
Jay Wijaya tidak menjadi kaya raya begitu saja. Dia punya banyak pengalaman menangani berbagai karakter orang. Bertemu dan bernegosiasi dengan para pebisnis dari seluruh dunia sudah menjadi hal yang biasa. Jay pikir, dia juga bisa tawar-menawar dengan sistem.
Apalagi, hanya dengan sistem yang Jay pikir hanya sebuah lelucon. Sesuatu yang tiba-tiba muncul setelah kematiannya ketika berada di tubuh orang lain. Jika gagal pun, dia tidak merasa rugi apa-apa karena bukan Winardi yang asli.
'Masa bodoh dengan nasib tubuh ini.'
[Anda benar-benar akan dikeluarkan dari sistem!]
'Wina ... Wina ... cuma sistem saja kau mau mengatur hidupku. Harusnya, kau yang membutuhkan aku karena kau yang mendatangiku lebih dulu. Apa aku salah?'
[...]
'Aku tidak percaya dengan yang namanya keberuntungan dari langit. Yang jatuh dari langit hanya air hujan dan salju. Semua yang ada di sini dapat diraih dengan kerja keras dan ketekunan.'
[Hadiah Anda akan dilipatgandakan ketika Anda berhasil membawa lima target kembali ke perusahaan.]
'Mau ada sistem atau tidak, aku yang asli toh sudah mati. Sekalian saja bikin onar pakai tubuh orang ini.' Jay pura-pura tidak peduli, tetapi kedua alisnya sedikit terangkat.
Jay celingukan ke sana kemari. Dia lalu berjalan dengan angkuh dan kedua tangan bersarang di saku celana. Kepalanya sedikit mendongak, seakan dirinya masih Jay Wijaya yang ingin menantang semua orang yang menentang.
"Siapa dulu, ya, yang mau dipukuli? Biar tahu rasa nanti kalau jiwa Winardi mengambil alih tubuh ini."
[Hadiah misi Rp 5.000.000,00 per orang.]
Jay menghentikan langkah, kemudian menghela napas. Dahinya berkerut sok sedih ketika memandangi layar hologram.
"Berarti kalau aku berhasil membawa lima orang, akan dikali lima juta dan dikali dua lagi, betul?"
[Betul. Total hadiah misi Rp 50.000.000,00.]
Jay menghela napas panjang. "Mau bagaimana lagi? Aku harus berbuat kebaikan sebelum benar-benar mati."
[Apakah Anda akan melanjutkan tantangan misi?]
"Kau sungguh membutuhkanku, Sis Wina? Baiklah, karena aku kasihan padamu yang terus menerus merengek, aku akan menerima tantangan misi." Jay berjalan melewati layar hologram sambil mengibaskan tangan pada sistem.
[Batas waktu misi lima hari, dimulai dari sekarang!]
Bibir Jay melengkung ke atas sepanjang perjalanan. Siapa yang tidak bisa ditaklukkan Jay Wijaya? Tidak ada! Bahkan, sistem pun akan dibuat patuh dan menurut padanya, begitu pikirnya.
__ADS_1
***
"Perlihatkan alamat Hanifa Fitria sekali lagi, Sis Wina."
Win sistem memunculkan alamat dan peta lokasi keberadaan Hanifa yang ditandai dengan titik merah. Beruntung, Hanifa tengah berdiam diri di dalam rumah.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, belum terlalu malam untuk Jay datang bertamu. Kalau sudah malam pun, dia tidak akan peduli.
Yang penting bagi Jay, satu hari harus berhasil menangani satu orang. Dia bertekad akan menuntaskan misi selama tiga hari kalau perlu. Supaya dia bisa membodohi dan mengeruk lebih banyak uang dari sistem.
Entah siapa yang membodohi siapa? Jay yang berniat memanfaatkan sistem, atau sistem yang membuat Jay terlena sampai lupa bekerja keras untuk meraih sesuatu?
"Ini benar alamatnya, tapi kenapa tidak ada rumah di sini?"
Di depan Jay, rumah-rumah petak kecil saling berjejeran tanpa celah. Sebagian besar rumah itu berdinding semi permanen. Karena itu, Jay pikir apa yang dilihatnya bukan sebuah rumah.
Sampah-sampah juga terlihat menumpuk di ujung jalan. Sialnya, rumah Hanifa terletak di dekat pembuangan sampah. Jay berusaha keras menahan bau yang tidak sedap ketika berjalan menuju ke sana.
