Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
jasad surtini


__ADS_3

Ke esokan hari pagi pagi aku bersiap untuk pergi ke tengah hutan lagi bersama Grahan.


"Agnes kamu mau kemana" tanya ibu


bapak sudah berangkat kerja oleh karena itu ibu selalu bertanya saat aku akan pergi, karena ibu tau kalau untuk sementara waktu ini aku cuti bekerja.


"eh, Bu Agnes mau keluar sebentar ada sesuatu yang akan Agnes beli" jelas ku


"jangan lama lama ya nak" titah ibu


"iya, Bu"


aku berpamitan kepada ibu dan pergi ke hutan untuk membantu mencari jasad Surtini.


Perjalanan hampir 45 menit dari rumah ke tengah hutan, setelah sampai di hutan aku dan Grahan mengendap-endap kesamping rumah tersebut, rasa mual seperti kemaren aku rasakan lagi energi negatif yang masih saja ku rasakan memanjat rasa mual ku semakin tidak bisa tertahan kan.


"Agnes, kamu baik baik saya" tanya Grahan


Arwah Surtini melihat ku dari sisi samping rumah, dia selalu menunjuk ke arah samping rumah yang banyak semak belukar di bagian pintu rumah.


"disini" tanya ku ke Surtini dengan menunjuk ke arah samping rumah


Surtini menganguk sambil menunjuk.


Aku mencoba membuka pintu tersebut, saat aku ingin membuka pintu tersebut terdengar suara erangan dari dalam.


"astaghfirullah" gumam ku


"hati hati, nes" ucap Grahan yang berada di samping ku


"kretek" suara pintu terbuka


Aku langsung berjongkok dan bersembunyi sesnagkan Grahan dan Surtini bersembunyi di balik dinding


"ada energi lain yang datang kemari" ucap seseorang yang baru saja keluar dari gudang


Ia terus melangkah kan kaki meninggalkan hutan, setelah orang tersebut menjauh aku langsung masuk kedalam gudang.


"kretek"


"gelap banget" sahut ku


Grahan berjalan di depan dengan Surtini aku di belakang mereka berdua.


"disini" ucap Surtini


aku mengambil hp ku dan menyalakan lampu senter yang ada di hp.


"astaghfirullah, di lemari ini" sahut ku


Aku Mencoba membuka pintu lemari yang terkunci rapat oleh rantai bersih yang tertempel banyak kertas di rantai nya.


"apa ini, mantra" tanya ku ke Grahan


"iya, mantra pengunci arwah" jelas Grahan


Aku mencari benda tumpul untuk membuka gembok tersebut, aku mencoba memukul dengan kayu yang ada di gudang tersebut namun masih belum bisa, aku keluar gudang dan mencari benda tumpul lain nya. Aku mendapatkan batu yang besarnya ukuran kepalan tangan ku dan ku pukul pukul gembok tersebut dengan batu sekuat tenaga ku.


"tok"


"tok"


"tok"


Aku masih berusaha untuk merusak gembok tersebut.

__ADS_1


"tok"


"tok"


"tok"


"Alhamdulillah, terbuka" ucap ku


Aku beegegas membuka pintu lemari dan saat aku buka baju busuk tercium sangat menyengat.


"astaghfirullah, bau nya" ucap ku


Aku mengambil kembali hp ku dari saku celana, aku nyalakan lagi senter dan aku melihat jasad Surtini yang di ikat dengan Posisi berdiri di lemari.


Aku mencoba melepaskan ikatan yang ada di tubuh Surtini yang sudah menusuk, namun di beri banyak kapur Barus di sekeliling tubuh Surtini.


"siapa kamu" teriak seseorang dari belakangku


"astaghfirullah" ucap ku yang kaget


"Kamu siapa, berani beraninya masuk gudang ku"


"aku saudara Surtini, Yanga jasadnya kamu sembunyikan disini" jela aku


"Dia sendiri yang mau" jelas dukun tersebut.


