Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 27


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan


Bab 27


Makan malam pun tiba, tidak ada Acha yang menyediakan makan malam. Acha masih dirundung duka yang sangat dalam. Kini dia benar-benar sebatang kara. Kehilangan yang sangat menyakitkan. 


Acha membaca surat Yasin dengan uraian air mata, semua terasa sangat sepi. Tidak ada yang menemani dia saat ini. Orang di rumah ini ramai tetapi, tidak ada yang peduli satu sama lain.


Apalagi sekarang, mereka takut dekat dengan Acha. Takut akan menjadi korban Adeline selanjutnya. 


Tiga hari berlalu, tidak ada tahlilan seperti di kampung, hanya Acha yang mengirim doa setiap dia selesai salat. 


Hari ini Acha ingin berpamitan, dia ingin berhenti bekerja di sini. Rumah ini sudah memberi kenangan pahit untuknya. Namun, untuk kesekian kalinya Acha tidak bisa berhenti dari rumah ini. Semua karena Adeline. Kali ini dia beralasan bahwa Acha akan dijadikan  baby sitter untuk anaknya yang sebentar lagi akan lahir. 


Usia kandungan Adeline  saat ini sudah memasuki lima bulan tanpa tahu siapa ayah dari anak yang dia kandung. 


"Eligius mana, Del?" tanya Pak Malvyn saat di ruang makan.


"Kak El lagi nggak enak badan katanya. Jadi dia istirahat di kamar," sahut Adeline.


Acha sebenarnya terkejut mendengar Eligius sakit tetapi, dia harus bisa bersikap biasa saja. 


"Cha, siapin sarapan untuk Kak El, biar gue bawa ke kamar!" titah Adeline.


"Kenapa Acha? Dia suami kamu," protes Buk Venita. "Dari awal nikah sampai sekarang belum pernah Mami lihat kamu mengurus suami kamu."


"Ya, biarin Acha deh, Mi. Biar dia merasakan juga bagaimana mengurus suami walaupun dalam khayalan," hina Adeline disambut dengan gelak tawanya.


"Maaf, Buk. Saya ke dapur dulu." Acha menghindar dari perbincangan Adeline yang tidak sehat.

__ADS_1


Acha meletakkan nampan di atas meja sambil menarik nafas. Dia tidak tahan lagi di rumah ini. Bukan karena sikap kasar Adeline tetapi, lebih ke hatinya yang terlalu sensitif. Dia merasa tidak sadar diri. Entah sejak kapan perasaan itu muncul. 


"Acha cepat siapin sarapan untuk Kak El!" titah Adeline dari pintu dapur. 


Adeline malukan tugasnya seperti biasa. Setelah itu dia serahkan nampan berisi sarapan kepada Adeline. De.gan wajah bengis Adeline menerimanya.


***


Acha benar-benar sudah tidak tahan lagi berada di rumah ini, banyak hal yang dia lihat, kejahatan-kejahatan Bapak Malvyn direncanakan di rumah ini, sangat bertolak belakang dengan mata kuliah yang dia ambil.


Seorang sarjana hukum, membiarkan sesuatu yang sangat melanggar hukum terjadi di depan matanya.


Di dalam kamar, Acha membereskan  pakaiannya yang tidak banyak itu, dia ingin kabur lewat pintu belakang saat suasana rumah sudah sepi. Pukul tiga dini hari Acha mengintip dari jendela kamarnya, melihat sekeliling, jika tidak ada lagi penjaga rumah yang patroli dia akan menyusup keluar rumah.


Acha mengendap-endap berjalan menuju taman belakang, tanpa dia sadari eligius melihatnya dari atas balkon kamar. Kini kamar Adeline juga menjadi kamar Eligius. Melihat acha mencoba kabur melalui pintu belakang, Eligius segera menyusul ke taman belakang. Dia keluar rumah dengan segera tanpa menimbulkan suara. Saat sudah tiba di halaman belakang, ternyata Acha sudah berhasil keluar. 


