
aku membantu ibu yang masih kesurupan, saat ibu yang aku tangani sudah siuman ganti dengan karyawan yang lain.
"aaaaaa"
teriak, mbak-mbak yang tadi melihat ku saat menangani ibu tadi.
"mohon untuk tidak melamun" teriak ku yang memberi tahu ke semua karyawan.
Aku mencoba membantu mbak Rida nama yang tertera di name take nya.
"mbak Rida bisa mendengar ku, tolong lawan Jon yang menguasai tubuh mbak Rida, tong dengar saya mbak Rida" teriak ku dan memegangi jempol tangan mbak Rida
"bismillahirrahmanirrahim"
"Allahu lailla haillahualhaiyul hayyum" gumam membacakan doa kepada mbak Rida dan terus memakan jempol mbak Rida
saat semua karyawan mulai ricuh dan mulai berhamburan keluar ruangan, membuat situs si semakin ricuh dan tak terkendali.
"minggir, sebentar," ada suara laki laki yang ada di belakang ku yang menjaga ku dan mbak Rida.
Grahan yang sedang bertarung dengan hantu yang menguasai tubuh ibu tadi masih belum selesai karena hantu tersebut sangat kuat.
"sreeettt"
"srrreeett"
"seeeeett"
"duuuaarr"
"brruuuaaakk" suara hantaman dari atas gedung terdengar sangat keras.
"aaaaaa" teriak mbak Rida saat aku menekan jempol.mvak Rida sangat keras.
"ayo, mbak lawan" jelas ku sambil berteriak memandikan tahukan mbak Rida, agar dia bisa melawan hantu yang merasuki tubuhnya.
"jangan mendekat kesini, tolong," jelas laki laki yang ada di belakang ku.
aku menarik sosok hantu iku dari tubuh mbak Rida dengan menarik nya.
"aaaaa" teriak mbak Rida
"tolong"
"tolong"
"pergilah" ucap ku sambil melepas sosok hantu tersebut.
"hu,hu,hu" mbak Rida menangis.
"tenang mbak" ucap kepada mbak Rida
"anak kecil kamu berani nya mengusir ku dari tubuh wanita itu" jelas sosok hantu tersebut yang marah
"iya, karna ini bukan tubuh mu" jela aku
Aku mulai memukul sosok hantu dan membacakan doa agar hantu itu mau menyerah dan pergi dari pabrik ini.
"juuukk"
"juukk"
"pllaakk"
"brrukk"
__ADS_1
sosok hantu itu lengah aku segar memukulnya dengan sekuat tenaga
Selesai aku memukul dan melempar Sosok hantu tersebut ia pergi menghilang.
"terima kasih, mbak" sahut teman mbak Rida yang masih memegang tubuh mbak Rida yang lemas.
"sama-sama, Bu, jangan sampai melamun, jangan biarkan sosok hantu menguasai tubuh kalia semua" jelas ku
"baik" sahut teman mbak Rida sambil tersenyum dan membopong mbak Rida.
"Kamu, baik baik saja" ucap laki yang suaranya seperti fameliar bagi ku.
Saat aku membalikan badan ternyata, arka yang sedari tadi membantu ku untuk mengarahkan para pegawai untuk kelaut ruangan.
"aah, arka" ucap ku yang kaget melihat muka arka yang sudah dewasa.
Kami berdua sudah lama tidak bertemu karena Arka saat sekolah SMP, dan SMA, tidak satu sekolah dengan ku walaupun ruang Kuta tetanggaan.
"Kamu Agnes" sahut arka yang melihat ku.
"iya, kau Agnes" sahut ku
"Agnes, Giman kabar mu" tanya arka
Saat aku ingin menyambut tangan arka untuk bersalaman, dari arah belakang ada seorang wanita yang berlari keluar, dia menabrak ku dan aku hampir terjatuh .
"aaaa" teriak ku sambil memegangi tangan arka.
Arka yang melihatnya dengan sigap memeluk ku dan memegangi ku.
"aah, maaf, arka" sahut ku
"tidak apa" sahut arka
"Kamu baik baik saja" tanya arka
"baik, lah, ayo kita keluar gedung" jelas arka sambil menggandeng ku
kami berdua berlari sambil bergandengan tangan, aku melihat tangan Arka yang sedari tadi mengandung, mulai mulai memerah karna aku malu, dari akinmasih sekolah dasar aku tidak pernah di pegang atau memegang laki laki kecuali keluarga sendiri.
