
Tidak ada lampu satu pun di area dalam kuburan. Jay menyipitkan mata untuk mempertajam indra penglihatan. Sebuah bayangan bergerak-gerak di belakang batu nisan.
Bulu tengkuk Jay meremang. Dua kakinya yang gemetaran mendorong tanah untuk memundurkan badan yang terduduk di tanah lembab. Sampai punggungnya terantuk kuburan batu.
Jay berusaha bangkit dengan bertumpu pada batu kuburan batu itu. Namun, matanya tetap fokus pada suara gemerisik dari arah bayangan hitam tadi.
"Hah!" Jay memekik tertahan.
Sebuah kepala menyempul dari balik batu nisan. Jay hampir pingsan dibuatnya. Isi dalam kandung kemihnya juga nyaris meledak. Untungnya, dia tidak sampai mengompol di celana.
"Maaf ... saya ... saya membuat Anda ... ketakutan." Pria itu masih sesenggukan.
"Saya tidak takut! Saya cuma terkejut!"
Jay meraba-raba dada kirinya. Memastikan jantungnya masih berdetak.
[Informasi baru dimasukkan ke dalam sistem. Jay Wijaya takut dengan hantu.]
'Diam kau! Aku sudah bilang, aku cuma kaget! Kalau kau jadi manusia, kau pasti sudah pingsan, Sis!'
[Target telah ditemukan.]
"Sekali lagi, saya minta maaf," kata Fahmi seraya berjalan mendekati Jay.
Fahmi membantu Jay berdiri dan membersihkan celana. Meskipun gelap, Jay masih bisa melihat wajah Fahmi dari jarak sedekat itu.
'Benar, dia Fahmi. Dia kelihatan kacau sekali. Ada apa dengannya sampai mengutukku? Masa cuma dipecat saja sampai mau membunuhku?'
"Ya ... sebagai ganti karena mengejutkan saya, tolong antar saya keluar dari tempat ini. Saya tersesat."
Fahmi mengusap wajahnya yang basah. "Mari ..."
Jay mendekat ke arah Fahmi. Sekali lagi, Jay menegaskan pada diri sendiri kalau dia tidak takut. Dia hanya sedikit merinding dan tidak mau tersandung di kegelapan.
"Lampu di sini mati sejak minggu lalu. Saya pernah beberapa kali bertemu orang yang lupa jalan keluar," kata Fahmi.
"Beberapa kali? Berarti, Bapak sering datang ke sini malam-malam?"
"Saya datang setiap hari. Kadang dari pagi sampai sore, atau dari sore sampai malam."
"Bapak penjaga kuburan di sini?"
"Bukan. Saya juga pengunjung."
"Oh ... Ziarah ke makam Jay Wijaya yang tadi Bapak teriakkan itu, ya?" pancing Jay.
"Bukan, Mas. Dia mantan atasan saya. Saya menunggui makam anak saya."
Mata Jay melebar, dia baru tahu itu. Fahmi terkadang membawa anaknya ke rumahnya. Dia juga beberapa kali menyapa bocah lelaki itu.
"Anak Bapak sudah lama meninggal?"
__ADS_1
"Baru tiga minggu lalu. Dan nama orang yang saya sebut tadi yang membunuh anak saya." Suara Fahmi bergetar menahan tangis.
Jay tertegun sesaat. 'Apa lagi ini?'
"Membunuh? Kalau anak Bapak dibunuh orang, seharusnya Bapak laporkan ke kantor polisi."
"Tidak bisa. Dia tidak membunuh anak saya secara langsung."
"Otak pembunuhan berencana maksudnya? Apa Bapak perlu bantuan untuk membuat laporan di kantor polisi? Saya bisa membantu Bapak sekarang juga."
Jay sesungguhnya tidak terima karena dituduh membunuh orang. Dadanya bergemuruh menahan amarah.
"Terima kasih, tapi tidak perlu. Bukan hanya orang itu yang membunuh anak saya."
"Ada pembunuh lainnya?" tanya Jay keheranan.
"Saya salah satunya. Saya juga bersalah karena tidak berani menentang perintah saat masih menjadi karyawan orang itu. Andai saja saya ngotot minta izin pulang dan membawa anak saya ke rumah sakit, anak saya pasti masih hidup sekarang."
Ingatan Jay berputar ke beberapa minggu lalu. Dia ingat betul bagaimana kronologi pemecatan Fahmi dulu.
Fahmi merupakan sopir pribadinya selama bertahun-tahun dan jarang melakukan kesalahan. Bisa dibilang, hari itu adalah hari sial mereka berdua.
Jay yang tergesa-gesa berangkat menemui klien penting dari luar negeri sangat tidak sabar menunggu kedatangan Fahmi yang membawa mobilnya. Berulang kali Jay menghubungi Fahmi, namun tidak ada tanggapan. Padahal, dia harus menemui dua klien penting sekaligus waktu itu.
Fahmi datang hampir setengah jam kemudian. Jay marah-marah, tapi masih bisa memaafkan. Karena Fahmi biasanya tidak pernah terlambat. Dan dia juga tidak punya banyak waktu untuk mengomeli bawahannya itu.
"Saya boleh izin keluar sebentar, Tuan? Saya ada keperluan mendadak. Sepuluh menit saja, Tuan," pinta Fahmi ketika mereka sampai di parkiran restoran tempat pertemuan Jay dan kliennya.
"Tidak bisa! Kau dibayar untuk mengantarku ke mana saja. Lagi pula, ini masih jam kerjamu. Setelah ini, aku juga harus menemui klien penting lain."
