Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
Pernikahan ku


__ADS_3

hari ini akan di laksanakan prosesi pernikahan ku dan arka, semua persiapan sudah tersusun rapi, aku sedang di rias oleh MUA yang terkenal di desa kami, sebelum ijab kabul selesai aku tidak di perbolehkan keluar kamar.


kurang 10 menit lagi prosesi ijab kabul di mulai, aku mulai tegang karna suara pak penghulu sudah tersebar dari pengeras suara.


"bismillahirrahmanirrahim"


"sah"


"sah"


ucap para saksi Yeng terdengar.


"Alhamdulillah"


aku sedikit lega karena prosesi ijab kabul berjalan lancar.


Aku keluar dari kamar dan di gandeng oleh sepupu ku dari bapak.


"cantik" gumam arka dari kejauhan saat melihat aku keluar dari kamar


" arka" batin ku bahagia.


"anak kita pak, cantik" ucap ibu


Bapak meneteskan air mata.


"bapak" ucap ku


"ini air mata bahagia nak" ucap bapak


aku memeluk bapak dan ibu bergantian.


aku berjalan melangkah ke depan arka dan mencium tangan arka untuk pertama kali nya.


setalah ijab kabul kami melaksanakan acara resepsi saat itu juga di laksanakan.


Aku dan arka merasa sangat senang, kami berdua menikah dengan rasa bahagia.


"wah, pengantin nya ceria sekali" ucap Bu Desi.


"ya, jelas dong merak berdua saling mencintai, betul kan Bu asih" ucap Bu sari yang sedikit menyentil


"eh, iya, Bu, iya" ucap Bu asih kaget.


"kapan, anak Bu asih mau di bayarin acara resepsi"tanya Bu Desi yang mulai julid.


Bu asih hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan para tamu yang julid.


"Bu ibu, terima kasih sudah datang di acara pernikahan anak kami" ucap ibu dan bapak


"iya, bu prias, mewah bu ya" sahut Bu Desi.


"tidak Bu, ini hanya sederhana" ucap bapak


memang acara resepsi hari ini hanya alah sederhana bpak tidak mau menerima bantuan dari keluarga arka, karna takut kalau di ungkit Maslah yang dulu dulu.


Uang yang diberikan oleh papah arka tidak di perlukan sama sekali oleh bapak, yang itu masih di simpan bapak.


"selamat untuk kalian berdua" ucap teman arka


"terimakasih bro" ucap arka


aku ikut menyalami tenan arka dan tak lupa aku mengulas senyum kepada Meraka

__ADS_1


"jangan lupa, nanti" ucap teman arka yang bergurau


"apa sih" sahut arka malu


aku tersenyum walaupun aku tidak tau apa maksud dari teman arka.


Keluarga arka datang walaupun bu Ruroh tidak datang menghadiri pernikahan kami, aku tau bu ruroh masih belum bisa menerima ku, namun papah arka sangat mendukung kami.


"Agnes, ada yang akan datang" ucap Garahan yang duduk di samping ku


Aku memandang ke depan dan aku lihat di sana ada kakek yang tersenyum melihat ku.


"kakek" panggil ku


kakek melayang mendekati ku dan memeluk tubuh ku.


"selamat cucu Kakek, berbahagia lah dengan pasanganmu" titah kakek


Aku tersenyum dan melihat ke arah kakek tanpa memalingkannya.


"Grahan selalu jaga Agnes sampai kapan pun" titah kakek.


"gggrrrr"


"Agnes, ini Bu de aku kakak mamah" jelas arka yang menunjukan keluarga nya.


Aku mencium tangan Bu de arka.


"kamu cantik sekali nak, kenapa Ruroh tega kepada kalian berdua" ucap Bu de arka


aku hanya tersenyum saat mendengar ucapan Bu de arka.


"Bu de silahkan mencicipi jamuan nya" ucap ku kepada Bu de arka


"iya, cantik" sahut bude arka


setelah acara selesai kami membersihkan semua peralatan dekorasi.


