
Jay menaikkan sudut mulutnya ketika melihat nama sang istri di aplikasi obrolan.
[Sayang, jangan telat pulang malam ini. Ingat, kan, hari ini hari apa?]
[Iya, Sayang. Jangan lupa hadiah untukku.]
Ya, hari ini, Jay Wijaya merayakan ulang tahun yang ke dua puluh lima. Tahun ini juga, pertama kalinya Jay akan merayakan hari lahir dengan Melinda setelah mereka menikah. Karena itu, Jay menolak pesta yang akan diadakan jajaran direksi di perusahaan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Jay menepikan mobil di depan toko bunga langganan. Gadis penjaga toko yang biasa melayani itu, langsung mengambil bunga yang sama setiap hari dibeli Jay untuk istrinya. Karena hatinya sedang senang, Jay memberi tips banyak kepada gadis itu.
Setelah membeli bunga, Jay mampir ke toko perhiasan untuk mengambil kalung dengan batu safir langka yang telah dia pesan bulan lalu. Awalnya, Jay ingin memberi kalung itu sebagai hadiah untuk hari jadi pernikahan mereka yang pertama bulan depan. Tetapi, dia tidak tahan untuk tidak memberikannya saat ini juga.
Dengan perasaan senang, Jay kembali melajukan mobil ke arah rumah. Membutuhkan lima menit saja dia akhirnya sampai di rumah tingkat tiga yang ukurannya nyaris seperti istana.
Suasana depan rumah tidak seperti biasa. Lampu-lampu depan dimatikan. Tidak ada pelayan yang datang menyambutnya. Bahkan, sekuriti juga tidak tampak di pos pengawas.
Jay bukannya khawatir atau takut terjadi sesuatu pada istrinya, dia justru tersenyum senang. Dia pikir Melinda sedang bersiap memberinya kejutan.
Sayangnya, Melinda kalah. Jay pulang dua jam lebih cepat demi memberi kejutan untuk sang istri tercinta.
Jay senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi kaget Melinda. Dia pasti akan sangat senang ketika melihat semua hadiah yang Jay bawa. Namun, Jay sengaja meninggalkan semua di bagasi mobil, kecuali bunga dan kalung tadi.
'Melinda benar-benar banyak persiapan,' batin Jay.
Semua pelayan disuruhnya pulang. Jay tidak berpapasan dengan satu pun orang ketika berjalan menuju kamar.
Langkah kakinya langsung menuju lantai teratas. Dia sengaja tidak menggunakan elevator dan berjalan begitu pelan.
Dada Jay bergemuruh hebat tatkala langkahnya hampir sampai di kamar. Jay mencoba-coba pose yang akan membuatnya terlihat keren di mata sang istri.
Namun, langkah kakinya berhenti mendadak. Di dalam kamar yang sedikit terbuka itu, terdengar sesuatu yang menggelitik indranya.
Suara-suara itu kembali terdengar dan lebih keras setelah terjeda beberapa detik. Jay melangkah sekali lagi sampai di dekat pintu.
"Ahhh... Sayang... Di dalam, ya?"
"Jangan, Sayang. Ahh... Nghh... Nanti... Nanti setelah... Jay mati."
Jantung Jay seakan berhenti berdetak. Kalimat itu sungguh berasal dari istrinya. Diiringi kalimat-kalimat panas dan suara kulit basah saling beradu.
Otot-otot di kening Jay tercetak lebih jelas. Jay mengintip ke dalam kamar. Terkejut, sakit hati, marah, dan kecewa bercampur jadi satu.
Perempuan yang dikiranya terhormat dan sangat mencintai dirinya, saat ini berada di bawah kungkungan pria lain. Dan pria itu tidak lain adalah Beni, sekretarisnya!
__ADS_1
Jay ingin melesak masuk dan memukuli keduanya. Namun, dia bertahan di tempat supaya bisa mendengar lebih banyak rencana kedua orang itu.
Memang benar jika Jay mencintai Melinda. Tetapi, Jay bukan orang bodoh yang mau teperdaya oleh amarah yang bisa menghancurkan dirinya.
Seusai Melinda dan Beni bercinta, mereka berdua tidur berpelukan di ranjang tempatnya menghabiskan malam-malam panas dengan perempuan itu. Rasa mual di perut hampir tertumpah begitu saja.
"Jay sudah tanda tangan balik nama perusahaan atas namaku belum, Sayang? Kenapa lama sekali? Aku sudah muak menjadi istrinya selama ini," rengek Melinda.
"Sudah, Sayang. Ini jadi kado untuknya nanti setelah dia datang. Terima kasih, Sayang, sudah mau mengorbankan tubuh indahmu untuknya." Beni mengecup kening Melinda.
"Apa yang akan kita lakukan untuk menyingkirkannya?"
Beni mengambil botol kecil berisi cairan tanpa warna di dalamnya. Dia menggoyang-goyangnya dengan seringai jahat di wajah. Sayangnya, Jay tidak melihat racun di tangan Beni.
"Kita bunuh dia."
Mendengar itu, Jay segera mengirim pesan kepada pengacara kepercayaannya. Setelah dia menandatangani suatu berkas dari ponsel, Jay bergegas keluar rumah.
