Wanita Di Hati Sang Ajudan

Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 17


__ADS_3

Wanita di Hati Sang Ajudan


Bab 17


"Cha," panggil Eligius setelah temannya pergi.


"Kamu mendengarnya?" sambung Eligius.


"Dengar tapi, sepertinya bukan urusan Acha," sahut Acha lalu kembali menyeruput jus alpukat tersebut.


"Itu pernah menjadi teman satu sel dengan Abang waktu di penjara." Eligius mengutarakan tanpa ditanya.


"Abang pernah dipenjara?" Acha menanggapinya biasa saja. Tidak ada raut terkejut di wajahnya.


"Kasus apa?" 


"Membunuh."


"Membunuh?" Acha merubah posisi duduknya ke arah jam lima.


Eligius menceritakan malam berdarah itu. Saat dia pulang dinas, dia mendapati istri dan sahabatnya sedang bercinta. Di kamar dan ranjang yang sama. Entah setan apa yang merasukinya. Entah karena merasa jijik. Eligius menghujam tembakan ke kepala pasangan selingkuh istrinya. Lelaki itu tidak pantas disebut sahabat.


"Laki istri abang?" Acha terlihat penasaran. 


"Dia juga menyusul selingkuhannya."


"Abang bunuh juga?" Acha semakin penasaran.


"Apa mungkin saya sayang-sayang?"


Acha nyengir dilempar pertanyaan seperti itu.


Setelah kedua orang terdekat Eligius meregang nyawa di tangan Eligius, dia pergi menyerahkan diri ke kesatuannya. Komandan Eligius sempat tidak percaya. Pistol yang diberikan hanya untuk melindungi diri, malah itu yang membuat masa depan Eligius hancur.


Eligius diserahkan ke polisi, karena ini sudah ranah polisi menangani kasus pidana pembunuhan. Setelah melewati sidang kode etik, menghasilkan keputusan Eligius diberhentikan dari kesatuan–dia bukan lagi anggota Kopassus dan dipenjara dua belas tahun.


"Anak abang?" 


"Bersyukur saat itu kami tidak punya anak."


Mereka saling diam, hanya memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


"Sekarang apa kamu takut dengan saya?" tanya Eligius.


Dia menoleh dan menunggu jawaban dari Acha.


"Pantesan emosi Abang sering meledak-ledak. Jujur saja, Acha ngeri juga mendengar cerita Abang." 

__ADS_1


Eligius mengangguk paham, apa ini pertanda dia harus jaga jarak dengan Acha.


"Pulang yuk, Bang!" Acha menarik tangan Eligius. 


Lelaki dan wanita yang berbeda usia cukup jauh ini berjalan beriringan menikmati sore di kota yang penuh dengan polusi. Serta langit tampak begitu gelap, sepertinya sebentar lagi akan hujan deras.


Tidak ada raut kesedihan di wajah Acha, ada apa dengan Acha. Apa dia tidak benar-benar mencintai Yogi. Dia malah terlihat begitu nyaman berjalan bersama Eligius.


Belum jauh mereka melangkah, hujan deras langsung turun tanpa ada aba-aba seperti gerimis terlebih dahulu. Dengan sigap Eligius membuka jaket kulit yang dia pakai dan akan dijadikan pelindung dari hujan untuk mereka berdua sampai bertemu tempat untuk berteduh.


"Warung bakso," teriak Acha sambil menunjuk warung bakso yang ada di ujung jalan. 


Mereka berlari menuju warung bakso. 


Beberapa mata memandangi mereka. Eligius terlihat tidak nyaman. 


"Kamu tidak risih diliatin mereka?" tanya Eligius kepada Acha dengan suara sedikit berbisik.


"Bodo amat," jawab Acha cuek sambil menyuap pentol bakso ke mulutnya.


Acha mengatakan bahwa dia ingin pulang kampung sebentar, sudah lama dia tidak ke kuburan kakek dan nenek. 


"Mau saya antar?"


"Gila aja Abang. Bisa kena gorok Nona Adeline entar." 


Dari jendela kamar, Adeline melihat Eligius dan Acha berjalan bersama memasuki halaman rumah. Rasa cemburu membakar hati Adeline. Dia tidak suka melihat kedekatan Acha dan Eligius.


Eligius terlihat lebih santai jika bersama Acha, berbeda sekali saat dia bersama Adeline. Eligius memang menjaga batasan antara ajudan dan anak bos. Itu membuat Adeline bertambah iri. 


Dia tidak ingin Eligius direbut oleh Acha, dia mengatur siasat agar bisa menikah dengan Eligius dan memiliki Eligius seutuhnya. 


