
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 16
Pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Sakit? Tentu saja sakit. Hingga emosi amarah tidak bisa dikontrol dengan baik. Terjadilah tragedi berdarah di hari itu juga. Dua orang pengkhianat bersimbah darah.
Saat itulah Eligius berubah menjadi sosok dingin. Jiwanya terguncang, hatinya hancur. Hingga tidak ada lagi rasa penyesalan di dirinya.
Kamar yang cukup sejuk terasa sangat gerah, bukan kamar yang salah, melainkan hati Eligius yang tidak nyaman.
Eligius keluar kamar, duduk di bangku taman belakang rumah. Dari bangku tersebut, dia bisa melihat langsung ke arah kamar Adeline. Lampu kamar masih menyala. Padahal sudah pukul dua dini hari.
Eligius menyunggingkan senyum saat melihat bayangan orang berjoged-joged dari balik jendela yang tertutup tirai.
Saat yang bersamaan, Acha keluar dari kamar hendak mengambil wudhu di kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama.
"Astagfirullahaladzim," ucap Acha terkejut melihat sosok besar duduk di bangku.
"Ini Abang, Cha. Bukan hantu." Eligius bergumam.
"Ya Allah, hampir jantung Acha copot, Bang."
"Maaf. Kamu ngapain?" tanya Eligius heran.
"Ambil wudhu mau Salat Tahajud."
"Oke. Lanjutin!"
Sebelum masuk ke kamar, Acah berkali-kali menoleh kebelakang melihat Eligius yang cukup aneh malam ini.
Di dalam kamar, setelah selesai tahajud Acha memohon ketenangan hati dan berilah apa yang terbaik untuknya.
"Ya Allah, jika memang Yogi jodohku, satukanlah kami dengan caramu. Namun, jika Yogi bukan jodohku, pisahkan kami dengan cara terbaik menurutmu." Acha tutup doa di malam itu.
Keesokan pagi, Ibu Fenita dan Bapak Malvyn sudah bersiap-siap hendak keluar kota. Sudah pasti Adeline tidak ikut dan dipercayai kepada Eligius selaku ajudannya.
Seharian Adeline keluar rumah bersama Eligius. Ada saja tempat yang dia datangi, mulai dari lokasi pemotretan hingga menghabiskan uang di pusat perbelanjaan.
Eligius asik melirik arloji bertali kulit di pergelangan kirinya. Pukul dua siang, acara lamaran Acha berlangsung. Jujur saja, Eligius tidak ingin melewati itu. Akan tetapi, apalah daya. Dia memiliki tugas lain. Eligius hanya bisa menarik nafas yang terasa begitu berat lalu dihembusnya perlahan.
Sementara jauh di sana, di kediaman Bapak malvyn, rombongan keluarga Yogi sudah datang. Sebagian yang tidak tahu siapa Acha terkesima melihat rumah yang mereka kunjungi. Sebagian lagi yang telah tahu langsung saja nyeletuk bahasa Acha hanya anak pembantu di rumah ini.
Keluarga tamu disambut ramah oleh Mang Yusuf sebagai perwakilan keluarga Acha.
__ADS_1
Ramah tama pun berjalan dengan lancar, hingga mereka meminta Acha menulis nama lengkap beserta binti. Acha terdiam. Pena yang sudah dijepit di antara jari kini Acha letakkan kembali.
Dalam suku keluarga Yogi, mereka masih percaya dengan primbon. Mereka memerlukan nama lengkap calon pengantin serta nama ayahnya, dari situ mereka akan menentukan hari baik kapan akan dilangsungkan pernikahan.
"Saya bernasab ke ibu," ujar Acha dengan lantang.
Semua tamu tercengang mendengarnya, ada yang hampir menyemburkan air dalam mulutnya.
Sartika langsung mencolek Acha. Matanya melotot.
"Kami tidak bisa meneruskan lamaran ini." Suara laki-laki dari rombongan tamu membuat tegang suasana.
"Jika itu yang terbaik, silahkan!" Acha menjawabnya.
"Acha!" Sartika membentak Acha di depan orang ramai.
"Biarlah, Mak. Kalau memang dia benar cinta sama Acha, dia pasti menerima Acha apa adanya. Kalau tidak bisa menerima. Ya lebih baik akhiri saja." Kini Acha berdiri mengimbangi para tamu yang lebih awal berdiri.
