Win System

Win System
Chapter 2


__ADS_3

Setelah Jay membuang semua yang ada dalam perutnya, layar hologram yang dia abaikan muncul lagi. Jay melambaikan tangan ke arah layar hologram itu namun tidak kunjung hilang.


"Apa-apaan ini? Aku sudah sangat kaya!"


Jay mengabaikannya, kemudian keluar kamar mandi. Dia berdiri mematung saat kembali ke ruangan kotor dan kecil itu.


Dia pikir hanya mimpi, tapi semua sangat nyata. Memukul wajahnya berkali-kali pun dia masih ada di situ.


Sebuah ketukan terdengar. Jay membuka pintu yang menurutnya banyak kuman itu, kemudian mengelap tangan di bajunya.


Seorang wanita dengan pakaian mini berkacak pinggang di depan pintu. Jay tersenyum miring meremehkan. Tidak hanya sekali dua kali seorang Jay Wijaya digoda wanita.


"Mau apa kau?" tanya Jay sambil mendongak sombong. Khas seorang Jay Wijaya yang terkenal dengan arogansinya.


Wanita itu mendorong dahi Jay dengan jari telunjuk. "Jangan berlagak! Bayar dulu uang kost yang menunggak tiga bulan ini!"


'Tch, belum-belum langsung minta uang." Jay berdecih dalam hati.


Seperti biasa, Jay yang tidak suka diganggu segera mengeluarkan uang agar si wanita cepat pergi dari hadapannya. Tetapi, setelah merogoh saku celana untuk mengambil dompet, dia tidak menemukan apa pun.


Jay mondar-mandir kebingungan dan berpikir dia hanya bermimpi saat ini. Tidak ada kartu debit maupun kredit, uang pun hanya ribuan, dan beberapa receh lima ratusan.


"Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentransfernya nanti."


"Totalnya dua juta seratus ribu."


Jay tidak mau melihat wanita itu lebih lama. Setelah si wanita menulis nomor rekeningnya, Jay menggebrak pintu lalu merosot duduk di kusen pintu.


Beberapa jam berlalu, Jay hanya merenungi apa yang telah terjadi. Dan Jay pun sadar bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.


Hal yang pertama dia lakukan setelah menyadari kenyataan adalah mencari kartu debit pemilik tubuh itu. Dia menuju ATM, lalu keluar dengan tampang lesu. Jumlah saldonya hanya ada lima puluh ribu.


Jay lantas pergi ke rumah besar dan mewah miliknya. Dia melihat mobil Beni sudah terparkir rapi di dekat mobil sport mahalnya.


"Ternyata semua memang nyata."


Hatinya terasa sakit mengingat pengkhianatan Melinda. Dengan langkah lesu, Jay kembali menuju kostnya.


Layar hologram kembali muncul di tengah perjalanan. Jay menghentikan langkah dan memandang lekat-lekat hologram yang selalu muncul tiap sepuluh menit sekali itu.


"Ya. Aku ingin menjadi kaya," ucap Jay sambil memandangi hologram yang berkedip-kedip lalu memunculkan tulisan lainnya.


[Winardi, 25 tahun, pengangguran. Jadilah sukses dengan tubuh ini.]

__ADS_1


"Gampang," jawab Jay angkuh.


[Misi pertama. Gantikan pekerjaan orang di depanmu. Hadiah Rp 1.500.000,00.]


Jay melihat ke arah depan. Dia menemukan seorang pria tua yang sedang mendorong gerobak penuh dengan barang bekas. Dia berusaha mencari orang lainnya, tetapi hanya ada dirinya dan pria itu.


'Yang benar saja. Masa harus menolong pemulung? Mau ditaruh di mana mukaku?!' batinnya.


Seumur-umur, Jay terbiasa memerintah seseorang. Dia tidak pernah menolong orang lain. Memang benar jika dia memiliki perusahaan besar yang dibangunnya dari nol. Faktanya, dia juga dibesarkan dengan sendok emas.


Bibir Jay terasa kelu. Dia tidak tahu bagaimana cara membuka obrolan dengan si pria tua. Harga dirinya ikut tercabik-cabik karena menolong orang-orang yang dipikirnya rendahan akan menodai prinsipnya selama ini.


Pemikiran Jay terhadap orang-orang miskin sangat sederhana, terlebih pada orang miskin di usia senja. Nasib buruk mereka terjadi karena kurangnya usaha. Jika mereka mau bekerja keras, maka mereka tidak akan kesusahan seperti itu. Jay sama sekali tidak merasa simpati atau kasihan pada mereka.


[Waktu penyelesaian misi 2 jam. Jika Anda gagal menyelesaikan misi, Anda akan dikeluarkan dari sistem.]


'Tidak! Aku butuh uang sekarang!'


"Ada apa, Nak? Kau butuh sesuatu?"


Jay tidak sadar telah membuntuti orang itu. "I-itu... B-biarkan saya membantu Anda."


