Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
Ular Siluman


__ADS_3

"aaaaaa" teriak ibu


"ada apa Bu" tanya bapak


"ada ular, besar pak, yang masuk dari pintu belakang" jelas ibu


"dimana Bu" di situ pak ucap ibu sambil menunjuk ke arah bawah meja.


bapak mulai mencari ular tersebut dengan membawa satu kayu yang. Panjang dan besar.


"gggrrrr" Grahan menggerang


"menjauh Agnes" titah Grahan


"bukan ular biasa yang ada di sini" jelas Grahan


"bapak, jangan, itu ular Siluman" jelas ku yang memberi tahu bapak


Bapak yang mendengar ucapan ku langsung mudur dan memberi jarak


Grahan mulai mendekat dan melawan ular tersebut.


"ggggrrr"


"gggrrrr"


"srrett"


"srrett"


Grahan mencakar ular tersebut hingga ia terluka.


"pergi"titah Grahan.


"tidak, aku tidak akan pergi, aku mencari gadis kecil yang sudah membuat anak ku terluka" jelas sacaka ratu ular


"sacaka, anak mu yang sudah menggangu manusia" jelas Grahan.


"Dia hanya anak kecil yang ingin main- main" jelas sacaka


"ular Bodoh, main dengan cara melilit kaki manusia" jelas Grahan sambil tertawa


"ha, ha, ha, dasar bodoh" ucap garahan lagi.


"gggrrr" Grahan menggerang


"ssrrett"


"ssrrreett"


Grahan mencakar ular Siluman tersebut.


sacaka merubah wujud nya dengan berdiri dan menunjukan wujud setengah badan dari atas ke perut dengan wujud manusia, perut ke bawah masih dengan wujud ular besar.


"gamrahan" teriak ku yang memberi tahu Garahan kalau sacaka mengeluarkan bisa nya.


grasia yang melihat sacaka mengeluarkan bisa langsung menendang tubuh sacaka.


"juuukk"


"brruuukk"


"bocah, si*lan" ucap sacaka yang mulai marah


Sacaka mulai mengeluarkan bisa beracun nya dai selalu menyembur kan ke semua arah, sampai mengenai perabotan dapur ibu meleleh.

__ADS_1


"Agnes ajak bapak ibu ke luar" titah grasia


"bapa, ibu, ayo kita keluar" ajak ku


Bapak, ibu dan aku keluar rumah dengan berlari cepat, sedang kan di dapur grasia dan Grahan masih melawan sacaka siluman ular.


"Agnes, itu ular apa, ke apa mengerikan sekali" tanya bapak yang bigung.


"ular Siluman pak, itu sacaka, ibu ingat waktu di sekolah dulu, saat aku masih kecil saat masih duduk di taman kanak-kanak, Bu Ruroh ibunya arka kakinya di lilit ular, Yeng melilit kaki ibu Arka, yaitu anak sacaka yang pernah aku lempar hingga terluka" jelas ku


"astaghfirullah, sudah lama sekali kejadian itu, kenapa dia masih ingat" jelas ibu


Ibu tidak menyangka bahwa aku masih mengingat kejadian itu dan juga sacaka siluman ular masih mencari ku, Karana sudah bertahun tahun lamanya.


Garahan dan grasia masih kuat melawan sacaka, aku ingin membantu nya namun Garahan pernah memberi pesan sebelum aku dewasa aku tidak boleh ikut membantu melawan makhluk gaib, karena usia ku masih rentan.


"aaaaaa" teriak sacaka dari dalam rumah


"duuuaaaarr"


Suara ledakan dari dalam rumah.


"dduuuuaaarr"


"duuuuaaarrr"


Sacaka terbakar karena terkena serangan dari Grahan yang di bantu grasia.


"kalian tidak apa-apa" tanya ku kepada Grahan dan grasia,


mereka terlihat lelah setelah melawan sacaka ratu ular.


Setelah pertarungan antara sacaka dan makhluk gaib ku, rumah menjadi tenang kembali.


"sudah, Bu tenang lah" ucap bapak yang menenangkan ibu.


aku sedikit tersenyum kepada ibu menandakan bahwa semua baik baik saja.


