Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
Wewe gombel


__ADS_3

"arka"


"arka"


Teriak semua warga memanggil arka, arka yang di sembunyikan oleh wewe gombel dia hanya bisa melihat dari ketinggian, karena arka di sembunyikan di atas pohon bambu yang sangat rindang.


"arka"


"arka turun, nanti kamu jatuh" ucap ku yang melihat ke atas


"Agnes, kamu, ngomong sama siapa" tanya bapak


"sama, arka, pak, dia ada di atas sana" ucap ku sambil melihat ke atas dan menunjuk ke arah atas


"benar kah, arka disana" tanya salah seorang warga.


"iya" ucap membenarkan


"arka, arka"


"Grahan, bantu arka" titah ku kapada Grahan.


"Grahan, siapa, nes" tanya bapak


"teman aku, pak" jelas ku


Grasia membantu Garahan mengakibatkan wewe gombel tersebut.


Wewe gombel sangat senang dengan anak kecil oleh karena itu grasia mengajak nya bermain.


"Tante, sini" ajak grasia kepada Wewe gombel


"ayo kita main sini" ucap grasia


Wewe gombel ingin menggendong rahasia namun grasia tidak mau, ia takut kalau dirinya tidak akan bisa terlepas oleh wewe gombel.


"mamah" teriak arka


"hu,hu,hu"


Tangisan Arka mulai terdengar oleh para warga.


"arka" teriak ku memanggil arka


"Agnes, tolong aku" ucap arka yang masih diatas sambil menangis.


"bapak, itu arka" ucap ku yang menunjuk lagi ke atas.


"arka, turun nak" ucap bapak


warga semua berbondong-bondong mengambil tangga untuk menilai bambu tersebut.


"ayah, arka takut" teriak arka


"iya, nak, tunggu sebentar ayah, akan naik" ucap ayah Arka yang menaiki tangga.


Warga yang melihat kejadian ini mulai berbincang-bincang akan menebang pohon bambu di sekitaran kebun kosong ini.


"arka, anak ku" ucap Bu Ruroh


"mamah, panggil arka membalas pelukan ibu nya.


aku yang melihat Arka sudah ketemu dengan selamat menjadi lega, semua warga memutuskan untuk pulang kerumah masing- masing.


"arka, kenapa kamu bisa di sana" tanya ku


Aku tadi main di bawah pohon bambu ingin cari putri malu, tapi saat aku ingin mengambil putri malu, ada ibu- ibu yang yang memberi ku kue, aku mau, lali saat aku sadar, aku sudah dibatas pohon" jelas arka


"bapak, aku lupa, grasia" ucap ku kembali berlari menuju kebun bambu


"Agnes" teriak bapak sambil mengikuti ku berlari.


"grasia" panggil Ku


"Agnes" sahut grasia


"tolong"


"Wewe gombel" ucap ku yang bertanya pada grasia


"pergi" sahut grasia

__ADS_1


Grahan membantu grasi terlepas dari ikatan rambut Wewe gombel. Setelah grasia lepas kami semua bergegas pergi.


Kami berlari secepat mungkin, sesampainya di dekat rumah aku bertemu dengan bapak.


"Agnes, kamu lari kemana" tanay bapak.


"tolong, grasia pak" jelas ku


Lalu kami berlari kembali pulang kerumah dan mencuci kami stelah itu masuk ke rumah.


"Agnes, tadi bapak, mencari mu nak" tanya ibu


"tadi Agnes, nolongin grasia ibu" jelas ku


"hantu bisa melepaskan dirinya sendiri, dia juga bisa ngilang, kenapa kamu bantu" ucap ibu yang menasehati ku


Ibu merasa kesal Karana aku memikirkan teman hantu ku ketimbang diriku sendiri oleh karena itu ibu marah dengan ku.


"maaf, Bu" ucap ku menundukkan wajah


"kami terlalu baik hati, Agnes tolong pikir juga diri mu sendiri, nak, ibu khawatir" kelas ibu


" iya, ibu, maaf kan, Agnes" ucap ku yang meminta maaf.


"ya, sudah ayo, tidur nak, sudah malam" titah ibu


Aku dan grasia pergi ke kamar, aku masih belum bisa tidur, mata ini rasanya tidak bisa di pejam kan.


"Agnes, tidur lah, besok, kamu harus sekolah" ucap grasia yang masih menatap ku.


