
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 14
Di depan pintu dapur yang menghubungkan dapur dan ruang makan, Acha berdiri memandangi kegembiraan mereka yang datang.
"Beruntungnya jadi Nona Adeline. Aku, jangankan syukuran. Foto wisuda saja nggak ada," gumam Acha di dalam hati.
"Kenapa melamun?" Eligius menepuk pundak Acha.
"Iri saja." Jawab Acha singkat.
"Eh, lihat, dong, foto-foto wisuda kamu," ujar Eligius.
Acha tersenyum kecut. "Nggak ada."
Eligius terkejut mendengarnya. Acara segitu penting bisa-bisanya tidak ada dokumentasi.
"Saat prosesi wisuda sudah mulai buat suasana hati nggak enak, Bang. Jadi sudah malas untuk berfoto." Acha pergi ke dapur dan memilih duduk di sana sampai dia dibutuhkan oleh keluarga yang sedang berpesta ini.
Pesta keluarga tersebut berakhir hingga larut malam. Sampah dan piring kotor berserakan di mana-mana. Para asisten rumah tangga dan para ajudan lah yang bekerja sama membersihkannya.
Hinggap pukul tiga dini hari barulah para asisten rumah tangga tersebut bisa meluruskan pinggang. Mengeluh? Tentu tidak karena keluarga ini bukan termasuk keluarga yang pelit. Jika para asisten rumah tangga bekerja melebihi jam kerja yang telah disepakati mereka akan diberi uang tambahan. Ibarat kalau di perusahaan itu disebut uang lembur.
Dua hari setelah hari wisuda, Acha pamit kepada Sartika untuk mengembalikan baju kebaya yang dia sewa. Sartika mengizinkan asal semua pekerjaan beres.
"Sama Yogi?" tanya Sartika.
"Naik busway aja, Mak."
"Kenapa tidak sama dia. Wajar, toh, minta antar dia. Kalian, kan, ada hubungan."
Acha memilih tidak menjawab, dia asik saja dengan tumpukan kain kotor di hadapannya. Hanya saja Acha tidak ingin terlalu bergantung kepada Yogi.
Sebelum makan siang pekerjaan Acha selesai. Acha berpamitan kepada Sartika. Karena tidak ada lagi alasan untuk melarang Acha, akhirnya Sartika mengizinkan.
Sartika hanya takut Acha akan diantar Eligius. Untuk melarang Eligius secara langsung agar tidak mendekati Acha, Sartika tidak punya nyali.
Ternyata memang Eligius dan Adeline telah keluar rumah dari pagi. Acha minta diantarkan ke rumah temannya dan tidak perlu ditunggu.
Saat Acha sedang berdiri di halte menunggu bis, Eligius melihatnya dari dalam mobil. Karena belum ada bus yang berhenti. Eligius mendekati Acha dan bertanya hendak kemana.
"Abang antar, ya?"
"Bisa sendiri,"
__ADS_1
"Ayolah!" Eligius sedikit memaksa.
"Naik ini?" Acha menunjuk mobil yang Eligius kendarai. "Nggak, lah, Bang. Entar Nona Adeline marah."
Sepertinya Eligius sedang berpikir. Setelah itu dia turun dan menarik tangan Acha. "Sudah masuk aja!"
"Ih, om-om nyulik anak gadis orang," celetuk Acha.
Eligius hanya tertawa mendengar celotehan Acha.
Mobil melaju ke arah tempat penyewaan baju yang Acha sebutkan. Ternyata terdiri dari salon dan foto studio. Langsung Eligius teringat akan perkataan Acha yang dia tidak ada foto wisuda.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu." Sambut pelayan toko saat pintu didorong Eligius ke dalam.
"Saya mau foto wisuda. Tapi dia cuma bawa kebaya. Bisa, kan, foto wisuda tanpa toga?" ucap Eligius.
Pelayan toko mengatakan, tentu sangat bisa karena di studio foto mereka juga dilengkapi dengan peralatan wisuda seperti tabung DNA bahkan baju toga pada umumnya.
Acha menarik tangan Eligius sehingga Eligius mundur beberapa langkah.
"Apa-apaan, sih, Bang?" Suara Acha sedikit berbisik.
"Udah tenang aja. Biar kamu ada foto wisuda," jawab Eligius santai.
