Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 21


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan


Bab 21


[Kamu jangan gegabah, ya, Cha! Kakak tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Tunggu kakak!]


Acha membaca pesan yang baru saja dikirim Eligius ke ponselnya..


Akhirnya terdengar suara orang mengaji dari masjid yang terletak di ujung kampung. Acha menarik nafas lega, akhirnya dia bisa segera kembali ke rumah nenek.


Semalaman dia tidak ada tidur. Tubuhnya sudah tidak lagi merasa lelah. Dia harus berpura-pura tidak mengetahui apa pun.


Acha berusaha bersikap biasa saja, saat dia mendengar adanya aktivitas di dapur, Acha keluar kamar dan menuju dapur. Ternyata Buk Kades sedang sibuk membuat sarapan bersama istri Om Bayu.


"Eh, sudah bangun, Cha?" sapa Buk Kades saat melihat Acha di dapur.


"Acha nggak bisa tidur, Mbah." Acha mencuci sayuran yang sudah dibersihkan oleh istri Om Bayu. "Mbah, nanti Acha ke rumah nenek, ya. Mau bersih-bersihkan rumah," sambung Acha.


"Biar diantar Om Bayu!" 


Acha tidak menjawab tetapi, saat itu istri Om Bayu langsung batuk. Seolah dia tidak suka dengan saran Buk Kades.


"Acha jalan kaki aja, Mbah. Sudah rindu juga dengan suasana kampung."


"Baiklah, kalau kamu maunya begitu."


Pukul tujuh pagi Acha selesai membantu mencuci piring bekas mereka sarapan, dia langsung berpamitan pulang. Acha tetap memilih untuk berjalan kaki. Menikmati udara kampung yang masih segar dan bertegur sapa dengan para masyarakat di sana.


Mereka seolah sudah melupakan kejadian dual puluh lima tahun lalu. Yang dulunya memandang Acha sinis, kini sudah sangat ramah.


Berkali-kali Acha mengecek ponselnya ternyata belum juga ada kabar dari Eligius. Semoga saja perjalanan Eligius diberi kelancaran.


Acha tiba di rumah masa kecilnya, dia mulai mengambil kain-kain jelek yang dia pakai untuk mengelap debu yang sudah menempel sangat tebal. Sedang sibuk menarik-narik kursi usang, Acha dikejutkan dengan sosok pria tinggi berdiri di depan pintu.


"Kak El," sorak Acha senang. "Kok bisa tahu?"


"Itu gunanya mulut. Bisa bertanya-tanya. Kakak masuk, ya?" 


Acha memberi izin Eligius masuk dan membantu. Hampir satu jam Acha dan Eligius baru menyelesaikan ruang tamu saja.


"Penat, Kak," ucap Acha dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan.


"Nggak ada air minum, gitu, Cha?" sindir Eligius lalu tertawa.


Acha berdiri dan mengambil air yang sudah dimasak saat pertama sampai di rumah. Dapur dan kamar sudah pertama kali Acha bersihkan.


"Kakak, bisa sampai di sini apa nggak tau Nona Adeline?" tanya Acha memecah keheningan rumah.

__ADS_1


"Mereka tidak tahu kakak pergi."


"Nanti mereka bisa marah besar, Kak."


"Kakak lelah, Cha."


"Tapi, ini semua pilihan Kakak."


Eligius menoleh ke arah Acha dan menyunggingkan senyumnya.


"Jadi sekarang bagaimana? Apa yang akan Acha lakukan?" tanya Eligius. "Apa Acha ingin menanyakannya langsung?" 


"Menurut kakak bagaimana? Apa itu harus?" Acha kembali bertanya. "Acha takut istri Om Bayu tahu dan merusak rumah tangga mereka." 


"Jadi?" 


"Nggak usah ditanyakan, yang penting Acha sudah tau," Acha menjawab dengan polos.


"Ya ampun, Cha! Kalau gitu kenapa kamu suruh saya jauh-jauh ke sini?" Eligius tampak kesal.


Acha menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. Seperti kebiasaan dia kalau salah tingkah.


"Mana ada acha suruh Kakak kemari. Kakak yang mau ke sini," seloroh Acha.


Saat mereka sedang beristirahat datanglah Buk Kades dan anaknya–Bayu mengantarkan makan siang. Mereka terkejut melihat Eligius.


"Teman Acha," sahut Acha spontan.


"Kamu jangan bawa teman laki-laki sembarangan, Cha. Tidak semua laki-laki itu baik," ujar Bu Kades.


