Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 8


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan


Bab 8


"Jangan menilai saya semurahan itu. Saya memang terlahir tanpa ayah. Tapi, saya bukan cewek murahan. Paham?!" 


Kini jarak Acha dan Eligius hanya sekitar dua puluh centi.


"Maaf," ucap Eligius.


Acha tidak peduli dengan kata maaf Eligius. Acha kesal, sedih, kecewa semua bercampur aduk. Ternyata masih ada orang menganggap dia semurahan itu. 


"Cha," panggil Eligius saat Acha pergi. 


Namun, Acha seakan tidak mendengar panggilan itu.


 


***


Eligius teringat akan ucapan Acha yang mengatakan bahwa dia memang terlahir tanpa ayah. Rasa penasaran mendorongnya untuk mencari tahu tentang itu. 


Mang Yusuf adalah tempat satu-satunya untuk menggali informasi. "Gila kamu, El. Masa kamu bilang begitu."


"Entahlah, Mang." Raut wajah Eligius terlihat dia sangat menyesal. Seakan dia menilai Acha sebagai "ayam kampus"


"Dulu, sebelum Sartika kerja di sini, dia diperkosa. Hingga dia melahirkan Acha, tidak ada yang tahu siapa lelaki bejat itu." Mang Yusuf seakan mengingat-ingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu.


Mang Yusuf dan Sartika tinggal di desa yang sama hanya saja dusun mereka berbeda. Berita hamilnya Sartika tanpa suami menyebar kemana-mana tentu saja hal itu sedikit banyak Mang Yusuf tahu akan hal tersebut. 


Mang Yusuf dan Sartika sebenarnya ada hubungan kekerabatan walaupun itu tidak dekat. Karena itulah, setelah Sartika melahirkan, Mang Yusuf yang mengajak Sartika kerja di rumah Ibu Fenita. Kebetulan saat itu, Ibu Fenita juga baru melahirkan DNA dia membutuhkan pengasuh untuk Adeline.


"Minta maaf sana!" suruh Mang Yusuf saat melihat Acha.


Acha berjalan keluar kamar. Siang ini dia berpakaian cukup rapi, baju kemeja lengan panjang dipadu celana kulot senada dengan hijabnya.


Sementara penghuni rumah yang lain sibuk menyiapkan perlengkapan berlibur mereka, termasuk Sartika. Sartika tidak boleh tidak ikut karena Sartika yang mengerti atas kebutuhan Adeline. Sartika lebih mengerti segala hal tentang Adeline daripada tentang anak kandungnya.


"Kamu beneran nggak ikut, Cha?" tanya Ibu Fenita yang saat itu sedang duduk manis, memperhatikan para asisten rumah tangga mondar-mandir mempersiapkan kebutuhan liburan mereka.


Kali ini mereka memutuskan liburan yang dekat-dekat saja. Kebetulan Ibu Fenita baru saja membeli sebuah villa di puncak. Mereka akan menginap di sana selama seminggu.


"Sebenarnya pengen, Bu. Tapi, Acha ada bimbingan dua hari ini." 


"Nggak bisa di-cancel, apa?" ketus Adeline yang matanya fokus ke layar ponsel keluaran terbaru.

__ADS_1


"Hmmm, mesti bayar kalau mau bimbingan ulang," sahut Acha.


Dan Acha juga sekalian meminta izin kepada Sartika bahwa dia hendak ke kampus sebentar. 


"Kamu diantar El saja!" suruh Ibu Fenita. "Sekalian kamu diantar ke apartemen, selama  kami pergi."


"Saya nginap di kos teman aja, Bu," tolak Acha atas keinginan Ibu Fenita.


"Ya, sudah. Kalau begitu biarkan El tetap mengantar kamu. Biar kami tahu dimana tempat kos teman kami itu."


Sebenarnya Acha ingin menolak lagi perintah Ibu Fenita tapi, dia sudah tidak ada alasan untuk itu.


Acha duduk di depan, di sebelah Eligius yang sedang menyetir. Di sepanjang perjalanan Acha hanya diam. Dia masih kesal dengan ucapan Eligius kemarin malam. 


"Cha," panggil Eligius dan menoleh sebentar ke arah Acha yang pandangannya fokus ke depan.


"Cha." Ulang Eligius karena panggilan pertama tidak ada sahutan.


"Iya." Acha menjawab dengan singkat dns tanpa menoleh.


"Saya minta maaf atas ucapan saya kemarin malam," ucap Eligius dengan mimik wajah serius.


Kini Acha yang menoleh ke arah Eligius yang sedang fokus menyetir. "Sudah Acha maafkan." Acha menarik nafas. "Acha kira setelah dewasa tidak akan di-bully lagi ternyata lebih tajam."


