Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 24


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan


Bab 24


Mamak sudah sadar, Buk. Hanya saja, mamak seperti mayat hidup. Hanya bisa membuka mata. Cuma berbaring saja di tempat tidur," jelas Acha singkat sebelum ucapannya dipotong.


"Mamak kamu sakit, Nak?" potong ibunya Eligius.


"Iya, Bu. Jatuh dari tangga." Acha menunjuk arah tangga. "Pembuluh darahnya pecah."


Acha duduk di lantai, sementara yang lain duduk di sofa. Terlihat gerak tubuh Eligius tidak menyukai itu.


"Bu, Pak. Dengan ini saya mohon pamit, untuk tidak bekerja di rumah ini lagi."


Eligius langsung membesarkan matanya. 


"Dengan kondisi mamak seperti itu, nanti hanya menambah beban Ibuk dan Bapak. Mamak sudah tidak bisa apa-apa lagi," sambung Acha menjelaskan.


"Kamu kan masih bisa," potong Adeline.


"Kalau kamu keluar dari rumah ini, bagaimana dengan biaya hidup kamu? Iya kalau kamu langsung dapat kerja. Lalu saat kamu kerja siapa yang menjaga ibu kamu di rumah?" Jika mendengar Ibu Venita bicara semua terasa damai.


"Ah, palingan dia minta biaya sama suami orang," ketus Adeline.


"Nggak, kok. Saya nggak gitu, Non Adel." Acha menggelengkan kepalanya.


Pembicaraan ini sudah mulai memanas.


"Kamu nggak boleh kemana-mana. Kalau kamu mau pergi dari sini, ganti semua uang papi aku yang sudah keluar untuk membiayakan sekolah dan kuliah kamu!"


"Sa-sa-saya mana ada uang sebanyak itu, Non," ucap Acha lirih.


Dari sudut mata, Acha bisa melihat bahwa Eligius melihat ke arah dia terus. 


"Tau kamu miskin, jadi jangan banyak tingkah!" bentak Adeline.


"Kamu bawa saja Sartika ke rumah ini lagi. Kamar kamu dan rumah utama juga terpisah, jadi tidak akan mengganggu." 


Acha sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat Ibu Venita sudah berbicara. Dia hanya pasrah saja.


"Kapan Sartika dibolehkan pulang?" tanya Bapak Malvyn.


"Hari ini, Pak," jawab Acha.


"Nanti kamu ajak Mang Yusuf untuk menjemput Sartika, sekarang kamu bereskan dulu kamarnya!" perintah Pak Malvyn.

__ADS_1


"Iya, Pak." Acha berdiri dan sedikit membungkukkan badannya. Dia berjalan menuju dapur.


Tidak sedikitpun dia menoleh kebelakang walaupun hatinya ingin sekali melihat ke arah Eligius.


Akhirnya Acha dan Mang Yusuf menjemput Sartika. Sartika ditidurkan di bangku belakang dengan paha Acha sebagai bantalnya. Tubuh Sartika memang kaku.


"Kalau Acha sedang sendiri, kadang Acha berpikir, kenapa Allah tidak menjemput mamak saja. Kalau begini kasihan mamak hidupnya lebih tersiksa," gumam Acha di dalam mobil dan sesekali iya mengelus rambut Sartika.


Acha sekarang menggantikan pekerjaan Sartika semuanya  memasak dan membersihkan kamar Adeline itu tugas utamanya. Untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian merupakan tugas asisten lainnya.


Hari ini H-1 pernikahan Eligius dan Adeline. Tidak ada kegiatan yang mencolok karena semua sudah ditangani oleh wedding organizer (WO).


"Ibu mau sarapan apa?" tanya Acha kepada ibunya Eligius yang saat itu mampir ke dapur.


"Badan ibu gak enak, minum air hangat saja!"


"Ibu masuk angin mungkin. Acha bikinkan wedang jahe mau?" tawar Acha.


"Boleh." 


"Ibu tunggu saja di ruang makan, nanti Acha antar. Kalau ibu di sini nanti Nona Adeline bisa marah."


Ibunya Eligius–Risna, tersenyum. Dia menangkap bahwa Acha adalah anak yang baik.


"Kamu sudah punya pacar, Nak?" 


Acha terkejut dengan pertanyaan tersebut.


Sambil tersenyum Acha menjawab belum. Acha juga mengambilkan dua potong roti yang dia olesi dengan selai srikaya. 


"Makan rotinya, ya, Bu!" Acha menyodorkan piring yang berisi roti tadi.


