Wanita BerKhodam

Wanita BerKhodam
Penyesalan


__ADS_3

kuntilanak pemakan janin alias Surtini sebutan warga desa.


aku mendapat penglihatan bahwa kuntilanak tersebut meninggal karena di b**uh oleh orang kaya yang terkenal di desa.


"Surtini" ucap ku


kuntilanak yang sedang melayang di atap rumah pak Wasis, dai berhenti dan melihat ke arah ku.


"betul kan, nama mu Surtini, gadis cantik pendiam dan mempunyai orang tua yang pekerjaannya menjahit baju" jelas ku


"kembalilah ke alam mu, Surtini" jelas ku


Surtini hanya diam saja, dia tidak bergeming sama sekali.


"Surtini, jangan buat Penyesalan yang semakin dalam, jangan berbuat jahat kepada para warga dengan mengambil janin yang baru lahir" jelas ku lagi dan lagi


"dari mana kamu mengetahui nama ku" ucap Surtini ia turun dan berdiri di hadapan ku


"iya, aku tau" ucap ku


"tolong, lepaskan janji mu kepada dukun Penganut ilmu hitam itu" kepala ku


"dukun penolong ku mana mungkin aku tidak membalas Budi untuk nya" jelas Surtini


"Kamu sudah tiada, kamu harus Kemabli ke tempatmu yang sesungguhnya" jelas ku


"tugas ku masih belum selesai" jelas surtini


"tugas mu tidak akan pernah selesai, karena janji mu ingin membalas Budi kepada dukun Penganut ilmu hitam" ucap ku kepada Surtini


"pergilah, jangan ikut campur" jelas Surtini yang mengusirku.


"tidak aku tidak akan pergi" sahut Surtini


Aku masih terdiam berpikir cepat gimana caranya agar Surtini bisa menuruti kata kata ku.


"kami rindu kepada kedua orang tua mu" tanya ku


Surtini diam dia mulai berpikir.


"bapak, ibu" ucap Surtini


"iya, bapak ibu mu pasti merindukan anak nya yang sudah tiada, karena di b**uh oleh juragan yang dulu memintanya untuk melunasi hutang" jelas ku


"bagaimana kamu tau" tanya Surtini lagi


"jangan tanya kan aku tau dari siapa, yang jelas aku tau kisah mu" jelas ku


Surtini terdiam dia mulai luluh dan menangis


"hu,hu,hu, bapak ibu Surtini merindukan kalian" jelas Surtini.


aku melihat Surtini yang menangis, hati kuntilanak juga bisa luluh karena teringat orang tuanya.


"tidak, aku harus membalas Budi kepada dukun yang telah membantu ku seperti ini" gumam Surtini yang mulai sadar lagi untuk membalas Budi kepada dukun Penganut ilmu hitam


"jangan Surtini, kasihani lah orang tua mu, mereka sangat merindukan mu" jelas ku


"jangan ikut campur" sahut Surtini


"sreeet"


"brruuk"


Aku lengah, aku tidak tau kalau Surtini akan menyerang ku dengan rambut nya yang panjang.

__ADS_1


"Agnes" teriak Grahan yang melihat ku jatuh tersungkur di tanah karena di dorong oleh rambut Surtini.


"aauu"


Aku memegangi punggung ku karena sebelum terjatuh punggungku terpental dan menabrak meja.


"Agnes, berhati hati lah" sahut Grahan yang mulai marah kepada kuntilanak


"juukk"


"srreettt"


"sroookk"


"bruak"


"duuarr"


"duuarr"


Suara ledakan terdengar karena Grahan melawan Surtini.


"Grahan" teriak ku


Grahan tidak bisa mengendalikan dirinya oleh karena itu Grahan terus memukul badan Surtini dan mencakar- cakar badan Surtini terus menerus.


"aaaa"


"juukk"


"jukkk"


"bruukk"


"sreet"


"sreet"


Surtini melawan dia melilit tubuh Grahan dengan erat dan melambungkan tubuh Grahan ke atas dan menghentakkan ya ke tanah.


"bruuk"


"grrrrr"


Aku mulai membantu Grahan ku pukul tubuh Surtini dengan sekuat tenaga, ku tendang dan ku tarik rambut Surtini yang bajang.


