
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 9
Mobil menuju alamat yang disebutkan oleh Vera. Hanya sepuluh menit dari kampus mereka. Sebuah rumah kos dengan banyak kamar terdiri dari dua lantai. Kos ini tidak bebas. Tidak bisa menerima tamu laki-laki apapun itu alasannya.
"Nggak boleh masuk, Bang!" Acha menunjuk papan peringatan yang di luar pagar.
Saat itu Eligius hendak masuk, untuk memastikan yang mana kamar Acha dan Vera.
"Saya mau memastikan keamanan kamu."
Acha tertawa mendengarnya. "Saya bukan Adeline. Saya cuma Raisya Nur Azizah anak pembantu. Keamanan apa yang mau Abang pastikan!"
Kini Vera juga ikut tertawa melihat wajah Eligius memerah. Mungkin dia malu.
Setelah memberi peringatan kepada Acha agar dia tidak pulang ke rumah Bapak Malvyn selama mereka liburan, Eligius segera pulang.
"Kenapa? ada apa sebenarnya di rumah itu?"
selintas pertanyaan itu muncul di benak Acha. Kenapa jika hanya pergi liburan saja tidak ada yang boleh di rumah itu.
"Apa rumah itu memang sengaja dikosongkan?"
"Hai, melamun aja." Vera menepuk bahu aja.
"Eh iya. Yuk masuk!" sahut Acha gelagapan karena terkejut.
"Sudah dari tadi aku ajak masuk. Kamu aja, tuh, ngelamun. Ngelamunin abang ganteng itu, ya?" ledek Vera dan mereka tertawa bersama memasuki rumah kos.
"Apaan, sih." Acha mendorong pelan punggung Vera.
"Sepertinya umurnya udah banyak, ya. Tapi, kharismanya itu, loh. Mengobok-obok hati."
"Hampir tiga puluh tahun ada sepertinya," sahut Acha yang tidak sadar bahwa itu kalimat jebakan.
__ADS_1
"Cie, cie, perhatian, ya." Kembali Vera mengolok-olok Acha.
Acha pun membereskan pakaian yang dia bawa untuk beberapa hari menginap di kosan Vera. Hatinya tidak tenang, hal itu dikarenakan rasa penasaran yang begitu besar.
Ponsel Acha berbunyi ternyata telp dari Yogi yang mengajak Acha makan malam. Ternyata Yogi sekarang merupakan Dosen muda di kampus Acha. Acha menerima ajakan Yogi.
Lima belas menit kemudian Yogi menghubungi kembali, mengatakan bahwa dia sudah menunggu di depan kosnya Vera. Acha segera keluar menemui Yogi dan pergi mencari tempat makan.
Kali ini Yogi mengajaknya makan di restoran yang cukup mewah.
"Kenapa kesini?" ujar Acha saat mobil mereka memasuki pelataran parkir.
"Sesekali memperlakukan spesial orang yang spesial, kan, nggak apa-apa." Ucapan Yogi berhasil membuat Acha tersipu malu.
Acha melirik ponsel yang terletak di atas meja. Di layar menunjukkan pukul tujuh malam. Berarti mereka sudah berangkat.
"Kenapa mamak tidak mengabari atau sekedar menitip pesan?" Kembali pikiran Acha bermain.
Ternyata yang ditunggu-tunggu datang juga, sebuah pesan masuk ke ponsel Acha. Setelah Acha buka ternyata bukan dari Sartika melainkan pesan dari Eligius.
Pesannya cukup singkat. Dia mengatakan jangan mencari tahu yang seharusnya kamu tidak perlu tahu.
"Ah, sial. Tahu aja dia isi kepala aku," gerutu Acha dalam hatinya
"Asik aja memperhatikan ponsel. Pesan dari siapa, sih?" tanya Yogi yang dari tadi melihat Acha melirik ke arah ponsel.
"Oh, ini. Pesan dari ajudannya Mbak Adel," jawab Acha dengan jujur.
"Yang tadi siang itu? Aku nggak suka sama dia."
Acha tertawa sambil menutup mulut. "Kalau kamu suka dia, berarti saingan Acha berat. Bukan lagi cewek cantik tapi, cowok ganteng."
Acha memang terkenal dengan ucapan ceplas-ceplosnya.
Sedangkan di kediaman jalan harapan tiga mobil sudah siap untuk berangkat. Bapak Malvyn dan Ibu Fenita beserta ajudannya menempati satu mobil keluaran Jerman. Adeline dan Sartika menempati satu mobil yang dikendalikan oleh Eligius. Sedangkan para asisten rumah tangga menempati satu mobil lagi dan Mang Yusuf sebagai supirnya.