"Bang!" teriak Acha ketika mobil mereka hampir saja menabrak trotoar.


Eligius tersentak setelah mendengar teriakkan Acha. Betapa terkejutnya dia saat mendapati mobil yang dia kendarai berjalan tidak tentu arah. Bersyukur Eligius bisa dengan cepat mengendalikan laju mobilnya. Mobil itu mengerem di saat yang tepat. 


Wajah Acha memucat seolah darah tidak mengalir ke kepalanya. Acha memegang dadanya yang berdetak tidak dengan ritme yang teratur lagi. 


Eligius merogoh kantong jok mobil. Beberapa mata pejalan kaki menuju ke arah mobil mereka dan ada juga orang baik yang berlari ke arah mobil lalu menggedor kaca mobil untuk memastikan kondisi mereka.


Eligius menekan power window–menurunkan kaca mobil.


"Tidak apa-apa, Mas?" Suara wanita dari luar mobil. 


"Tidak apa-apa," sahut Eligius.


"Alhamdulillah," ucap wanita bertubuh besar tersebut. "Ini, Mas. Kasih istrinya minum dulu." Wanita tersebut menyodorkan sebotol air mineral lalu pergi. 


Acha dan Eligius saling pandang mendengar ucapan wanita tersebut. 


"Terima kasih, Mbak," teriak Eligius berharap wanita itu mendengar.


"Kita lanjutkan perjalanan apa istirahat sebentar?" tanya Eligius kepada Acha sambil membukakan tutup botol air mineral sebelum diberikannya kepada Acha.

__ADS_1


Acha meminta untuk lanjut saja, karena dia takut terlambat. Dosen pembimbing dia terkenal atas kedisiplinan waktunya.


Sesampai di kampus ternyata Eligius tidak langsung pulang, dia menunggu Acha sampai selesai bimbingan. Sekitar dua jam Acha keluar dari kampus bersama temannya yang bernama Vera.


Acha terkejut melihat Eligius kenapa masih di kampus. "Kok, masih di sini, Bang?"


"Mau mengantar kamu ke kos kawan kamu itu."


"Oh, iya. Kenalkan, Bang. Ini teman Acha, tempat Acha nginap." 


Eligius mengulurkan tangan, Vera yang sedikit centil malah terpana melihat ketampanan Eligius, dia sampai tidak sadar saat Eligius mengulurkan tangan. Hampir satu menit dia membiarkan tangan Eligius terulur. Setelah Vera disenggol oleh Acha barulah dia tersadar dan menyambut uluran tangan Eligius.


Saat itu juga, Yogi–teman lelaki Acha datang menghampiri. Wajahnya tidak senang saat melihat Eligius.


"Wajahnya biasa aja!" ketus Eligius kepada Yogi. "Saya sering melihat kamu mengantar Acha di ujung jalan." Sambung Eligius.


"Oh, iya. Jadi laki-laki jangan begitu. Antar dan jemput anak gadis orang di rumah nya. Pamit sama orang tuanya." Eligius langsung masuk ke dalam mobil.


"Apa-apaan, sih, Bang," gerutu Acha kesal.


"Acha, Vera, ayuk cepat naik!" Eligius membuka kaca jendela sebelah kiri.


Terlihat Yogi memberi isyarat kepada Acha dengan jari membentuk gagang telepon. Acha pun mengacungkan jempol.


"Cepetan ganjen," panggil Eligius lagi.


"Ih, sibuklah Abang, nih," rungut Acha lalu duduk di belakang bersama Vera.


"Kamu kira saya supir kamu, Cha? Duduk depan!" Eligius melirik dari kaca spion tengah.


Terlihat kekesalan Acha. Dia tidak turun, dia berpindah langsung saja dari belakang menuju jok depan melewati celah antara jok di belakang setir dan di sebelahnya.


"Kamu kira urusan saya cuma kamu. Buruan!" gumam Eligius dan langsung menginjak gas mobil.


Mobil menuju alamat yang disebutkan oleh Vera. Hanya sepuluh menit dari kampus mereka. Sebuah rumah kos dengan banyak kamar terdiri dari dua lantai. Kos ini tidak bebas. Tidak bisa menerima tamu laki-laki apapun itu alasannya.


"Nggak boleh masuk, Bang!" Acha menunjuk papan peringatan yang di luar pagar. 


Saat itu Eligius hendak masuk, untuk memastikan yang mana kamar Acha dan Vera.


"Saya mau memastikan keamanan kamu."


Acha tertawa mendengarnya. "Saya bukan Adeline. Saya cuma Raisya Nur Azizah anak pembantu. Keamanan apa yang mau Abang pastikan!" 


Kini Vera juga ikut tertawa melihat wajah Eligius memerah. Mungkin dia malu.

__ADS_1


__ADS_2