Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 20


__ADS_3

Wanita Di Hati Sang Ajudan


Bab 20


"Siapa, Mas?" Seorang wanita cantik keluar dari dalam kamar.


"Cucu angkat ibu," sahut Bayu.


Aku pun menyapa dan mengulurkan tangan.


"Kok mirip kamu, ya, Mas?"


Entah kaget mendengar ucapan istrinya, om Bayu tiba-tiba terbatuk-batuk 


"Yuk ke dalam dulu! Ngobrol di meja makan sepertinya lebih enak," ajak Mbah kades. "Kamu belum makan, kan, Cha?" 


"Di jalan tadi sudah," jawab Acha.


Istri Bayu membantu Buk Kades menyiapkan makanan di meja makan. Sesekali Acha mendapati saat Bayu memandangi dia. Tentu saja itu membuat Acha risih.


Makan malam pun berlangsung dengan suasana kaki, istri Bayu memandang Acha dengan pandangan tidak suka. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Acha saja baru sekali ini bertemu dengan dia.


"Kamu tidur sini, kan, Cha?" Suara Bu Kades memecah keheningan di ruang makan.


"Kalau Acha pulang saja bagaimana, Mbah?" Acha balik bertanya.


"Iya, jangan! Besok pagi baru kita ke sana lagi. Kita bersihkan rumah itu dulu. Baru kamu boleh tinggal di sana kalau rumahnya sudah bersih."


Acha menuruti saja apa kata Buk Kades. Memang benar rumah itu sudah penuh debu. Sudah hampir lima tahun Acha tidak ada pulang ke rumah tersebut.


Selesai makan malam, Acha dan Bu Kades menghabiskan malam dengan mengobrol di ruang TV hingga larut malam. Bu Kades sangat antusias mendengar cerita-cerita Acha. Bagaimana perjuangannya hingga menjadi sarjana tidak luput dari cerita mereka.


"Sartika memang ibu yang hebat, dia bisa membuat kamu sekuat ini, Cu," gumam Bu Kades sambil mengusap-usap puncak kepala Acha.


Acha juga menceritakan bagaimana sedih dan malunya dia batal nikah hanya karena dia bernasab ke ibu. 


"Sabar, ya, mungkin itu bukan jodohmu." Ekspresi wajah Bu Kades terlihat sangat tegang. "Sudah larut, kita tidur dulu, yuk!"

__ADS_1


Acha mengikuti saja, sejujurnya dia juga sudah lelah. Ingin rasanya dia cepat-cepat bertemu kasur.


Kamar Acha terletak di sebelah kamar Bu Kades. Rumah ini cukup besar, memiliki empat kamar. Dari dulu hanya dua kamar yang terisi. Dia kamar lagi memegang disediakan untuk tamu.


Acha merogoh ponsel di saku hoodie yang dia kenakan, ternyata sudah pukul satu dini hari. Saat Acha membuka layar ponsel. Terdapat pesan ucapan selamat malam dari Eligius. Acha tersenyum. Ingin membalas tetapi, sudah malam takut mengganggu istirahat Eligius.


Sudah hampir pukul tiga, Acha belum juga bisa tidur, ada perasaan yang dirasa dihati Acha. Tiba-tiba jantungnya berdebar sangat kencang, dia seolah memiliki firasat akan terjadi sesuatu tetapi, dia tidak tahu itu apa.


Mau melaksanakan Salat Tahajud tentu tidak bisa karena Acha belum tidur. Akhirnya dia hanya mencoba zikir saja. 


Tenggorokkan ya terasa kering, saat dia hendak minum, ternyata dia lupa membawa air minum ke kamar. Akhirnya dia keluar kamar untuk mengambil minum di dapur. 


Beberapa ruangan sudah gelap karena lampu telah dimatikan, hanya ada seberkas cahaya dari kamar Bu Kades, ternyata pintu kamarnya tidak tertutup rapat.


Saat melewati kamar Bu Kades Acha sempat melirik ke dalam ternyata beliau sedang melaksanakan Salat. Acha melanjutkan saja rencana ke dapurnya. Tidak berlama-lama di dapur, Acha kembali lagi ke kamar. 


Saat melewati kamar Bu Kades, entah setan apa yang memaksanya untuk menguping di sebelah pintu. Saat itu Bu kades sedang memegang foto Alm. Suaminya. 


