
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 25
Eligius menempelkan hidungnya di puncak hidung Acha. Sebenarnya ini sering dia lakukan kala Acha sedih. Jika begitu Acha akan tertawa lagi.
Kini Acha sudah bisa melepaskan pelukan Eligius.
"Lupakan saja rasa itu!" Acha pergi meninggalkan Eligius yang masih mematung di dinginnya malam.
Menjadi orang miskin memang santapan lezat bagi orang-orang berduit yang arogan. Mereka seolah bisa membeli seisi bumi. Mengatur jalan hidup orang lain agar jalan hidupnya selalu mulus. Tidak peduli ada hati-hati yang mereka sakiti agar hati mereka selalu bahagia.
Mengalah kepada manusia angkuh merupakan jalan aman bagi si miskin jika dia masih tetap ingin bertahan hidup dengan damai. Tidak peduli hatinya sakit asal perut masih bisa terisi tiga kali sehari.
Hingga pagi hari, Acha menyediakan sarapan dengan kondisi kurang tidur. Terlihat dari lingkaran matanya yang menghitam dan sedikit sembab.
"Lu kenapa, Cha?" tanya Adeline yang sebenarnya ingin mempermalukan Acha di depan orang tuanya.
"Nggak ada apa-apa, Non," elak Acha lalu buru-buru menghidangkan sarapan.
"Dia ini pembantu nggak tau diri," upat Adeline membuat Buk Venita menghentikan kunyahnya.
"Maksud kamu, Del?" tanya Buk Venita penasaran.
"Dia suka dengan calon suami aku. Makanya sering cari-cari kesempatan berdua," sambung Adeline lalu tersenyum puas.
"Kamu apa-apaan, sih, Del." Terdengar suara Eligius sedikit marah.
Seolah tidak peduli dengan itu semua, Acha pergi meninggalkan ruang makan. Sesampai di dapur, dua asisten rumah tangga yang lain, memandang Acha lain. Mereka mendengar ucapan Adeline di meja makan.
"Pungguk merindukan bulan," sindir salah seorang asisten rumah tangga.
Acha tetap melakukan aktivitas seperti biasa, dia melihat anggota keluarga di rumah ini mulai berangkat mengendarai dua kendaraan.
Adeline, Bapak Malvyn dan Buk Venita menggunakan satu mobil. Sedangkan Eligius dan ibunya menggunakan mobil yang berbeda.
"El, kenapa Adeline bersikap kasar kepada Acha? Ada masalah apa?" Ibu Sandra membuka pembicaraan di dalam mobil.
Eligius mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Jujur El katakan sama mama. El sebenarnya mencintai Acha."
Eligius tetap fokus memandang ke depan.
"Lalu kenapa kamu menikah dengan Adeline?" Sandra mulai penasaran.
__ADS_1
"Karena beda keyakinan dan juga Adeline menginginkan saya. Dia sangat jahat. Saya menerima perintah Bapak Malvyn untuk menikahi Adeline karena saya sayang sama Mama dan Acha." Eligius diam sejenak.
Sementara Sandra tambah bingung.
"Adeline tega melakukan apa saya jika ada yang menghalanginya. Lihat saja Ibu Sartika sekarang!"
"Maksud kamu itu perbuatan Adeline?" Sandra terlihat tidak percaya.
Eligius mengangguk. "Mama paham, kan?"
Mereka sampai ke hotel di mana pesta pernikahan dilaksanakan. Eligius DNA Acha menuju ruangan masing-masing untuk berganti pakaian. Acara pertama adalah pemberkatan pernikahan dan langsung dilanjutkan dengan pesta pernikahan.
Eligius sangat mempesona dengan setelan jas putih yang dia kenakan. Begitu juga dengan Adeline, memakai selayar putih dengan belahan leher yang cukup lebar hingga memperlihatkan bahunya.
Di saat pemberkatan berlangsung, di sana Acha sedang merasakan hati yang sangat hancur. Baru dia menyadari bahwa selama ini dia juga memiliki rasa kepada Eligius. Cepat-cepat Acha menghapus air mata. Dia tidak ingin terlihat sedih. Dia tidak boleh jadi anak manja.
Malam pun tiba, rombongan pengantin pulang. Saat Acha mendengar suara mobil masuk ke perkaranya rumah, dia memilih tidak untuk keluar kamar. Dia tetap saja meneruskan mengajinya. Acha merasa sedikit tenang saat mengaji.
"Acha!" teriak Adeline.
"Acha sedang mengaji di kamar, Non," sahut asisten rumah tangga yang lain.
"Selesai dia mengaji, suruh dia ke kamar saya mengantarkan air minum ke kamar saya. Saya langsung ke kamar, penat," titah Adeline kepada asisten yang lain agar disampaikan kepada Acha.
