Win System

Win System
Chapter 3


__ADS_3

Jay ingat sekali dengan Rio Anggara. Beberapa bulan lalu dia memecat pria yang dulu berstatus manajer keuangan di JW Corp.


Rio Anggara mengorupsi uang perusahaan sampai dua ratus juta. Dia telah mengembalikan sebagian dan masih berhutang seratus juta yang akan dikembalikan secara mencicil. Tentu saja, setelah melakukan kesepakatan yang disaksikan pengacara dan pihak berwajib.


"Haa? Siapa kau?" Rio menampik tangan Jay dengan gaya arogan.


"Win, sudah, jangan emosi." Gio berusaha menenangkan Jay sambil menarik lengannya.


"Tidak tahu malu sekali kau! Bulan lalu kau belum membayar cicilan!"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengenalmu. Kapan aku berhutang padamu?"


'Tunggu sebentar. Aku lupa kalau aku bukan lagi Jay Wijaya! Sial!'


"Sudah! Pergi kalian semua kalau mau membuat keributan di kedaiku!" Ibu pemilik kedai akhirnya meledakan amarah.


"Maaf, Bu, teman saya salah orang pasti." Gio berusaha mencairkan suasana.


"Ya, aku salah orang." Jay bicara sekedarnya, seolah tidak melakukan kesalahan.


Sikap Jay berhasil membuat Rio marah. Rio komat-kamit tidak jelas sambil menatap sengit pada Jay, kemudian pergi setelah ibu pemilik kedai tidak mau dihutangi lagi.


"Kau kenal orang itu?" tanya Gio.


"Tidak."


Gio menghela napas panjang. "Jangan bikin masalah, Win. Kita ini orang susah. Kalau emosi lalu melukai orang sedikit saja, bisa-bisa kita dituntut dan dipenjara."


Meskipun Jay bersikap tidak sopan karena tidak menanggapinya, Gio tetap memperlakukan Jay dengan baik. Sampai mereka berpisah pun, Gio tetap melemparkan senyum ramah.


Setelah Gio tidak lagi terlihat, Jay berbalik kemudian mendapati Rio telah menanti dirinya di gang dekat kedai itu. Tampang Rio sangat tidak bersahabat.


"Hoi! Kau ada masalah apa denganku?"


"Aku salah orang," jawab Jay singkat dan terus berjalan menjauh.


"Tch, sialan! Kau meremehkan aku, hah?!" Rio memaki seraya menarik bahu Jay.


Salah satu kelebihan Winardi dari sejuta kekurangannya, yaitu dia memiliki badan atletis. Bahkan, Jay yang setiap hari berlatih, masih kalah dari Winardi yang ototnya terbentuk secara natural. Dia tidak takut jika harus berkelahi dengan si tikus yang pernah mengerat di perusahaannya.


"Mau apa kau?" tanya Jay mengintimidasi.

__ADS_1


"Kau menantang, hah?" Rio mendorong dadanya ke dada Jay. Namun, Rio sendiri yang justru terhuyung mundur.


Jay tidak terima diperlakukan oleh orang rendahan itu. Dia mengepalkan tangan hendak memukul Rio. Namun, tangannya berhenti tepat di wajah Rio.


Ucapan Gio terlintas dalam benaknya. Jay tidak punya uang maupun kekuasaan. Jika Rio menuntutnya, bisa-bisa dia akan dipenjara dengan badan milik orang lain.


"A-apa, hah?!" Rio masih menggertak biarpun wajahnya tampak ketakutan.


Jay mendorong Rio. "Jangan ganggu aku."


"Dasar sialan! Orang miskin saja belagu!"


Jay berlalu pergi. Dia masih dapat mendengar Rio menghinanya habis-habisan. Darahnya mendidih. Dia sebenarnya sangat ingin memukul Rio barang sekali, tetapi tidak bisa.


***


Jay mendapati layar hologram sistem berkedip-kedip seiring dengan pergerakan matanya. Baru juga membuka mata, sistem itu kembali mengganggunya.


[Apakah Anda ingin melanjutkan misi selanjutnya?]


Semalam, Jay telah melihat rekening Winardi benar-benar bertambah satu juta lima ratus ribu sesuai apa yang dijanjikan sistem. Namun, bukan berarti Jay ingin terus-menerus mengandalkan sistem itu.


Jay seorang pria arogan, namun terkenal dengan kejujurannya. Dia tidak mau melakukan yang namanya kecurangan. Menggunakan sistem untuk meningkatkan diri merupakan salah satu bentuk kecurangan, pikirnya.


