
Wanita Di Hati Sang Ajudan
Bab 15
"Lah, ini anak sakit jiwa kali, ya. Orang mau dilamar itu senang, dia malah datar aja ekspresinya" celetuk Eligius.
"Acha bingung, Bang. Nanti mereka diterima di ruang yang mana? Sementara kami cuma pembantu di rumah itu."
"Udah tenang aja, pakai ruang samping aja. Yang jarang dipakai. Nanti saya bantu bicara sama ibu dan bapak. Untuk besok malam, kan?"
Acha mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya, Eligius sudah tidak merasa lapar lagi. Akan tetapi, ada Acha yang harus diisi perutnya. Eligius berpura-pura bersikap biasa saja walaupun hatinya sedikit tergores. Belum sempat dia mengatakan cinta, orang yang dia cintai setahun ini malah akan menikah dengan pria lain.
Ketika mereka berhenti di tempat makan, Eligius menyerahkan hasil foto tadi kepada Acha. Acha begitu antusias menerima lalu membukanya. Melihat satu persatu hasil foto tersebut.
"Cantik banget cewek dalam foto ini," gumam Acha seolah-olah dia sedang membicarakan orang lain.
Reflek tangan Eligius mendorong pelan kening Acha. "Sadar, sadar! Tidurnya kurang miring maka mimpinya ketinggian."
"Selagi memuji diri sendiri itu masih ngartis, lakukanlah!" sahut Acha penuh semangat.
Acha terlihat mencari-cari sesuatu. Berkali-kali dia melihat bagian dalam paper bag tempat foto-foto tersebut.
"Bang, foto kita berdua tadi nggak Abang cetak, ya?" Akhirnya Acha bertanya juga.
"Nggak." Eligius asyik mengunyah kerupuk yang ada di depannya.
"Bagus, deh. Entar dilihat mamak bisa …."
Acha menghentikan ucapannya dan kebetulan makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Bisa apa?" tanya Eligius penasaran.
__ADS_1
"Bisa … makan sekarang keburu dingin." Acha mencoba mengalihkan pembahasan. Tidak mungkin dia menceritakan perlakuan buruk Sartika kepada orang lain.
Sedang asik makan, ponsel Eligius berdering, setelah dilihat panggilan video call dari Adeline. Acha yang melihat itu, sedikit menjauhkan tempat duduknya. Acha pun merasa takut seandainya Adeline tahu dia sedang bersama Eligius bisa habis dia dimarahi Sartika nanti malam setelah semua orang tidur.
Eligius melihat ke arah Acha, Acha meletakkan jari telunjuk di bibir lalu menggerakkan tangan seolah memberi isyarat agar dia tidak mengatakan sedang bersama Acha.
Eligius mengatakan bahwa dia sedang makan di sebuah warung. Ternyata Adeline menghubungi Eligius untuk meminta jemput.
Setelah panggilan video dimatikan, Acha menyuruh Eligius segera menjemput Adeline. Sementara dia bisa pulang sendiri menggunakan busway.
"Saya antar aja, ya?"
"Nggak usah, Bang. Nggak enak juga kalau ada yang lihat," tolak Acha yang mulai takut.
"Kalo gitu, saya berangkat dulu. Kamu habiskan aja makanannya." Eligius berdiri. "Ada yang mau dipesan lagi? Biar sekalian saya bayar," lanjut Eligius sebelum dia meninggalkan meja.
Acha menjawab tidak ada, semua yang di atas meja dia rasa sudah cukup untuk dia habiskan sendiri.
Malam harinya, Acha mencoba berbicara kepada Sartika tentang rencana keluarga Yogi yang akan datang bersilaturahmi besok malam. Mendengar kabar tersebut, Sartika terlihat sangat senang.
Dia langsung menuju ruang tengah, dimana sedang duduk Bapak Malvyn, Ibu Sartika, Adeline dan beberapa ajudan mereka. Bersenda gurau, tawanya saja terdengar hingga dapur.
Sartika memberanikan diri mengatakannya, dia juga meminjam ruangan untuk menyambut tamunya.
