
"Maaak! Tolong singkirkan ini dari kakiku!!"
Jay menunjuk lintah di betisnya sambil memejamkan mata dengan wajah mengernyit. Lintah itu serasa menyedot kulitnya kian kencang. Dia semakin panik karena tidak berani memegang.
Magdalena dengan santainya mengambil lintah itu dengan tangan kosong. Jay lalu berlari terbirit-birit keluar dari area berlumpur.
"Malah kabur! Kembali ke sini kau, Win! Biasanya kau bilang kalau lintah bisa membersihkan darah kotor! Baru jadi orang kota beberapa minggu saja jadi belagu kau, Win! Cepat turun!"
Jay kalah. Omelan dan raut wajah marah ibu Winardi lebih menakutkan dari lintah-lintah itu. Jay mau tidak mau memberanikan diri masuk lagi ke lumpur.
Selang dua jam, mereka selesai menanam bibit padi di empat petak sawah. Itu juga karena Jay menggunakan jurus spesial takut lintah agar pekerjaan cepat selesai.
Jay sekarang berada di gubuk tengah-tengah sawah. Menikmati semilir angin, teh hitam, dan kue buatan Magdalena.
"Hidup di sini enak juga ternyata. Damai dan tidak berisik," gumam Jay seraya memejamkan mata.
"Makanya tidak usah kerja di kota. Papahmu 'kan sawahnya banyak. Punya kebun satu hektar juga," ucap Elisa mengejutkan dari belakang.
"Jangan mengagetkan orang, Lisa!"
"Salah sendiri melamun! Ini aku bawakan makan siang."
"Oke, taruh saja di situ."
Jay menunjuk sisi kosong di sebelahnya dengan tatapan mata. Kemudian, dia tiduran seolah Elisa tidak ada di sana dan kembali melamun.
Elisa juga langsung pergi setelah tidak dianggap Jay. Dalam hati dia menunggu Winardi mengantarnya seperti biasa. Tapi, Jay tetap tidak beranjak dari tempatnya.
'Apa dia sudah tidak tertarik padaku lagi? Kenapa dia bisa berubah setelah hanya sebentar meninggalkan desa? Haruskah aku berdandan ala gadis-gadis kota supaya Winardi kembali melirikku?' batin Elisa kesal.
***
[Tingkat kepuasan ibu pemilik tubuh maksimal!]
[Anda berhasil menyelesaikan misi dan mendapat hadiah Rp 50.000.000,00.]
Layar hologram berubah menjadi semakin transparan dan kian memudar. Magdalena kini terlihat jelas berjalan mendekati gubuk yang menaungi Jay.
"Mamak dari mana? Kenapa lama sekali?"
Jay mengambil alih keranjang yang dibawa kedua tangan Magdalena. Dia sempat kaget karena beban yang dibawa Magdalena begitu berat. Dalam hati dia mengagumi Magdalena karena sangat kuat dan ... cantik.
"Kenapa tidak minta tolong padaku, Mak?" Jay sungguh khawatir.
"Mamak barusan panen pepaya itu semua sendirian. Kelihatannya kau lelah sekali tadi sampai ketiduran. Mamak tidak tega mau membangunkanmu. Lagian kau juga sebentar lagi balik kerja."
"Lain kali kalau aku datang, Mamak jangan sampai kelelahan begini. Buat apa aku punya otot bagus kalau tidak bisa digunakan untuk membantu Mamakku." Kali ini, Jay juga berkata jujur tanpa sandiwara.
Magdalena menatap Jay sendu. Dia mengusap air mata yang hampir jatuh. Entah mengapa Jay merasa ada yang janggal dari sikap kedua orang tua Winardi.
'Apa dulu Winardi tidak pernah membantu keluarganya? Sampai Mamak, maksudku, ibunya terharu biru tiap kali aku berbuat seperti seorang anak sejati.'
[Anda melewatkan informasi gratis dari pemilik tubuh kemarin. Sayang sekali ....]
'Aku masih punya moral, Sis. Mana bisa aku membunuh cuma demi mengintip informasi pribadi orang?'
[...]
"Kau banyak berubah, Win. Melihat kau jadi lebih dewasa seperti ini saja Mamak dan Papah sudah sangat bahagia."
__ADS_1
"Iya, Mak. Kalau butuh bantuan katakan saja. Aku siap membantu Papah dan Mamak."
"Sungguh?"
Jay mengangguk mantap.
"Kalau begitu, Mamak boleh minta tolong sekarang, Win?"
"Iya, Mak. Mau minta tolong apa?" Jay tersenyum sangat tulus.
"Sini kan dulu keranjangnya."
"Jangan, Mak. Ini berat! Biar aku bawakan sampai rumah."
Magdalena tetap merebut keranjang itu. Jay ingin memintanya kembali, namun Magdalena berjalan cepat meninggalkan dirinya.
"Mak, jangan cepat-cepat jalannya. Aku bawakan keranjangnya."
"Tidak usah. Katanya kau mau membantu, 'kan?"
"Iya, Mak."
"Kau ke halaman belakang, ya. Bersihkan anak-anak kita, Win."
Jay berhenti mendadak. Terlalu terkejut mendengar ucapan Magdalena.
'Anak siapa?'
Dan setelah melihat halaman belakang yang dimaksud Magdalena, Jay tahu apa yang dimaksud dengan 'anak kita' itu. Dia sampai tertawa-tawa sendiri saking tidak percaya.
[Misi baru, selesaikan tugas di kandang. Batas waktu sebelum petang. Waktu tersisa tiga jam.]