Malam itu keadaan rumah sepi, Bapak Malvyn dan ibu fenita juga belum pulang. Adeline memanggil Eligius di kamarnya. Saat itu Adeline memakai pakaian yang sangat tipis. Pakaian yang lebih pantas dipakai istri di depan suaminya.


"Ada apa nona?" Eligius berdiri di ambang pintu. 


Adeline mengatakan bahwa di kamar mandi ada kecoa.


Dalam hati Eligius berkata, mana mungkin ada kecoa di tempat yang bersih begini. Akan tetapi, Adeline tetap memaksa Eligius memeriksa kamar mandinya.


Akhirnya Eligius mengikuti titah sang putri ratu. Saat Eligius menuju kamar, Adeline mengunci pintu kamar, dia menyusul Eligius ke kamar mandi. 


Tanpa disangka, tubuh sintal Adeline langsung menempel di bagian belakang tubuh Eligius.


"Maaf Nona." Eligius melepaskan pelukan Adeline yang tidak seberapa.


"Tolonglah El! Puaskan aku sekali ini saja!" Adeline memelas karena dia sendiri sudah bernafsu dari tadi.

__ADS_1


"Maaf Nano." Eligius pun mencoba keluar dari kamar mandi.


Saat Eligius mencoba keluar dari kamar mandi, saat itu Adeline menarik baju bagian belakang. Akhirnya, baju yang bahan kaos itu pun memelar.


Dengan satu kali hentakan, Eligius dapat melepaskan tangan Adeline dan segera keluar. 


Liciknya Adeline, dia berteriak minta tolong sambil mengacak-acak rambut dan lipstik di bibirnya, seolah-olah dia memang hendak diperkosa.


"Ada apa, Non?" terdengar suara Mang Yusuf dari balik pintu.


Adeline makin keras berteriak. Sedangkan Eligius hanya berdiri pasrah menerima apa yang akan terjadi. 


Karena masih mendengar teriakan Adeline, Mang Yusuf membuka pintu dari luar dengan kunci cadangan.


"Telepon mama papa, Mang! Aku mau diperkosa Bang El." Adeline berakting dengan pura-pura menangis.


Di situ bukan hanya Mang Yusuf. Acha dan Sartika juga berlari menuju kamar karena mendengar teriakkan Adeline.


Acha melirik ke arah Eligius yang masih berdiri kaku. 


"Kurang ajar kamu, El!" bentak Sartika.


"Ibuk," rengek Adeline lalu memeluk Sartika.


"Kita tunggu saja ibu dan bapak pulang. Mereka lagi di perjalanan," gumam Mang Yusuf.


Tanpa ada perintah, Eligius duluan meninggalkan kamar. Saat Eligius melintas di depan Acha, Acha melihat ada sesuatu yang aneh. Akan tetapi, dia diam saja dulu.


Eligius duduk sendirian di bangku taman belakang sambil menghisap sebatang rokok. Acha membawakannya segelas air putih. Sebelum mengantarkan minum, dia melihat sekeliling. Acha takut dilihat oleh Sartika.


"Minum, Bang!" Segelas air putih Acha sodorkan.


Eligius mendongak dan gelas pun berpindah tangan. 


" Acha tinggal, ya, Bang. Nanti mamak lihat." Acha pun berlari masuk rumah.


Yang Eligius takutkan, Acha mempercayai sandiwara Adeline dan berpikir buruk tentang dia, apalagi Acha telah mengetahui masa lalu Eligius.


Eligius mutarkan pandangannya ke setiap sudut taman belakang tersebut. Hingga satu titik pandangannya berhenti. Eligius melihat ke arah jendela kamar Acha, dia melihat Acha berdiri di balik jendela sambil melihat ke arah Eligius duduk. Kini tatapan mereka saling beradu. 


Acha tersenyum lalu menutup kembali gorden kamar. Acha merasa nyaman bila dekat Eligius. Berbeda dengan yang dia rasakan saat menjalin hubungan dengan Yogi kemarin.


Dari dalam kamar, Acha mendengar suara Bapak Malvyn berteriak memanggil Eligius. Acha yang merasa takut sendiri. Suara itu begitu mengerikan. 


Acha yang masih berdiri di dekat jendela masih bisa mengintip keluar dan melihat ajudan Bapak Malvyn berlari tergopoh mendatangi Eligius yang masih duduk di tempat semula.


Sebelum Eligius melangkah, dia memandang lagi ke arah jendela kamar. Kali ini dia tidak melihat Acha karena Acha hanya mengintip dari celah-celah gorden.

__ADS_1


__ADS_2