Aku lilitkan rambut Surtini ke badan dia sendiri laku aku menendang tubuh Surtini sekuat mungkin.


"juuuk"


"juuk"


"brruukk"


Tubuh Surtini ambruk dia berubah menjadi wujud Surtini yang sebenarnya, dengan raut muka yang cantik polos, berambut panjang.


"Surtini" gumamku


"ibu bapak" ucap Surtini yang mencari ibu bapak nya.


"kembalilah ke alam mu, dan jangan membalas Budi kepada orang yang sudah jahat ia hanya memperdaya dirimu untuk membantu nya berbuat jahat" jelas ku kepada Surtini.


"terimakasih sudah membuat ku sadar, selama ini aku sudah bodoh, mau di berdaya oleh dukun itu" sahut Surtini.


Akhir ya Surtini sadar bahwa dirinya telah di berdaya oleh dukun tersebut.

__ADS_1


"bantu aku untuk menguburkan jasad ku dengan layak" ucap Surtini yang meminta tolong


"dimana jasad mu" tanya ku sambil menghembuskan nafas kasar karena kelelahan.


"ada di tempat dukun itu, aku di sembunyikan di tempat yang gelap, dengan ruangan yang besar" jelas Surtini


"hati hati, Agnes, rumah dukun tersebut sangat berbahaya, disana ada iblis yang meminta tumbal darah manusia" jelas Grahan


"iya, aku tahu, aku akan berhati hati" sahut ku kepada Garahan


aku mengikuti arahan sosok Surtini yang menunjukan tempat dukun itu menyimpan jasad Surtini.


Sekitar 500km aku telah sampai di tempat dukun itu menyembunyikan jasad Surtini.


Di tengah hutan yang gelap, jauh dari penerangan, banyak pohon rindang dan besar, rasanya lembab sekali.


aku berjalan berlahan mendekati rumah tersebut, rumah yang usang seperti tidak ada penghuninya, gelap tidak ada suara dan aktifitas disana.


"hari hati Agnes" sahut Garahan


Grahan berjalan di belakang ku dan mengawasi sekitar rumah tersebut.


Energi yang terasa di sekitaran rumah dukun tersebut sangat negatif energi nya yang kuat membuat ku merasa mual.


"aku ingin muntah" ucap ku kepada Grahan


"tenangkan pikiran mu, nes" titah Grahan


Muka ku semakin pucat, rasa mual yang sudah tidak bisa di kendalikan karena begitu besar energi negatif yang aku rasakan.


"Agnes, kita harus pergi dari sini" titah Grahan


Aku menuruti ucapan Grahan dan kami pergi dari rumah ini.


Aku berlari cepat dan keluar dari hutan belantara yang tidak pernah di jamah oleh manusia.


"kenapa kamu lari" tanya Surtini


"energi nya sangat kuat aku tidak sanggup, besok saja saat matahari sudah muncul kita kesana kembali, untuk menyelamatkan jasad mu" jelas ku kepada Surtini


"neng, kenapa neng ada di sini sendirian malam malam begini" tanya seorang warga yang lewat di pinggir jalan


"eh, astaghfirullah" ucap ku yang kaget


"maaf, pak saya tersesat" sahut ku yang berpura pura


"memang neng mau kemana" tanya bapak tersebut.


"saya mau kerumah kakek saya di desa sapuyung" ucap ku


"saya sudah lama tidak kesini, oleh karena itu saya tersesat pak" jelas ku


"oh, desa sapuyung lewat sana neng, bukan lewat sini, kalau ini arah ke hutan larangan" jelas bapak tersebut.


"iya, pak terimakasih, atas bantuan nya" ucap ku kepada bapak tersebut


Aku melangkah pulang kerumah kakek, untuk beristirahat. Sesampainya di rumah kakek, rumahnya sepi tidak ada suara bapak dan ibu di dalam.


"assalamualaikum"


"bapak"


"ibu"


ku cari bapak dan ibu aku masuk kedalam rumah, saat di depan kamar ibu aku mencoba membuka kamar tersebut. Ternyata bapak dan ibu sudah tertidur, mungkin karena kecapean.

__ADS_1


"Agnes, istirahatlah" ucap Grahan yang duduk di depan pintu kamar ku


Bersambung


__ADS_2