
Wanita di hati Sang Ajudan
Bab 6
Adeline hanya mabuk, bukanlah pingsan, sehingga saat Eligius meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur, saat itu Adeline mencoba menarik Eligius hingga Eligius jatuh di atas tubuhnya.
Saat itu Acha sudah berdiri di ambang pintu kamar Adeline, karena dia mendapat perintah dari Ibu Fenita untuk membersihkan tubuh Adeline. Acha dengan jelas melihat kejadian tersebut.
Terlihat dengan dia bagaimana Adeline menarik Eligius sedangkan Eligius berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Adeline. Acha berpura-pura batuk agar Adeline melepaskan eligius.
"Ganggu aja Lo!" bentak Adeline kepada Acha.
Saat itu Eligius segera bangkit dan merapikan baju kemeja yang dia kenakan.
"Maaf, saya disuruh ibu untuk membersihkan badan Mbak Adel," gumam Acha. Dia menunduk–merasa takut kalau saja Adeline marah karena ulahnya tadi.
"Sudah. Sudah pergi kasana!" Adeline mengibaskan tangannya.
Acha memudurkan langkahnya–keluar dari kamar Adeline, begitu juga dengan Eligius, segera dia meninggalkan nona muda.
"Acha tunggu!" Eligius mengikuti langkah Acha.
"Apa, Bang?" Acha menghentikan langkahnya.
"Yang kamu lihat tadi …."
"Acha tahu. Acha lihat, kok, dari awal." Acha memotong perkataan Eligius.
"Syukur, lah. Eh, mie saya mana?"
Acha tersipu malu sambil memegang perutnya.
"Kamu makan?" Eligius seakan tidak percaya.
"Kan, mubazir Bang kalau dibuang." Acha langsung berbalik arah. Segera dia menuruni anak tangga–Acha malu.
Eligius tersenyum melihat tingkah polos Acha. Ternyata di era sekarang masih ada perempuan sepolos Acha.
***
Senin sore, Acha terlihat gusar, dia hendak berangkat ke kampus sedangkan hujan turun sangat deras.
"Mak, boleh minta uang lebih buat ongkos naik ojek mobil?" Acha sedikit takut mengatakannya pada Sartika.
"Uang jajan kamu, kan, ada," jawab Sartika dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Tadi udah Acha cek, Mak. Ongkosnya mahal. Nanti pulangnya Acha nggak ada ongkos."
"Jalan kaki aja!"
Acha menarik nafas, dia meninggalkan Sartika yang sedang memasak menyiapkan makan malam.
Akhirnya mau tidak mau, Acha memesan ojek mobil agar dia bisa ke kampus karena hari ini dia sudah berjanji untuk bertemu dosen program studi (Prodi) sehingga dia harus ke kampus walaupun hujan begini. Jika hari ini gagal entah kapan Acha bisa menemui dosen tersebut untuk mengajukan judul skripsi.
Mobil yang dipesan telah sampai di depan pintu gerbang kediaman Bapak Malvyn. Dengan menggunakan payung supaya tidak basah.
Sepanjang perjalanan driver melirik Acha sedikit heran. Rumah dan penampilan Acha sangat bertolak belakang.
"Saya cuma anak pembantu, Bang." Seakan mengerti apa yang ada di pikiran driver, Acha menyahut sebelum driver tersebut bertanya.
***
Pukul sepuluh malam, Acha sampai di rumah. Saat itu Eligius dan Kang Yusuf sedang duduk di pos satpam sambil mengisap rokok. Mereka melihat keluar pagar saat Acha tiba di rumah diantar Yogi–teman lelaki Acha.
"Pacaran terossss," ledek Kang Yusuf.
"Ngerokok terosss." Kembali Acha membalas ledekan Kang Yusuf.
"Sini dong, neng!" Kang Yusuf memanggil Acha.
"Ada makanan nggak, Mang?"
Acha semangat mendengar kata martabak. Akan tetapi, baru saja dia hendak melangkah, terdengar suara Sartika memanggilnya untuk masuk.
"Nggak jadi, mang. Mamak manggil."
"Ya, udah. Ntar mamak kamu marah," ujar Mang Yusuf.
Setelah Acha masuk ke dalam rumah, Eligius mulai bertanya kepada Mang Yusuf tentang lelaki yang sering dia lihat mengantar Acha pulang.
Mang Yusuf menjawab apa yang dia tahu, dia mengetahui bahwa Yogi adalah pacar Acha sejak dia di bangku SMA. Mereka sekolah di sekolah yang sama dengan Adeline. Yogi juga termasuk dari keluarga terpandang.
