Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 13


__ADS_3

Wanita di hati Sang Ajudan


Bab 13


Yogi sebagai lelaki yang ingin mengambil hati calon mertua menurut saja apa yang Sartika katakan. 


Sartika juga meminta ponsel Acha yang sedang Yogi pegang. "Jalan sama cowoknya malah kirim pesan sama cowok lain. Sini ponsel Acha itu, Nak Lanang."


Yogi pun menyodorkan ponsel ke arah belakang, dimana Sartika duduk. 


Suasana rumah masih sepi, hanya ada beberapa supir pribadi penghuni rumah ini.


"Mak, apa kita nggak foto dulu?" ujar Acha ketika melihat Sartika melepaskan jilbab.


"Cepat ganti baju kamu, lalu pergi ke pasar. Nanti malam Ibu Fenita mengundang keluarga besarnya untuk makan malam," perintah Sartika yang tidak berani Acha bantah. 


Setelah selesai berganti pakaian, Sartika menyerahkan daftar belanja dan sejumlah uang. Menggunakan sepeda motor Acha pergi ke pasar yang jaraknya sekitar tiga puluh menit dari rumah mereka.


Hampir dua jam Acha menghabiskan waktu di pasar. Dia harus buru-buru pulang agar masakan selesai tepat waktu. 


Sesampainya Acha di rumah, ternyata mobil yang dipakai Bapak Malvyn dan keluarganya sudah terparkir di halaman begitu juga dengan mobil yang Adeline dan Eligius pakai.


Saat Acha  masuk dari pintu samping, Acha mendengar Adeline mengomel kepada Eligius karena dia menghilang di sesi foto-foto. Hal itu membuat Acha teringat akan pesan Eligius yang tidak sempat dia balas lagi. Ternyata benar, Eligius melarikan diri dari wisudanya Adeline demi menghadiri wisuda Acha.


"Dengar kami, tuh? Mereka ribut gara-gara kamu." Suara Sartika mengejutkan Acha.


Acha memilih diam dan segera mengeluarkan seluruh belanjaannya. Berbagai macam masakan mereka bikin hingga rendang daging sapi pun ada. Lelah jangan ditanya. 


Setelah selesai membantu Sartika memotong-motong sayur, membuat bumbu. Acha langsung ke ruang penyimpanan peralatan rumah tangga. Di sana dia mengambil vacum cleaner dan kain lap. Setiap inch pajangan kristal di rumah ini harus di lap sampai berkilau. 


"Sudah makan, Cha?" Suara Mang Yusuf membuat Acha terperanjat.


"Sudah, Mang," jawab Acha setelah beberapa detik dia terdiam mengingat apakah sudah makan atau belum. 


Acha memilih menjawab sudah.


"Bohong dia itu, Mang," sahut Eligius dari arah tangga yang sedang berjalan menuju bawah.


"Masa masalah makan saja bisa bohong? Bingung saya." Mang Yusuf menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Rekaman CCTV nggak pernah berbohong." Eligius menunjukkan ponselnya.

__ADS_1


Ternyata CCTV di rumah ini juga terhubung ke ponsel para ajudan.


"Makan dulu atuh Cha!" suruh Mang Yusuf dengan suara lembut seolah sedang membujuk anak kecil.


"Iya, Mang. Nanti setelah ini, ya. Nanggung." Acha masih saja meneruskan pekerjaannya walaupun perutnya terasa perih. 


Mang Yusuf pergi, karena dia juga ada urusan lain. Saat itu Acha mulai merasa bahwa lambungnya sedang tidak baik-baik saja.


Terlihat dari wajah Acha yang meringis menahan sakit.


"Kamu istirahat saja.dulu Cha!" Eligius merampas lap dari tangan Acha.


"Kenapa, sih, semua orang sesuka hatinya sama Acha. Di mobil mamak dan Yogi ngerampas ponsel Acha. Di rumah, Abang yang merampas kain lap dari tangan Acha. Seolah Acha ini bisa kalian tindas." 


Eligius menatap Acha, dia tahu bahwa omelan Acha saat ini hanya meluapkan kekesalan yang dia rasakan. Dia saat ada satu kejadian yang sama, isi hatinya pun keluar dengan cara yang saat ini em baik.


Eligius menarik pelan tangan Acha membawa dia ke teras samping rumah. 


"Duduk! Tarik nafas, buang! Lakukan sampai hati Acha kembali tenang."