"muka kamu kenapa, nes" tanya arka
"eehh, gak apa" ucap ku sambil tersenyum dan duduk di luar gedung,
para pengawai hari ini di pulangkan lebih awal karena ada insiden yang membuat semua karyawan ketakutan.
"ayo kita pulang" sahut arka.
"arak, gak usah aku bisa naik angkot, atau telfon bapak dulu" jelas ku.
"bareng aku aja, nanti kelamaan, lagian bapak kamu masih kerja nanti beliau kepikiran" jelas arka.
"baik lah" sahut ku
Aku Mencari keberadaan Grahan te nyata Grahan sudah mampu melumpuhkan sosok hantu itu dan ia sekarang ada di belakang ku namai. Aku tidak mengetahuinya sehingga aku clingukan mencari Grahan.
"Agnes, aku disini" ucap Garahan
"grahan" gumam ku lirih
"Agnes, ayo" ajak arka
aku langsung Anik di motor arka yang tinggi, arka memakai motor sejenis moge yang dulu pernah aku dengar dari ibu bahwa dia di belikan motor besar oleh ayah nya untuk hadiah ulang tahun.
"Agnes, pegangan, nanti kamu jatuh" ucap arka
__ADS_1
"iya, ka" sahut ku yang langsung memegang jaket arka.
Aku memegang jaket arka dengan erat karna aku takut terjatuh, motor arka sangat tinggi, membuat ku kesulitan menaiki motor.
"arka jangan cepet- cepat, aku takut" ucap Agnes
"iya, nes, kamu pegangan saja" sahut arka
kami berdua masih menaiki motor arka, tiba-tiba arka mengajak ku untuk makan siang.
"Agnes, mau makan dulu, dengan ku" ucap arka.
"eemmm" aku belum menjawab namun arka sudah menghentikan laju motornya di depan rumah makan Padang.
"sssiiitt"
"yuk, turun, aku lapar, nes" ucap arka sambil melihat ku dari sepion motornya.
"iya, deh, ayok aku temenin" sahut sambil turun dari motor.
setelah arka menstadart kan motornya kami segera masuk keruang makan tersebut.
"silahkan" ucap pelayan rumah makan
Aku dan arka mengangguk.
"nes kamu mau makan apa" tanya arka
"aku ngikut kamu aja ka" sahut ku
"mbak, kami pesan, nasi, pekek ayam sama sayur daun ketela ya 2, minum nya jeruk anget 2." ucap arka
"baik, mas" sahut pelayan rumah makan.
Kami duduk di tempat yang tidak jauh dari parkiran motor, aku melihat lihat ke seluruh ruang makan, mata ku tertuju pada sosok wanita yang berdiri di dekat meja paling belakang dengan muka yang sedih. Aku pura pura tidak melihat nya,
"arka, aku baru pertama kali ini lo, makan di rumah makan seperti ini, aku gak pernah makan di luar soalnya" jelas ku kepada arka.
"oh, ya, kalau kamu mau, aku akan mengajak mu sering sering makan, di rumah makan, kamu mau?" tanya arka
"jangan, nanti merepotkan" jelas ku
"tentu tidak, kan kamu teman ku dari kecil kamu gak ngerepotin kok, nes, aku malah seneng ada yang nemenin" jeal arka
"terima kasih, tapi tidak usah, di tabung aja uang nya buat masa depan kamu" sahut ku
"iya, sudah ada kok, untuk nabung, tapi kamu kan nes" jelas arka yang memaksa.
"iya, tapi jangan sering-sering, ya" jela aku
"oke" sahut arka sambil tersenyum
Kami berdua mulai menikmati makanan yang sudah datang, aku memang belum pernah datang kerumah makan atau sebagainya, karena aku selalu berhemat untuk membantu perekonomian bapak dan ibu.
"Agnes, nanti bungkusin buat bapak sama ibu, ya" ucap arka
"jangan, ka, nanti ngerepotin" jelas Agnes
"gak ko" sahut arka
"mbak, saya mau pesan lagi yang sama kayak ini namun di bungkus ya, 4" jelas arka yang memanggil ke pelayan rumah makan.
"iya, mas" sahut pelayan
saat pelayan tersebut melangkah kebelakang sosok yang di belakang tadi mengikuti mbak pelayan tersebut.
__ADS_1
"nak, ibu kangen, berkunjunglah, di makam ibu" ucap sosok tersebut
Bersambung