"Wah, selamat, ya." Adeline mengulurkan tangan tetapi, mata Adeline melirik ke arah Eligius duduk.
"Terima kasih, Non." Acha menyambut uluran tangan Adeline.
Tepat seperti yang dia katakan tadi siang, ruang samping yang akan mereka gunakan untuk menyambut kedatangan tamu spesial besok malam.
Setelah di kamar Sartika mengajari Acha supaya tidak mengatakan yang sejujurnya mengenai ayahnya.
"Katakan saja bahwa ayah kamu sudah meninggal sejak kamu dalam kandungan. Mamak nggak mau, kejadian seperti waktu wisuda terulang lagi. Hanya kamu yang tidak disebut nama ayahnya."
__ADS_1
"Mak, nggak semudah itu. Menikah seandainya bapak Acha meninggal, Acha harus menggunakan saudara laki-laki bapak. Sementara Acha nggak tahu bapak Acha siapa."
"Saat menikah semua bisa diatur, kamu bisa menikah menggunakan wali hakim."
Semua yang diperintah Sartika sangat bertolak dengan pikiran Acha. Acha tidak mau memulai hubungan dengan kebohongan. Akan tetapi, siapa yang akan terima jika mereka tahu Acha anak dari hasil pemerkosaan.
Malas memikirkan itu, "apa yang akan terjadi, ya, terjadilah."
Acha naik ke tempat tidur dan mencoba memejamkan mata yang sudah mulai mengantuk.
Di kamar berbeda Eligius berbaring dengan menumpuk dua bantal sekaligus. Dia merogoh saku di bagian dalam jaket berwarna hitam yang masih dia kenakan.
Eligius mengambil kertas selembar dan tersenyum melihatnya. Ternyata diam-diam Eligius mengambil foto tadi siang.
Foto mereka berdua sebenarnya ikut dicetak. Akan tetapi, Eligius malu mengakuinya sehingga diam-diam dia mengambil cetakkan foto tersebut.
Memiliki rasa yang aneh saat bertemu wanita setelah sekian tahun mati rasa, ya, itu saat pertama kali melihat Acha. Eligius menyukai tatapan mata Acha sejak pertama kali melihatnya. Bayangan masa lalu membuatnya tidak berani mengungkapkan rasa sehingga setahun berlalu begitu saja.
Kembali Eligius menyimpan foto ke dalam saku bagian dalam jaketnya. Lalu jaket itu dia buka dan digantungnya pada kepala tempat tidur. Mengurangi jumlah bantal dan berusaha memejamkan mata untuk tidur lebih awal.
Eligius sudah lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak. Bertahun-tahun tidur hanya beralaskan kasur tipis selembar membuat dia tidak tahu lagi artinya tidur. Setiap saat harus tetap siaga walaupun dalam kondisi tidur.
Ditempah selayaknya hewan penjaga begitu kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang Eligius lalui beberapa tahun kebelakang.
Hingga pukul dua, Eligius belum juga bisa terpejam. Dia memutuskan keluar kamar. Duduk di pinggir kolam renang sambil mengisap beberapa batang rokok. Asap putih mengepul di sunyinya malam.
Entah kenapa hatinya terasa sangat kosong malam ini, padahal tidak ada bedanya malam ini dan malam sebelumnya. Semua dia lalui sama saja. Hanya malam inilah dia merasa benar-benar kosong, sendiri.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, Eligius mengeluarkan ponsel dari saku celana. Saat membuka kunci layar, Eligius melihat tanggal yang tertera pada layar. Ternyata sekarang tanggal yang sama dimana di tanggal ini dia melihat sebuah pengkhianatan.
Pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Sakit? Tentu saja sakit. Hingga emosi amarah tidak bisa dikontrol dengan baik. Terjadilah tragedi berdarah di hari itu juga. Dua orang pengkhianat bersimbah darah.
Saat itulah Eligius berubah menjadi sosok dingin. Jiwanya terguncang, hatinya hancur. Hingga tidak ada lagi rasa penyesalan di dirinya.
__ADS_1