Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 19


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan 


Bab 19


"Kalau dia mengancam keselamatan keluarga kamu bagaimana? Ibumu misalnya?"


Eligius langsung terdiam. Ya, dia masih punya ibu yang sudah tua. Kini tinggal di kampung bersama adik-adiknya. Eligius setiap bulan hanya mengirim uang untuk biaya hidup ibunya.


"Bapak Malvyn, kamu tahukan dia bagaimana?" Kembali Mang Yusuf bersuara. "Saya saja, kalau boleh mengulang waktu tidak ingin kerja di sini. Di sini kita harus mau ikut perintah dia. Walaupun gaji di sini sangat besar tapi, kita seperti boneka mereka," sambung Mang Yusuf.


Eligius masih saja duduk di teras samping sedangkan Mang Yusuf sudah pergi entah kemana. Ada yang beda dengan sore ini, tidak ada Acha yang membuat Eligius tertawa dengan tingkah konyolnya.


"Anak yang malang," gumam Eligius saat melihat foto Acha yang diambilnya secara diam-diam.


Dari sudut mata Eligius melihat ada yang berjalan mendekatinya. Setelah dia melirik ternyata Adeline.


"Siapa suruh menolak, sekarang terima sendiri resikonya." Adeline tertawa.


"Dasar iblis," upat Eligius.


Sepertinya Adeline tidak peduli, dia tetap saja tertawa karena dia sudah merasa menang. Memiliki Eligius bukan lagi hal yang sulit. 


Sekali tepuk, dua lalat mati. Acha sudah pergi dan Eligius sudah ada dalam genggamannya.


Adeline tertawa penuh kemenangan meninggalkan Eligius yang memandangnya sinis. 


Malam harinya Eligius memberanikan diri untuk menemui Bapak Malvyn. Dia tidak setuju jika harus menikahi Adeline sedangkan dia tidak pernah sedikitpun menyentuh Adeline.


Bapak Malvyn yang sedang duduk sendiri di dalam ruang kerja menanggapi keberatan Eligius dengan acuh. 


"Saya tahu itu," ujar Bapak Malvyn dan sesekali dia menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.


"Lalu kenapa saya dipaksa menikah dengan No nAdeline?" Terdengar jelas bahwa nada bicara Eligius seperti orang sedang kesal.


"Apa kamu lupa janji setia saat bergabung dengan saya?" Bapak Malvyn menyunggingkan senyumnya. "Saya akan menyingkirkan siapa saja yang menjadi penghalang." Kembali Bapak Malvyn menghembuskan asap rokok. Kali ini ke wajah Eligius. "Termasuk Acha."


Eligius yang tadinya menunduk, kini langsung menegakkan kepalanya saat nama Acha disebut. 


"Kamu tidak mau terjadi apa-apa sama anak itu, bukan?" Bapak Malvyn seolah mengancam dengan menggunakan majas.

__ADS_1


Eligius semakin kesal mendengarnya. Tanpa basa-basi Eligius keluar ruangan kerja lalu dia keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Malam ini dia ingin keluar dari rumah itu. Ternyata dia sudah salah .mengambil langkah. 


Sepeda motor terus melaju hingga batas kota. Di sana dia berhenti menikmati sunyinya malam. Seketika dia teringat akan Acha yang tidak ada mengirim kabar dari tadi. seharusnya Acha sudah sampai. 


"Ah!" Eligius mengacak rambutnya. 


Kapan dia bisa bahagia menjalani pernikahan jika seperti ini. Eligius rebahkan tubuhnya di atas motor. Pandangannya lurus ke atas seolah dia sedang berusaha menghitung jumlah bintang.


Ponsel yang berada di saku jaket kulit hitam yang saat ini digunakan bergetar. Dengan malas Eligius merogoh saku jaket tersebut, dalam pikirannya pasti pesan dari Bapak Malvyn kalau tidak, Nona Adeline.


Setelah ponsel berada di tangannya, Eligius langsung terbangun. Ternyata pesan dari Acha. Acha meminta bantuan Eligius untuk menyampaikan kepada Sartika bahwa dia sudah sampai di kampung.


[Kenapa tidak sampaikan sendiri?] Balas Eligius.


Dia sebenarnya sengaja mencari alasan untuk berkirim pesan kepada wanita yang telah satu tahun ada di hatinya.