Hanya dengan uang sejumlah itu, Jay yakin sekali bisa melipat gandakan dengan sedikit usaha dan kerja keras. Ya, itu tekadnya. Namun, kenyataan menampar dirinya, sehingga dia harus bangun dari mimpi dan harapan.


"Win! Win!" Ibu kost mengetuk-ngetuk pintu berulang-ulang dan cukup keras. "Sudah ditransfer belum? Kenapa tabunganku tidak bertambah?"


Jay berdecih kemudian menutup kepala menggunakan bantal. Tetapi, ibu kost sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat jawaban atau uangnya.


"Win! Barusan aku ke ATM, mau buat belanja, malah uangmu belum masuk! Kau tega sekali membohongiku! Aku jadi tidak bisa masak hari ini!"


'Dasar pembohong!'


Jay berpapasan dengan ibu kost semalam. Ibu kost sedang membeli nasi goreng keliling. Saat ibu kost membuka dompet untuk membayar, Jay sempat melihat uang ratusan ribu penuh sesak di dalamnya.


Ibu kost menggebrak pintu untuk yang terakhir kali seraya mengumpat dengan suara keras. Jay akhirnya bernapas lega. Baru kali ini, Jay tidak berkutik di depan seseorang. Masalah uang pula!


Ponsel Winardi berdering, nama Derry terpampang di muka ponsel pintar. Jay mengerutkan kening sesaat kemudian mengangkatnya.


"Win, lagi di mana?"

__ADS_1


"Kost."


'Siapa Derry ini? Sepertinya aku pernah mendengar suaranya.'


"Datanglah ke kantorku, Win. Aku akan mentraktirmu makan siang."


"Di mana kantormu?"


Jay dengan senang hati menerima traktiran orang yang bernama Derry itu. Entah mengapa, Jay jadi ketagihan makan gratisan sejak berada di tubuh pria miskin.


"Oh, ayolah, kau masih marah karena kejadian itu? Aku minta maaf sekali, Win. Aku tidak tahu kalau pak presiden direktur JW akan menemuimu langsung."


'Aku pernah bertemu dengan tubuh ini? Kapan? Aku tidak ingat punya urusan dengan pemilik wajah ini.'


"Ya, tidak apa-apa."


"Cepat datang waktu makan siang. Aku tunggu, ya. Aku akan memberitahu kabar baik untukmu."


Jay bergegas membersihkan diri. Dia mengembuskan napas dengan kasar ketika melihat ke dalam lemari.


Tidak ada pakaian Winardi yang sesuai seleranya. Dia akhirnya memilih kemeja satu-satunya yang berwarna gelap, dipadukan dengan celana hitam.


Jay pikir, Winardi seorang eksentrik karena kebanyakan pakaiannya berwarna terang benderang menyakitkan mata. Warna kuning cerah, hijau muda, dan biru langit mendominasi seisi lemari.


"Dia mungkin suka warna-warna natural, seperti langit, rumput, dan kotoran." Jay berdecih menghina.


Setelah dirasa berpakaian cukup baik, Jay bergegas menuju perusahaannya sendiri. Sambil mengendap-endap supaya tidak berpapasan dengan ibu kost tentunya.


Selama perjalanan, Jay terus mengingat siapa pemilik nama Derry itu. Tidak mungkin Jay bisa tahu semua karyawannya. Dia hanya mengingat para karyawan yang memiliki prestasi cemerlang di kantor, dan orang-orang seperti Rio yang mencoba mencurangi dirinya.


Untung saja, sampai di halaman kantor, Derry telah menanti Jay. Alih-alih membawa Jay ke kantin kantor yang menyediakan menu empat sehat lima sempurna, Derry mengajak Jay ke kafe di seberang gedung JW Corp.


"Maaf, Win. Aku tahu kau tidak nyaman masuk ke kantor itu sekarang."


"Jangan minta maaf seperti kau memiliki kesalahan besar padaku." Jay memancing untuk mencari tahu masalah mereka berdua.


Ponsel Derry tiba-tiba berdering. Sepertinya, panggilan dari orang penting. Terlihat dari ekspresi Derry saat membaca nama pada layar ponsel.


"Aku keluar mengangkat telepon sebentar," kata Derry dan berlalu pergi.


Jay mengamati langkah Derry keluar dari pintu kafe. Pria itu nyaris bertubrukan dengan seorang wanita berpakaian serba hitam. Derry membungkuk hormat sambil meminta maaf.

__ADS_1


Wanita yang ditubruknya hanya tersenyum ramah. Kemudian, membuka kacamata hitam ketika memasuki kafe.


Rupanya, wanita itu adalah orang yang membunuh Jay! Jantung Jay berpacu dengan cepat ketika melihat Melinda berjalan ke arahnya.


__ADS_2