"pergi kamu" ucap dukun


"tidak, aku tidak akan pergi sebelum aku membawa jasad Surtini" jelas ku


"pergi, atau kau akan menyesal" ucap dukun


"tidak"


"pergi, atau kau akan Ku ha*is*" ucap dukun


"tidak ,sebelum aku bawa jasad Surtini" jelas ku tanpa menyerah.


Grahan menepis tangan dukun tersebut, aku berusaha melepas ikatan yang melilit jasad Surtini.


"siapa kamu" tanya dukun yang bisa melihat Garahan


"macan b*d*h" ucap dukun


Grahan mulai mencakar dukun tersebut, dukun juga melawan Grahan namun dukun tersebut tidak cukup kuat menahan Grahan. dukun itu kewalahan dengan serangan Grahan yang terus menerus.


"srreett"


"sreeettt"


"aaaa"


Teriak dukun yang keras.


"Agnes bawa jasad itu keluar" jelas Grahan


Aku mencoba mengangkat jasad Surtini, namun aku tidak sanggup kalau sendiri.


aku mencoba menarik nya dengan sekuat tenaga ku.


Grahan masih saja mencakar dan menendang tubuh dukun.


"ampun, ampun, macan" sahut dukun


"tidak ada ampun untuk dukun penganut ilmu sesat" jelas Grahan

__ADS_1


Grahan masih terus menerus mencakar dukun, hingga dukun lemas dan tak berdaya.


Grahan membantu Ku menarik jasad Surtini, Surtini tersenyum saat jasad nya sudah aku keluarkan dari jeratan dukun tersebut.


setalah menjauh dari gudang dan rumah sesat tadi aku mencoba menelpon pihak yang berwajib.


Aku terus saja mencari sinyal di dalam hutan.


"ayo lah, sinyal" ucap ku sambil aku cari sinyal dengan aku ketaskan hp ku.


"Alhamdulillah ada" sahut ku


Aku langsung menghubungi pihak yang berwajib, tidak berselang lama pihak yang berwajib datang dengan beberapa anggotanya, aku memberi tahu bahwa aku menemukan jasad tersebut di dalam gudang di tengah hutan.


Para pihak yang berwajib mulai mengerahkan anggotanya untuk menyelidiki semau , dan masuk ke hutan untuk mencari bukti.


Sekitar setengah jam pihak yang berwajib kembali bersama dukun yang masih lemas dengan badan yang tercatat oleh Garahan tadi.


"ayo, ikut kami" ucap petugas


jasad Surtini di bawa petugas menuju ke rumah sakit untuk di otopsi.


setalah itu Surtini mengucapkan terimakasih kepada aku dan Grahan.


"terimakasih" ucap Surtini sambil tersenyum


"sama sama, tunggulah di tempatnya yang sudah di siapkan" jelas ku


"baik" ucap Surtini dia menghilang dan melambaikan tangan nya.


Aku ikut kekantor dengan petugas untuk di mintai keterangan setelah itu aku Kemabli pulang kerumah, saat di ruang aku melihat ibu tergeletak di lantai.


"ibu" teriak ku


aku mencoba menghubungi bapak, namun hp bapak tidak bisa di hubungi.


Aku meminta bantuan warga sekitar untuk membawa ibu ke rumah sakit.


"pak, tolong" teriak ku yang sekelas mungkin


"tolong"


"tolong"


"ada apa neng" tanya bapak bapak yang menghampiri ku


"ibu saya pingsan pak, bisa minta tolong untuk membawanya ke rumah sakit" jelas ku


"iya, ayo neng, saya ambil mobil siaga dulu" ucap seorang pria yang berlari mengambil mobil siaga


para warga membantu ku menggendong ibu ke dalam mobil siaga setalah itu aku ikut masuk kedalam mobil tersebut, saat mobil akan berjalan ada bapak yang pulang dari kerja.


"pak, stop, itu bapak saya" teriak ku


"bapak" panggil


"Agnes, ada apa ini" tanya bapak yang bigung karena banyak warga berkumpul di rumah.


"ibu pingsan pak" ucap ku


bapak aku ajak naik ke mobil dan membawa ibu ke rumah sakit.


semua warga yang ada di rumah kakek memang rukun Meraka selalu gotong royong dalam membantu warga yang kesulitan.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2