Belum selesai Acha berdebat, pelayan toko tersebut mengajak Acha ke ruang make up, untuk didandani.
Pemotretan pun berlangsung, walaupun Acha sedikit kaku saat di foto, karena memang dia sangat jarang berfoto walaupun sudah memiliki ponsel berkamera.
"Bang, yuk sekalian foto!" fotografer mengajak Eligius untuk berpose bersama Acha.
"Nggak usah, lah, Bang." Eligius berpura-pura menolak walaupun dia sebenarnya senang.
Sedangkan Acha hanya diam.
"Ayuk, lah." Asisten fotografer sedikit menarik Eligius agar dia bergerak.
Dengan judul dipaksa walaupun hati senang, Eligius berpose bersama Acha.
Eligius duduk di sebuah sofa yang berukuran untuk satu orang sedangkan Acha disuruh untuk duduk pada tangan-tangan sofa tersebut. Cukup satu pose saja dan sesi pemotretan selesai.
Eligius memilih-milih foto mana yang akan dicetak, sementara Acha hanya diam saja. Ketika foto berdua tadi, jantung Acha berdetak tidak tentu. Dia juga bingung itu kenapa. Akan tetapi, dia merasa nyaman.
"Yuk pulang." Eligius mengajak Acha yang masih melamun.
Eligius menepuk pundaknya. "Kenapa? Masih kepikiran karena foto sama cowok ganteng?"
__ADS_1
Mendengar gurauan Eligius Acha tertawa dan menepuk bahu Eligius sesuka hatinya. "Ke PD an."
Mereka meninggalkan salon dan studio sambil tertawa-tawa..
Eligius mengajak Acha makan siang, karena perutnya sudah lapar.
"Kamu lapar, nggak?" tanya Eligius di dalam mobil.
"Lapar, lah, Bang."
"Kirain sudah kenyang karena jalan sama orang ganteng," candaan Eligius.
Acha pun menjawab. Hidup butuh makan bukan sekedar melihat orang lain ganteng langsung kenyang.
Sudah pukul empat sore mereka pergi berdua. Acha merasa aman dan nyaman bersama Eligius. Saat itu ponsel Acha berdering ternyata panggilan dari Yogi. Acha terlihat salah tingkah lalu dia melirik ke arah Eligius.
"Jawab saja!" suruh Eligius.
Selama Acha menjawab panggilan telepon, Eligius berusaha tidak mengeluarkan suara apapun.
"Apa?" Acha sedikit terkejut. Membuat Eligius langsung menoleh.
"Oh iya, besok malam, kan? nanti Acha kasih tahu mamak dulu." Sambung Acha.
Dan telepon dimatikan.
Eligius penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Akan tetapi Acha tidak ingin memberitahunya.
"Abang kepo, ya?" ledek Acha
"Saya harus tahu, loh. Apa lagi kita tinggal di rumah yang sama. Terjadi apa-apa sama kamu, pasti satu rumah dimintai keterangan. Apalagi hari ini kita jalan berdua." Eligius memberi alasan yang cukup dibuat-buat agar Acha bersedia menceritakan pembicaraannya tadi.
"Yogi dan keluarganya besok malam mau ketemu mamak," ucap Acha.
"Kenapa?" Eligius berusaha tetap cool walaupun dia sudah tahu maksudnya.
Seorang laki-laki datang kerumah perempuan dengan membawa keluarganya apalagi kalau bukan ingin melamar.
"Mau melamar Acha," sahut Acha datar.
"Lah, ini anak sakit jiwa kali, ya. Orang mau dilamar itu senang, dia malah datar aja ekspresinya" celetuk Eligius.
"Acha bingung, Bang. Nanti mereka diterima di ruang yang mana? Sementara kami cuma pembantu di rumah itu."
"Udah tenang aja, pakai ruang samping aja. Yang jarang dipakai. Nanti saya bantu bicara sama ibu dan bapak. Untuk besok malam, kan?"
__ADS_1
Acha mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya, Eligius sudah tidak merasa lapar lagi. Akan tetapi, ada Acha yang harus diisi perutnya. Eligius berpura-pura bersikap biasa saja walaupun hatinya sedikit tergores. Belum sempat dia mengatakan cinta, orang yang dia cintai setahun ini malah akan menikah dengan pria lain.