Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 11


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan


Bab 11


Eligius melihat gerak-gerik Acha yang kedinginan. Dia menaikkan kakinya dan meringkuk seperti udang. 


Eligius membuka jaket kulit hitam yang dia kenakan. Berharap dapat menghangatkan tubuh Acha. Tanpa sepengetahuan Acha, Eligius memotret wajah polos Acha yang sedang tertidur pulas. Sepertinya Eligius mulai jatuh hati kepada Acha.


Apalagi saat kejadian tadi, Acha memeluk tubuhnya, ada perasaan aneh yang Eligius rasakan. 


Setelah masuk waktu subuh, Eligius membangunkan Acha, bertanya apakah dia akan Salat Subuh. Acha menjawab dengan suara parau ciri khas bangun tidur. 


Ternyata Eligius tidak tidur semalaman. Memandang Acha membuat dia teringat akan masa lalu pahitnya. 


Eligius menjalankan mobil mencari mesjid terdekat. Setelah ketemu langsung saja Eligius memarkirkan mobil di halaman mesjid.


"Abang salat, yuk!" ajak Acha sebelum dia turun dari mobil.


"Kamu aja dulu!" jawab Eligius.


Acha tersenyum dan mengangguk. Tidak bisa dia memaksa seseorang untuk salat apalagi dia telah dewasa, telah tahu baik dan buruk apa yang telah dia lakukan. 


Sekitar lima belas menit Acha kembali ke mobil. Saat itu Eligius sedang merokok dengan pintu mobil terbuka.


"Sudah selesai?"


"Sudah, Bang."


"Kita cari sarapan dulu, baru saya antar kamu ke kost Vera lagi."


Acha mengikut saja. Hingga mereka bertemu dengan pedagang bubur ayam yang telah bukalapak. 


Ternyata Acha dan Eligius memiliki cara makan bubur yang berbeda. Acha memakan sebagian demi sebagian tanpa diaduk. Sedangkan Eligius termasuk dalam tim makan bubur diaduk.


"Kenapa diaduk, Bang?" tanya Acha heran melihatnya.


"Emang buburnya protes jangan diaduk?" Jawaban Eligius sangat menyebalkan.


Tidak sampai lima menit bubur di mangkok Eligius habis tidak tersisa.


"Abang lapar apa kesurupan?"

__ADS_1


"Cepat aja habiskan saya harus nyusul ke puncak. Kamu ikut?"


"Nggak, Bang. Hari ini ada bimbingan proposal lagi."


"Baiklah."


Lima bulan berlalu dari kejadian itu dan Acha pun sudah menyelesaikan sidang proposal, mulai menyusun skripsi yang entah berapa kali revisi dan akhirnya semua usaha itu berbuah manis, Acha dinyatakan lulus sidang skripsi dan sebentar lagi dia akan wisuda. Tidak sedikit biaya yang keluar selama beberapa bulan itu, untung saja ada uang gaji Acha yang disimpan Sartika. Acha baru mengerti kenapa selama ini Sartika tidak pernah memberi Acha seluruh gajinya. 


Karena tidak enak jika untuk biaya menjelang wisuda juga minta ke Bapak Malvyn.


"Kamu butuh biaya berapa untuk wisuda?" tanya Bapak Malvyn pagi itu saat bertemu Acha di meja makan.


"Sudah, Acha bayar, Pak. Pakai uang gaji Acha." 


"Wah hebat kamu, ya, bisa menghemat seperti itu. Adeline dikasih sepuluh juta sebulan, akhir bulan sudah nggak ada lagi saldonya." Potong Ibu Fenita.


"Disimpan mamak, Bu, uangnya."


Eligius melirik ke arah aja dari sudut matanya. Sudah setahun lebih dia bekerja di rumah ini. Ada saja yang membuat dia kagum kepada Acha. Didikan orang desa memang masih melekat pada dirinya. Hidup sederhana dan sadar diri siapa dia masih dia tanamkan.


Hari ini bertepatan dengan dua puluh tiga tahun usia Acha dan ini pertama kalinya Sartika membuatkan nasi tumpeng kecil untuk Acha. Acha begitu senang menerimanya karena inilah pertama kalinya ulang tahunnya diperingati. 


Eligius mengetahui Acha berulang tahun saat itu, kebetulan dia akan mengambil minum di dapur.


