Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 26


__ADS_3

Cinta Sang Ajudan 


Bab 26


Acha mengambil tas kerja tersebut. Sementara Eligius mengekor di belakang Acha. Sampai di depan mobil yang akan Eligius kendarai. Eligius menekan remot pembuka pintu. Saat Acha  membuka pintu belakang untuk meletakkan barang bawaan Eligius. Matanya dibuat tercengang. Ternyata di situ ada sebatang cokelat dengan tulisan untuk Acha.


Acha langsung menoleh kebelakang melihat Eligius.


"Ambillah! Kamu paling suka cokelat, bukan?"


Acha menggeleng. Dia tidak mau menerima pemberian Eligius lagi. Karena Eligius sudah menjadi suami orang. Acha pergi begitu saja tanpa menyentuh cokelat tersebut.


Eligius mengerti. Dia segera mengamankan cokelat tersebut sebelum ditemukan oleh Adeline.


Acha langsung membereskan meja makan yang tadi digunakan untuk pemilik rumah ini sarapan. 


Dia harus segera menyelesaikan kerjanya, karena Sartika belum dia suapi makan. Adeline tidak henti-henti memerintah Acha. 


Sepiring nasi dibawa Acha kekamar jatuh ke lantai saat Acha terkejut melihat wajah Sartika tertutup oleh bantal. 


Acha menjerit memanggil Sartika dan membuang jauh bantal tersebut. Sayangnya tubuh Sartika sudah dingin. Mata yang biasanya bisa terbuka kini terpejam. Acha lari keluar kamar dengan berurai tangis. Dia meminta bantuan siapa saja yang ditemuinya. 


Saat itu Bapak Malvyn belum berangkat kerja, dia terkejut melihat Acha. Bapak Malvyn dan ajudannya lari ke kamar Sartika. Mereka melihat tubuh Sartika sudah kaku. Bapak Malvyn mencoba memegang urat nadi Sartika. Saat itu juga kepala Bapak Malvyn menggeleng. 


"Mak," raung Acha yang terduduk di lantai.


Bapak Malvyn menanyakan apa yang terjadi. Acha menceritakan apa yang dia dapati saat masuk ke kamar bahwa wajah Sartika sudah tertutup bantal. Acha tidak tahu berapa lama itu terjadi.


Berita kematian Sartika sampai ke telinga Eligius. Eligius memutuskan untuk pulang ke rumah saat itu juga. 


Tidak ada yang menemani Acha yang sedang bingung di samping mayat Sartika. Acha bingung apa yang harus dia lakukan. Bagaimana penyelenggaraan jenazah mamaknya. Sementara di rumah ini bukanlah muslim.


"Di mana Acha?" tanya Eligius pertama kali saat sampai.


"Apaan, sih, kamu?" Adeline tidak suka dan menahan tangan Eligius.


Eligius menyentak tangannya agar pegangan tangan adeline terlepas.

__ADS_1


"Acha!" panggil Eligius sambil dia berjalan menuju kamar.


"Kak … bagaimana ini?" Hanya Eligius tempat dia mengadu.


"Tenang dulu! Kita temui pengurus masjid di sekitar sini. Kita minta bantuan mereka untuk mengurus Buk Sar. Kamu tunggu saja di sini, ya!" Eligius  mengusap puncak kepala Acha lalu keluar kamar.


Eligius meminta izin kepada Bapak Malvyn, rumahnya dipakai sebentar untuk menyelenggarakan jenazah Sartika hingga dia dikafani.


Bapak Malvyn mengizinkan Acha menggunakan ruangan samping rumah.


"Temani saya, Mang!" Eligius mengajak Mang Yusuf untuk mencari pengurus masjid.


Tidak terlalu lama, pengurus masjid datang bersama beberapa ibu-ibu yang akan membantu memandikan serta mengkafani Sartika.


"Kak, Acha nggak ada uang," bisik Acha setelah Eligius kembali.


"Jangan pikirkan itu. Kamu tenang aja. Itu urusan saya."


Proses memandikan dan mengkafani dilakukan dengan secepatnya. Setelah kedua itu selesai. Jenazah Sartika digotong menggunakan keranda ke masjid untuk disalatkan.


Eligius menunggu di dalam mobil, dia mengacak-acak rambutnya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan untuk menjaga Acha. Sementara Acha sudah dititipkan oleh bapak dan ibunya kepada dia.