Bunga mawar merah kesukaan istrinya dibuang di tempat sampah bersama dengan kalung ratusan juta. Rasa cintanya kepada Melinda musnah begitu saja. Berganti dengan rasa jijik parah.
Sebuah mobil hitam milik sang pengacara akhirnya muncul di depan gerbang. Jay sendiri yang membuka untuk pria paruh baya yang juga teman ayahnya.
"Kenapa buru-buru sekali, sih, Jay. Om jadi kerepotan ini," gerutu Seno.
"Hus! Sembarangan! Terus, istrimu masih di dalam bersama pria itu?"
"Betul. Aku akan menceraikan Melinda sekarang juga. Mau apa pun yang terjadi, jangan sampai dia mendapat harta sedikit pun setelah bercerai denganku. Dan katakan jika aku ingin semua perhiasan dariku kembali. Oh, benar, aku pernah membelikan rumah besar untuknya. Tolong, urus itu juga, Om."
"Wow, kejam sekali kau."
"Dia lebih kejam dariku, Om. Jika kami berpisah bukan karena selingkuh, aku akan memberinya apa saja. Tapi, kedua mataku melihat sendiri, pelacur itu tidur dengan pria lain. Menjijikkan." Jay meludah di belakangnya.
"Oke, ini semua dokumen yang perlu ditandatangani istrimu. Aku akan mengurus perceraian kalian secepatnya."
"Lalu, bagaimana dengan semua asetku?"
"Seperti yang kau tanda tangani tadi. Jika kau mati, maka semua aset akan diberikan untuk semua panti di seluruh dunia."
"Terima kasih banyak, Om. Aku akan memberi hadiah besar untuk Om nanti."
Setelah kepergian Seno, Jay menghubungi Melinda sambil berjalan ke dalam rumah. Suara Melinda begitu riang menyambut.
Sesuai arahan Melinda, Jay datang ke arah kolam renang di halaman belakang. Di sana, kue dengan lilin angka dua lima menyala di tengah meja.
__ADS_1
Jay tidak bisa pura-pura terkejut dan senang. Dia diam saja saat Melinda bernyanyi untuknya.
"Selamat ulang tahun, Sayang."
"Terima kasih. Habis ini masih ada kejutan lain? Kalau tidak, aku yang akan memberimu kejutan."
Kejutan kedua dari Melisa, makan romantis berdua dengan masakan buatan sendiri. Tentu saja, Jay tahu Melinda berbohong. Mana mau Melinda mengotori tangan di dapur.
Lagi-lagi, Jay harus menahan sesak di hati. Melinda telah banyak menipunya selama ini.
Makan malam itu berlangsung cepat karena Jay tidak ingin berlama-lama melihat istrinya. Melinda telah membersihkan alat makan dari meja. Kemudian, dia menyerahkan kotak kecil untuk Jay. Namun, Jay lebih dulu meletakkan map merah dengan pita kuning melingkar.
"Apa ini, Sayang?" tanya Melinda antusias.
"Hadiah untukmu. Bukalah."
Kelopak mata Melinda terbuka lebar ketika membaca isinya. Bersamaan dengan mulutnya yang langsung ditutup dengan telapak tangan. Jay dapat melihat istrinya gemetaran hebat.
"Ini bagus sekali! Aku jadi tidak perlu menceraikan dirimu, Sayang!" Melinda melompat kecil kegirangan.
"A-apa..." Suara Jay tersekat dalam tenggorokan.
Jay bangkit berdiri, tidak menyangka jika Melinda akan membuka kedoknya sekarang juga. Dia terhuyung-huyung ke belakang dan kehilangan keseimbangan. Dia baru menyadari ada sesuatu yang salah.
Sosok Beni akhirnya muncul di belakang punggung Melinda. Pria itu memeluk erat perempuan yang masih berstatus istrinya. Sementara Jay telah jatuh di bawah kaki mereka.
"Akhirnya dia mati! Kita kaya, Sayang!"
Jay tidak bisa berkata apa pun. Lidahnya kelu, matanya panas dan jantungnya berdebar kencang tidak karuan. Sesaat kemudian, kesadarannya mulai menghilang.
***
"Hah hah hah!"
Jay bangkit terduduk sambil masih gelagapan seolah baru saja tenggelam dan kehabisan napas. Matanya bergerak ke sekeliling ruangan.
Tidak ada Melinda dan Beni. Yang ada hanya kamar sempit dan kumuh. Rasa mual menjalar ke permukaan. Jay sangat benci dengan tempat kotor seperti ini.
Jay buru-buru mencari kamar mandi karena tidak tahan ingin memuntahkan cairan dalam perut. Rasa mual itu semakin terasa tatkala melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin. Tampak sosok pria dengan pakaian norak dan terlihat jelas kemiskinannya.
"S-siapa?"
Bersamaan dengan kepalanya yang seperti tertusuk benda tajam, sebuah layar hologram muncul di depannya.
__ADS_1
[Selamat datang di Win System! Apakah Anda ingin mendapat kekayaan yang berlimpah?]