Win System

Win System
Chapter 22


__ADS_3

Kedatangan dua orang polisi membuat seisi JW Corp. gempar. Termasuk mengejutkan Wijaya yang baru saja datang. Dia langsung memeriksa semua berkas milik Jay di komputer. Lemari dan brankas tidak luput dari pantauannya.


Apakah Jay menggelapkan dana? Ataukah Jay menggunakan narkotika? Bisa jadi, Jay menyimpan benda-benda ilegal di sana!


Namun, Wijaya tidak menemukan apa pun. Dia kembali duduk tenang tatkala dua orang polisi itu sampai di depan meja kerjanya.


"Selamat pagi, Pak. Kami dari Kepolisian Pusat Kota Jawara ingin meminta izin kepada Bapak untuk membawa salah satu karyawan di kantor ini," kata salah satu polisi.


"Untuk apa, Pak? Apakah ada karyawan saya yang melakukan tindak kriminal?"


Wijaya kembali gugup. Siapa orangnya yang berani membuat polisi mendatangi kantor JW Corp? Wijaya tahu betul jika Jay selalu menyeleksi karyawan dengan sangat hati-hati. Tidak mungkin ada orang yang luput dari pantauan tim khusus milik Jay.


"Benar, kami mendapat laporan bahwa karyawan Bapak yang bernama Winardi telah melakukan tindak kekerasan kepada Saudara Beni Hermansyah. Maka dari itu, mohon kerja samanya agar kami bisa membawa tersangka tanpa keributan."


"Apa?" Wijaya menggebrak meja. "Mereka berdua itu karyawan saya, Pak. Saya tidak mendapat laporan apa pun kalau ada pertengkaran di kantor ini."


"Kejadiannya bukan di sini. Mohon Anda segera memanggilkan yang bersangkutan secepatnya. Atau kami akan mencarinya sendiri."


"Baik, tunggu sebentar. Silakan duduk dulu. Pasti ada kekeliruan di sini."


***


[Misi baru.]


'Hah? Tumben sekali. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tapi ada misi.'


[Anda akan diberi tiga misi. Silakan memilih salah satu atau beberapa misi sekaligus.]


'Satu saja, Sis. Aku malas misi-misi terus. Uangku juga sudah semakin banyak. Kalau bukan karena kasihan sama kamu, aku juga tidak mau lagi main-main denganmu.'


[1. Selesaikan misi sebelumnya. Pergilah ke kantor Beni dan minta maaf padanya. Hadiah Rp 200.000.000,00;



Terima hukumanmu. Hadiah Rp 500.000.000,00;


Kabur dari sini secepatnya! Hadiah Rp 750.000.000,00.]


'Kenapa misi pertama dan misi kemarin sama, Sis?'


[Misi kemarin akan digabungkan dengan misi yang baru. Jika Anda memilih misi yang lain, maka Anda tidak perlu melakukan misi tersebut.]


'Lalu, apa maksud dari misi kedua dan ketiga? Hukuman apa? Dan mengapa aku harus kabur dari sini? Bisakah kau menjelaskannya?'


[Anda dapat membuka setiap informasi misi dengan membayar Rp 300.000.000,00. Untuk membuka informasi lengkap ketiga misi, Anda akan mendapat potongan harga dan hanya perlu membayar Rp 600.000.000,00.]


'Lagi-lagi aku disuruh bayar? Gila kau! Bahkan, setelah potongan harga juga lebih mahal daripada hadiahnya. Kau pikir aku bodoh?'


[Silakan memilih.]


'Jelas aku pilih yang ketiga!'

__ADS_1


[Misi ketiga diproses.]


[Sisa waktu pelarian Anda 00:05:00. Anda harus bergegas meninggalkan gedung JW Corp. secepatnya! Semoga berhasil!]


"Ah, sial! Ini di lantai tiga!"


Jay segera angkat kaki begitu detikan pada sistem mulai berkurang. Karena terlalu lama menunggu datangnya elevator, Jay langsung berbalik menuju tangga darurat.


Setiap satu putaran anak tangga, Jay memerlukan waktu hampir satu menit. Hingga akhirnya tiga menit lebih beberapa detik dia pun sampai di lantai dasar.


"Win! Mau ke mana?" seru rekan kerjanya.


"Aku ada keperluan mendadak di luar. Cuma sebentar!" Jay menimpali tanpa menghentikan kakinya.


"Kau dipanggil Pak Wijaya, Win! Win!!"


"Terserah. Sisa waktu satu menit. Sebentar lagi sampai pintu belakang! Hahaha!"


[Selamat! Anda berhasil keluar dari gedung JW Corp. Hadiah yang Anda terima Rp 750.000.000,00.]


