
" Berikan nomor hp baru mu Virgi, aku akan memberikannya pada Ethan nanti " ucap Sidney saat ia melirik jam tangannya.
" 081234667\*\*\* " jawab Virgi. Sidney segera menyimpan nomor itu di hp nya.
" Aktifkan hp mu dan jangan ganti nomor lagi. Aku harus segera pergi dulu sekarang..." pesan Sidney. Virgi hanya mengangguk. Ia pun kemudian melihat Sidney masuk ke mobil nya dan kemudian segera pergi.
Virgi pun juga masuk ke mobilnya dan segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di sana Kedua orang tuanya menyambutnya dengan baik.
" Putriku dan calon cucu kami..." ucap Mama Virgi nampak senang menyambut kedatangan Virgi.
Mama Virgi memeluk putrinya dan mengusap perut Virgi yang nampak membuncit.
" Suami mu mana...kenapa tidak mengantarmu ?" tanya Papa Virgi yang kebetulan sedang berada di rumahnya. Ia sengaja mengambil cuti dari pekerjaannya untuk bertemu putri nya.
" Sekolah " jawab Virgi sambil melangkah masuk ke dalam rumah keluarga besarnya. Namun ia begitu terkejut saat melihat banyak orang di sana. Sebagian sanak familinya dan sebagian seperti orang suruhan yang di minta membantu di rumahnya.
" Ada apa ini Pa.."
" Kami mau mengadakan acara tasyakuran untuk cucu kami... Kami mengundang janda dan anak yatim untuk berdoa bersama sekaligus memberi santunan kepada mereka. Mereka nanti akan mengaji untuk mendoakan kamu dan bayi mu..." terang Papanya.
Virgi hanya bisa menghela nafas panjang. Orang tuanya sama sekali tidak mengatakan tentang acara hajatan semacam itu. Mereka hanya meminta Virgi datang ke sana.
" Kamu sudah makan apa belum... Kalau belum ayo makan dulu. Kami juga menyembelih kambing....ayo makan itu kesukaanmu kan....."
" Ini bukan acara aqiqah Ma... Kenapa repot repot seperti ini....lagipula ini baru 5 bulan bukan 7 bulanan kehamilan..." sangkal Virgi.
" Kita hanya ingin berbagi kebahagiaan... Nanti kalau acara 7 bulanan kita akan membuatnya lebih dari ini..."
.
.
.
Papa dan Mama... Kenapa harus berlebihan seperti ini... Padahal aku saja tak menginginkan bayi ini... Aku malah ingin aborsi... Kenapa malah begini....
.
.
Virgi terdiam dengan suasana hati yang tak menentu. Di saat ia ingin mengakhiri semuanya dan ingin menghapus Harvey dan anak tidak jelas nya itu, pihak keluarganya justru menyambut kedatangannya dengan bahagia.
" Aku capek..mau tidur saja..." kata Virgi seraya melangkah pergi menuju kamar lamanya dulu.
" Mama bawain makanan ke sana ya?...Sekalian buah buahan...ada banyak macam lo... Siapa tahu kamu ngidam..."
" Terserah " jawab Virgi yang tahu bagaimana Mamanya. Meski ia menolak , ia pasti akan tetap membawakannya ke kamarnya.
Virgi tiduran di kamarnya saat beberapa pembantu rumah orang tuanya membawakan banyak macam makanan , minuman dan buah buahan. Ia seperti menjadi seorang tuan putri di rumah orang tuanya itu.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam harinya , Virgi mengenakan baju hijab lengkap dan di make up begitu cantik oleh perias wajah. Mengenakan gaun yang begitu indah dan mewah seperti mempelai wanita yang hendak menikah. Dan ia hanya bisa menurut saja pada keinginan Mamanya.
Ia dan Mamanya bergabung bersama sanak famili dan begitu banyak tamu undangan .
" Virgi cantik sekali ya... Anaknya nanti pasti perempuan..."
" Iya... Biasanya kalau ibu hamil kelihatan cantik pasti anaknya cewek..." sahut yang lain.
Satu pemandangan menyesakkan saat mendengar lantunan ayat suci yang di bacakan oleh seorang ustadzah terdengar merdu . Virgi begitu tersentuh sampai ia menitikkan air matanya.
.
.
*Sudah berapa banyak dosa yang kulakukan Tuhan..Aku tak tahu... Anak ini... Garis keturunannya tidak jelas... Apakah dia dan aku pantas mendengar merdunya lantunan ayat suci ini...