__ADS_1
Penerangan rumah dibiarkan menyala hanya saja rumah benar-benar sepi tanpa penghuni.
Pukul delapan malam, Acha minta diantar pulang dia beralasan tidak enak kepada Vera jika pulang terlalu lama. Yogi menyetujuinya dengan berat hati, sebenarnya dia bermaksud untuk lebih lama bersama Acha karena selama mereka menjalin hubungan tidak pernah mereka bisa keluar malam seperti ini.
"Biar Mas telepon Vera. Minta izin sama Vera." Yogi berusaha membujuk Acha.
"Nggak enak, Mas. Acha nggak biasa juga malam-malam masih di luar gini. Biasanya keluar malam untuk kuliah aja." Acha pun berusaha menolak.
Tidak ingin berdebat panjang dengan kekasih hatinya, Yogi mengantarkan Acha pulang. Setelah mobil yang dikendarai Yogi menghilang, Acha malah memesan ojek online menuju rumah jalan harapan. Jarak dari kost Vera hingga ke kediaman Bapak malvyn memerlukan waktu tiga puluh menit jika menggunakan motor.
Acha mencoba membuka pintu pagar ternyata terkunci. Dari celah-celah pagar besi dia mengintip ke arah dalam ternyata sudah tidak ada tiga mobil. Terparkir di garasi terbuka milik keluarga konglomerat tersebut.
Rasa penasaran kenapa Acha tidak diizinkan tinggal di rumah tersebut selama mereka liburan begitu mendesak Acha. Hingga Acha teringat pintu rahasia menuju dalam rumah.
Acha berlari ke arah belakang bangunan. Rumah tersebut dikelilingi oleh tembok tinggi dan terdapat satu pintu kecil jika dilihat oleh orang yang bukan penghuni rumah tersebut tidak akan menemukan pintu itu.
Pintu pagar kecil tersebut ditanami tumbuhan merambat begitu juga dengan pintu di sisi dalam tembok. Dengan perlahan Acha mencoba membelah bagian tengah tumbuhan. Jantungnya juga berdebat, andai saja ada ular di merambat bisa-bisa dia mati tanpa ada yang tahu. Hanya menggunakan bantuan cahaya dari senter ponsel yang dia punya.
Acha mencoba meraba bagian dalam pintu, berharap pintu itu lupa untuk digembok. Setelah menemukan bagian kuncinya, Acha kegirangan. Benar saja, pengunci pintu besi itu hanya dicantolkan tanpa digembok.
Derit besi tua yang tergerus masa, terdengar nyaring di telinga. Perlahan Acha membukanya hingga bisa tubuhnya menyelinap ke dalam rumah. Dulu jalan ini sering dia lewati saat pergi dan pulang bermain saat baru-baru dibawa Sartika pindah ke kota.
Acha berhasil masuk dan kembali merapatkan pintu. Matanya memutar ke sekeliling bangunan besar tersebut, terlihat seram jika tanpa penghuni seperti ini.
"Mungkin ini sebabnya nggak boleh tinggal di rumah sendiri," oceh Acha yang dengan santai duduk di kursi panjang yang berada di taman belakang.
Kursi yang biasa digunakan Bapak Malvyn untuk memberi makan anjing peliharaannya. Anjing Doberman tersebut akan menggonggong jika ada orang asing yang dilihatnya. Itu juga salah satu alasan Acha menggunakan jalantikus ini karena dia takut setiap saat digonggongi oleh anjing yang kandangnya berada di dekat pintu gerbang.
Belum selesai Acha menetralkan degup jantungnya saat berusaha menyelinap, kini dia dibuat terperanjat oleh gonggongan dua ekor anjing penjaga. Acha panik, berarti ada orang asing yang mencoba masuk ke dalam rumah ini. Di tidak mendengar pintu pagar dibuka, karena jarak nya yang begitu jauh. Suara kendaraan pun terdengar samar.
Acha berdiri dan panik, melihat kesana kemari, mencari tempat untuk bersembunyi. Suara sepatu lantai terdengar semakin dekat.
"Periksa!" Suara perintah itu terdengar jelas oleh Acha yang masih kebingungan. Jika dia membuka pintu pagar lagi, pasti terdengar.
"Acha kenapa bandel! Udah disuruh jangan datang, tetap juga datang!" Acha mengoceh sendiri dengan nafas mulai tersengal.
__ADS_1