Win System

Win System
Chapter 18


__ADS_3

"Oh! Astaga! Maafkan tangan kotor ini karena tidak sengaja menyentuh Anda, Nyonya."


"Tidak apa-apa." Melinda diam-diam menyeka punggung tangan di rok mininya.


"Saya akan membukakan pintu."


Melinda berjalan melenggak-lenggok masuk ke dalam ruangan. Sebelum sampai di depan meja Wijaya, dia menoleh ke belakang dan memberikan senyum manis kepada Jay.


"Masuk saja, Mas, kalau mau bersih-bersih."


'Cih! Munafik!'


Kalau ditanya apakah Jay sakit hati melihat pengkhianat itu? Jawabannya, tidak sama sekali!


Jay hanya khawatir kalau Melinda akan mengambil hartanya. Dia tidak sudi memberi sepeser pun uang untuk pengkhianat dan pembunuh yang bersembuyi si balik topeng wanita cantik itu.


"Kau sudah masuk kerja lagi rupanya!" seru Wijaya.


"Iya, Papa. Mulai hari ini aku kembali ke kantor mengurusi pekerjaan suamiku. Aku tidak tega melihat Papa kelelahan," tutur Melinda dengan lembut.


"Haa? Aku tidak bicara denganmu."


Wijaya melengos pergi ke tempat Jay berdiri. Dia menepuk lengan Jay seakan melakukan itu pada anaknya sendiri. Walaupun Wijaya tidak pernah mengakrabkan diri dengan Jay sebelumnya.


"Iya, Pak Wijaya. Saya mau bicara dengan Anda, tapi sepertinya Anda sedang ada tamu cantik. Saya undur diri dulu. Saya akan datang lagi nanti."


"Duduklah di sofa. Aku akan menemui orang itu sebentar."


'Orang itu!' Jay terkikik dalam hati.


Jay ingat betapa marahnya Wijaya dulu ketika membawa Melinda ke rumah dan berniat minta restu untuk menikah. Wijaya langsung membenci Melinda setelah perjumpaan pertama dengannya. Entah apa sebabnya, Jay pun tidak tahu.


Apalagi, setelah tahu pekerjaan Melinda sebagai model pakaian mini. Tidak ada rasa hormat atau simpati lagi yang tersisa pada Melinda.


Rupanya, Wijaya masih tidak menyukai menantunya itu. Diam-diam Jay merasa lega karena Wijaya tidak akan begitu mudahnya memberikan harta Jay untuk Melinda.


Sementara tatapan Melinda kepada dirinya kini sangat berubah. Melinda seolah tertarik kepada sosok Winardi. Seorang office boy yang mampu membuat Wijaya bersikap lemah lembut.


Dalam hati Melinda bertekad mencari tahu tentang Winardi. Kalau Winardi bisa sangat dekat dengan Wijaya yang super keras itu, Melinda akan mendekati dan memanfaatkannya.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Wijaya.


'Sialan! Dia sama sekali tidak mendengar ucapanku tadi!' geram Melinda dalam hati.


"Karena Mas Jay masih sakit, aku ingin meringankan bebannya dan bekerja di perusahaan ini, Papa."


"Hmmm. Cepat pulang dan rawat anakku. Kau tidak perlu mengurusi masalah kantor. Lagi pula, kau tidak ada gunanya di tempat ini."

__ADS_1


Wijaya tidak melihat ke arah Melinda sekali pun. Ayah Jay itu malah fokus membalik-balik berkas dan menuliskan sesuatu di setiap lembarnya.


"Tapi, Papa ..." Melinda bersiap memprotes dan mengeluarkan berbagai alasan, namun upayanya segera dihentikan oleh gerakan tangan Wijaya.


"Keluar. Aku sibuk sekarang."


Melinda sesaat melihat Wijaya pindah duduk ke sofa dan berbincang akrab dengan Jay. Dia mendengus kesal sekaligus mulai mencari-cari cara supaya bisa mendekati Wijaya melalui Winardi.


Setelah memastikan punggung Melinda tidak lagi terlihat, Jay mengeluarkan proposal bisnis dari balik kemeja. Dia menyodorkan satu map dokumen itu penuh percaya diri.


"Apa ini?" tanya Wijaya.


"Bisnis baru saya," bangga Jay.


Wijaya mengangguk-angguk tanpa ekspresi. Kemudian, melempar map itu ke atas meja.


"Kau sedang mencari investor?"


"Benar, Pak."


"Aku cukup terkejut kau bisa membuat proposal bisnis sebagus itu. Tapi, aku tidak bisa menjadi investormu. Kau pasti tahu, semua ide usahamu ini sudah aku miliki. Untuk apa aku berinvetasi di tempat lain?"