Tiba-tiba suara Adeline mengagetkan Acha. Dia menyuruh Acha kembali ke dapur. Acha menuruti saja perintah adeline karena dia tidak ingin membuat masalah dengan pewaris tunggal Malvyn.


Dengan rasa cemas, Acha duduk di ujung ranjang di mana  Sartika berbaring. Saat itu Sartika menatap Acha dengan tatapan lembut seorang ibu kepada anaknya. Sepertinya Sartika merasakan apa yang Acha rasa saat ini.


Acha terkaget saat pintu kamar dibuka secara paksa. Ternyata Adeline sudah berdiri di ambang pintu kamar mereka.


"Aku nggak suka kamu mencari-cari perhatian orang tua Kak El." Nada bicara Adeline penuh amarah bak singa betina ingin menerkam buruannya.


"Saya hanya menjalankan tugas selayaknya pembantu, Nona adeline," bela Acha yang tubuhnya sudah menggigil ketakutan.


Sementara Sartika ingin teriak tetapi, dia tidak mampu. Hanya lenguhan yang terdengar samar.


"Eligius besok menjadi suami aku. Jangan mencari-cari perhatian!" Tangan adeline kini melekat erat pada rambut Acha.

__ADS_1


"Sakit, Non," rengek Acha yang berusaha melepaskan genggaman tangan Adeline pada rambutnya.


"Sakit? Ini belum seberapa. Berani lagi mendekati Kak El atau keluarganya. Kau akan menyesal selamanya," ancam Adeline lalu melepaskan jambakan di kepala Acha sambil mendorong tubuh Acha hingga dia terjatuh di dekat tubuh Sartika. 


Malam hari setelah kejadian itu, Acha tidak berani lagi menatap Eligius ataupun ibunya. Dia selalu menunduk saat menghidangkan makan untuk makan malam mereka.


"Besok Adeline menikah, apa kamu bisa bantu-bantu di acara pernikahannya?" tanya Ibu Venita kepada Acha.


"Sa-sa-saya mau sekali, Bu. Tapi, kasihan mamak harus tinggal sendiri." Acha mencoba mencari alasan untuk menolak.


"Ya, sudah. Kamu di rumah saja!" Kali ini Bapak Malvyn angkat bicara.


Acha duduk di luar kamar padahal hari sudah mulai larut, entah apa yang terjadi pada hatinya. Namun, yang dia tahu, dia tidak senang dengan kabar pernikahan Eligius dan Adeline.


"Belum tidur, Cha?" 


Suara Eligius mengagetkan Acha. Dia berdiri dan pergi, dia berusaha menghindar, tidak ingin ketahuan oleh Adeline.


"Jangan pergi, Cha!" Eligius menyambar tangan Acha dan menariknya.


Kini Acha tepat berada dalam pelukan Eligius.


"Lepaskan, Kak. Nanti ada yang lihat!" mohon Acha dengan suara berbisik.


"Biarkan sekali ini saja, Cha!" 


Saat itu, Eligius mengatakan apa yang selama ini dia pendam. Sudah bertahun lamanya dia memendam rasa cinta untuk Acha. Dia tidak pernah membayangkan akan seperti ini akhir cinta ya lagi. 


"Kenapa tidak kakak perjuangkan?" lirih Acha yang masih dalam pelukan Eligius.


Selain alasan keselamatan Acha dan ibunya, Eligius juga tidak mungkin berpindah agama.


"Saya tidak akan mungkin merebutmu dari Tuhanmu," gumam Eligius.


"Tapi, keselamatan kamu yang lebih Kakak pertimbangkan," sambung Eligius.


Eligius menempelkan hidungnya di puncak hidung Acha. Sebenarnya ini sering dia lakukan kala Acha sedih. Jika begitu Acha akan tertawa lagi.


Kini Acha sudah bisa melepaskan pelukan Eligius.


"Lupakan saja rasa itu!" Acha pergi meninggalkan Eligius yang masih mematung di dinginnya malam.


Menjadi orang miskin memang santapan lezat bagi orang-orang berduit yang arogan. Mereka seolah bisa membeli seisi bumi. Mengatur jalan hidup orang lain agar jalan hidupnya selalu mulus. Tidak peduli ada hati-hati yang mereka sakiti agar hati mereka selalu bahagia.


Mengalah kepada manusia angkuh merupakan  jalan aman bagi si miskin jika dia masih tetap ingin bertahan hidup dengan damai. Tidak peduli hatinya sakit asal perut masih bisa terisi tiga kali sehari.

__ADS_1


__ADS_2