Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 10


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan


Bab 10


Belum selesai Acha menetralkan degup jantungnya saat berusaha menyelinap, kini dia dibuat terperanjat oleh gonggongan dua ekor anjing penjaga. Acha panik, berarti ada orang asing yang mencoba masuk ke dalam rumah ini. Di tidak mendengar pintu pagar dibuka, karena jarak nya yang begitu jauh. Suara kendaraan pun terdengar samar. 


Acha berdiri dan panik, melihat kesana kemari, mencari tempat untuk bersembunyi. Suara sepatu lantai terdengar semakin dekat.


"Periksa!" Suara perintah itu terdengar jelas oleh Acha yang masih kebingungan. Jika dia membuka pintu pagar lagi, pasti terdengar.


"Acha kenapa bandel! Udah disuruh jangan datang, tetap juga datang!" Acha mengoceh sendiri dengan nafas mulai tersengal.


Tiba-tiba ada yang menarik tangan Acha sambil membekap mulutnya. Acha ditarik ke sebelah tembok. Antara bangunan gudang dan pagar rumah terdapat jarak sekitar lima puluh sentimeter.


Acha berusaha berteriak dengan mulut terbekap.


"Jangan berisik," bisik orang yang menarik Acha tersebut.


Acha mengenal suara tersebut. "Bang El?"


"Iya, diam!" Dengan tangan kiri masih menutup mulut Acha, Eligius mencoba mengintip ke arah luar. Namun, dengan cepat dia kembali menyandarkan tubuhnya ke tembok gudang.


"Jangan menimbulkan suara apapun!" bisik Eligius.


Acha yang ketakutan hanya mengangguk. Tanpa sadar dia memeluk Eligius dengan erat. Semakin erat saat terdengar suara langkah mendekati gudang. Salah satu tangan Eligius juga memeluk tubuh Acha dan salah satunya lagi siap dengan pistol yang sudah dikokang.


"Jangan nangis." Kembali Eligius berbisik di telinga Acha.


Acha memejamkan mata, seolah dia sudah pasrah, menyerahkan hidup dan matinya di tangan Eligius. Dalam keadaan terdesak seperti itu, Acha baru menyesali kenapa dia tidak menuruti saja perintah Eligius. 


Jangan mencari tahu yang seharusnya kamu tidak tahu.


"Lapor komandan, keadaan rumah kosong. Sepertinya mereka sudah tahu akan operasi kita." 


"Baik. Kita tinggalkan tempat ini! Tolong ke bagian lalu lintas, cari tahu dari rekaman CCTV di jalan kemana  mobil yang keluar dari rumah ini pergi!"


"Siap, baik, laksanakan."


Acha sedikit menarik nafas lega setelah mendengar percakapan kedua orang yang dia tidak tahu siapa.


Sayup terdengar suara mobil menjauh dari rumah Bapak Malvyn. Saat itu Acha terkejut saat mendapati dirinya sedang memeluk Eligius. Begitupun Eligius langsung melepaskan pelukannya.


Eligius melangkah perlahan dari tempat mereka bersembunyi, dia belum mengizinkan untuk Acha keluar dari tempat itu. Dia akan memastikan terlebih dahulu bahwa polisi-polisi tersebut telah pergi dari rumah Bapak Malvyn. 

__ADS_1


Setelah Eligius memastikan keadaan aman. Tangan kirinya terjulur ke arah Acha bersembunyi. Saat itu Acha menyambut uluran tangan tersebut dan keluar perlahan dari persembunyian.


Kembali Acha tersadar dan menyentak tangan agar pegangan tangan itu terlepas. Eligius hanya tersenyum lalu duduk di bangku di mana Acha duduk saat pertama tiba. Dia menyandarkan punggungnya dan merentangkan kedua tangan pada sandaran bangku.


"Sudah saya duga kamu pasti datang ke rumah ini," ujar Eligius tatapannya lurus memandang bintang di langit.


"Kenapa kamu nggak bisa jadi anak manis sebentar aja?" Sambung Eligius.


"Abang sendiri kenapa bisa ke sini lagi?" 


"Kamu tahu? Saya sengaja meninggalkan ponsel saya agar ada alasan untuk kembali. Filling saya sudah nggak enak tentang kamu."


"Maaf." Hanya itu yang sanggup Acha ucapkan.


Sebelum berangkat, Eligius memang meninggalkan ponselnya. Itulah yang dia gunakan sebagai alasan agar dia bisa putar balik. Adeline dan Sartika dia titipkan di mobil Bapak Malvyn. Dengan kecepatan maksimal dan menerobos lampu merah akhirnya Eligius dapat tiba tepat waktu.