Dua jam pun berlalu. Jay masih tertawa-tawa di dalam dengan kliennya di dalam restoran. Di lain pihak, Fahmi semakin resah karena meninggalkan anaknya yang sakit di rumah sendirian.
Karena Jay tidak kunjung keluar, Fahmi diam-diam membawa pergi mobil Jay dan pulang ke rumah. Ketika dia membuka pintu depan, anak lelaki berumur lima tahun yang ditinggal mati ibunya sejak lahir itu sudah lemas tergeletak di lantai.
Fahmi langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Meskipun dia tahu kalau anaknya tidak lagi bernapas, jantungnya pun berhenti berdetak.
"Saya turut berduka cita, Pak," kata dokter yang memeriksa anaknya.
Dunia Fahmi seakan runtuh. Anak semata wayang yang ditinggalkan mendiang istrinya telah tiada. Dia meraung-raung di depan jenazah anaknya.
Bahkan, Fahmi sampai lupa kembali ke pekerjaannya. Diabaikan juga puluhan telepon dari Jay Wijaya.
Akhirnya, Jay terlambat menemui klien kedua dan ratusan miliar yang seharusnya dia dapatkan, hilang begitu saja. Tidak mungkin Jay tidak murka.
Jay lantas memecat Fahmi begitu mobilnya diantar sampai rumah. Tanpa mau mendengar penjelasan Fahmi.
Seandainya Jay tidak mati dan masuk ke tubuh Winardi, dia tidak akan pernah tahu apa yang dialami mantan sopirnya. Dan itu disebabkan oleh ketidakpedulian Jay Wijaya terhadap sesuatu atau seseorang yang tidak berguna baginya.
'Karena tidak memberi izin sepuluh menit, aku kehilangan ratusan miliar. Tapi, dia kehilangan anaknya.'
"Apa Bapak ..." Suara Jay tersekat di tenggorokan "... sangat membenci atasan Bapak itu?"
__ADS_1
Fahmi tidak menjawab. Dia menunduk dan mengamati langkah kaki mereka berdua yang semakin melambat.
"Saya benci ... tapi saya juga benci diri saya sendiri karena tidak ada di saat anak saya membutuhkan saya."
"Apa Bapak tidak mau memaafkannya?"
"Saya ... saya belum bisa saat ini."
Jay menghentikan langkah. Fahmi pun ikut berhenti dan memandang Jay kebingungan.
"Ada apa, Mas? Mau berpisah di sini? Sudah tahu jalan pulang, 'kan?"
Karena Jay tidak menanggapi, Fahmi berkata lagi, "Maaf kalau saya terlalu banyak bicara."
Jay sepenuhnya mengabaikan ucapan Fahmi. Benaknya tengah diliputi berbagai pikiran rumit.
"Bapak tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang, Bapak harus bangkit dan membalas perbuatan Jay Wijaya itu."
"Saya kurang paham ..."
"Saya akan membantu Bapak kembali ke JW Corp. Kebetulan, saya punya koneksi orang dalam di perusahaan itu."
"Bagaimana Mas bisa tahu saya kerja di JW Corp?"
"Siapa yang tidak kenal Jay Wijaya, Pak? Semua pria ingin sukses seperti dirinya, termasuk saya."
"Oh, begitu. Tapi, saya tidak mau melihat Jay Wijaya lagi. Terima kasih tawarannya."
"Lalu, apa Bapak akan terus menunggu di makam anak Bapak, sementara Jay tidak tahu apa yang dialami Bapak karena perbuatannya? Bapak cuma mau menyumpahi dia tanpa berbuat apa-apa?"
Jay melanjutkan ucapannya, "Bapak bisa membalas Jay Wijaya ketika Bapak berada dekat dengannya. Cari kelemahannya dan jatuhkan dia." Jay menepuk bahu Fahmi. "Keputusan ada di tangan Anda. Datanglah ke kantor besok pagi. Dan ... saya minta maaf atas kehilangan Bapak."
Jay meninggalkan Fahmi yang masih membeku di tempat. Tampaknya, Fahmi sedang merenungi kata-kata Jay tadi.
***
Jay menatap langit-langit di kamar kostnya. Pikirannya masih berkelana ke mana-mana. Dia tidak bisa lagi tidak peduli dengan apa yang telah dialaminya.
"Sis, jawab pertanyaanku dengan jujur."
[Silakan bertanya.]
"Apa tujuanmu yang sebenarnya? Kenapa kau memilihku ikut permainan bodoh ini?"
[Win Sistem dirancang untuk membuat klien menjadi kaya raya dengan sedikit usaha dari menyelesaikan misi-misi. Kami mencari klien secara acak dan kebetulan sistem kami menemukan eksistensi jiwa Anda yang masih ingin hidup di dunia.]
"Tch! Jangan meremehkanku, Sis. Kau pikir aku bodoh?" Jay tertawa menghina. "Baik, aku akan mencari tahu sendiri kalau kau tidak mau menjawab jujur. Ternyata, sistem juga bisa bohong."
[Sistem hanya mengolah data dari server dan memberikan informasi kepada klien. Tidak kurang dan tidak lebih.]
"Hahaha, baik, Nona Pembohong. Lalu, apa yang terjadi dengan Winardi yang asli?"
__ADS_1
[Dari data sistem menyebutkan, Jay Wijaya tidak peduli dengan urusan orang di sekitarnya. Apa Anda sungguh ingin tahu?]
"Ya, aku ingin tahu. Katakan sekarang ..."