***


stelah bell pulang sekolah berbunyi aku segera pulang dengan grasia teman hantu ku.


Kami berdua berlari kecil melewati pinggir jalan raya yang sangat ramai pengendara.


"grasia, aku pengen beli, cilik dulu" ucap ku kepada grasia.


"ayoh" sahut grasia


Aku dan grasia berhenti di penjual cilok.


"pak de, aku mau beli, 3 ribu, cilok, yang pedas ya" ucap ku yang mengulurkan tangan dengan uang pecahan 3 ribu rupiah ku berikan kepada penjual cilok.


"ini, ya dek" ucap penjual cilok sambil memberikan satu plastik cilok pedas.


"wahh, pasti enak" ucap ku


"Kamu mau grasia" tanya ku ke grasia


"tidak, aku tidak mau" ucap grasia


"dek, kamu ngomong sama siapa" tanya penjual cilok


"sama teman aku , pak de" jelas ku sambil menunjuk ke arah grasia


Grasia tersenyum menunjukan gigi nya .

__ADS_1


"ih, kamu serem grasia, saat menunjukan gigi mu" jelas ku


"oh, ya, kalau ini" ucap grasia.


"ha,ha, mata melotot, lucu " ucap ku sambil tertawa melihat tingkah laku grasia


"cepat habiskan nanti di marahin ibu" jelas Grahan


"iya, iya" ucap ku yang sambil mengunyah cilok di mulut ku.


Kami ber tiga berjalan menyusuri jalan menuju rumah, sesampainya di kebun rumput yang tinggi sacaka Kembali menghadang.


"berhenti" teriak sacaka


"sacaka, kamu lagi, belum kapok kamu aku lukai" jelas Grahan


"aku kesini, hanya ingin bertemu dengan gadis kecil itu" ucap sacaka yang yang masih berwujud ular.


"ada apa, apa mau mu" jelas grasia


"aku ingin meminta dia , untuk meletakan mahkota yang dia bawa di kembalikan ke kepala ku " jelas sacaka


"mahkota" ucap ku yang bigung.


"iya, di dalam tas mu" jelas sacaka.


Aku mencari mahkota yang dia maksud, aku keluarkan semua buku ku dan aku cari di selah selah tas ku.


"ini" ucap ku yang menemukan benda kecil yang dulu pernah di berikan arka oleh ku saat kami masih kecil.


"iya, itu mahkota ku" jelas sacaka.


"baiklah, akan aku kembali, namun berjanjilah tidak akan menyakiti manusia lagi, dan jaga sesama mu agar tidak mengganggu manusia" jelas grahan


"baik, aku akan berjanji" jelas sacaka


aku meletakan mahkota itu dibatas kepala ular tersebut, setelah mahkotanya terpandang Kemabli sacaka menunduk dan melangkah pergi .


"kenapa, mahkota sacaka bisa ada pada mu" tanya grasia.


"waktu kecil aku di beri itu oleh arka" jelas ku


"apa kamu masih, ingin saat kita membantu Bu Ruroh melepaskan ular yang melilit kakinya, setelah itu arka memberikan nya padaku" jelas ku


"baik lah, yang penting Maslah sacaka sudah usai, ayo kita pulang, ibu pasti menunggu" jelas Grahan


Kami berdua melangkah pulang dengan berjalan kaki, aku sedari dulu paling suka berjalan kaki, kata ibu berjalan kaki membuat kaki kita bisa kuat.


sekitar 15 menit kita sudah sampai dirumah, di depan ruang ibu sudah menunggu kami.


"Agnes, kenapa telat nak" tanya ibu


"tadi Agnes masih nungguin teman Agnes Bu" jelas ku yang berbohong.


aku takut kalau aku berita yang sesungguhnya bahwa aku bertemu sacaka lagi pasti ibu akan khawatir.


"ya, sudah, kalau begitu, ayo masuk, ganti baju dan makan" titah ibu


"iya, Bu aku" sahutbku,


melepaskan sepatu ku dan aku letakan sepatuku di rak sepatu yang berada di teras depan rumah.


Aku mulai berganti baju dan pergi ke meja makan di sana sudah ada ibu yang menunggu ku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2