Pria tua itu mengerutkan kening. Setelah melihat penampilan Jay di tubuh memelas Winardi, dia berkata, "Tidak perlu, Nak. Terima kasih tawarannya, kau perhatian sekali pada orang tua.'


Jay merebut pegangan gerobak dari tangan si pria tua. Dia tidak peduli pria tua itu terus menyuruhnya berhenti.


'Kalau bukan demi uang recehan, aku juga tidak mau menolongmu.'


"Ya, sudah, antarkan saja sampai tempat rongsok."


'Dari tadi kau juga pasti menungguku merebut pekerjaanmu duluan. Dasar, pemalas.' Jay berdecih dalam hati.


"Terima kasih, Nak. Siapa namamu?"


"Jay- Winardi." Hampir saja Jay melupakan dirinya bukan lagi seorang Jay Wijaya.


"Namaku Gio. Senang bisa bertemu dengan pemuda baik sepertimu."


Jay tersenyum sinis. "Namamu bagus sekali, Pak. Tidak cocok jadi pemulung."


Jay banyak bertemu dengan pengusaha bangkrut yang menyerah pada nasibnya. Beberapa dari mereka berakhir jadi pengangguran. Tidak sedikit pula yang merangkak di kaki Jay untuk minta suntikan dana, meskipun Jay selalu menolak. Tidak heran jika Jay mengira kalau Gio salah satu dari orang-orang itu.


"Nama panjangku Giono Suroto. Anak-anak di tempat rongsok suka memanggilku Gio. Kata mereka biar lebih keren." Gio terbahak-bahak.

__ADS_1


Gio pun bercerita tentang banyak hal mengenai dirinya dan memberikan banyak nasihat-nasihat untuk Jay. Namun, Jay sama sekali tidak mendengarkan.


Jay tidak peduli ucapan pria tua itu. Dia hanya ingin perjalanannya segera berakhir karena kakinya terasa pegal dan sakit. Apalagi, dia hanya menggunakan sandal jepit.


Hampir setengah jam berlalu, mereka akhirnya sampai di tempat rongsokan di mana semua barang bekas dikumpulkan. Beberapa pria lain menyapa Gio dan menyambut Jay.


Wajah Jay mengernyit dan hidungnya kembang kempis dengan cepat. Bau tempat kotor dan berdebu membuatnya mual dan ingin muntah.


'Kenapa sistem tidak muncul lagi? Bukankah misiku telah berhasil?'


[Misi dapat diselesaikan setelah tugas Gio selesai.]


Jay mendengus kesal. Dia melihat Gio tengah menumpuk kardus-kardus dengan rapi. Di sebelahnya, plastik-plastik minuman bekas menanti.


"Apa kau harus menyelesaikan semua sekarang? Bukankah ini sudah gelap? Kau tidak pulang?" tanya Jay kepada Gio yang sedang berjongkok di dekat kakinya.


Gio mendongak ke arah Jay. "Besok pagi aku harus mencari barang rongsokan lain. Setelah menimbang ini semua, Pak Bos akan memberiku uang. Kau bisa kembali sekarang, Win. Terima kasih banyak untuk bantuannya."


Setelah menghela napas panjang, Jay ikut melakukan apa yang sedang Gio lakukan. Gio tidak lagi memprotes karena tahu Jay tidak akan menggubris ucapannya.


"Berapa yang kau dapatkan dari ini semua?"


"Sehari aku bisa dapat paling banyak tujuh puluh ribu. Kadang, aku bisa dapat ratusan ribu kalau dapat barang bekas yang lumayan berguna."


"Tch, sedikit sekali," gumam Jay.


Pekerjaan itu pun selesai dengan bantuan Jay yang gesit dan terampil. Tak bisa dipingkiri, Jay memang serba bisa. Dia selalu tekun dan gigih melakukan sesuatu sampai mendapat tujuannya.


[Selamat! Misi berhasil! Hadiah Rp 1.500.000,00 telah ditransfer ke rekening Anda.]


"Aku akan mentraktirmu makan, Jay. Ayo, ikut denganku."


Jay ingin menolak. Namun, lagi-lagi dia ingat bahwa Winardi sangat miskin. Dan dia juga tidak yakin sistem benar-benar membayarnya. Lagi pula, Jay juga sangat kelaparan sekarang.


"Baik."


Gio mengajak Jay ke kedai kecil tidak jauh dari tempat rongsok. Tentu saja, bukan tempat favorit Jay. Andai saja dia masih Jay Wijaya, dia tidak akan sudi makan di tempat itu.


"Kau belum bayar makanan yang kemarin! Mau berhutang lagi?!" teriak ibu penjual kepada seorang pria.


Jay menyipitkan matanya. Kemudian kelopak mata itu terbuka lebar. Dia tahu siapa pria yang sedang dimaki-maki ibu pemilik kedai.


"Kau! Ke sini kau, Pencuri!" Jay menunjuk-nunjuk murka pria itu.

__ADS_1


__ADS_2