Acha yang emosinya belum bisa dikendalikan sepenuhnya langsung saja mengatakan. "Salah satunya anak Omah–Om Bayu."


"Acha!" Eligius mencoba menghentikan Acha.


"Sudahlah, Kak. Sudah terlanjur," bantah Acha.


"Maksud kamu apa, Cha?" Bu Kades mulai salah tingkah, keringat tampak mengalir di keningnya.


"Mbah pandai mengingatkan Acha bahwa tidak semua laki-laki baik tetapi, apa Mbah pernah mengatakan kepada anak Mbah agar menjadi laki-laki baik?" Acha menarik nafas. Dadanya sudah mulai merasa sesak.


"Acha sudah tau semuanya. Dia, laki-laki yang Acha panggil Om. Ternyata dia ayah Acha, orang yang sudah menghancurkan masa depan mamak." Acha sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. 


Saat Buk Kades ingin memegang tangannya, Acha langsung menepis tangan itu. "Pantas selama ini hanya keluarga kalian yang baik pada mamak. Ternyata anak kalian yang melakukannya." Acha sudah tidak lagi sopan.


"Kenapa? Takut nama baik kalian tercoreng? Lalu membiarkan orang susah seperti kakek dan nenek mananggung malu?" 


"Acha sudahlah!" Suara Eligius terdengar sangat lembut dan dia mencoba merangkul Acha.

__ADS_1


"Mbah minta maaf, Cha," Bu Kades pun ikut menangis mengingat kesalahan dia dan anaknya.


"Lebih baik, tinggalkan saja Acha sendiri dulu, Buk! Biar dia sedikit tenang." Eligius mencoba memberi saran.


Buk Kades mengikuti saran Eligius. Dia meninggalkan rantang makanan lalu pergi. 


Kini Eligius berusaha menenangkan Acha, kini Acha berada dalam pelukan Eligius dengan tangis terisak-isaknya.


Saat Eligius menikmati suasana seperti ini, sebuah panggilan telepon masuk ke  ponsel Eligius. Acha tersadar dan melepaskan pelukan tersebut.


Ternyata panggilan dari ibunya Eligius. "Kakak angkat telepon ibu dulu." Eligius berjalan keluar rumah, seolah tidak ingin Acha mendengarnya.


"Hallo ada apa, Bu?" Eligius menjawab panggilan.


Ibunya langsung saja ke inti pembicaraan. Beliau mengatakan ada empat orang laki-laki berpakaian serba hitam mencari Eligius. 


"Siapa dia, Nak?" tanya Eligius di ujung sana.


Eligius berbohong dan mengatakan itu teman kerjanya. Karena sudah dua hari Eligius tidak masuk kerja. Sebenarnya Eligius tahu bahwa itu orang suruhan Bapak Malvyn.


Setelah menutup panggilan, Eligius kembali mendatangi Acha yang wajahnya terlihat lebih menarik dengan wajah sembabnya.


"Makan, yuk, Cha! Kakak lapar." Eligius langsung mengalihkan pembicaraan agar Acha tidak bertanya kenapa menjawab panggilan telepon harus jauh.


"Makan apa?" Acha terlihat heran.


Sambil tersenyum Eligius menunjuk rantang tiga tingkat yang terletak di atas meja.


"Udah makan aja, yuk! Habis ini kita kembalikan rantangnya!" ajak Eligius.


"Acha malu. Sudah marah-marah," bisik Acha.


"Beliau pasti mengerti. Sudah tidak apa-apa, sekalian minta maaf. Kakak pun harus pulang."


"Kak Acha ikut pulang aja, ya?"


Eligius mengangguk, ini yang dia tunggu-tunggu, Acha kembali. Sehingga dia bisa setiap hari melihat gadis bertubuh mungil ini.


"Apa Kakak beneran mau menikah dengan No Adeline?" Tiba-tiba Acha bertanya di saat mereka makan.


Eligius menatap Acha penuh arti. Ada tatapan cinta di dalamnya.


"Kakak, kan tidak memperkosa dia. Jika dia hamil, itu kesalahan dia yang begitu bebas," sambung Acha kembali.


"Jika hanya mengancam keselamatan Kakak, Kakak tidak peduli. Ini mereka menekan dengan ancaman orang-orang yang kakak sayang akan mereka lenyapkan." Akhirnya Eligius buka suara.


"Mau mereka bunuh?" 

__ADS_1


__ADS_2