
Cinta Sang Ajudan
Bab 13
Pagi hari, saat Eligius hendak membuang sampah dari kamarnya, dia melihat makanan yang dia belikan tadi malam sudah di tempat sampah. Ada rasa kecewa.
Kecewa itu hanya kita yang ciptakan, seandainya kita tidak terlalu berharap tentu saja tidak ada kata kecewa.
"Bang," tegur Acha sedikit takut saat itu dia sudah berdiri di belakang Eligius.
Eligius membalikkan badannya.
"I-itu …." Acha menunjuk ke arah tempat sampah dengan rasa yang tidak enak.
"Nggak apa." Eligius langsung pergi meninggalkan Acha.
Acha masih berdiri, dia merasa bersalah.
"Acha!" Teriakkan Adeline membuat Acha tergopoh menemui Adeline.
"Ada apa, Mbak?" Kepala Acha tertunduk, kedua tangannya saling meremas.
Acha teringat ucapan Sartika kemarin malam bahwa Adeline menyukai Eligius.
"Bersihin kamar gue sekarang!" perintah Acha sambil menunjuk ke arah lantai atas.
"Ba-baik, Mbak." Acha langsung pergi mengambil perlengkapan seperti vacum cleaner dan kain lap.
Eligius melihat langkah Acha dari sudut matanya. Sebenarnya kasihan melihat gadis tersebut tetapi, Eligius tidak mau lagi salah menempatkan hati.
Cukup lama acha keluar dari kamar Adeline, tangan kiri menenteng vacum cleaner dan tangan kanan memeluk keranjang pakaian kotor di pinggangnya.
Masih pagi untuk melakukan semua pekerjaan ini.
"Sudah sarapan, Cha?" tanya Mang Yusuf saat dia melihat Acha berjalan ke ruang laundry.
"Nanti saja, Mang."
"Kamu kenapa?" tanya Mang Yusuf lagi dengan sedikit berbisik.
"Nggak kenapa-kenapa." Mang Yusuf tahu Acha berbohong.
"Tadi malam kamu ditampar mamak lagi?" Kali ini Mang Yusuf celingukkan takut ada uang mendengar.
Acha mengangguk.
__ADS_1
"Sudah sering itu, kan?" Kembali Mang Yusuf bertanya.
Kali ini Acha tidak menjawab, dia terdiam.
"Mang kasihan sama kamu, Cha. Sampai saat ini, Sartika masih saja membenci kamu. Sebenarnya bukan salah kamu."
"Sudah nasib badan," sahut Acha dengan suara sedikit berat.
"Jika sudah ada kekasih, menikah mungkin lebih baik. Kamu cari kebahagiaan kamu sendir, Cha." Mang Yusuf segera pamit ketika dia mendengar suara kaki melangkah mendekati ruangan di mana dia dan Acha berada.
Ternyata itu langkah kaki Sartika.
"Saya mau pergi sama Ibu dan Mbak Adeline. Kamu kerjakan semua pekerjaan rumah! Kami pulang makanan sudah harus terhidang di meja!" titah Sartika kepada Acha yang masih mencuci pakaian.
"Mamak mau kemana?" tanya Acha ragu.
"Temani Mbak Adeline cari baju kebaya untuk wisudanya Minggu besok," jawab Sartika.
Acha semakin haru, dia mencoba menutupi sedihnya dengan senyuman. Dia dan Adeline sama-sama akan wisuda di hari yang sama tetapi, tempat yang berbeda.
Semua orang penuh euforia menyambut proses Adeline walaupun Adeline wisuda dengan jalur khusus.
Sedangkan kabar wisuda Acha tidak ada yang peduli, hingga saat ini saja Acha belum mempunyai baju kebaya yang akan dia kenakan untuk prosesi wisuda esok. Sartika pun tidak bertanya.
Rumah begitu sepi, hanya tinggal Acha yang sedang menyapu rumah yang lumayan besar ini. Setelah membereskan rumah, perutnya terasa perih, dia baru ingat bahwa memang belum ada makan yang masuk ke dalam perutnya dari pagi.
Sebenarnya itu sarapan Eligius yang sengaja tidak dia makan, karena saat dia hendak mengambil sarapan, dia sempat menghitung jumlah piring yang tersaji di atas meja. Jumlah piring dan para asisten rumah ini tidaklah sama.
Saat Eligius bertanya kepada Sartika kenapa kurang satu, Sartika mengatakan Acha sudah makan duluan. Akan tetapi, Eligius bisa menilai bahwa Sartika berbohong.
Buru-buru Acha menghabiskan nasi di piring itu, dia akan memasak makanan yang sudah ada di daftar menu. Daftar menu yang ditempel pada pintu kulkas. Setiap hari mereka harus memasak sesuai daftar menu yang telah disusun oleh Ibu Fenita.