Terdengar, gerutu dan cemooh dari mulut keluarga Yogi. Yogi menoleh kebelakang tetapi, Acha tidak melihatnya. Acha kesal karena tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Yogi untuk membelanya.
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi di pipi Acha. Diiringi dengan makian dari mulut Sartika.
"Sudah, Sar! Jangan begitu! Acha itu anak kamu. Jangan kasar begitu!" Mang Faisal mencoba menenangkan Sartika.
"Anak yang nggak pernah aku inginkan!" teriak Sartika bukan saja menyakiti telinga melainkan juga menyakitkan hati.
"Istighfar, Sar! Bawa ngucap!" Mang Yusuf menjauhkan Sartika dari Acha agar dia sedikit tenang.
Dengan air mata yang menetes, Acha membersihkan sisa acara.
"Udah selesai lamaran, Lu?" Suara Adeline mengejutkan.
Dengan cepat Acha menyeka air matanya.
"Su-sudah, Non."
"Baguslah, bereskan cepat!" perintah Adeline lalu dia naik tangga menuju kamarnya.
Eligius memandang Acha penuh keanehan. "Kenapa kamu menangis?" tanya Eligius dengan pandangan menyelidik.
"Semua berjalan lancar, bukan?" sambung Eligius.
__ADS_1
Acha menggelengkan kepalanya. Kali ini Eligius tidak melanjutkan pertanyaan yang terasa konyol. Langsung saja dia membantu Acha menggiling karpet permadani yang terbentang tadi.
"Acha jujur kepada mereka, Bang." Tiba-tiba Acha membuka suara. "Saat mereka menanyakan Acha binti siapa, Acha jawab, nasab Acha bernasab ke ibu."
"Jika itu yang terbaik menurut kamu, saya akan mendukung keputusan kamu. Lagian baru juga tamat kuliah, sudah mau langsung nikah. Kejar karir dulu, lah, Cha!"
Acha tidak menjawab perkataan Eligius, dia malah menanyakan apakah Eligius sudah makan apa belum karena makanan yang disiapkan untuk tamu tadi tidak tersentuh.
"Mau dikemanakan makanan sebanyak ini?" tanya Eligius kepada Acha saat mereka berdiri di meja prasmanan.
"Entahlah, Bang."
Eligius menyarankan untuk Acha membungkus nasi beserta lauk Pauk lalu di kasih kepada orang-orang yang layak menerima.
Acha setuju dengan saran Eligius. "Tapi, nggak ada kotak di rumah ni."
"Biar Abang beli di toko depan sana." Eligius langsung berjalan dan mengambil kunci motor.
Lima belas menit kemudian, Eligius kembali sambil membawa satu pack kotak yang terbuat dari styrofoam. Ada sekitar dua puluh kotak mereka siapkan untuk dibagi-bagi.
"Yuk, Bang!"
Eligius mengangguk, mereka berjalan kaki menyusuri jalan dekat kediaman Bapak Malvyn. Berapa kotak telah mereka beri kepada anak jalanan, tukang parkir, ibu penjual koran dan masih banyak lagi hingga kotak yang mereka bawa habis. Tanpa sadar mereka berjalan cukup jauh.
Saat itu mereka memutuskan istirahat sebentar, duduk di trotoar yang telah disediakan bangku sambil menyeruput jus dalam cup.
"Bang El?" sapa seorang pengamen jalanan saat melihat Eligius duduk bersama Acha. "Kapan Abang bebas?" tanyanya lagi.
"Sudah setahun ini." Eligius menjawab dengan santai. Walaupun sesekali dia melirik Acha.
Dalam situasi seperti itu, Acha pura-pura tidak dengan pembicaraan mereka.
"Aku lanjut ngamen dulu, ya, Bang." Pamit teman Eligius tersebut.
Sebelum jauh, dia berseru bahwa wanita yang bersama Eligius saat ini cantik.
"Cha," panggil Eligius setelah temannya pergi.
"Kamu mendengarnya?" sambung Eligius.
"Dengar tapi, sepertinya bukan urusan Acha," sahut Acha lalu kembali menyeruput jus alpukat tersebut.
"Itu pernah menjadi teman satu sel dengan Abang waktu di penjara." Eligius mengutarakan tanpa ditanya.
__ADS_1
"Abang pernah dipenjara?" Acha menanggapinya biasa saja. Tidak ada raut terkejut di wajahnya.