Acha mengetuk pintu kamar Adeline. Setelah mendengar teriakkan masuk, barulah Acha membuka pintu lalu masuk. Saat itu Acha melihat Eligius berdiri memunggungi dia. Eligius menghisap rokok sambil berdiri di depan jendela.
"Letakkan saja di situ!" Adeline menunjuk nakas yang ada di sisi kanan tempat tidur.
"Ada lagi, Nin?" tanya Acha setelah dia selesai meletakkan nampan berisi air minum tersebut.
"Bantu gue nanggalin jepitan di rambut!" Adeline sudah duduk di depan meja rias.
Dengan telaten Acha melepaskan satu persatu jepitan dan dia mulai menyusuri rambut Adeline.
"Nggak bisa, ya, ini dikerjakan sendiri. Harus nyuruh orang segala?" tanya Eligius de gan nada tidak enak didengar.
Adeline tidak menjawab, dia hanya tersenyum puas. Sepertinya dia sengaja mengaduk-aduk perasaan Acha dan Eligius.
"Sudah beres, Non. Saya pamit dulu, ya?" ujar Acha.
Adeline berbalik arah dan menyodorkan uang secara paksa kepada Acha. "Ambil ini, anggap ini uang tips dari gue. Lumayan untuk beli obat mamak lu."
Acha ambil saja uang itu, benar sekali bisa untuk menambah membeli obat untuk Sartika. Ada beberapa obat yang harus dibeli tidak bisa menggunakan jaminan kesehatan.di sofa.
__ADS_1
Malam pertama dilalui Adeline dns Eligius tanpa ada aktifitas. Eligius memilih tidur
Wajah Adeline terlihat kesal. "Kenapa kamu begitu?
"Karena pernikahan ini bukan keinginan saya. Mana mungkin saya bisa bercinta denganmu," ketus Eligius.
"Lihat aja entar!" ancam Adeline.
"Jangan sentuh ibu saya dan Acha!" Eligius balik mengancam.
Pernikahan yang tidak sehat ini sudah berjalan satu bulan. Selama sebulan itu tidak ada sekalipun Adeline menyediakan sarapan dan menyiapkan pakaian untuk Eligius. Semua masih Acha yang mengerjakan. Acha melakukannya dengan senang hati.
Seperti pagi ini, Adeline berteriak dari kamarnya, memanggil Acha menanyakan perihal kaos kaki. Dengan tergopoh-gopoh Acha menemui Adeline. Dia langsung saja menarik laci paling bawah pada lemari pakaian. Ternyata di sana terdapat banyak kaos kaki baik punya Eligius maupun Adeline.
"Ini, Non." Acha menyodorkan kaos kaki hitam yang Adeline cari.
Adeline pun merampas dari tangan Acha. Begitu setiap hari. Saat Eligius hendak pergi kerja, ada saja barang yang tidak bisa adeline temukan.
"Sebenarnya istri saya siapa? Kamu apa Acha?" sindir Eligius kepada Adeline setelah Acha pergi.
Adeline terlihat marah mendengar sindiran suaminya.
"Jangan salahkan saya jika saya tetap jatuh cinta kepada dia," sambung Eligius lagi.
Dia lalu meninggalkan Adeline di kamar. Lalu menuju meja makan.
"Saya tidak sempat sarapan. Tolong kamu siapkan saja untuk saya makan di kantor!" pinta Eligius kepada Acha yang sedang menghidangkan makanan untuk Pak Malvyn dan Buk Venita.
Acha mengangguk lalu menuju dapur mengambil lunch box. Dengan rapi dia menyusun sarapan yang akan Eligius bawa.
Cinta itu memang buta. Dengan begini saja dia sudah merasa bahagia.
"Kalau sudah selesai tolong masukkan ke mobil saya!" Kembali Eligius memberi perintah ke Acha sambil menyodorkan tas kerjanya.
Acha mengambil tas kerja tersebut. Sementara Eligius mengekor di belakang Acha. Sampai di depan mobil yang akan Eligius kendarai. Eligius menekan remot pembuka pintu. Saat Acha membuka pintu belakang untuk meletakkan barang bawaan Eligius. Matanya dibuat tercengang. Ternyata di situ ada sebatang cokelat dengan tulisan untuk Acha.
Acha langsung menoleh kebelakang melihat Eligius.
"Ambillah! Kamu paling suka cokelat, bukan?"
Acha menggeleng. Dia tidak mau menerima pemberian Eligius lagi. Karena Eligius sudah menjadi suami orang. Acha pergi begitu saja tanpa menyentuh cokelat tersebut.
Eligius mengerti. Dia segera mengamankan cokelat tersebut sebelum ditemukan oleh Adeline.
__ADS_1