Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
Tulah Dari ucapan Bu Wito


__ADS_3

Sudah hampir beberapa Minggu ini saat ibu berbelanja di tempat penjual sayur di depan rumah, ibu tidak pernah melihat Bu Wito berbelanja.


Agnes, beberapa Minggu ini ibu tidak pernah melihat Bu Wito?" tanya ibu


"tumben ibu menanyakan Bu Wito?" tanya ku


"bukan begitu sayang, Bu Wito biasanya selalu berbelanja namun sudah ada seminggu ini Bu Wito tidak kelihatan apa dia sakit" ucap ibu yang khawatir.


"biarkan lah Bu, bagus itu kalau Bu Wito tidak berbelanja di tempat mbak sinem, kalau Bu Wito disana pasti ricuh Dangan sayur Bu sinenm!!" jelas bapak


"bapak" ucap ibu yang sedikit mengerutkan dahinya.


"hi, hi, hi, bapak bercanda Bu


"jangan begitu, kasian nanti kalau Bu Wito kenapa kenapa tapi tidak ada yang tau" ucap ibu yang merasa kasian


"sudah Bu, jangan bahas bu wito lagi, terserah dia mau ngapain" jelas ku


"iya, nes" sahut ibu melangkah ke dapur.


aku hari ini mulai mengemas beberapa undangan yang akan aku bagikan kepada teman kerja ku dan teman kerja bapak.


"Agnes, nanti bapak bawakan 80 undangan" ucap bapak


"iya, pak"


"ini nama teman bapak semua ada di sini" ucap bapak sambil memberikan kertas yang sudah ada nama nama teman bapak.


Aku melihat kertas tersebut dan aku mulai menulis nama di undangan yang akan bapak bawa.


Di tempat lain arka sedang memilih beberapa baju yang akan di bawa ke rumah Ku, rencananya setelah menikah kami akan tinggal untuk sementara di ruang bapak dan ibu ku.


"ini, bagus" gumam arka


"arka" panggil Bu Ruroh


"iya, mah" sahut arka


"Kamu yakin dengan pilihan mu nak" tanya Bu Ruroh


"arka yakin mah, Arka juga sesudah mengenal Agnes dari arka kecil" jelas arka


"tapi ka" ucap Bu Ruroh yang belum selesai sudah di potong oleh arka


"mah, ini kehidupan arka, tolong jangan larang arka untuk berhubungan dengan siap saja, itu sudah keputusan arka mah" jelas arka kepada mamah nya


"baik lah nak, kalau itu sudah menjadi keputusan mu, jangan pernah menyesal dengan keputusan mu" jelas Bu Ruroh


"iya, mah" sahut ku sambil bebenah baju.


Arka masih saja tetap dengan pendirian nya karena dia sudah sangat cinta dan sayang kepada Agnes saat masih duduk di bangku SMP.


Dirumah Ku semua sudah bersiap untuk acara pernikahan ku yang akan di selenggarakan sebentar lagi.


Ibu dan bapak sudah mengatur semua prosesi Yang akan kami laksanakan, bapak sudah memesan kesenian wayang kulit untuk menghibur undangan yang hadir.


"bapak, semua undangannya sudah selesai aku tulis namanya"

__ADS_1


Aku memberikan satu bendel undangan untuk teman bapak di pabrik.


"iya, nak, terimakasih"sahut bapak


Aku tersenyum dan memeluk bapak.


"kenapa bapak saja yang di peluk, ibu tidak" ucap ibu yang keluar dari dapur


"iya, ayoh Bu, aku peluk juga" sahut ku sambil memeluk kedua orang tua ku.


"aku akan merindukan pelukan ini" jelas ku


"kenapa, bukanya kamu akan tinggal disini" tanya bapak


"iya, pak, memang Agnes akan tinggal di sini, namu statusnya sudah berbeda, pelukan ini saat Agnes belum menjadi istri arka, satu Minggu lagi, pelukan ini akan berubah status menjadi istri arka" jelas ku


"kamu tetap anak bapak dan ibu status itu tidak akan merubah semuanya" jelas ibu


"ibu, bapak" ucap ku yang memeluk erat bapak dan ibu


"permisi, apa benar ini rumah pak andrianto" tanya seseorang yang mengagetkan kami semua.


kami melepaskan pelukan dan bapak menghampiri pria tersebut.


