Win System

Win System
Chapter 11


__ADS_3

[Anda perlu membayar Rp 1.000.000.000,00 untuk membuka informasi pemilik tubuh. Apakah Anda akan melanjutkan?]


"Gila! Kenapa mahal sekali? Saat ini aku tidak punya uang sebanyak itu!"


[Anda bisa membuka informasi pemilik tubuh sekarang menggunakan kredit sistem.]


"Kredit sistem? Apa lagi itu?"


[Sistem akan membayar Rp 1.000.000.000,00 untuk membuka informasi pemilik tubuh. Anda hanya perlu menyelesaikan misi tanpa dibayar sampai Anda dapat melunasi uang tersebut.]


[Hadiah setiap Anda menyelesaikan misi akan terus bertambah. Sistem akan menghitung berapa kali misi yang perlu Anda selesaikan untuk membayar kredit dan bunga 10%.]


"Wah ... Kau memang tidak bisa dipercaya, Sis! Apa kau juga membuka pinjaman online? Ckckck."


[Tidak. Kami hanya memberi kemudahan bagi para klien saja.]


"Kemudahan kepalamu!"


[Apakah Anda akan mengambil kredit dari sistem?]


"Lupakan! Aku mau melanjutkan ke target selanjutnya."


***


[Target ditemukan!]


Seorang wanita bergaun mini melenggang ke arah meja bar. Dia lalu duduk di kursi tinggi dan menyilangkan kedua kaki.


Para pria melirik ke paha putih wanita itu. Begitu pula dengan Jay yang baru saja datang dan mengambil tempat duduk di sebelahnya.


Mata Jay naik turun menyapu setiap jengkal lekukan tubuh wanita itu. Tangannya gatal, serasa ingin menutupi kulit mulus tanpa cela itu supaya para pria hidung belang tidak bisa melihatnya.


"Negroni pakai es batu banyak, Kak," kata wanita itu pada bartender.


"Siap!" jawab si bartender.


[Informasi target. Saat ini, target tidak bekerja di mana pun. Target setiap malam berada di bar untuk mencari pasangan kaya yang bisa menyaingi Jay Wijaya.]


"Apa kau ingin mengajakku kencan, Tampan?" tanya Annisa tiba-tiba tanpa melirik ke arah Jay.


Jay menyeringai sinis. "Kau mau?"


Annisa memutar badan ke arah Jay. Jemarinya mulai memainkan kerah kemeja Jay dengan gerakan sensual. Matanya menatap lembut dan menggoda.


"Kau tampan sekali. Kalau kau mampu membelikanku barang-barang mahal, aku akan berkencan denganmu." Annisa mengedipkan sebelah mata secara perlahan.


"Apa kau kelilipan, Nona?" Jay terkekeh-kekeh.


Annisa memajukan badan. Jarak wajah mereka hanya sejengkal bayi. Dia semakin mendekat sampai bibirnya hampir menyentuh telinga Jay.


Dia pun berbisik, "Aku sedang menggodamu."


Jay menelan ludah dengan kasar. Beda dengan dulu saat dia masih berstatus suaminya Melinda, sekarang dia hanya pria lajang dan bebas. Apa dia mampu menolak godaan wanita cantik di dekatnya?


"Aku akan membelikan barang-barang mahal kalau kau mau kencan denganku malam ini," bisik Jay di telinga Annisa.


[Misi Anda adalah membawa para target kembali ke perusahaan, bukan membawanya ke kamar!]


'Berisik! Aku sangat kenal dengan sifat wanita ini! Kau diam saja!'


Annisa mengikik geli dan kembali duduk tegap menjauhi Jay. "Banyak penipu menawarkan apa yang barusan kau bilang."

__ADS_1


"Apa aku terlihat seperti penipu?"


"Tidak juga. Kau hanya kelihatan sangat tampan. Penipu tampan mungkin?"


"Setidaknya aku punya kelebihan di matamu, Nona."


"Benar. Kau mau minum? Aku akan mentraktirmu."


"Tidak, terima kasih. Aku tidak membawa sopir. Tidak baik mengemudi saat mabuk."