Acha menurut saja perintah Eligius. 


"Tunggu sebentar jangan ke mana-mana! Eligius berlari ke dalam rumah. Dia ke dapur mencari apa saja yang bisa dimakan.


"Di meja sudah ada yang matang." Sartika menunjuk arah meja makan para asisten  rumah tangga.


Eligius mengambil secukupnya dan membawa sepiring nasi dan segelas air putih keluar dapur. 


"Mau makan di mana, El?" tanya Sartika.


Eligius mengatakan bahwa dia akan makan di teras samping karena selesai makan dia akan merokok. Rumah ini menggunakan pendingin ruangan di setiap ruangnya sehingga dilarang keras untuk merokok di dalam rumah.


"Makanlah!" Eligius menyodorkan nasi dan minum yang dia bawa dari dapur tadi.


Acha melirik ke arah piring dan mendongak melihat wajah Eligius.


"Makanlah?!" Eligius mengulanginya.


"Terima kasih, Bang." Acha mengambil dan mengucapkan terima kasih dan melahap makanan yang dibawa Eligius.


Ternyata dari dalam rumah, Adeline melihat pemandangan Eligius menemani Acha makan di teras samping. Saat itu Acha turun dari lantai dua. Pintu menuju teras samping hanya pintu kaca, jika kita turun dari tangga dan menoleh ke sebelah kiri pasti terlihat.

__ADS_1


Adeline cemburu, dia tidak terima Eligius perhatian kepada Acha. Adeline yang licik bukan langsung melabrak kedua orang itu dia pergi ke dapur mencari Sartika. Dia mengadukan apa yang dia lihat kepada Sartika.


"Mak Sar tau aku tu suka sama Abang El. Kenapa Acha mati kegatalan merayu-rayu Abang El."


"Maksud Mbak Adel apa?" Sartika bingung, tiba-tiba datang dan mengamuk seperti itu.


"Ayo sini!" Adeline Menarik tangan Sartika. 


Adeline membawa Sartika untuk melihat Acha dan Eligius sedang bersama. Ternyata sampai di sana Sartika tidak melihat Eligius. Acha pun sedang mengelap pintu kaca pembatas ruang keluarga dengan teras samping.


"Mana, Mbak?" Sartika tidak melihat seperti yang Adeline kadukan.


"Ada apa?" 


Sartika dan Adeline terperanjat karena mendengar suara Eligius dari belakang mereka.


"Kenapa terkejut begitu?" Kembali Eligius bertanya.


"Kamu dari mana?" tanya Adeline dengan gaya nge-bossy.


"Dari letak piring kotor di dapur."


Ternyata Eligius menyadari bahwa Adeline memperhatikan mereka dan berjalan ke dapur mengadu kepada Sartika. Eligius lebih cerdik dari Adeline. Dengan cepat dia meletakan piring bekas makan Acha melalui samping rumah dan masuk lewat pintu dapur.


"Kalau sudah beres bantu Mamak mengelap piring!" Sartika mengatakan itu kepada Acha.


Adeline menjadi kesal sendiri lalu pergi meninggalkan mereka dan langsung menuju kolam renang karena tujuan awalnya turun yaitu untuk berenang.


Selesai Salat Magrib Acha mulai menata makanan di meja. Satu persatu keluarga Ibu Fenita mulai berdatangan dengan membawa bermacam bingkisan sebagai ucapan selamat kepada Adeline karena sudah berhasil menjadi sarjana ekonomi.


Di depan pintu dapur yang menghubungkan  dapur dan ruang makan, Acha berdiri memandangi kegembiraan mereka yang datang. 


"Beruntungnya jadi Nona Adeline. Aku, jangankan syukuran. Foto wisuda saja nggak ada," gumam Acha di dalam hati.


"Kenapa melamun?" Eligius menepuk pundak Acha.


"Iri saja." Jawab Acha singkat.


"Eh, lihat, dong, foto-foto wisuda kamu," ujar Eligius.


Acha tersenyum kecut. "Nggak ada."

__ADS_1


Eligius terkejut mendengarnya. Acara segitu penting bisa-bisanya tidak ada dokumentasi.


"Saat prosesi wisuda sudah mulai buat suasana hati nggak enak, Bang. Jadi sudah malas untuk berfoto." Acha pergi ke dapur dan memilih duduk di sana sampai dia dibutuhkan oleh keluarga yang sedang berpesta ini.


__ADS_2