[Ponsel mamak, nggak aktif, Kak.] 


Akhirnya mereka berbalas pesan juga walaupun tidak lama karena Acha sudah mengantuk. Eligius pun meneruskan perjalanan ke sebuah perumahan yang letaknya cukup jauh. Dia ingin bermalam di rumah itu saja. Rumah pribadi miliknya.


Sementara di tempat yang cukup jauh, Acha masih terjaga. Alasannya saja yang mengatakan dia mengantuk. Saat itu dia mendapat telepon dari Adeline agar Acha jangan bermain-main dengan pewaris tunggal tersebut. 


[Saya tidak punya hubungan apa2 dengan Kak El.] Balas Acha.


[Maling mana ada ngaku.] Begitulah jawaban dari Adeline.


Daripada mencari masalah dengan keluarga mereka, Acha putuskan untuk tidak kembali lagi ke kota. Biarlah dia tinggal di kampung dan mencari pekerjaan di sini.


Rumah yang dulu hangat, kini sepi. Hanya kenangan nenek dan kakek yang masih jelas di benak Acha.


"Assalamualaikum …"


Acha terkejut ada suara orang mengucap salam dari luar rumah. Acha langsung mengambil ponselnya dan melihat jam di ponsel tersebut.


"Siapa yang bertamu jam sepuluh malam gini?" gumam Acha dalam hatinya.


Acha tidak berani langsung menyahutnya. Pelan-pelan dia keluar kamar. Dia hendak mengintip dari balik jendela.


"Assalamualaikum …. Acha, Mbah dengar dari orang-orang kamu pulang." 

__ADS_1


Acha sudah tidak hafal lagi dengan suara siapa karena sudah cukup lama dia pergi dari kampung ini.


Acha yang semakin penasaran mulai mengintip dari balik jendela. Ternyata "Mbah kades" begitu selama ini Acha memanggilnya.


"Waalaikumsalam, Mbah." Segera Acha membuka pintu.


Acha mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan Mbah kades.


"Rumah ini masih berdebu, nginap di rumah Mbah saja dulu!" 


Acha melihat ke sekeliling rumahnya. Memang iya, rumah ini memang sangat berdebu. Tadi sore saat baru nyampai Acha hanya membersihkan bagian kamarnya saja.


"Ayolah, Cu. Mbah juga udah kangen sama kamu," ujar Mbah kades.


Akhirnya Acha menyetujui ajakan beliau. Dulu saat tinggal di kampung, Mbah kades sudah Acha anggap sebagai nenek kedua. Beliau sangat baik kepadanya, mau itu suaminya atau istrinya. Perhatian mereka juga berlebih kepada Acha. Kata nenek, beliau juga sangat peduli sama mamak.


"Acha ambil baju tidur dulu," jawab Acha


Mereka menggunakan sepeda motor menuju rumah mbah kades. Keadaan kampung sekarang sudah jauh berbeda, kampung sekarang sudah terang benderang.


Sekarang beliau hanya tinggal bersama Om Om Bayu. Suami beliau sudah dua tahun ini meninggal. Hanya sekitar lima belas menit perjalanan kami pun sampai di rumahnya. Rumah yang dulu paling cantik di kampung ini.


"Kapan balik, Cha?" sapa Om Bayu saat pertama melihatku.


"Tadi sore, Om. Om apa kabar? Kabarnya sudah nikah, ya?" 


"Alhamdulillah sudah dan sudah punya anak satu usia satu tahun."


Om Bayu seumuran dengan Sartika, mungkin karena kejadian itu sehingga disaat usia mamak baru empat puluh tahun dia sudah punya anak berusia dua puluh dua tahun.


"Siapa, Mas?" Seorang wanita cantik keluar dari dalam kamar.


"Cucu angkat ibu," sahut Om Bayu.


Acha pun menyapa dan mengulurkan tangan.


"Kok mirip kamu, ya, Mas?"


Entah kaget mendengar ucapan istrinya, om Bayu tiba-tiba terbatuk-batuk 

__ADS_1


"Yuk ke dalam dulu! Ngobrol di meja makan sepertinya lebih enak," ajak Mbah kades. "Kamu belum makan, kan, Cha?" 


__ADS_2