Grahan.


"hah" ucap ku yang kaget saat aku melihat ke arah sosok kakek tersebut berubah menjadi sosok yang menyeram kan badan ke bawah berbentuk seperti manusia senang kan kepala seperti babi hutan yang berbulu lebat.


"celengan" sahut Ki yang memnaggil sosok tersebut


celengan adalah sosok seperti siluman babi, yang di sebut di desa ku dengan julukan celengan. Siluman tersebut adalah pesugihan yang di titah oleh manusia untuk mengambil harta seseorang untuk di jadikan miliknya.


"juukk"


"juuukk"..


"juukkk"..


"brruuukk"


sosok celengan tersebut tersungkur ke tanah karena hantaman dari Grahan yang sangat kuat.


"pergi lah ini rumah keluarga ku" jelas Grahan


"ini , adalah kekuasaan Ku" jelas sosok mengerikan


"belum menyerah" ucap grahan yang sudah kesal

__ADS_1


"srrrtt"


"srrrttt"


"srrrttttt"


Grahan mencakar cakar tubuh sosok mengerikan hingga mengeluarkan luka yang sangat dalam.


"kau ingin melawan ku" ucap sosok mengerikan


"juukkk"


"srrrrtt"


"jukk"


"juukk"


"bruuk"


Sosok yang mengerikan itu kembali tersungkur hingga lemas.


"pergilah, sebelum aku mengha*isimu" jelas Grahan yang mulai ngamuk


"gggggrrrr"


"ggggrrrr"


Suara erangan Grahan yang mulai marah


tanpa berkata apapun sosok tersebut hilang.


Garahan terduduk di lantai dan mengeluarkan nafas kasar dengan ngos-ngosan.


"Grahan, maafkan aku" ucap ku kepada Grahan yang masih kelelahan.


"tidak apa, nes, kamu harus berhati-hati" titah Grahan


Setelah itu aku dan ibu pergi pulang, karena bersih bersih di rumah kakek sudah selesai


Saat di jalan aku melihat penjual es dung,- dung yang biasanya berkeliling di depan rumah ku, aku dan ibu berhenti sebentar untuk membeli jajanan dan es dung-dung


"Bu, enak" sahut Ku yang memakan es dung - dung.


"oh, ya" tanya ku penasaran


"ya, bapak penjual es dung-dung memang berjual dari ibu masih remaja, suka main ke sana kemari" jelas ibu


"ibu dulu suka main" tanya ku lagi


"iya dulu ibu suka main, gobak sodor, main egrang, main dakon, ada main gundu juga, walaupun ibu anak perempuan i u suka main gundu loh" jelas ibu lagi


"aku kalau di sekolah tidak pernah main kayak gitu Bu" jelas ku


"nanti ibu ajari, mau" ucap ibu


"iya, aku mau Bu" sahutbku sambil mengangguk dan girang.


Kami segera menghabiskan es dung-dung yang kami beli, setelah itu kami membeli bakso untuk di makan dengan bapak nanti saat sudah sampai di rumah


"Agnes sebentar ya nak, ibu mau beli bakso dulu buat nanti di makan di rumah" jelas ibu


"iya Bu" sahutbku yang mulai turun dari motor.


Aku di gandeng oleh ibu untuk menuju ke tempat penjual bakso, aku melihat ada beberapa jenis bakso, ada bakso urat, bakso alus, bakso kecil, bakso udang, bakso mercon.


"banyak sekali baksonya mas" sahutbku yang berbicara pada mas mas penjual bakso


"banyak deka, kamu mau yang mana" tanya penjual bakso


"aku iku ibu aja" sahut ku sambil tersenyum manis


Stelah kita membeli bakso, kota berdua pulang kerumah dan memakan bakso yang sudah ibu beli.


"wah, bapak sudah pulang" ucap ibu sambil meminggirkan motor


aku segera turun dan memegang es dung-dung ku yang belum habis tadi.


"wah, Agnes makan apa" tanya bpak

__ADS_1


"es dung-dung, bapak mau" tanya ku


bapak mengangguk dan bersiap- siap untuk membuka mulut nya


"hak, aem" ucap ku


"enak kan pak" jela aku


"iya, enak lah, kan es dung- dung kesukaan anak bapak" ucap bapak sambil memeluk ku.


"iya, dong" sahutbku sambil tersenyum


"bapak di rumah kakek, yang lama tidak di tempati tadi ada 2 sosok yang ada di sana" jela aku


"oh, ya, nyeremin gak" tanya bapak


"yang satu gak, yang satu iya" jela aku


"tadi grahan memukuli dan mencakar sosok tersebut" tnya bapak memperjelas


"iya, pak" ucap ku dengan polos


"Bu, ibu, kapan aku bisa di ajarin main dakon" tanya ku


"ayo, sini , ibu ajari" jelas ibu yang mengambil mainan dakon yang masih terbungkus plastik.


"wah, mainan, baru, Bu" ucap bapak yang membuat ku senang.


"iya, pak, ini mainan Agnes baru di belikan ibu


"udah sebesar ini, masih main dakon" ejek bapak


"emang kalau udah besar gak boleh main dakon. Pak" tanya ku


"boleh, sayang" sahut bapak


"Kamu nih lucu Agnes" ucap bapak sambil mencubit hidung ku


aku di ajari oleh ibu bermain dakon karena sejak kecil aku belum pernah main dakon. Kecil aku selalu di belikan mainan masak- masakan oleh kakek itu saja dari tanah, terkadang kalau ibu gak tau aku main api untuk masak di mainan ku.


"Agnes, aku mau coba dong" sahut grasia


"boleh, ayo kita main" ucap ku


"Bu aku main sama grasia" ucap ku kepada ibu


"iya, boleh, ibu mau siapin bakso buat bapak dulu" jelas ibu sambil berdiri dan melangkah ke dapur


"satu"


"dua"


"tiga"


"empat"


"lima"


"enam"


"tujuh"


"delapan"


"yeee, ambil lagi" sahutbku yang senang


"wah, seru" ucap grasia


"Nanti kalau aku sudah di tempat kosong giliran kami grasia" jelas ku


"iya, aku akan mulai jalan" sahut grasia


grasia dengan sabar menunggu gilirannya untuk main, sedangkan Grahan hanya memandang kami dari balik pintu rumah, Grahan selalu berbaring di belakang pintu rumah, karena lebih mudah mengawasi dari sisi tersebut.


"aaaaa"


"brrruuukkk"


"pyyuaaarrrr"

__ADS_1


Suara benda jatuh dari dari dapur kami pun segara berlari menemui ibu yang ada di dapur.


Bersambung


__ADS_2