
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 7
Baru saja sampai di dalam rumah, Adeline muntah di lantai. Pukul tiga dini hari, ibu Fenita membangunkan Sartika. Sartika tidak terbangun, yang bangun hanya Acha. Acha lah yang diperintah membersihkan muntahan Adeline. Mata yang masih perih segara diguyur air dingin agar bisa terbuka lebar.
Eligius membantu Acha mengangkat ember berisi air yang ditambah cairan pembersih lantai.
"Kamu duduk aja! Biar Abang yang bersihkan," perintah Eligius.
Namun, Acha menolaknya. Dia tidak mau merepotkan Eligius. Benar dugaan Acha, Eligius sudah tertidur di sofa dengan posisi duduk.
"Enak bener jadi orang kaya, hingga muntahannya saja, orang yang membersihkan." Acha membatin saat membersihkan muntahan Adeline.
Diliriknya angka di dinding, terlihat telah pukul empat subuh. Sebenarnya mata adeline sangat mengantuk. Namun, kalau dibawanya tidur, pasti saat Salat Subuh dia tidak akan terbangun.
Acha putuskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya saja di dapur. Di Dapur juga memiliki meja makan untuk para pekerja di rumah ini. Posisi di mana Acha duduk sekarang bisa melihat dengan jelas ke ruang keluarga dimana Eligius sedang tertidur di sofa.
Saat itu, Acha mendengar mobil yang digunakan Bapak Malvyn memasuki halaman rumah. Memang sudah empat hari ini lelaki dengan tinggi di atas 170 cm tersebut tidak terlihat di rumah. Informasi yang didapat dari Mang Yusuf, Bapak Malvyn sedang keluar kota mengurus bisnis yang baru dia buka di kota tersebut.
Acha pun berlari ke arah Eligius.
"Bang, Bang El bangun!" Acha menggoyang-goyangkan tangan Eligius.
"Apa, Cha?" Ternyata tidak susah membangunkan pria pemilik hidung mancung itu.
"Bapak Malvyn pulang, Bang," ujar Acha.
Eligius langsung mengusap wajah serta mengucek-ngucek matanya untuk menghilangkan kantuknya.
"Ngantuk banget Abang, Cha," gumam Eligius.
"Acha buatin kopi, ya?" Acha pun langsung berlari menuju dapur.
Terdengar suara pintu dihempas. Suara itu terdengar sangat jelas di keheningan malam.
Acha yang sedang memegang secangkir kopi hitam sampai menghentikan langkahnya karena dia juga merasa takut.
"Sudah saya bilang, tugas kamu mengawal kemana Adeline pergi. Kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri?!" Suara Bapak Malvyn menggelegar memenuhi ruangan.
"Siap. Maaf, Pak. Saya juga atas izin ibu," sahut Eligius dengan kepala tertunduk.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Eligius. Suara yang sangat nyaring pasti menyisakan rasa yang cukup perih di kulit wajah Eligius.
"Sekali lagi kami seperti itu, saya pecahkan kepalamu," ancam Bapak Malvyn seraya mengacungkan pistol ke arah kening Eligius.
Bapak Malvyn meninggalkan Eligius yang masih berdiri seperti patung. Sebelum ikut meninggalkan Eligius, ajudan Bapak Malvyn sempat menepuk-nepuk pundak Eligius beberapa kali.
Sementara Acha masih tertegun di ambang pintu tengah menuju dapur. Ternyata Eligius menyadari bahwa ada orang di sana, Eligius menoleh ke arah Acha dan memanggilnya.
"Kenapa masih di situ, Cha?"
"Hmmm, ini kopinya, Bang," Acha menyodorkan cangkir kopi tersebut kepada Eligius.
"Terima kasih. Tapi, ngantuk ya udah hilang," ucap Eligius sambil menyeruput kopi buatan Acha.
"Nggak enak, ya, jadi orang susah ini. Apa pun yang kita lakukan pasti salah," gumam Acha.
Eligius menoleh. "Enak juga kopi buatan kamu."
"Sudah terbiasa buatkan kopi untuk kakek waktu di desa."
Eligius sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan Acha karena dia merasa ada beban pada perkataan Acha.