"Cuma lari lima menit dapat uang banyak! Hahaha!"


[Misi lanjutan. Bersembunyilah di area seputar gedung kantor JW Corp. selama 10 menit tanpa ketahuan! Hadiah misi Rp 850.000.000,00.]


'Wow, cuma petak umpet hadiahnya sangat besar! Aku mencintaimu, Sis!'


Jay tidak pernah menyangka. Tujuh menit kemudian, dirinya sudah berada di balik jeruji besi karena salah mengambil misi!


***


'Brengsek kau, Sis!' geram Jay dalam hati.


[Anda sendiri yang membuat keputusan. Sistem hanya memberi pilihan.]


'Kau tidak pernah bilang kalau aku harus kabur dari polisi!'


[Anda juga tidak mau membayar sistem untuk membuka informasi.]


'Sialan! Harusnya aku tahu kalau kau hanya ingin menjebakku!'


[Sistem tidak pernah menjebak klien. Lagi pula, Anda mendapat hadiah yang cukup besar.]


"Brengsek!"


Jay memelototi layar hologram penuh amarah. Sampai tidak sadar bila dibalik layar tersebut ada tahanan lainnya.


"Siapa yang kau panggil brengsek, hah?!" hardik pria botak bertubuh gempal.


"Aku tidak bicara denganmu," ketus Jay.


"Kau jelas-jelas melihat ke arahku! Kau mau menantangku? Sini kalau berani!"

__ADS_1


Pria botak bertubuh gempal itu mendatangi Jay. Mereka berdua saling berhadapan dengan tatapan mengancam seolah ingin berkelahi. Padahal, kedua orang itu sama-sama diborgol kedua tangannya.


"Kau pikir aku takut?" tantang Jay.


"Brengsek! Kau tidak tahu siapa aku?"


"Kau pikir aku peduli? Palingan cuma pencopet jalanan!" Jay menyeringai sinis.


"Sialan!"


Pria botak itu mulai mendorong Jay menggunakan tubuh besarnya, sampai Jay terhuyung ke belakang. Tidak terima, Jay pun balas memukul pria botak itu dengan kepalanya, tepat di dada.


Pria botak itu mengaduh seraya mengucap sumpah serapah. Dia menendang Jay sekuat tenaga, namun Jay dengan cepat berkelit. Jay juga melakukan hal yang sama. Melayangkan kakinya tepat di wajah si pria botak.


Ruangan sel sementara itu semakin gaduh oleh para tahanan lain yang bersorak-sorai menyemangati pertarungan mereka. Hingga akhirnya, salah satu polisi datang. Polisi itu memukul-mukul jeruji besi dengan tongkatnya.


"Berhenti!" perintah pak polisi, "Kalian akan langsung masuk rumah tahanan kalau tidak mau berhenti!"


Namun, kemarahan Jay dan pria botak tadi tidak surut sama sekali. Mereka berdua mengabaikan ancaman polisi dan terus menyerang satu sama lain.


Beberapa polisi muncul dan masuk ke dalam sel. Dua orang polisi memegangi Jay dan pria botak itu. Kemudian, polisi yang lain mulai memukuli keduanya.


"Sekalinya kriminal, tetap kriminal! Di luar bikin rusuh, di penjara pun mau berulah?!" bentak polisi yang masih menyerang mereka.


Rahang Jay mengetat menahan sakit. Polisi itu tidak hanya memukul dengan tangan, tetapi juga menggunakan tongkat.


"Cukup!!" bentak polisi lain yang baru saja datang.


Para polisi yang ada di sana sontak memberi hormat kepada komandan mereka. Jay dan pria botak tadi langsung dibuang ke pinggiran sampai menubruk tahanan lain.


"Ada apa ini ribut-ribut?"


"Mereka berkelahi, Pak! Kami hanya berusaha menertibkan situasi!" jawab polisi yang memukul Jay.


"Jangan sembarangan bertindak!"


"Maaf, Pak!"


"Lupakan! Mana tersangka yang bernama Winardi?"


"Saya, Pak!" jawab Jay.


Jay tersenyum sinis kepada pria botak. Dia sangat yakin kalau dirinya akan segera dibebaskan. Namun, harapan dengan cepat mengkhianati.


"Silakan ikut kami ke ruang interogasi," ucap pak polisi.


Sesampainya di ruang interogasi, layar hologram mulai berkedip-kedip. Misi baru telah muncul.


[Silakan memilih misi Anda.]


'Hahahahaha! Kau benar-benar minta dihajar rupanya!!'

__ADS_1


Misi apakah yang membuat Jay ingin menghajar sistem?



__ADS_2