Aku wanita pendosa*....
.
.
" Nangis lagi....nangis terus..." Virgi tercengang saat tahu tahu Harvey duduk di sebelahnya sambil memberikan sapu tangan dan mengusap air mata di pipinya.
.
.
.
.
Virgi menatap Harvey yang bersikap begitu lembut dan perhatian padanya seperti seorang suami yang begitu mencintai istrinya. Ia memakai baju koko dan berpeci pula. Seperti orang alim saja.
Pandangan mata Virgi melihat ke sekitar dan menemukan sosok kedua orang tua Harvey disana sedang ngobrol bersama Papa dan sanak familinya.
" Jangan nangis terus sayang..." ucap Harvey seraya mendekati telinga Virgi ddn kemudian membisikkan sesuatu.
' Kalau tak ingin dapat masalah bersikap manislah...' ucap Harvey pelan..
.
.
Keluar juga watak aslinya...tak mungkin dia bisa bermanis manis seperti ini kalau tidak di depan orang tuanya.
.
.
" Anakku sayang...jangan nakal ya...jangan buat Mama mu nangis terus..." ucap Harvey sambil mengusap lembut perut Virgi dan tersenyum manis padanya.
" Waaaah...Bahagianya jadi Virgi..."
" Suaminya sudah tampan , perhatian lagi..."
" Jadi pingin cepet nikah.."
__ADS_1
Ucapan orang orang yang ada di sana membuat Virgi begitu muak. Ia ingin muntah melihat Harvey dan sandiwara manis beracunnya.
.
.
Andai saja kalian tahu... Kalian pasti sedih sekali...
.
.
Virgi rasanya ingin muntah, saat tiba tiba Harvey mencium perut kandungannya..
" Ya ampunnnn....So sweetnya...." mereka nampak bahagia melihat keromantisan Harvey. Namun Virgi menanggapinya dengan begitu dingin. Ia yang sudah muak dan mulai mati rasa pada Harvey benar benar muak.
" Uuppps.... Maaf...tanganku licin..." Ucap Virgi saat mengambil gelas minuman yang berisi teh manis ia tumpahkan ke punggung Harvey yang membungkuk di depannya.
" Virgi..." Harvey menahan kesal karena berada di depan banyak orang . Ia tahu Virgi pasti sengaja melakukannya .
" Aduh...bagaimana sih Virgi ini...baju Harvey kan jadi basah..." ucap Mama Virgi.
" Maaf ...maaf... Aku tidak sengaja..." ucap Virgi dengan wajah tersenyum tak seperti orang menyesal telah membuat kesalahan.
" Ya sudah cepat ganti baju sana.." kata Papa Virgi. " Ambilkan baju ganti untuk Harvey...Ambil baju di lemariku saja..." Papa Virgi pun berbaik hati meminjamkan bajunya untuk menantunya itu karena di sana tidak ada satupun baju milik Harvey.
" Temani suamimu ganti baju..." perintah Mamanya.
Mau tak mau Virgi menemani Harvey menuju ke kamarnya. Dan begitu masuk , Harvey langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya.
" Kenapa di kunci, Pembantu saja belum mengambilkan baju gantimu.
Harvey tersenyum simpul.
" Sudah... Tidak usah berpura pura lagi...Aku sudah tahu maksudmu..." kata Harvey sambil melepas kancing baju kokonya satu persatu.
" Pura pura?...Apa maksudmu..." tanya Virgi.
" Kau sengaja menumpahkan teh itu karena rindu padaku kan...Sudah lama aku tidak menyentuhmu...kau rindu berada dalam pelukanku kan...hehe...jujur saja... Kalau mau minta jatah itu ngomong saja... Aku tidak sejahat itu membiarkan kau kegatelan tanpa ada yang menggaruknya kok...hahaha..."
Virgi ternganga..Ia benar benar tak menyangka itu yang di pikirkan oleh Harvey.
" Kau stres...gila..." ucap Virgi kesal.
" Sudah gak usah jual mahal.. Tinggal tidur pasang badan buka kaki... Kau kangen jaguarku kan.... Tenang saja Virgi...I ll do my best like past..."
Virgi menyernyitkan alisnya. Ia benar benar kesal dengan Harvey.
.
.
Kau pikir aku modus untuk mencari perhatianmu?.. Kau sakit Harvey....
Setelah kau pakai untuk menyentuh wanita lain... mengoyak ngoyak miliknya... Sekarang aku??....Cih...tidak...aku tidak sudi !!!
..
__ADS_1
.