Sialnya, Jay melewatkan bisnis keluarganya sendiri. Baik perusahaan Wijaya maupun perusahaannya memiliki jenis usaha berbagai bidang. Termasuk pabrik olahan susu dan daging ternak yang ingin dibuat Jay.


"Carilah sesuatu yang lebih menarik dan belum aku miliki. Maka aku akan memberimu investasi sebanyak apa pun kebutuhanmu," tantang Wijaya.


"Baik, saya permisi dulu."


[Misi baru! Buat salah satu anggota keluarga Jay Wijaya menjadi investor Anda. Hadiah misi Rp 100.000.000,00.]


'Sudah aku duga!'


***


"Loh, kau bukannya office boy yang tadi?" Melinda menutup bibir dengan jemari lentiknya.


"Nyonya masih mengingat saya?"


"Tentu! Kau memiliki wajah dan aura yang susah untuk dilupakan." Melinda tersenyum manis. "Apa ini pekerjaan sampinganmu?"


"Benar, Nyonya. Saya membantu menjual hasil panen keluarga saya sepulang kerja. Apa Nyonya berkenan membelinya?"


Bohong sekali! Jelas-jelas Jay sengaja mencari emperan toko tutup dekat dengan rumahnya dulu agar Melinda dapat melihatnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menguras habis harta simpanan Melinda. Karena Melinda masih menjadi istri Jay Wijaya, misi pun akan selesai.


"Kau tampan, juga baik hati. Aku akan membeli semuanya."


"Sungguh?"

__ADS_1


"Bisa tolong bawakan sampai rumahku? Kebetulan tidak jauh dari sini."


'Bagus!' seru Jay dalam hati.


'Kena kau!' batin Melinda kegirangan.


"Sepertinya kau dekat dengan pak Wijaya. Kalian sudah lama saling mengenal?"


"Tidak juga. Belum ada sebulan. Pak Wijaya baik sekali dengan saya."


'Rubah tua itu baik? Dia pasti gila! Lagi pula, bagaimana bisa orang tua bau tanah itu tiba-tiba mau dekat dengan orang asing? Pasti ada sesuatu dari Winardi yang tidak aku tahu!' pikir Melinda.


"Oh, pantas. Tapi, tadi aku sempat melihatmu berjalan lesu setelah bertemu dengan ayah mertuaku. Apa dia memarahimu?" pancing Melinda.


"Tidak, Nyonya. Saya sedih karena proposal bisnis saya tidak diterima. Padahal, saya yakin seribu persen kalau usaha saya bisa mengungguli apa yang sudah dibangun Jay Wijaya."


"Kau ... bikin proposal bisnis?"


"Iya, Nyonya. Walaupun saya tidak kuliah, tapi saya dikenal jenius saat masa-masa sekolah."


Melinda memandang Jay setengah tidak percaya. Namun, reaksi Wijaya pada Jay juga bukan sebuah kebohongan.


Kini Melinda tergelitik untuk melihat proposal itu. Tidak mungkin dia menolak segala sesuatu untuk bisa menjatuhkan suami yang telah melayangkan gugatan cerai padanya.


"Bolehkan aku melihat proposal itu?"


Setelah memasukkan tumpukan kardus buah-buahan ke dalam rumah, Jay disuruh Melinda untuk menunggu di ruang keluarga. Jay lebih dulu masuk ke dalam. Tetapi, Melinda belum kelihatan.


Jay tiba-tiba merasa ingin terus berada di tempat ini. Kerinduannya teramat besar kepada rumah pertama yang dibeli dari hasil jerih payah selama bertahun-tahun lamanya.


Kedatangan Melinda membuat angannya berakhir sampai di situ. Terlebih lagi, melihat penampilan Melinda yang begitu menggoda.


Melinda hanya mengenakan gaun tipis seperempat paha. Jay meneguk ludah susah payah. Rupanya, Jay juga merindukan tubuh Melinda biarpun tidak lagi memiliki perasaan yang tersisa untuknya.


"Maaf menunggu lama."


"Tidak apa-apa."


Melinda tahu Jay tengah mengamati bawah lehernya dengan seksama. Bukannya ditutupi, dia justru membusungkan dada supaya Jay lebih leluasa melihat.


"Begini, Win. Aku sebenarnya tertarik dengan proposal yang kau buat. Kalau misalnya aku menawarkan kerja sama, apa kau mau menerimanya?"


"Anda serius, Nyonya?!"


"Benar. Aku akan memberimu uang sesuai isi dalam proposal. Tapi, aku ingin kau melakukan satu hal padaku."


"Apa itu, Nyonya?"

__ADS_1


__ADS_2