Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 23


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan 


Bab 23


Eligius meletakkan sendok  di atas piring. Dia memejamkan matanya, dua orang yang ingin dia menjaga Acha tetapi, keadaan berkata lain. Apakah Eligius akan menjaga Acha dalam diam?


Tanpa mereka sadari, percakapan  mereka didengar oleh Adeline yang dari tadi berdiri di balik  tembok pembatas dapur dan ruang utama.


sinis


"Mau main-main dengan gue," gumam Adeline dan tersenyum .


Dia sudah memiliki rencana jahat, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk menikah dengan Eligius.


Keesokan paginya, Adeline sengaja menyiram sedikit minyak goreng pada anak tangga teratas ketika Sartika sedang membersihkan kamarnya.


Bergegas dia bersembunyi di balik tirai jendela saat Sartika keluar dari kamarnya. Sartika yang sedang membawa sapu dan peralatan lainnya tidak memperhatikan ada genangan minyak di lantai. Kaki kiri Sartika menginjak genangan minyak tersebut hal itu membuat Sartika terpeleset hingga berguling-guling hingga anak tangga terakhir.


Sebelum ada yang melihat, Adeline segera masuk ke dalam kamarnya. Dia sedang menunggu teriakkan dari asisten rumah tangga yang lain saat melihat Sartika terkapar di lantai bawah.


Benar saja, salah seorang menemukan Sartika sudah tidak sadarkan diri. Hidung dan telinga Sartika mengeluarkan darah.


Setelah mendengar teriak minta tolong, Adeline berpura-pura terkejut dan berlari melihat apa yang terjadi.


Suara gaduh di dalam rumah membuat pekerja lain yang berada di luar rumah, berlari ke sumber suara. Tidak ketinggalan Eligius dan Bapak Malvyn yang tadinya ada di ruang kerja.


"Cepat telepon ambulance!" perintah Bapak Malvyn.


Setelah ambulance berhasil dihubungi, Sartika dilarikan  ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri. 


"Aduh malang sekali, saat sakit begini, anaknya tidak ada di sini," ucap Adeline sbil melirik sinis ke arah Eligius.


"Boleh saya yang menemani Buk Sartika, Pak?" Eligius mencoba meminta izin kepada Bapak Malvyn.


"Enak aja. Emangnya ada hubungan apa Kak dengan mereka?" potong Adeline dengan nada bicara ketus.


"Tidak usah ikut campur apa yang bukan urusan kita. Urusan kamu ada yang lebih penting. Besok bawa orang tua kamu ke sini. Lusa kamu dan Adeline akan menikah," perintah Bapak Malvyn tegas.


Kemudian Bapak Malvyn pergi meninggalkan Eligius dan Adeline yang masih berdiri di depan tangga.


"Ini salah satu contoh kalau berani dengan adeline," bisik Adeline di telinga Eligius. "Kamu nggak mau, bukan, Acha atau ibu kamu bernasib sama bahkan lebih parah," sambung Adeline.

__ADS_1


Adeline kembali balik ke kamar nya, sedangkan Eligius menjambak rambutnya sendiri karena dia merasa tidak berguna dengan situasi seperti ini.


"Mbak, tadi itu ambulance rumah sakit mana?" Eligius menghentikan langkah ART yang tadi menelepon ambulance.


Setelah mendapat informasi rumah sakit di mana Sartika dibawa. Eligius pergi ke kolam renang untuk menghubungi Acha. Dia memilih ke kolam renang karena posisi kolam renang tersebut tidak bisa terlihat dari jendela kamar Adeline.


"Kakak nggak bercanda, kan?" Acha terdengar tidak percaya atas berita yang Eligius sampaikan.


"Pergilah temani mamak!" suruh Eligius.


"Acha …." Acha menghentikan perkataannya.


"Kenapa?" tanya Eligius penasaran.


"Acha nggak ada uang untuk ongkos," lirih Acha.


"Kenapa nggak bilang dari kemarin? Apa kamu sudah makan?" 


"Belum, Kak. Vera ternyata nggak ada di kos. Untung Acha dibolehkan masuk dengan ibu kosnya," cerita Acha dengan suara lirih.


"Kamu kenapa nggak bilang?" ada raut khawatir di wajah Eligius.


"Acha …."


"Iya, Kak. Besok setelah Acha dapat kerjaan, Acha ganti, ya kak."


"Iya, terserah kamu saja." Eligius mematikan


Panggilan teleponnya.


Berbekal uang yang Eligius kirim, Acha bisa menyusul ke rumah sakit di mana Sartika dibawa. Sampai di sana Sartika memang benar-benar sendiri. Teganya mereka membiarkan mamak di rumah sakit sendiri dalam kondisi tidak sadar diri.


Untung Acha tiba tepat waktu. Perawat datang menemui Acha di ruang ICU untuk menanyakan data pasien. 


