
Jakun Jay naik turun. Cuping hidungnya kembang kempis dengan cepat. Pria itu menunggu aba-aba untuk menerkam mangsa di depannya. Layaknya banteng yang sedang dikekang dan siap dilepaskan.
Melinda terkekeh pelan melihat reaksi pria tampan di depannya. 'Dia manis sekali,' batinnya.
"Katakan apa yang perlu saya lakukan, Nyonya. Sekarang sudah larut malam."
Melinda melemparkan botol minyak yang spontan ditangkap Jay. Dia memutar badan dan berbaring di sofa panjang. Kemudian, merentangkan kakinya di atas sandaran tangan sofa. Kaki kirinya mengusap kaki kanannya sendiri dengan gerakan sensual dan menggoda.
"Aku kelelahan. Tolong pijat kakiku."
Si banteng berpindah duduk dengan cepat ke sisi kaki Melinda. Dia meraih kaki jenjang putih mulus tanpa noda itu. Lalu mulai memijat perlahan, namun dengan kekuatan mantap.
"Uhhh ... Enak sekali. Gunakan minyaknya supaya lebih ... panas," ucap Melinda dengan suara menggelitik kelelakian Jay.
'Uh ... Apa aku pakai saja lalu buang ke tempat sampah?'
[Anda dilarang menodai tubuh Winardi.]
'Jangan muncul di saat-saat genting, Sis! Kau tidak boleh mengintai sekarang.'
Layar hologram muncul lebih besar dari biasanya. Tulisan algoritma kriptografi dari sistem memenuhi layar dan berganti tulisan setiap beberapa detik.
Pandangan Jay akan lekukan tubuh Melinda tertutup sempurna. Rasa yang menggebu-gebu di dada Jay kian menghilang. Berganti dengan rasa amarah yang membuncah kepada sistem.
'Minggir! Jangan sensor pemandangan di depanku, Sis!!!!'
Di tengah kode-kode itu muncul tulisan peringatan dengan font besar dan tebal.
[Jiwa Anda akan dikeluarkan oleh sistem dari tubuh Winardi jika Anda melakukan perbuatan asusila.]
'A-asu ... asusila? Apa kau gila?! Dia masih istriku!'
[Harap ingat, Anda sekarang Winardi!]
'Aku ingat! Siapa juga yang bilang aku mau melakukan sesuatu dengan tubuh Winardi? Aku cuma mau memakai habis minyak ini lalu membuang botolnya ke tempat sampah. Kondisikan pikiranmu, Sis! Jangan jadi sistem mesum!'
Jay kesal sekali. Dia menyumpahi dan mengutuk sistem dalam hati.
"Haa ... Aku sudah lama tidak dipijat. Ini sangat menyenangkan. Naik lagi, Win," pinta Melinda dengan nada manja.
Jay meremas paha Melinda dengan kasar. Dia tidak lagi ingin melakukan sesuatu pada Melinda. Lagi pula, dia tidak bisa melihat tubuhnya.
Setelah lima belas menit berlalu, Melinda menarik kakinya. Layar hologram sistem pun ikut menghilang. Yang tersisa hanyalah raut wajah Jay yang mengeras karena menahan marah dan kecewa.
"Kau lulus, Win."
"Maksudnya?" tanya Jay datar.
"Tidak ada pria yang mampu melewatkan godaan dariku. Bahkan, pria seperti Jay Wijaya saja luluh padaku. Aku memuji keteguhan hatimu, Win. Sekarang aku dapat mempercayaimu sepenuhnya."
'Sejak awal kau sudah memelototiku seakan mau memakanku. Ternyata, aku salah. Winardi ... kau pria yang sangat mengagumkan,' batin Melinda.
'Kalau bukan karena gangguan sistem, kau tidak akan bisa berjalan sampai seminggu. Tch! Menyebalkan!!!!'
"Saya memang menyukai wanita cantik, Nyonya. Tetapi, saya tidak mau menodai kecantikan mereka dengan hawa nafsu, kecuali wanita cantik itu menjadi istri saya."