Aku mengganti baju pernikahan ku yang aku sewa, dan aku letak kan ketempatnya Kemabali.


"Agnes" panggil seseorang


Aku mendekatinya dan ternyata Mbak Ridika bersama teman teman yang lain.


"Agnes, selamat ya, anak cantik" ucap Bu Narsih


"terimakasih Bu Narsih" ucap ku


"silahkan duduk dan makan dulu jangan terburu buru pulang" ucap ibu


"eh, iya Bu" sahut mabk ridika


"mari mbak, Bu, makan dulu" ucap ku mengajak mereka makan.


aku melihat mereka semua terlihat senang.


"gimana, lancar?" tanya Bu Narsih


"Alhamdulillah, Bu, terkasih sudah menyalin kan saya" ucapku kepada Bu Narsih


Karena saat aku bercerita bahwa ibu Arka tidak setuju dengan hubungan kami, Bu Narsih lah yang lalu memberikan dukungan kepada ku dan arka, beliau seperti itu kedua bagi kami.


"Agnes, kamu cantik" ucap mabk ridika

__ADS_1


"terimakasih mbak, mbak ridika kapan nih mau nyusul?" tanya ku


"hi, hi,"ABK ridika hanya tersenyum


"loh, kamu belum tau nes, Minggu depan ridika menikah loh, ini tadi dia memberi ku undangan" jelas Mbak Tika


"benarkah??" tanya ku tersenyum lebar


Aku bahagia mendengar bahwa mbak ridika mau nikah, dulu saat aku pertama kenal dengan mabk ridika, dia bercerita bahwa hubungannya tidak di setujui oleh orang tuanya karena pacaran mbak ridika anak orang kaya.


"Alhamdulillah, Agnes ikut senang mbak" ucap ku


Mbak ridika membalas senyuman ku.


***


seminggu setelah kami menikah, rencana aku dan arka ingin berkunjung kerumah orang tua arka.


Aku bersiap dan menyiapkan beberapa makanan yang aku buat sendiri untuk aku bawa kerumah arka.


Aku dan arka berjalan kaki karna memang rumah kami tidak lah jauh jadi bisa di tempuh dengan berjalan kaki.


"arka, gimana penampilan ku sudah baik?" tanya ku


"kamu itu mau dandan Gimana saja, cantik" ucap arka yang menggoda


"arka, kan aku mau bertemu Bu Ruroh" jelas ku


"iya, iya" sahut arka


Saat aku dan arka masih berjalan kaki, aku mendengar teriakan dari rumah Bu Wito.


"aaaa"


"arka suara apa itu?" tanya ku kepada arka.


kami berdua berlari menuju rumah Bu Wito


rumah Bu Wito tidak di kunci oleh karena itu aku dan arka masuk kedalam rumah, saat di dalam rumah aku melihat ada banyak d*ra* berceceran di lantai kamar.


"kenapa kamu seperti ini nak" ucap Bu Wito yang menangis.


Aku melihat sari sudah tergeletak di lantai dengan banyak d*Ra* di tubuh dan tangan nya.


"astaghfirullah" ucap arka


Bu Wito melihat kearah kami.


"tolong panggilkan dokter" ucap Bu Wito.


"kita bawa saja ke rumah sakit Bu" saran arka


Arka berlari menuju rumahnya dan mengambil mobil papahnya.


tak berselang lama arka membawa mobil dan kami membantu sari untuk masuk kedalam mobil


Saat di dalam mobil, aku baru saja masuk dan aku melihat roh sari yang sudah ada di dekat jasad nya.


"astaghfirullah"


"innalilahi wainnailaihi rojiun" gumam ku saat melihat roh sari.


"arka cepetan" teriak Bu Wito

__ADS_1


Aku berpura pura tidak melihat kearah sati, dia menangis menyesal karena sudah melakukan hal yang sudah merugikan nya.


Beramabung


__ADS_2