Eligius menyempatkan diri melihat termakan CCTV saat jenazah Sartika diurusi tadi. Dia melihat, Adeline masuk ke kamar itu. Tidak lain tidak bukan, Adeline lah pelakunya.


Salat jenazah pun telah selesai. Jenazah Sartika dimasukan ke dalam ambulance yang telah masjid sediakan. Jenazah Sartika akan dimakamkan di pemakaman umum di dekat sini. 


Acha tidak ingin berhutang terlalu banyak kepada Eligius. Sehingga dia meminta Sartika dikuburkan di sini saja, tidak usah dibawa ke kampung.


"Kamu naik dimana?" tanya Eligius kepada Acha.


"Acha di ambulance aja, Kak. Sama dengan mamak." 


Ingin rasanya dia memeluk Acha saat itu. Membiarkan Acha menangis dalam pelukannya. Akan tetapi, itu tidak mungkin dia lakukan. Bisa-bisa nyawa Acha yang akan hilang berikutnya.


Acara pemakaman pun usai. Saat para pelayat pamit pulang. Eligius meyalamkan amplop berisi uang kepada pengurus masjid. Sebagai tanda terima kasihnya bahwa mereka bersedia mengurusi jenazah Sartika hingga ke peristirahatan terakhirnya.


"Pulang, yuk, Cha!" ajak Eligius.

__ADS_1


Sementara Acha masih saja menyandarkan kepalanya di atas nisan Sartika.


"Buk Sar juga tidak suka melihat kamu begini, Cha." Eligius berusaha membujuk Acha.


"Pergi, Kak! Tinggalkan Acha! Acha tau siapa yang tega berbuat seperti ini. Hanya karena cemburu buta nya …" Acha kembali menangis. "Allah nggak tidur, suatu saat dia pasti akan terima karmanya," lirih Acha diantara tangisnya.


Tidak ingin berdebat di depan kuburan sartika, Eligius mengalah dan membiarkan Acha sendiri. Dia dan Mang Yusuf pulang duluan. 


Hingga dua jam Eligius menunggu di beranda lantai dua, Acha juga belum pulang. Langit sudah mulai gelap, sepertinya akan hujan deras. Benar saja, tidak lama hujan pun berhenti dengan derasnya. Saat Eligius ingin kembali menyusul ke tempat pemakaman umum, dari jauh dia melihat Acha berjalan di bawah hujan.


Eligius bergegas turun ke bawah, meminta salah seorang asisten rumah tangga untuk mengurusi Acha. Mereka pun mengangguk paham.


"Kenapa kamu sibuk ngurusin dia?!" bentak Adeline kepada Eligius.


"Ini semua karena kamu," balas Eligius.


Dengan wajah tidak berdosa Adeline bertanya kenapa karena dia.


"Karena kamu Buk Sar meninggal. Pembunuh." Eligius pergi meninggalkan Adeline.


Asisten rumah tangga yang mendengar itu hanya tercengang. Mereka juga ngeri jika suatu saat menjadi korban Adeline.


"Tenang saja! kalian tidak akan disentuh Nona Adeline," gumam Acha yang ternyata sudah berdiri di depan pintu dengan keadaan basah kuyup.


Di kamar atas terjadi perang antara Adeline dan Eligius. Beberapa benda di kamar melayang ke arah Eligius berdiri tetapi, semua bisa Eligius hindari.


"Jaga emosi kamu. Apa tidak kasihan sama anak dalam perut?" ucap Eligius seraya menunjuk perut Adeline yang mulai membuncit. "Jangan sampai dia lahir dan tahu bahwa mamanya seorang pembunuh."


Mendengar ucapan Eligius, Adeline semakin meradang. 


"Kamu beruntung terlahir dari orang tua punya kuasa, sehingga selamat dari hukuman. Tapi, kamu harus ingat. Kamu akan dihantui rasa bersalah," sambung Eligius lagi.


Makan malam pun tiba, tidak ada Acha yang menyediakan makan malam. Acha masih dirundung duka yang sangat dalam. Kini dia benar-benar sebatang kara. Kehilangan yang sangat menyakitkan. 


Acha membaca surat Yasin dengan uraian air mata, semua terasa sangat sepi. Tidak ada yang menemani dia saat ini. Orang di rumah ini ramai tetapi, tidak ada yang peduli satu sama lain.


Apalagi sekarang, mereka takut dekat dengan Acha. Takut akan menjadi korban Adeline selanjutnya. 

__ADS_1


__ADS_2