Tidak tinggal diam, Eligius kembali berlari mengejar Acha. Dia yakin, Acha belum jauh. Benar dugaannya, Acha masih berada di ujung jalan, sepertinya dia sedang bingung hendak kemana dia dini hari seperti ini. 


"Ini saya, Kak El," bisik Eligius sambil terus memegang kepala Acha dalam pelukannya. "Kamu mau kemana?" lanjut Eligius lagi.


"Acha mau keluar dari rumah itu. Apa yang acah pertahankan lagi? Mamak juga nggak ada, Kak." Acha menangis dalam pelukan Eligius.


"Jangan kamu pergi, Cha! Kalau kamu pergi, saya tak bisa menjaga kamu lagi," ujar Eligius.


Acha berusaha keras melepaskan pelukan Eligius. Akhirnya Eligius sadar bahwa Acha memang ingin pergi dan menjauh. Dengan berat hati, Eligius melepaskan pelukan itu. Pelukan terakhir untuk Acha. Tanpa banyak kata, Acha pun membalikan badan lalu berlari tanpa sedikitpun dia menoleh ke belakang hingga bayangnya hilang di dalam gelap malam.


Eligius menarik nafas, dadanya terasa sangat sesak, seperti ada Godam besar yang sedang menghantam. Sakit. Dia merasa sakit di dadanya. Eligius memutuskan kembali ke rumah istana itu setelah dia benar yakin Acha tidak akan kembali lagi. 


Di ujung jalan, Acha membuang nomor ponsel yang dia punya. Mengganti dengan nomor baru yang sudah dia persiapkan. Acha ingin mengubur semua kenangan masa lalunya. Dia harus pergi jauh karena dia tidak ingin ditemukan oleh orang-orang suruhan Bapak Malvyn. 

__ADS_1


Bapak Malvyn yang mempunyai bisnis dunia hitam tentu saja tidak ingin Acha keluar dari rumahnya, bisa jadi itu akan mengancam kelangsungan bisnisnya jika suatu saat Acha membuka suara kepada penegak hukum karena Acha saksi terkuat, dari kecil dia melihat bermacam transaksi di rumah itu. 


Tujuan awal Bapak Malvyn membiayai kuliah Acha di fakultas hukum, untuk mempersiapkan Acha sebagai pengacara keluarga mereka.


Acha tidak mungkin balik ke kampung. Di kampung juga ada kenangan menyakitkan dan juga tentu itu merupakan tempat utama yang akan orang Bapak Malvyn mencarinya.


Dia harus kesuatu tempat. Dia tidak boleh menyusahkan Eligius jika dia tertangkap.


Sementara di rumah bak istana, saat Eligius menaiki anak tangga, dia mendengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata iy mobil Adeline yang baru pulang pukul dia dini hari dari pergi sore tadi.


"Kok belum tidur?" sapa Adeline saat melihat Eligius yang menunggu di depan tangga.


"Dari mana aja kamu?" tanya balik Eligius tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


"Bosan di rumah." Adeline melewati Eligius lalu naik ke tangga menuju kamarnya.


Eligius tidak menyusul, dia memilih duduk di ruang tengah. Dia mencoba menghubungi Acha. Akan tetapi, tidak ada yang aktif lagi. Nomor WA juga sudah tidak aktif lagi. 


"Baru hati terbuka, sudah kecewa lagi," gumam Eligius di dalam hati. 


Terdengar sayup suara adzan, ternyata entah berapa jam Eligius duduk termenung di sofa tersebut. Eligius segera bangkit untuk mengambil air wudhu. Kembali kepada Allah mungkin  jalan terbaik. Karena semua yang telah dia lalui semua takdir Allah yang harus dijalani.


Pagi hari, satu rumah gaduh karena mereka baru tahu bahwa Acha tidak ada lagi di rumah. 


Adeline melirik Eligius yang duduk di sebelahnya. 


"Kamu sudah tau Acha pergi?" bisik Adeline.


"Bukannya itu yang kamu mau?" sahut Eligius.

__ADS_1


"Benar. Jadi aku bisa miliki kamu seutuhnya."


Mendengar ucapan Adeline, Eligius hanya tertawa sinis. 


__ADS_2