Tanpa terasa, adzan subuh berkumandang, terdengar sayup dari masjid yang letaknya cukup jauh dari rumah yang mereka tempati.
"Abang?"
"Saya mau salat ataupun nggak, tetap masuk neraka juga," sahut Eligius acuh.
"Setidaknya, Abang kasih lah kerjaan untuk malaikat Raqib," ceplos Acha merespon ucapan Eligius.
"Dasar bocah tengil." Eligius menjitak kepala Acha dan meninggalkan Acha yang merengut sambil mengusap-usap kepalanya.
Selesai Salat Subuh, Acha benar-benar tidak sanggup Lagi menahan kantuknya.
"Mak, Acha tidur sebentar boleh, ya? Tadi malam Acha dibangunkan untuk bersihkan muntah Mbak Adel," ucap Acha, suaranya terdengar sangat lemah.
"Yaudah. Tidur aja. Biar aja Mamak yang mengerjakan." Sartika merapikan selimut yang menutup tubuh gadis berusia dua puluh dua tahun itu.
Sartika tidak langsung keluar kamar, dia memperhatikan wajah polos Acha yang telah pulas tidur.
"Maafkan Mamak, Nak." Sartika akan memberi Acha waktu untuk dia tidur.
***
__ADS_1
"Bagaimana kuliah kamu, Cha?" tanya Bapak Malvyn kepada Acha yang saat itu sedang menghidangkan sarapan.
"Sedang membuat proposal, Pak."
"Berarti sudah dapat dosen pembimbingnya, ya."
"Ya, sudahlah, Pi. Kalau belum dapat mana mungkin dia bisa lanjut ke tahap proposal," celetuk Adeline.
"Kamu sendiri bagaimana, Del?" Kali ini Bapak Malvyn bertanya kepada putri semata wayangnya.
"Adel, mah, gampang. Semua ada yang bikinkan," sahut Adel acuh lalu menggigit roti selai cokelat crunchy.
Bapak Malvyn mengajak seluruh penghuni rumah tersebut untuk liburan. Akan tetapi, Acha meminta izin untuk dia tidak ikut karena bertepatan dengan jadwal bimbingan proposalnya.
"Saya boleh tinggal saja, Pak?"
"Kenapa?" tanya Ibu Fenita.
"Bertepatan dengan bimbingan proposal saya, Bu."
"Alah, sudah. Bayar aja deh. Repot amat mikirin skripsi," Dengan nada angkuh ciri khas Nona Muda Adeline.
"Saya mana ada uang untuk itu, Mbak," sahut Acha pelan.
Eligius yang berdiri tidak begitu jauh dari Acha, melirik Acha dengan sudut matanya.
"Rumah ini harus kosong. Kamu boleh tidak ikut, tapi jangan ada di rumah ini."
"Kenapa begi …. tu." Acha tidak melanjutkan pertanyaannya karena mendapat kode batuk dari Eligius.
"El, kamu Carikan Acha penginapan atau kost. Yang terpenting dia tidak di rumah ini!" perintah Bapak Malvyn kepada Eligius.
Kelihatan wajah Adeline tidak senang mendengar Bapak Malvyn menyuruh pengawal pribadinya mengurusi Acha.
"Anak pembantu juga, kenapa di urusi," sindir Adeline.
"Maaf, Pak. Saya bisa nginap di kos teman saja." Acha merasa tidak enak hati. Benar ucapan adeline. Acha hanya anak pembantu tidak sepatutnya diperhatikan seperti itu.
Bapak Malvyn tidak setuju. "Jangan pernah membantah perintah saya!"
Dia pun menyudahi sarapannya, setelah melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. Dia beranjak dan diikuti oleh pengawalnya. Begitu juga dengan Ibu Fenita, hari ini dia akan ke butik miliknya tidak ketinggalan pengawal pribadi Ibu Fenita.
Setelah ruangan kosong, tanpa disangka Eligius langsung nyeletuk. "Bilang aja kamu mau menginap dengan pacar kamu. Makanya kamu nggak mau saya antar."
__ADS_1
Acha menoleh dan menatap tajam ke arah Eligius. Perlahan dia melangkah mendekati Eligius yang tidak berpindah posisi dari tadi.