Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 18


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan


Bab 18


Acha yang masih berdiri di dekat jendela masih bisa mengintip keluar dan melihat ajudan Bapak Malvyn berlari tergopoh mendatangi Eligius yang masih duduk di tempat semula.


Sebelum Eligius melangkah, dia memandang lagi ke arah jendela kamar. Kali ini dia tidak melihat Acha karena Acha hanya mengintip dari celah-celah gorden.


Acha berlari keluar kamar, dia mengintip dari pintu dapur. Saat itu dia melihat wajah Eligius diberi satu tinjuan oleh Pak Malvyn.


Eligius terhuyung dan tersungkur. Seolah tahu, Eligius melirik ke arah pintu dapur. Tatapan Acha berubah menjadi iba. 


"Berani kau sama anakku." Satu pukulan lagi.


Ada sekitar lima pukulan sehingga membuat wajah Eligius lebam dan darah mengalir dari hidungnya. Eligius hanya menyekah dengan ujung baju kaos yang dia pakai.


"Panggil Adeline sini!" titah Bapak Malvyn kepada Ibu Fenita.


Ibu Fenita hanya mengeluarkan ponsel, sepertinya dia sedang menghubungi Adeline agar turun. Tidak lama turun Adeline dengan Sartika.


Adeline duduk di sebelah Ibu Fenita. Sedangkan Eligius berdiri di tengah ruangan. 


"Mau kita penjarakan dia?" tanya Pak Malvyn kepada Adeline.


Sementara Acha tidak berhenti berdoa untuk Eligius.


"Ng-ng-nggak usah, Pa. Ntar Adel malu. Publik nanti tahu bahwa Adel diperkosa oleh ajudan sendiri." Kembali Adeline berpura-pura menangis  di pelukan Ibu Fenita.


"Jadi Adel maunya bagaimana, Sayang?" Suara ibu Fenita mengisi ruangan yang sepi mencekam.


"Nikahkan saja Adel sama El. Mana ada laki-laki lain yang mau wanita yang sudah diperkosa seperti Adel."


Entah kenapa, Acha lemas mendengarnya. Dia terduduk di balik tembok dekat pintu. 


"Saya tidak memperkosa, dia yang menjebak saya." Akhirnya Eligius buka suara.


Saat Eligius bersuara, Acha menjadi semangat, langsung dia berdiri dan mengintip ke arah ruang keluarga.


Saat itu moncong pistol Bapak Malvyn yang sudah dikasih tambahan peredam suara menempel di kening Eligius.


"Tembak saja jika itu yang terbaik!" tantang Eligius.


Acha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tidak percaya Eligius akan berkata seperti itu.


Akhirnya Acha beranikan diri untuk masuk di antara mereka. "Maaf jika Acha lancang."


Semua mata mengarah ke Acha. Sartika juga mendelik tajam.

__ADS_1


"Maaf, kalau boleh Acha ikut campur." Acha berjalan mendekati Eligius. "Logikanya saja, jika Nyonya Adeline diperkosa, yang akan berantakan dan berbekas lipstik atau apalah tentu pakaian bagian depan si pelaku." Sambung Acha.


Bapak Malvyn menurunkan pistol dari kepala Eligius. Dia melihat pakaian Eligius bagian dada, tidak ada bekas apa pun. Hingga saat dia membalikan tubuh Eligius, Bapak Malvyn menemukan ada bekas lipstik di pakaian belakang Eligius. 


Akan tetapi, keegoisan dan keangkuhan mereka tidak bisa menerima kebenaran yang terjadi. 


"Lu diam, ya!" bentak Adeline kepada Acha.


Sartika marah besar melihat Acha membela Eligius. Sehingga Sartika langsung menarik Acha ke dapur dan masuk ke kamar. Sampai di kamar, paha Acha azab dicubit oleh Sartika.


"Kenapa kau bela-bela dia?" geram Sartika sambil tangannya terus mencubit-cubit halus.


"Abang El nggak salah, Mak." Acha tetap saja membantah.


"Acha!?" teriak Adeline dari pintu dapur.


"Cepat temui!" perintah Sartika sambil mendorong-dorong tubuh Acha.


Adeline memerahi Acha dan menyuruh Acha pulang kampung saja. Bukannya dibela, Sartika malah mendukung Adeline.


"Pergi kau hari ini juga!" Adeline melemparkan uang ke wajah Acha. "Jangan sampai kau belum pergi saat Eligius pulang!" sambung Adeline.


Tidak itu saja, Adeline juga mendorong tubuh Acha hingga dia tersandar pada pintu kulkas.