Benturan kuat yang Sartika alami mengakibatkan pecahnya pembuluh darah Sartika. Untuk menyelamatkan hidup Sartika, dia harus melakukan operasi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


"Berapa persen kemungkinan mamak akan sembuh, Sok?" tanya Acha kepada dokter yang menangani Sartika.


Dokter tersebut terlihat begitu berat untuk menjawabnya. "Tidak sampai lima puluh persen."


"Saya tidak ada biaya sebanyak itu," ucap Acha sambil menundukkan kepala. "Apa bisa menggunakan jaminan kesehatan sosial?" 

__ADS_1


"Ya, bisa."


Akhirnya Acha menandatangani berkas persetujuan operasi. Di rumah sakit dia benar-benar sendiri. Eligius bukan tidak ingin menemuinya tetapi, dia lebih menjaga keselamatan Acha. 


Operasi pun berjalan lancar setelah memakan waktu lima jam. Sartika dipindahkan dari ruangan operasi ke rumahan rawat inap kelas tiga yang satu kamar terdiri dari empat pasien. 


Melihat keluarga pasien yang lain sungguh ada rasa iri dalam hati Acha. Mereka bergantian menjaga keluarganya yang sakit. Sedangkan Acha selalu sendiri menunggu Sartika sadar. 


Untuk makannya, bersyukur ada Eligius yang diam-diam peduli kepadanya. Dia memesankan makanan online untuk Acha.


Mendapat perlakuan begini, Acha malahan tambah sedih. Dia harus belajar bersikap biasa saja walaupun hatinya berkata lain.


Hari kedua di ruang sakit, barulah Sartika siuman itu pun dengan kondisi yang memprihatinkan. Dia tidak seperti dulu lagi, pecahnya pembuluh dara membuat beberapa organ tubuhnya tidak berfungsi. Untuk berbicara saja Sartika sudah tidak bisa menggerakkan mulutnya. Bagian tubuh yang lain seolah kaku, tidak bisa digerakkan.


Saat Acha belum bisa menerima kenyataan tentang kondisi ibunya. Saat itu ada pesan masuk dari Adeline. Sebuah pesan bergambar yang menunjukkan kartu undangan pernikahan. Yang menyakitkan di situ tertulis nama dia dan Eligius.


Acha melihat tanggal yang tertulis di kartu tersebut. Sekitar tiga hari lagi. Pesta pernikahan yang akan diadakan  di sebuah ballroom hotel milik Ibu Venita.


Hati Acha sangat sakit. Lebih sakit daripada saat dia batal nikah dengan Yogi. Dia usap air mata yang mengalir di pipinya. Saat dia sadar Sartika sedang memperhatikannya.


Seolah Acha mengerti akan tatapan Sartika, dia mengatakan bahwa tiga hari lagi Eligius menikah. Saat itu Sartika mencoba menggerakkan jarinya. Acha mengerti dan mendekatkan wajahnya ke jari-jari Sartika. Benar saja, Sartika berusaha menghapus air mata Acha.


"Mak, apa kita harus kembali ke rumah Bapak Malvyn? Bagaimana kalau kita berhenti bekerja di sana dan Acha mencari kerja di luar." Acha bertanya kepada Sartika yang tentu saja tidak akan ada jawaban.


Acha memutuskan untuk berhenti kerja dari rumah Bapak Malvyn. Saat Sartika tertidur, dia tinggalkan Sartika di rumah sakit untuk sementara waktu. Dia harus ke rumah Bapak Malvyn untuk izin berhenti dan mengambil pakaian-pakaiannya.


Sesampai di rumah Bapak Malvyn, ternyata ini bukan waktu yang tepat. Saat itu rumah besar itu kedatangan tamu yaitu ibu dan keluarga Eligius yang akan menyaksikan pernikahan kedua Eligius.


"Udah pulang, Cha?" Adeline melihat Acha di depan pintu dan langsung menyapanya agar Acha tidak bisa kabur lagi.


Semua mata melihat ke arah Acha. Begitupun Eligius masih dengan tatapan yang sama.


"Sini, Cha!" panggil Ibu Venita. "Bagaimana kabar ibu kamu?"


Baiklah dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mengutarakan maksud dia ke sini.


"Mamak sudah sadar, Buk. Hanya saja, mamak seperti mayat hidup. Hanya bisa membuka mata. Cuma berbaring saja di tempat tidur," jelas Acha singkat sebelum ucapannya dipotong.


"Mamak kamu sakit, Nak?" potong ibunya Eligius.


"Iya, Bu. Jatuh dari tangga." Acha menunjuk arah tangga. "Pembuluh darahnya pecah."

__ADS_1


Acha duduk di lantai, sementara yang lain duduk di sofa. Terlihat gerak tubuh Eligius tidak menyukai itu.


__ADS_2