Melinda tersenyum manis. "Bagus, bagus, kau semakin membuatku kagum. Sekarang, ambil map itu."
Jay memungut map biru di atas meja sesuai arahan telunjuk Melinda. Kemudian, dia menyerahkannya dengan sopan dengan kedua tangan. Melinda mengibaskan jemarinya sebagai tanda penolakan.
"Itu kontrak kerja sama kita. Baca baik-baik sebelum membubuhkan tanda tangan."
__ADS_1
"Sudah, Nyonya," ucap Jay beberapa saat kemudian.
"Aku akan mentransfer sepuluh miliar malam ini. Pergilah."
"Terima kasih, Nyonya."
'Lihat, dia memberiku uang lebih banyak darimu, Sis.'
[Anda harus mengembalikan uang itu nanti pada Melinda.]
'Siapa bilang aku akan mengembalikan uangnya? Toh, semua uang itu adalah milikku. Dia tidak punya apa-apa tanpaku. Dan aku akan menguras habis seluruh harta simpanan Melinda, sekaligus mencari aset rahasianya. Misi spesial atau apa pun itu, tidak ada yang tidak bisa aku selesaikan.'
***
Jay menyerahkan surat pengunduran diri pagi-pagi. Dia tidak pernah menduga jika Wijaya langsung merobek amplop putih itu sebelum membacanya.
"Siapa bilang kau boleh keluar seenaknya?"
"Saya masih baru dan belum dapat kontrak kerja. Saya bisa keluar kapan saja, Pak."
"Apa kau sudah mendapat investor? Lalu, kau mau meninggalkan tanggung jawabmu di sini?"
Jay meneliti ekspresi Wijaya. Ayah kandungnya itu tidak terlihat marah, namun kecewa.
"Saya akan sering-sering datang mengunjungi Anda setelah bisnis saya berhasil, Pak."
"Tidak! Kau tidak boleh keluar! Aku akan memotong jam kerja dan gajimu, tetapi kau tetap harus bekerja di sini."
Wijaya bersikeras dan tidak bisa dibantah lagi. Mau tak mau Jay menuruti perkataan Wijaya. Salah-salah, Wijaya akan mengamuk dan menghancurkan bisnis barunya.
"Kalau begitu, saya hanya akan minta izin untuk hari ini saja. Saya perlu mempersiapkan pabrik, Pak."
"Baik. Bawa ini." Wijaya melempar kunci mobil.
"Apanya yang kenapa?"
"Saya cuma office boy. Kenapa Anda baik sekali kepada saya?"
"Jangan banyak tanya dan cepat pergi dari sini! Kau tidak lihat aku masih sibuk?!"
"Siap, Pak! Terima kasih banyak!"
'Karena kau mirip dengan anakku, Win,' batin Wijaya.
Jay tidak sempat melihat air muka Wijaya yang berubah sedih ketika mengingat dirinya. Jay terlampau senang dengan kehidupan baru di tubuh Winardi. Sampai dia lupa bahwa ada beberapa orang yang diam-diam kehilangan Jay Wijaya yang asli.
***
Hanya butuh waktu tiga hari Jay menuntaskan persiapan pembukaan pabrik. Hari ini pun Jay telah mendapat dua puluh karyawan baru yang setengahnya berasal dari Desa Sukasuka.
Winarno yang telah pulih dari cedera kakinya juga menyempatkan datang bersama Magdalena. Saat ini, Jay tengah mengajak orang tua Winardi berkeliling sambil menjelaskan setiap ruangan yang ada di pabrik.
"Yang ini area pengolahan sapi, Pah. Aku akan membuat produk minuman dari susu sapi dan daging kalengan. Ruangan di sebelahnya untuk produk olahan hasil panen buah-buahan kita."
"Kau sudah dapat izin?" tanya Magdalena.
"Sudah, Mak. Dengan uang, semua bisa terselesaikan dengan mudah. Hahaha!"
"Jangan terlalu mengandalkan uang, Win. Memang bagus kalau kau bisa hidup tanpa kekurangan. Tapi, jangan sampai kau kehilangan kejujuran dan belas kasihmu karena uang. Kau harus ingat dan membantu orang-orang yang ada di bawahmu," tutur Winarno.
