Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 22


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan


Bab 22


Eligius menatap Acha penuh arti. Ada tatapan cinta di dalamnya.


"Kakak, kan tidak memperkosa dia. Jika dia hamil, itu kesalahan dia yang begitu bebas," sambung Acha kembali.


"Jika hanya mengancam keselamatan Kakak, Kakak tidak peduli. Ini mereka menekan dengan ancaman orang-orang yang kakak sayang akan mereka lenyapkan." Akhirnya Eligius buka suara.


"Mau mereka bunuh?" 


"Makanya Acha jangan jauh-jauh dari kakak. Biar Kakak bisa menjaga Acha." Eligius kembali melanjutkan makannya.


Sedangkan Acha masih sibuk mengartikan kalimat-kalimat yang Eligius lontarkan.


Selesai makan, semua peralatan makan mereka cuci, lalu bergegas ke rumah Buk Kades. Hari juga semakin sore. Tidak enak juga jika dia tetap berduaan di rumah ini. 


Sesampai di rumah Bu kades. Acha meminta maaf atas perkataannya tadi siang. Saat itu terjadilah tangis-tangisan antara Acha, Bu kades dan Bayu. Ternyata Bu kades sudah mengatakan kepada Bayi bahwa Acha sudah mengetahui semuanya.


Bayu memohon maaf, dia hampir saja bersujud di kaki Acha, beruntung dengan cepat Eligius menahannya.


"Semua orang punya masa lalu, jadikan semua ini pembelajaran!" bijaksana Eligius.


"Hanya kita yang tahu cerita ini, Acha tak akan cerita sama mamak. Baiklah di dalam kenangan mamak bahwa mbah kades orang yang baik." 


Mendengar ucapan Acha kembali suasana menjadi haru. Entah terbuat dari apa hati Acha, sehingga dia selalu memikirkan perasaan orang dan sering mengabaikan perasaan dia sendiri.


Cerita ini memang menjadi rahasia mereka, hingga istri Bayu pun tidak boleh mengetahuinya. Bagi Acha tidak ada gunanya membuat keluarga orang hancur hanya karena kesalahan yang tidak bisa diperbaiki lagi.


"El," panggil Bayu. Lalu dia mendekat ke arah Eligius duduk. "Titip Acha, ya! Tolong jaga Acha!" Bayu menepuk bahu Eligius.


"Siap, Pak!" jawab Eligius tegas.


Hari juga semakin senja, mereka menginap di rumah Buk kades. Biar tidak ada fitnah dari warga. Besok pagi Acha dan Eligius akan kembali ke kota. Sebelum itu mereka akan singgah ke kuburan kakek dan nenek.


Acha sudah tidak ingin tinggal di kampung ini lagi, kenangan indah di kampung ini seketika berubah menjadi menyakitkan setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.


Seperti yang sudah direncanakan, pagi ini mereka berangkat ke kota. Kebetulan hari ini hari Jumat. Hingga saat di perjalanan sudah memasuki waktu Salat Jum'at. Beberapa mesjid di jalan lintas yang mereka lewati sudah mulai ramai disinggahi. 


"Singgah dulu ke mesjid, Kak!" suruh Acha kepada Eligius yang sepertinya tidak ada rencana untuk singgah.

__ADS_1


"Kenapa?" 


"Salat Jum'at itu wajib, loh, Kak!" Nada suara Acha mulai tidak bersahabat.


"Salat Jum'at memang wajib bagi muslim," sahut Eligius.


Mendengar sahutan Eligius, Acha terdiam. 


"Jadi Kakak?" 


"Saya non muslim," jawab Eligius sambil menoleh ke arah Acha.


Acha menarik nafas yang terasa sangat berat. Seolah di dalam mobil ini tidak ada siklus udara. Sehingga dada terasa sesak.


Entahlah, Acha kecewa mendengar pernyataan Eligius. Eligius dan Adeline memiliki keyakinan yang sama. Hanya dengan Acha yang berbeda.


"Apa perbedaan ini membuat kita tidak bisa berteman lagi?" Eligius mengatakan itu dengan hati yang juga terasa sesak.


"Berteman? Oh iya, kita hanya berteman."


Acha menoleh ke arah jendela, menikmati pemandangan yang terasa tidak menarik lagi.