"iya, mas, saya sendiri" ucap bapak


"ini ada kiriman dari pak Cokro" jelas mas kurir.


"oh, apa ini mas"


"saya tidak faham pak, tandatangan di sini" titah mas kurir.


"astaghfirullah, ini uang semua" ucap bapak


"ya, Allah pak, ke apa pak Cokro mengirimkan uang sebanyak ini" ucap ibu yang kaget hingga ibu duduk di lantai.


"apa maksud nya ini pak" tanya ku


Aku langsung menghubungi arka.


"panggilan terhubung"


"Tut"


"Tut"


"hallo, Agnes"panggil arka yang mengangkat telepon


"arka, aku langsung saja ya, ini tadi bapak menerima paket, pengirimnya papah kamu, di paket terbaik papah kamu mengirimkan uang berjumlah banyak sekali, apa maksud nya" jelas aku yang sedikit kecewa.


"begini, Agnes maksud papah aku, ingin membantu biaya pernikahan kita" jelas arka


"tapi"


"sudah di terima saja nes , itu bantuan dari papah untuk bapak ibu kamu" jelas arka


"tapi ka"

__ADS_1


"sudah ya nes nanti akan aku telpon lagi, aku masih berbenah baju nih" ucap arka yang memutus telpon


"arka"


"arka"


Arka menutup telpon nya.


"apa sih ini" gumam ku


dengan masih penasaran tentang isi paket tadi, aku duduk di depan rumah di teras yang masih berlapiskan tanah liat, aku duduk di kursi dan memandang jauh.


"eh, ibu ibu sudah dengar belum, kalau anak Bu Wito"


"sari"


"iya, sari, itu Hami saat ini" ucap ibu Desi


"Bu Desi dengar dari siapa, orang Desi masih SMP" tanya Bu nirma


"benaran Bu, saya sempat lihat Bu Wito bersama anak nya ke bidan, saat saya tanya keponakan saya yang juga ada di sana memeriksakan kandungannya, katanya anak Bu Wito hamil di luar nikah" jelas Bu desi


"dan usianya sudah empat bulan" jelas Bu Wito lagi dengan semangat


"astaghfirullah, anak jaman sekarang ya, kenapa seperti itu" ucap Bu nirma dan ibu ibu lain


para ibu ibu sedang berbincang di depan rumah Meraka masih sempat sempatnya berbelanja sambil bergosip.


"gosip apa sih merak semua sampai mukanya serius" ucap ku yang bgung melihat para ibu ibu yang berbelanja sayur


"Agnes , ibu mau belanja sebenar kamu mau nitip apa nak" tanya ibu


"Agnes, mau nitip jajanan pasar saja Bu" ucap ku


Ibu tersenyum dan melangkah ke ruang Bu nirma untuk membeli sayur.


Aku melihat dari kejauhan, merak semua mengajak ibu berbicara raut muka ibu berubah menjadi tegang, sepetinya ada pembicaraan yang serius membuat para ibu ibu itu tidak beranjak pergi.


sekitar 10 menit ibu selesai berbelanja dan kembali pulang dengan membawa beberapa sayur dan jajanan pasar.


"Agnes, kamu tau anak Bu Wito yang namanya sari" ucap ibu serius


"iya Bu, kenapa"


"sari hamil di luar nikah, nes" ucap ibu


"bukannya sari masih SMP Bu, dan Agnes sempat melihat sari berpacaran dengan anak Bu asih.


"astaghfirullah, benarkah anak Bu asih" ucap ibu kaget


"iya, Bu, kapan hari Agnes lihat mereka berdua duduk di pinggir kali depan sana sambil berpegangan tangan" jelas ku


"ya, Allah, kasian bu asih" jelas ibu


"kenapa Bu?" tanya ku


"kasian bu asih berbesanan dengan Bu Wito" jelas ibu yang sedih.

__ADS_1


"ohh" ucap ku yang menahan tawa


bersambung


__ADS_2