Makan sudah terhidang di meja dengan berbagai jenis menu, saat itu terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Suara heboh Nona Adeline saat selesai shopping sudah menjadi ciri khasnya. Dia begitu bahagia telah menghabiskan uang orang tuanya. Beberapa kantong belanjaan berjejer di atas sofa. Acha melihat dari kejauhan, ada rasa iri tetapi, cepat ditepis olehnya.
Acha mendekat memberanikan diri memberi tahu bahwa makan siang sudah terhidang. Ternyata mereka sudah makan di luar.
Acha melihatkan dedek tatapan lesu saat Adeline memarkan baju kebaya lengkap dengan sandal dan tas yang akan dia kenakan saat wisuda.
Hati Acha semakin iba, kala teringat akan di yang belum mempersiapkan apapun. Bukan malas hanya saja dia tidak punya uang untuk itu, pernah dia meminta kepada Sartika, bukan diberi yang ada Sartika malah membentaknya. Perlahan Acha menghilang dari ruangan tersebut.
Acha duduk mematung di ujung tempat tidur, saat itu Sartika masuk.
"Mak," ujar Acha.
__ADS_1
Sartika hanya bergumam.
"Tiga hari lagi Acha wisuda, Mak. Acha nggak ada baju kebaya." Acha tertunduk dia takut dimarahi lagi oleh Sartika.
"Pakai aja apa yang ada!"
"Acha nggak punya apa-apa," sahut Acha dengan dada penuh sesak. "Kalau nggak, disewa aja, Mak."
"Nggak. Nggak ada uang untuk itu!" bentak Sartika. Lalu Sartika naik ke tempat tidur untuk tidur siang.
Kemaren-kemaren Sartika bersikap baik kepada Acha tetapi, semenjak dia mengetahui Adeline mempunyai hati kepada Eligius dan Eligius sepertinya memiliki perhatian lebih kepada Acha, hal itu membuat Sartika tidak menyukai Acha.
Acha mengirim pesan kepada Vera, teman baiknya, menanyakan perihal baju kebaya. Berapa harga sewa kebaya dan make up untuk wisuda.
Tidak lama, Acha menerima balasan dari Vera yang mengatakan bahwa Acha harus menyiapkan sekitar tiga ratus ribu rupiah.
Acha yang tidak memiliki uang sama sekali, memberanikan diri berbicara kepada Adeline dan meminjam sandal bertumit untuk acara wisudanya. Seandainya Adeline juga punya baju kebaya lama, Acha juga tidak masalah memakainya.
"Nggak ada," jawab Adeline ketus.
Entah kenapa yang terlintas dalam pikirannya hanya Eligius, bukan Yogi yang merupakan kekasihnya. Ingin rasanya mencoba meminjam uang tetapi, Acha takut untuk mengatakannya.
Acha kembali ke kamar karena memang tidak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan . Dia hanya bisa duduk melamun memikirkan bagaimana caranya. Sedangkan meminjam pakaian lama Adeline tidak dikasih.
Tidak sengaja tangan Acha menyenggol kaki Sartika. Hal itu membuat Sartika terbangun. Diam-diam Sartika memperhatikan Acha yang sedang duduk di ujung tempat tidur menghadap jendela.
Ada terbesit rasa kasihan kepada gadis berhidung mancung tersebut. Acha sadar Sartika telah bangun saat Sartika mencoba untuk bangun.
"Aduh," keluh Sartika ketika dia hendak bangkit tetapi, pinggangnya terasa sakit.
"Kenapa, Mak?" Dengan sigap Acha bangkit dan membantu Sartika untuk duduk.
"Nggak tau. Tiba-tiba sakit aja pinggang," jawab Sartika setelah dia bisa duduk dengan baik.
Sartika turun dari tempat tidur, diiringi dengan pertanyaan dari Acha apakah Sartika bisa melakukannya. Sartika tidak menjawab. Dia melangkah ke arah lemari pakaian berpintu dua yang terbuat dari kayu. Lemari tersebut menyimpan pakaian Sartika dan Acha.
Sartika merogoh di lipatan kain terbawah. Tidak lama tangan tersebut ditarik dengan membawa sebuah dompet dari toko emas.
Acha melihat dompet tersebut berisi beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
"Pergilah cari baju kebaya yang murah-murah saja! Sekalian sendalnya."
Acha hampir tidak percaya Sartika akhirnya memberi dia uang. "Benaran, Mak?"
"Buruan cari, nanti kesorean toko pada tutup."
__ADS_1
Bergegas dan penuh semangat, Acha berganti pakaian yang cukup rapi walaupun tidak terlalu bagus. Setelah selesai berganti pakaian dia menyalami tangan Sartika lalu pergi.
Tujuan utamanya adalah rumah Vera, dia bisa menggunakan angkutan umum jika ingin ke sana pada siang hari.