"Sebenarnya Abang ini siapa?" tanya Acha penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Yang perlu kamu tahu, kalau kamu sampai tertangkap polisi tadi, habis riwayat kamu." 


"Kenapa Acha?" 


"Mereka nggak berhasil menangkap Bapak Malvyn, ya kamulah yang dijadikan tumbal," penjelasan Eligius membuat Acha sedikit bergidik ngeri membayangkan ditangkap polisi.


Kali ini Acha bertanya serius tentang bisnis apa yang dijalani Bapak Malvyn sebenarnya sehingga dia bisa sekaya ini dan yang fatalnya dicari-cari polisi berpakaian lengkap begitu.


Eligius tertawa mendengarnya, dia tidak percaya bahwa Acha tidak tahu selama ini tentang bisnis Bapak Malvyn.  "Saya tidak ada hak untuk memberi tahunya."


"Beri tahu Acha, setidaknya Acha bisa berhati-hati!" paksa Acha.


Dua kata yang mencangkup semua bisnis Bapak Malvyn. "Black market."


"Setelah kamu wisuda, menikah bawa Mak Sar pergi dari rumah ini!" Tanpa diduga Eligius mengatakan itu.


"Apa bisa? Mamak selalu bilang bahwa kami sudah berhutang budi. Hutang harta dapat dicari, hutang budi dibawa mati."


Eligius melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Eligius mengajak Acha pulang. Dia akan mengantarnya ke kost Vera. Sebelum itu, dia menyuruh Acha menunggunya karena dia akan mengambil ponsel di kamarnya.


Eligius berlari menuju kamarnya, mengambil ponsel yang terletak di atas kasur dan langsung kembali ke halaman belakang menemui Acha yang masih menunggu.


Mereka keluar melalui jalan rahasia yang dibuka masih berderit. 


"Abang masuk dari mana? Kenapa nggak ada suara orang bukakan pintu?"

__ADS_1


Eligius menunjuk ke arah tembok. Ternyata dari luar dia memanjat tembok dan melompat ke dalam, suara lompatannya tentu tidak terdengar karena bersamaan dengan anjing yang menggonggong. 


Setelah di luar rumah, Acha mengekori Eligius menuju tempat dia memarkirkan mobil. Ternyata Eligius memarkirkan mobil cukup jauh.


"Bang, tunggu!"


"Apa lagi, cepatan!" sahut Eligius berjalan cukup cepat. 


Mobil terparkir dua rumah dari rumah Bapak Malvyn dan Acha segera berlari menyusul Eligius yang telah sampai di dekat mobil. 


"Buruan masuk! Saya nggak punya banyak waktu."


Setelah mobil berjalan, Eligius berpesan kembali kepada Acha jangan ada yang tahu kecuali dia mengenali Acha yang diam-diam kembali ke rumah.


"Bapak paling tidak suka dengan pembangkang, kalau bapak tahu kamu tidak menuruti perkataannya, bisa-bisa kamu lenyap dari dunia ini."


Setelah sampai di depan kost Vera ternyata pintu pagar telah terkunci. Acha mencoba menghubungi Vera ternyata kost yang dia tempati ini punya jam pulang. Lewat dari jam 11 malam, pintu pagar akan dikunci penjaga kost.


[Jadi Acha gimana ini, Ver?] 


[Vera nggak berani minta bukakan pintu pagar. Apa lagi Acha cuma teman numpang nginap.]


Acha menunjukkan pesan whatsapp itu kepada Eligius.


"Ya sudah tunggu aja sampai pagar dibuka!"


"Jadi tidur di mobil?"


"Iya."


"Berdua?" Acha bergidik ngeri membayangkan lelaki dan pria dewasa berdua di mobil.


"Selera saya bukan kamu," sahut Eligius.


"Syukurlah." Acha mulai mengatur posisi jok mobil agar bisa rebahan.


Mesin mobil dimatikan tentu saja AC tidak bisa hidup. Eligius membuka sedikit kaca mobil agar tidak mati sesak. Udara malam yang cukup dingin terasa hingga ke dalam mobil.


Eligius melihat gerak-gerik Acha yang kedinginan. Dia menaikkan kakinya dan meringkuk seperti udang. 


Eligius membuka jaket kulit hitam yang dia kenakan. Berharap dapat menghangatkan tubuh Acha. Tanpa sepengetahuan Acha, Eligius memotret wajah polos Acha yang sedang tertidur pulas. Sepertinya Eligius mulai jatuh hati kepada Acha.


Apalagi saat Acha memeluk tubuhnya, ada perasaan aneh yang Eligius rasakan. 

__ADS_1


__ADS_2