"Pulanglah! Mungkin kau lebih baik di kampung daripada di sini!" ujar Sartika sambil membantu Acha membereskan pakaian.


Hanya memakan waktu tiga puluh menit, dari merapikan pakaian dan mandi. Acha menarik travel bag keluar rumah. Ternyata Eligius melihat itu, dia berlari mengejar Acha yang bersiap naik ojek yang telah diordernya.


"Kemana?" Eligius menarik tangan Acha.


"Pulang kampung, Bang." Acha berusaha melepaskan genggaman tangan Eligius.


"Tapi kamu balik ke sini lagi, kan?"


"Lihat nanti saja." Acha pun naik ke dalam mobil.


Eligius terdiam melihat mobil melaju dan hilang dari pandangan mata. 


Dari lantai atas Adeline tersenyum puas. Penghalang terbesarnya sudah pergi.


Menjauh dari kota ini mungkin menjadi pilihan  terbaik oleh Acha. 


Sementara Eligius mengutuk dirinya yang tidak berani mengutarakan rasa yang ada di hatinya selama ini. Bukan tidak berani, hanya saja Eligius masih ada sedikit rasa trauma, takut dikhianati seperti itu lagi.


Di kamar atas, Adeline menghubungi Malvyn Sambil menangis. Dia mengatakan dia malu keluar kamar. Malu ketemu para pekerja di rumah ini.


"Mau kamu seperti apa, baby? Papi penjarakan? Apa papi habisi?" tanya Bapak Malvyn di ujung telepon.

__ADS_1


"Jangan, Pi, kalau itu papi lakukan, nggak ada ayah dari anak ini nanti." Adeline menangis lagi.


"Kamu hamil?!" Suara Bapak Malvyn membesar.


Dari sini Adeline tersenyum puas, sudah berhasil membuat Bapak Malvyn marah. Sebentar lagi pasti dia akan dinikahkan. 


"Akhirnya kami punya papa, Nak," gumam Adeline sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


Adeline memang lagi hamil tetapi, bukan janin Eligius karena pria pemilik senyum menawan itu tidak menyentuh Adeline sama sekali.


Satu jam kemudian, Bapak Malvyn pulang ke rumah dan langsung saja menemui Eligius yang sedang duduk di teras samping rumah.


Tanpa basa-basi Bapak Malvyn langsung meninju wajah Eligius.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Eligius bingung dengan perilaku Bos nya.


"Kau nodai putriku. Kau hancurkan masa depannya."


"Saya tidak ngapa-ngapain, Pak. Nyentuh saja tidak." Eligius masih membela diri.


Akan tetapi, kekuasaan membuat semua ikut jalan pikiran pemilik kuasa. 


"Kau harus bertanggung jawab atas kehamilan Adeline. Kau harus menikahi dia!"


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Karena itu bukan anak saya. Saya tidak pernah menyentuh Non Adeline. Apa Bapak tau pergaulan bebas Non Adel selama ini?" 


Bukan jawaban yang didapat, melainkan  sebuah moncong pistol yang mendarat di kening Eligius, lagi.


"Lakukan saja jika itu yang terbaik!" tantang Eligius.


Dia lebih baik mati jika harus bertanggung jawab yang bukan dia lakukan. 


"Saya akan tanya sama Adeline," gumam Bapak Malvyn.


"Mana mungkin dia jujur. Saya ajudan dia. Saya yang tahu kelakuan dan pergaulan dia."


Merasa tidak mempan gertakan pistol itu, akhirnya Bapak Malvyn menyimpan kembali pistol yang dia miliki. Bapak Malvyn masuk ke dalam rumah sedangkan Eligius melanjutkan menghisapnya rokok lagi.


Wanita seperti Adeline tidak pantas dijadikan istri. Sejahat-jahatnya laki-laki dia akan memilih wanita baik-baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Kamu yakin melawan Bapak Malvyn?" tanya Mang Yusuf.


"Bukan saya ayah dari anak yang dikandung Non Adeline," bela Eligius.


"Kalau dia mengancam keselamatan keluarga kamu bagaimana? Ibumu misalnya?"


Eligius langsung terdiam. Ya, dia masih punya ibu yang sudah tua. Kini tinggal di kampung bersama adik-adiknya. Eligius setiap bulan hanya mengirim uang untuk biaya hidup ibunya.

__ADS_1


"Bapak Malvyn, kamu tahukan dia bagaimana?" Kembali Mang Yusuf bersuara. "Saya saja, kalau boleh mengulang waktu tidak ingin kerja di sini. Di sini kita harus mau ikut perintah dia. Walaupun gaji di sini sangat besar tapi, kita seperti boneka mereka," sambung Mang Yusuf.


__ADS_2