"Pak, jika bapak masih hidup tentu bapak sangat bahagia melihat dia kembali." 


Perkataan itu yang membuat Acha memberanikan diri untuk menguping.  Dia penasaran siapa yang Buk Kades maksud.


"Cucu?" Acha bertanya dalam hati.


"Sekarang dia sudah menjadi sarjana hukum, Pak."


Mendengar kata sarjana hukum, Acha langsung terpikir bahwa yang dibicarakannya adalah dia.


Badannya gemetar setelah mendengar itu. Acha buru-buru masuk ke dalam kamarnya. 


"Apa Om Bayu yang memperkosa mamak?" Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Acha.


"Sartika sungguh luar biasa mendidiknya, Pak."


Hampir saja Acha pingsan mendengar obrolan Buk Kades dengan foto Alm. Suaminya. Bergegas Acha kembali ke kamarnya.


Acha sangat tidak tenang. Keringat mengucur seolah mengalahkan dinginnya udara malam di kampung ini.

__ADS_1


Masih dengan tangan gemetaran Acha mencari-cari ponselnya. Orang pertama yang akan dia beri tahu apa yang dia dengar adalah eligius.


Acha sudah tidak peduli lagi, Eligius sudah tidur atau belum. Dia harus bercerita kepada Eligius karena dia tidak tahu langkah apa yang harus dia ambil.


"Kak El," sapa Acha dengan suara seperti menahan tangis setelah panggilan teleponnya dijawab oleh Eligius.


"Kenapa, Sayang?" sahut Eligius di ujung sana.


Acha tidak begitu menangkap dengan jawaban pria yang bulan ini berusia tiga puluh sembilan tahun.


"Acha tahu siapa yang memperkosa mamak," bisik Acha dengan suara terputus-putus karena dia sudah menangis. "Acha bingung, Acha takut harus bagaimana."


"Kamu serius, Cha?" Eligius langsung bangkit dari tidurnya. "Kamu kirim lokasi! Kakak berangkat malam ini juga."


Acha mengikuti perintah Eligius. Dia mengirim lokasi kampungnya. Eligius mengenali kampung itu, sebagai mantan anggota angkatan bersenjata dia cukup mengenal kampung Acha karena dia pernah ditugaskan pada kabupaten tersebut.


"Kakak matikan panggilannya, ya. Kakak ke sana sekarang." 


"Hati-hati, ya, Kak!"


"Ya sayang," sahut Eligius.


Saat itu baru Acha sadar bahwa dari tadi Eligius memanggilnya dengan sebutan sayang. Acha memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan diri. 


Bagaimana dia harus menahan diri, menunggu sampai Eligius sampai. Sementara dari ibu kota ke kabupaten saja harus menempuh perjalanan selama delapan jam.


"Hati-hati, Kak," ucap Acha dan dia mendoakan keselamatan Eligius dalam perjalannya.


Acha berharap subuh cepat menyapa, dia sudah ingin cepat-cepat pergi dari rumah ini. Dia sungguh kecewa. Ternyata orang yang dianggap sebagai dewa penolong ternyata mereka menyembunyikan monster.


Lelaki yang selama ini dia panggil Om ternyata adalah ayah biologis Acha. Dia yang menghancurkan masa depan gadis suci di desa ini. Dia juga yang membuat Acha terlahir sebagai anak tanpa bapak sehingga masa kecil dilaluinya dengan bermacam hinaan dan kucilan.


Pantas saja Buk Kades sangat baik kepada Sartika. Ternyata anaknya lah pembuat masalah. Sungguh manusia-manusia tidak beradab, tidak punya hati.


[Kamu jangan gegabah, ya, Cha! Kakak tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Tunggu kakak!]


Acha membaca pesan yang baru saja dikirim Eligius ke ponselnya..

__ADS_1


Akhirnya terdengar suara orang mengaji dari masjid yang terletak di ujung kampung. Acha menarik nafas lega, akhirnya dia bisa segera kembali ke rumah nenek.


Semalaman dia tidak ada tidur. Tubuhnya sudah tidak lagi merasa lelah. Dia harus berpura-pura tidak mengetahui apa pun.


__ADS_2