"mata ku belum mengantuk" jelas ku


"aaaagggrrr"


"aaagggrr"


Suara erangan Grahan dari luar rumah.


"duuuaaarr"


"duuuuaar"


Suara letusan yang di timbulkan dari pertengkaran antara wewe gombel dan garahan.


Aku yang mendengar nya ingin sekali keluar, namun Grahan dan grasia melarang ku.


"kembalikan anak ku" ucap Wewe gombel


"tidak ada anak mu disini" jelas Grahan


"aaagggrr"


Grahan mencakar tubuh wewe Gobel,


"juukk"


"juukk"


"bruuk"


suara benturan terdengar sangat keras.


"duuaar"


"duuuaarr"


Ledakan terdengar lagi.


"grasia, Grahan" ucap ku


"Grahan pasti bisa mengatasi nya" jelas grasia.


Stelah beberapa menit suaranya sudah hening tidak terdengar suara gemuruh seperti tadi.


Aku Mencoba keluar dari kamar dan melihat ke luar.


"Agnes jangan keluar" ucap Grahan


aku berlari kembali ke kamar dan menunggu Grahan memberi perintah.


Tiga puluh menit berlalu suara hening, seperti tidak ada siapa-siapa di luar.

__ADS_1


"jangan keluar" ucap grasia


"biar aku saja yang melihatnya" ucap grasia lagi.


Grasia melangkah keluar dan melihat situasi.


Saat grasia melihat keluar dari cendela, ia melihat Grahan sedang duduk santai di luar pintu rumah.


"Grahan" panggil grasia


"pergi" ucap Grahan yang memberikan tau kalau Wewe gombel sudah pergi.


Grasia berlari menuju ke kamar ku, saat grasia mau berbicara ia melihat ku sudah tertidur pulas.


"tidur lah, nes, kamu pasti capek" ucap grasia


grasia menemani ku di kamar dia memperhatikan ku, sambil duduk di atas meja yang sering kali aku buat belajar.


***


lima tahun berlalu umurku sudah 9 tahun, hari ini aku akan berkunjung ke makam kakek dan nenek, stelah kakek meninggal Grahan selalu di dekat ku, Grahan sekarang menjadi pendampingku.


"Agnes, sudah siap" tanya ibu


"sudah, Bu" aku keluar dari kamar dengan menggunakan hijab seperti ibu.


"masyaallah, anak gadis ibi, sudah besar" ucap ibu.


Aku yang mendengar ucapan ibu menjadi malu, dulu waktu kakek masih ada, kakek yang selalu bilang begitu padaku.


"ibu, ayo" ucap yang mengajak ibu


"bapak, mana" tanya ku


"ada di luar, bapak sudah menunggu kita" jelas ibu


"Bu, nanti kalau Agnes sudah besar, Agnes ingin jadi perancang busana, yang bagus-bagus" jelas ku.


"aamiin, semoga apa yang kamu ingin tercapai ya, nak" ucap ibu


"aamiin"


"ayo, kalian berdua lama sekali, bapak sudah sampai jamuran nih, nunggunya" jelas bapak yang bercanda


"hah, bapak jamuran" tanya ku


"iya, nunggu kalian lama, sekali" jelas bapak lagi.


"maaf, tadi Agnes masih cari buku Yasin, nya" jelas ku


"tidak , apa sayang, gimana sudah siap"


Tanya ayang yang mulai mengegas- ngegas motornya.


"bruuum"


"brruum".


"bruumm"


"pembalap akan segara datang" ucap bapak yang membuat kami terkekeh


"hi, hi, hi, bapak jangan ngebut- ngebut" jelas ibu


Aku dan ibu yang ketakutan saat di bonceng bapak, kami berdua berpegangan pinggang bapak sangat erat


"pak, ibu takut, jangan kencang- kenceng" jelas ibu sambil berteriak.


"gak kok, Bu ini gak kenceng" jelas ibu


"hi, hi, hi, ibu ketakutan" ucap ku sambil meringis tertawa.


"hi, hi, hi, iya nes, dari dulu, ibu mu selalu takut kalau di bonceng bapak" jelas bapak sambil tersenyum


"iya, jelas ,takut, orang naiknya melenyot- melenyot" jelas ibu


"hi, hi, hi, bapak sama ibu lucu" jelas ku


saat di lihat orang kami di anggap keluarga yang harmonis, selalu kecukupan, namun sebenarnya bapak dan ibu berusaha mencukupi ku dengan kerja keras Samapi lupa waktu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2