"Baik, Papah! Aku akan mengingat nasihat Papah."
__ADS_1
Sayangnya, Jay Wijaya memang sudah miskin rasa simpati dari dulu. Justru sejak jadi Winardi dan jatuh miskin, dia mulai mendapat sisi baiknya.
***
"Win, kau di mana?" tanya Melinda dari balik telepon.
"Aku barusan mengantar orang tuaku ke hotel. Nyonya sudah datang ke pabrik?"
"Iya. Cepat ke sini. Aku takut sendirian."
"Tunggu, ya, Sayang ... ah ... sayang sekali lampunya sudah merah lagi." Jay kelepasan memanggil Melinda seperti dulu.
Melinda terkikik geli. "Hati-hati di jalan, Sayang," godanya.
Lima menit kemudian, mobil mewah yang yang dikendarai Jay tiba di halaman depan pabrik. Melinda langsung keluar dari mobilnya sendiri dan menghampiri Jay.
"Kau beli mobil baru?"
"Tidak, Nyonya. Pak Wijaya yang meminjamkan. Saya tidak bisa menolak karena Pak Wijaya terus memaksa."
'Benar dugaanku. Tua bangka itu pasti mengincar otak Winardi. Aku tidak akan kalah! Aku yang akan lebih dulu mendapatkan Winardi di sisiku!' tekad Melinda dalam hati.
"Oooh ... Padahal, kalau kau pakai uangku buat beli mobil juga tidak masalah."
"Tidak bisa begitu, Nyonya. Sepuluh miliar hanya boleh digunakan untuk pabrik."
'Dia jujur sekali. Sekarang juga dia terlihat jauh lebih tampan. Mana badannya sangat bagus. Mas Jay sama Beni saja tidak bisa menandinginya. Uuuh ... Bikin deg-degan saja,' batin Melinda.
"Nyonya!"
Jay melambaikan telapak tangan di depan wajah cantik Melinda yang sedang asik melamunkan otot-otot Winardi. Mendadak pipi Melinda merona.
"Jangan melamun, Nyonya. Nanti kesambet setan."
'Mana berani setan merasuki iblis,' cerca Jay dalam hati.
"Di mana kantormu? Aku ingin melihatnya."
"Kantor saya ada di paling ujung belakang. Apa tidak sebaiknya besok saja? Sekarang tidak ada siapa-siapa di sini dan hanya ada kita berdua."
Setelah malam pijat memijat Melinda, Jay tahu fakta baru tentang wanita itu. Melinda rupanya sering menyewa jasa pijat plus-plus sejak dulu. Tanpa sepengetahuan Jay maupun Beni.
Rasa jijik ketika melihat mantan model cantik itu kembali lagi. Jay merasa sangat beruntung karena sistem berhasil menghalanginya malam itu.
"Lalu kenapa?"
"Ya, tidak kenapa-napa. Mari masuk."
Jay menyalakan semua lampu di dalam gedung. Mereka berdua berjalan tanpa bicara. Suara sepatu mereka yang beradu dengan lantai mengikuti setiap langkah.
Tiba-tiba terdengar bunyi 'klak' sangat keras. Semua lampu mati setelahnya. Hanya terlihat cahaya layar hologram yang berkedip-kedip tanpa tulisan.
"Winnn!! Aku takut!" Melinda berteriak sambil mendekap lengan Jay.
[Misi baru. Hadiah Rp 100.000.000,00.]
'Misi apa lagi di saat seperti ini?'
Lampu menyala kembali. Bersamaan dengan tulisan pada layar hologram yang berganti.
Mata dan mulut Jay terbuka bersamaan ketika membaca kata demi kata yang dimunculkan sistem. Dia sampai berkedip-kedip lama untuk memastikan apa yang dibacanya salah. Tetapi, tulisan pada sistem bergeming tidak mau berubah.
__ADS_1
'Jangan bercanda, Sis!'
Misi apa yang diberikan sistem sehingga Jay terkejut bukan main?