"Maaf, maaf, nih, ya, Mang. Apa dia tahu kalau Acha anak ART?" tanya Eligius. "Bukan, apa-apa, sih, Mang. Takutnya keluarganya nggak terima." Sambung Eligius. Lalu dia mengepulkan asap rokok ke udara.
"Kamu suka sama dia El?"
Eligius hanya merespon dengan lirikan.
"Entahlah." Eligius menyahut sesingkat itu lalu dia berdiri dan meninggalkan Mang Yusuf sendirian.
"Woy, kumaha atuh, kok saya ditinggal sendiri," teriak Mang Yusuf saat ditinggalkan Eligius sendirian di taman depan rumah.
__ADS_1
"Ngantuk saya, Mang."
Eligius langsung menuju kamar melalui pintu samping. Kamar Eligius dan ajudan yang lain terletak di lantai satu. Mereka menempati satu kamar satu orang. Sehingga setiap ajudan terjaga privacy-nya.
Entah apa yang ada di pikiran Eligius saat itu. Satu tangan, dia letakkan di kening. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk.
"El, sudah tidur?"
Ternyata itu suara Ibu Fenita. Eligius langsung terperanjat dan bergegas membuka pintu.
"Siap. Belum, Bu," ucap Eligius bersamaan dengan dibukanya pintu kamar. "Ada apa,Bu?"
"Sudah larut malam, kenapa Adeline belum pulang juga. Saya takut papinya tau," jari jemari Ibu Fenita saling meremas. Seperti itulah jika wanita berusia berkepala empat ini sedang panik.
"Bukannya Ibu yang mengizinkan dia pergi tanpa saya?"
"Iya, saya tahu, saya salah. Bisa kamu tolong saya cari dimana Adeline?"
"Baik, Bu. Tunggu sebentar." Eligius mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi untuk melacak posisi seseorang melalui nomor ponsel yang mereka gunakan.
"Saya tahu, Bu," ujar Eligius, dia langsung mengambil kunci mobil yang biasa dia pakai.
Tengah malam menyisiri jalan raya demi mencari tuan putri yang hobinya dugem. Eligius memasuki diskotik yang posisinya tidak akan terlihat oleh luar. Sebuah restoran yang diciptakan hanya sebagai kedok.
Pada restoran barat tersebut ada sebuah lorong panjang dan ruangan yang bertuliskan "toilet". Jika kita yang tidak mengetahuinya, tentu mengira itu toilet biasa. Sebenarnya itu bukanlah toilet sesungguhnya, itu hanya pintu masuk menuju diskotik.
Asap rokok sudah membuat mata perih, belum lagi aroma alkohol yang menyeruak menyusul ke hidung. Mata Eligius dengan jeli mencari-cari keberadaan Adeline.
"Eh, ada bodyguard ganteng. Cari Adeline, ya?" Seorang wanita yang setengah mabuk menghampiri Eligius. Sepertinya itu teman Adeline yang telah mengenal dia.
"Dimana dia?"
Wanita itu menunjuk ke arah tengah ruangan, ternyata Adeline sedang berjoget dengan beberapa teman-teman wanita dan pria. Eligius membuka jaket yang dia kenakan lalu dia tutupkan ke tubuh Adeline yang saat itu atasannya hanya tinggal BH.
"Apaan, sih?" rengek Adeline ketika Eligius membopongnya secara paksa.
"Mbak pakai inex, ya?" Eligius menyebutkan salah satu nama narkoba yang efeknya menimbulkan pusing jika tubuh tidak dibawa goyang.
Maka dari itu, narkoba jenis ini yang banyak dikonsumsi di diskotik. Dentuman musik membuat mereka bergoyang dan merasakan sensasi yang luar biasa.
Baru saja sampai di dalam rumah, Adeline muntah di lantai. Pukul tiga dini hari, ibu Fenita membangunkan Sartika. Sartika tidak terbangun, yang bangun hanya Acha. Acha lah yang diperintah membersihkan muntahan Adeline. Mata yang masih perih segara diguyur air dingin agar bisa terbuka lebar.
Eligius membantu Acha mengangkat ember berisi air yang ditambah cairan pembersih lantai.
"Kamu duduk aja! Biar Abang yang bersihkan," perintah Eligius.
__ADS_1
Namun, Acha menolaknya. Dia tidak mau merepotkan Eligius. Benar dugaan Acha, Eligius sudah tertidur di sofa dengan posisi duduk.