Di sana sudah ada para asisten rumah tangga yang lain dan Mang Yusuf. Untuk dua orang ajudan Bapak dan Ibu sudah melaksanakan tugasnya menemani orang sibuk tersebut.


Sedangkan Eligius sedang menunggu Adeline bersiap-siap untuk pergi pemotretan. Adeline juga berprofesi sebagai model memiliki jadwal yang padat sehingga dia tidak pernah fokus dengan kuliahnya  tetapi, anehnya Adeline bisa wisuda tahun ini juga. Apa lagi kalau bukan uang yang berbicara.


"Bang El!" teriak Adeline. 


Mendengar panggilan Adeline, Eligius langsung berdiri dan menyusul Adeline.


"Dari mana?" tanya Adeline.


"Di dapur, merayakan ulang tahun Acha."


"Oh, jadi Acha ulang tahun?"


"Temani Abang beli kado, yuk!" ucap Eligius.


Wajah Adeline seketika berubah tidak senang. "Buruan Bang! Nanti aku terlambat."

__ADS_1


Adeline jalan duluan. Langkahnya penuh keangkuhan. Ternyata selama ini Adeline menyukai Eligius. Dia tidak senang melihat Eligius begitu peduli kepada Acha si anak pembantu.


"Bang, aku ada kerjaan sampai malam, kalau Abang mau cari hadiah untuk anak pembantu itu pergi aja sendiri!" ucap Adeline ketus.


Eligius sempat terpelongo, dia tidak percaya kenapa Adeline bisa bersikap begitu, bukannya dulu dia begitu baik kepada Acha.


"Kamu kenapa, kok, tiba-tiba berubah begitu?"


"Ini semua salah Abang. Kenapa Abang perhatian sama Acha sampai mau beliin  kado, sedangkan aku nggak Abang belikan, sewot Adeline.


"Nona manis, gaji saya saja tidak sebanyak uang saku bulanan kamu. Mana saya sanggup belikan kamu hadiah." Eligius tersenyum.


"Bohong." Adeline keluar dan membanting pintu mobil.


Eligius hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah pewaris tunggal itu. Eligius tetap ikut Adeline turun dan menemaninya selama proses pemotretan. 


Eligius berdiri di sudut ruangan sambil melipat tangan di dada. Ia memandang sekeliling, wanita dan pria saling bercengkrama. Eligius hanya menyunggingkan bibirnya. 


Tiba-tiba bayangan beberapa belas tahun lalu melintas di matanya. Dengan cepat Eligius menggeleng–menepis jauh bayangan itu.


"Bang, El. Habis dari sini kemana ?" tanya wanita cantik dengan pakaian sangat terbuka.


"Saya ikut kemana Nona Adeline saja," sahut Eligius, kala itu menjawab pertanyaan teman seprofesi Adeline.


"Selesai pemotretan kita open room, ya!" teriak Adeline yang sedang tata gayanya.


Yang lain berteriak gembira. "Yes, party."


Tetap di sudut ruangan, Eligius menarik kursi dengan sedikit merenggangkan otot-ototnya, dia menyandarkan punggungnya yang terasa lelah. Untuk mengusir kebosanan Eligius memainkan ponsel miliknya. 


Teringat bahwa dia belum sempat dia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Acha pagi tadi.


Dengan lihai dia mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun ke ponsel Acha. Cukup lama Eligius menunggu, pesan tersebut belum juga dibaca. Eligius kembali tersenyum kecut, sadar akan dirinya siapa. Usia dia dan Acha terpaut cukup jauh dan Acha juga sudah memiliki seseorang yang lebih berarti dari dia.


Pemotretan selesai, setelah berganti pakaian mereka langsung berencana menuju club' yang telah di booking sebelumnya. Acha tetap bersama Eligius di mobil miliknya, teman yang lain juga naik kendaraan masing-masing.


Entah disengaja atau tidak, seolah Adeline sedang menggoda Eligius agar dia bernafsu melihat Adeline yang duduk sengaja sembarangan. Rok mini yang dia kenakan sudah naik hingga melihatkan celana segitiga berwarna hitam.


Eligius melirik sekilas dan membuka jaket yang dia gunakan lalu jaket itu dia lempar ke pangkuan Adeline 


"Hargai diri sendiri!" ucap Eligius.

__ADS_1


Wajah Adeline masam sepertinya dia tidak senang dengan sikap Eligius. 


"Kita pulang saja!" Nada bicara Eligius begitu tenang.


__ADS_2