Jay sempat berbalik dan ingin membatalkan misi. Tapi, harga diri dan gengsi mencegahnya. Dia tidak ingin kalah dari sistem yang dipikirnya dioperasikan oleh perempuan cantik bernama Wina.
Tangan Jay bergerak ragu-ragu ketika hendak mengetuk pintu. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, seseorang telah membuka pintu dari dalam.
Muncul sosok wanita muda yang lumayan cantik di mata Jay dan tampak kebingungan. "Mau cari siapa?" Suara lembut perempuan itu bertanya.
Mendadak Jay merasa canggung dibuatnya. Dia masih mengingat wajah itu. Dan masih sangat segar dalam ingatannya.
Jay tidak menyangka jika Hanifa merupakan office girl yang paling rajin melayaninya. Dia menyesal karena tidak mencari tahu lebih dulu. Kalau tahu, dia pasti akan langsung melewatkan Hanifa sebagai target.
"Itu saya sendiri. Ada keperluan apa?"
'Ah, sial. Apa aku pergi saja, ya?'
[Anda akan kehilangan Rp 5.000.000,00. Apakah Anda yakin ingin melewatkannya?]
"Itu ... boleh saya bicara dengan Anda sebentar?"
"Mau bicara apa?"
"Boleh saya masuk dulu? Tidak, sebaiknya kita bicara di luar saja."
__ADS_1
'Tiba-tiba pikiranku kosong dan lupa mau bicara apa. Ini pasti salah otaknya Winardi yang mempengaruhi akal sehatku!'
[Pemilik tubuh tidak ada hubungannya dengan keputusan dan tindakan Anda.]
'Kau diam saja, Sis! Kenapa jadi cerewet sekali? Menghalangi pemandangan saja!' Jay mengibaskan telapak tangan pada layar hologram.
[...]
"Maaf, di sini memang banyak nyamuk. Saya ambil jaket sebentar."
Jay akhirnya membawa Hanifa ke taman yang tidak jauh dari lingkungan itu. Mereka berdua duduk di bangku yang dikelilingi anak-anak kecil.
Beberapa anak menggoda Jay dan Hanifa layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Hal itu membuat Jay semakin kegerahan dan tidak nyaman. Sebab, orang yang duduk diam menunggu dia bicara itu merupakan salah satu dari sejuta wanita yang tergila-gila pada Jay Wijaya.
Benar, yang membuat Jay canggung dari tadi adalah fakta bahwa dia memecat Hanifa bukan murni karena kesalahan semata. Hanifa yang kebetulan tidak sengaja menumpahkan kopi dijadikan alasan supaya dia bisa memecatnya.
Jay sangat tidak nyaman karena pernah bersikap tidak adil pada salah satu karyawannya. Dan itu dia lakukan agar Melinda berhenti marah dan menuduhnya macam-macam. Padahal, Melinda sendiri yang selingkuh darinya.
"Apa Anda tidak jadi bicara? Sebentar lagi malam. Nanti nenek saya mencari."
"Kau tinggal dengan nenekmu? Di mana orang tuamu?" Jay tidak sadar cara bicaranya telah kembali seperti dulu.
"Orang tua saya sudah meninggal. Kalau boleh tahu, Anda siapa, ya?"
"Oh, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Winardi. Panggil Win saja dan tidak perlu bicara sopan padaku." Mereka pun berjabat tangan.
"Mas Winardi kenal aku dan tahu rumahku dari mana?"
"Aku belum lama ini kerja di JW Corp."
Mata Hanifa bergetar ketika mendengar perusahaan yang telah menendangnya. Jay dapat merasakan kegelisahan yang dirasakan perempuan itu.
'Apa dia marah karena dipecat secara tidak adil? Atau karena tidak bisa berjumpa denganku lagi? Secinta itukah dia padaku? Dia terlihat sangat terpukul.'
"Ada urusan apa karyawan JW Corp. datang mencariku?" Nada ramah Hanifa menghilang.
"Jangan salah paham dulu. Aku datang ke sini bukan untuk mewakili perusahaan. Tapi, aku datang karena ingin membantumu."
"Membantuku? Aku sudah tidak punya urusan lagi dengan mereka. Maaf, aku mau pulang dulu."
__ADS_1
"Sebentar!" Jay meraih pergelangan tangan Hanifa, kemudian melepaskan dengan cepat. "Aku tahu kalau kau patah hati pada pak presiden direktur, tapi tolong dengarkan aku dulu."
"Maaf? Aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa dengan orang sombong yang bernama Jay Wijaya! Kenapa aku harus patah hati?"