[Jika Anda dapat menyelesaikan misi selama satu jam, Anda akan mendapat hadiah Rp 150.000.000,00; dua jam Rp 100.000.000,00; dan tiga jam sebesar Rp 50.000.000,00. Lebih dari tiga jam, misi dianggap gagal!]
"Hahaha! Kau gila!"
[Waktu tersisa 02:59:15.]
Jay ragu-ragu masuk ke dalam kandang. Dia sampai menyumpal hidung dengan jemarinya. Dengan sedikit tekad dan banyak keraguan, Jay akhirnya masuk ke ruangan terbuka yang cukup luas itu.
[Semangat!]
"Sialan kau, Sis!"
***
Jay ingin menitikkan air mata. Dia ingin pulang ke kota atau lebih baik tetap mati saja di tubuh aslinya.
Saat ini, Jay sedang membersihkan kotoran menggunakan serok dan tangan telanjang. Magdalena kehilangan kaos tangan karet yang biasa digunakan untuk memegang tubuh ternak.
Jay sangat pesimis bisa menyelesaikan misi. Dia tidak akan keberatan kalau para ternak itu masih bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, Winarno memiliki lima puluh ekor sapi, delapan puluh kambing, dan entah berapa ratus ayam di kotak kandang yang berjejeran rapi di pinggiran ruangan. Dan Jay harus membersihkan semua sendirian!
"Kenapa Winardi harus kerja kalau orang tuanya kaya raya? Dia bisa buka usaha sendiri daripada susah-susah cari kerja sampai miskin sendiri di kota," gerutu Jay.
[Sisa waktu 01:30:00.]
"Apa yang harus aku lakukan dengan semua kotoran ini?! Seroknya terlalu kecil dan hampir patah! Tambahkan waktu misinya, Sis!!"
[Anda bisa mendorong semua kotoran sekaligus dengan kaki.]
__ADS_1
[Harga tukar betakoin saat ini turun drastis. Investasi Anda gagal. Anda hanya bisa mengandalkan sistem sekarang.]
"Aaaaaaargh!!! Ahhh ... Aaaaah!!"
Jay berteriak jijik karena kakinya mulai menyentuh kotoran ternak. Suara Jay sampai juga ke dalam rumah dan didengar orang tua Winardi.
"Itu si Winardi kenapa, ya, Pah? Mamak mau melihat Winardi dulu kalau-kalau terjadi sesuatu," ucap Magdalena cemas.
"Biarkan saja, Mak. Winardi sudah dewasa."
"Tapi, kasihan Winardi, Pah."
"Mamak tidak dengar Winardi sampai mengerang keras begitu? Kasih dia waktu untuk memanjakan diri sendiri. Biar dia juga cepat sadar dan mau menikah."
"Maksud Papah apaan, sih?"
"Nanti juga dia lama-lama sadar sendiri kalau main solo itu tidak bisa memuaskannya."
"Papah ini ...."
Terdengar suara ketukan lembut dari pintu. Magdalena menyambut kedatangan wanita tua renta dan menyilakan duduk di ruang tamu. Winarno juga ikut keluar dengan mendorong sendiri kursi roda pemberian pihak rumah sakit.
"Bu Surti, sudah lama tidak datang kemari." Winarno tersenyum lebar.
"Iya, Pak Win, maaf saya akhir-akhir ini agak sibuk dan baru bisa datang. Saya ke sini mau menyahur hutang pembelian kambing bulan lalu, Pak."
Winarno dan Magdalena saling memandang dan tersenyum senang. Magdalena buru-buru masuk mengambil buku catatan hutang para tetangga.
Jangan salah! Orang tua Winardi bukan rentenir. Karena kebaikan mereka, para tetangganya sering meminjam uang dalam jumlah yang cukup besar.
Baik Winarno ataupun Magdalena tidak pernah tega melihat kesusahan orang lain. Meskipun orang yang ditolong belum tentu jujur saat minta bantuan.
"Hutang Bu Surti totalnya dua juta rupiah untuk pembelian lima kambing, ya."
Surti mengambil uang dua juta dari kantong plastik hitam. Winarno yang melihatnya jadi tidak tega. Tetapi, dia juga tidak mau menolak uang itu karena mereka sangat membutuhkannya saat ini.
"Pas, ya, Buk." Magdalena selesai menghitung uang itu.
"Saya juga mau beli kambing lagi, boleh? Minggu depan cucu saya ada yang mau menikah."
"Boleh, boleh sekali. Tapi, sekarang kami tidak menerima kredit."
"Iya, Bu, asalkan harganya sama di pasaran. Saya sudah cek di kota, harga kambing naik sekarang," jelas Surti seraya menyerahkan selebaran harga kambing.
"Berapa, Bu, harganya?"
"Lima ratus ribu per ekor. Saya mau membeli sepuluh ekor. Jadinya lima juta, ya." Surti kembali menyerahkan uang.
Magdalena mengantar Surti untuk memilih sepuluh kambingnya. Mereka bertemu dengan Jay yang tampak terpukul setelah menyelesaikan misi.
"Win, Bu Surti mau beli sepuluh kambing."
"Pilih saja," lirih Jay.
Magdalena berbisik di telinga Jay, "Harga kambing naik, Win. Sekarang lima ratus ribu per ekor. Kita bisa makan enak malam ini."
"Kata siapa harga kambing lima ratus ribu?!" seru Jay.
Jay melompat dari duduknya. Dia berjalan ke arah Surti. Lalu menarik bahu nenek itu sampai menghadap dirinya. Mereka berdua saling beradu tatap dengan sikap menantang.
__ADS_1
'Sis, cari tahu identitas orang ini! Jangan-jangan uban dan keriputnya palsu!'