"Mamak apa kabar, ya, Kak?" Acha mencoba mencairkan suasana yang beku selama di perjalanan.


"Biarlah ini jadi rahasia kita, ya, Kak!" 


Akhirnya mereka sampai di kota dengan menempuh delapan jam perjalanan.


"Kak, nanti turunkan Acha di kost-nya Vera, ya! Nggak mungkin kita pulang berdua."


"Nanti Kakak yang pulang duluan, ya!" Eligius mengatakannya. 


Dia ingin memastikan kondisi rumah aman terlebih dahulu. Tidak banyak obrolan mereka sepanjang perjalanan tadi. Acha yang biasanya begitu hangat, mengobrol apa pun yang dia lihat, kala itu lebih banyak diam.


Setelah Eligius menurunkan Acha di depan kos Vera, dia langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Bapak Malvyn. Sesampai di sana, sudah ramai anak buah Bapak Malvyn. Mereka yang akan ditugaskan mencari Eligius. 


"Untung kamu pulang," ucap Mang Yusuf saat Eligius baru turun dari mobil. "Kalau lambat saja, orang-orang suruhan Bapak Malvyn sudah siap mengacak-acak rumah orang tua kamu kembali," sambung Mang Yusuf.


Eligius menepuk bahu Mang Yusuf sambil mengucapkan terima kasih.


"Dari mana kamu?" Suara Bapak Malvyn menyambut kedatangan Eligius.

__ADS_1


"Menenangkan pikiran sebentar," jawab Eligius.


Eligius memang baru jadi ajudan di rumah ini tetapi, dia sudah lama bergabung dengan bisnis hitam Bapak Malvyn sehingga dia tahu banyak sepak terjang dan dari mana hasil kekayaan Bapak Malvyn.


Setelah semua kembali seperti semula, Eligius duduk di meja makan yang terletak di dapur. Saat itu kebetulan sekali Sartika memasak salah satu makanan kesukaannya.


"Bagaimana kabar Acha, El?" bisik Sartika saat meletakkan piring di hadapan Eligius.


Eligius langsung mendongak, melihat Sartika yang sedang celingukkan seolah memperhatikan  keadaan sekitar.


"Firasat saya mengatakan bahwa kamu itu menyusul Acha." Kini Sartika menarik kursi di sebelah Eligius duduk.


"Acha baik, Buk. Dia sekarang di tempat Vera," jelas Eligius.


"Syukurlah." Raut wajah Sartika terlihat senang.


"Sebenarnya saya sangat sayang sama Acha. Tapi, hanya saja saya belum bisa berdamai dengan masa lalu." Sartika mengatakannya dengan pandangan kosong ke depan.


"Dia juga sangat menyayangi anda, Bu,"


Seolah menemukan teman curhat yang cocok, Sartika mencurahkan semua isi hatinya kepada Eligius bagaimana dia menangis setelah memarahi Acha. Bagaimana dia tahu bahwa dia tidak bersikap adil antara Acha dan Adeline.


"Uang mengatur segalanya." Sartika mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.


Dia terlalu banyak hutang budi dengan keluarga Bapak Malvyn, mulai dari pengobatan orang tuanya hingga biaya sekolah dan kuliah Acha.


"Benar kata orang. Hutang uang dapat diganti, hutang budi dibawa mati." Sartika menarik nafas.


"Mungkin, sampai saya mati, hutang budi ini tidak akan berakhir."


Eligius menuangkan air putih ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Sartika agar Sartika sedikit lebih tenang.


"Saya mau mengatakan titip Acha kepada kamu, juga tidak bisa. Kamu akan menikah dengan Non Adeline." 


Eligius meletakkan sendok  di atas piring. Dia memejamkan matanya, dua orang yang ingin dia menjaga Acha tetapi, keadaan berkata lain. Apakah Eligius akan menjaga Acha dalam diam?


Tanpa mereka sadari, percakapan  mereka didengar oleh Adeline yang dari tadi berdiri di balik  tembok pembatas dapur dan ruang utama.


sinis


"Mau main-main dengan gue," gumam Adeline dan tersenyum .

__ADS_1


Dia sudah memiliki rencana jahat, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk menikah dengan Eligius.


__ADS_2