[Anda datang ke sini dengan jalan kaki dan Anda tidak memiliki sopir.]


'Jangan ikut campur, Sis!'


"Kau punya sopir pribadi? Kau pasti orang kaya." Annisa tersenyum manis.


"Aku punya segalanya, Nona. Yang tidak aku punya hanya wanita secantik dirimu."


Annisa terkekeh. Dari pakaian yang dikenakan Jay pun dia bisa tahu kalau pria di depannya itu sedang membual.


"Banyak wanita cantik di sini. Mau aku kenalkan teman-temanku?"


"Tidak perlu. Aku datang ke sini khusus untuk mencarimu, Nona Annisa."


"Oh ... kau tahu namaku?"


Annisa tidak terkejut sama sekali. Siapa juga yang tidak mengenalnya di tempat ini?


Sejak kehilangan kesempatan menggoda Jay Wijaya, dia selalu menghabiskan waktu di bar setiap malam. Mencari-cari pria kaya lain yang lebih mudah didapatkan.


Nyatanya, menggaet pria kaya tidak semudah pikirannya. Hatinya juga masih tertinggal di tempat Jay Wijaya.


"J-jay Wijaya? Apa kau utusannya? Apa dia mengingatku? Dia tahu aku ada di sini setiap malam karena patah hati padanya? Apa dia menyuruhmu untuk memanggilku ke perusahaan lagi? Wanita murahan itu masih menjadi istrinya?" Annisa berbinar antusias sampai lupa mengambil napas saat bertanya panjang lebar seperti kereta api.


"Bingo!"


"Jawab pertanyaanku! Jangan setengah-setengah."


Annisa menggenggam lengan Jay dengan kedua tangan seolah memohon padanya. Jay jadi bisa memandangi isi atasan gaun merah yang dikenakan Annisa lebih jelas sekarang. Air liurnya sampai hampir menetes.


"Apa kau menyukai Jay?"


'Bagus sekali.'


Arah pandang Jay terpusat pada gundukan atas Annisa yang naik turun ketika mengangguk-angguk.


"Jangan bohong, Nona. Kau pasti cuma ingin menguasai hartanya."


Annisa menggelengkan kepala dengan cepat. Perbuatannya itu semakin memanjakan mata Jay yang sudah lama kelaparan sejak berpisah dengan Melinda.


"Aku mencintai Jay Wijaya. Tapi, aku juga tidak menolak kalau diberi sedikit hartanya."


Jay sama sekali tidak memperhatikan jawaban Annisa. Dia hanya fokus dengan sesuatu yang menggelitik seluruh indranya.


"Jangan bohong." Jay menanggapi sekenanya.


Mendadak Jay tidak ingin meneruskan misinya lagi. Dia lebih tertarik melakukan sesuatu yang dirindukannya tiap malam.


Apalagi, Winardi sepertinya tidak pernah disentuh perempuan. Reaksi tubuh Winardi berbeda dengan tubuh aslinya yang kuat menahan godaan.


"Tidak, sumpah, aku sangat mencintainya!"

__ADS_1


"Aku tahu kau suka menggoda pria-pria kaya di sini." Jay tersenyum miring.


"Itu karena aku patah hati! Jay bilang apa padamu sampai mencariku?"


"Dia ingin kau kembali ke perusahaan. Sepertinya, dia juga akan bercerai dengan Melinda. Kau tidak mau menggodanya lagi?"


"Mau! Mau! Kapan aku bisa kembali kerja?"


"Setelah kau membawa dua orang lainnya kembali ke perusahaan."


[...]


"Siapa? Katakan sekarang juga! Aku akan menyeret orang-orang itu kalau perlu!"


"Sabar, Nona ... Aku akan mengirim nama-namanya padamu. Sekarang ... mau kencan denganku dulu?" Jay tersenyum tipis.


"Tidak! Aku mau Jay Wijaya! Tidak mau lelaki lain!"


'Tch, sialan! Aku salah strategi!'


"Kalau begitu, mau mengobrol denganku di sana?" Jay menunjuk sofa di pojokan ruangan. "Aku akan memberikan kiat-kiat khusus menaklukkan Jay Wijaya."


Annisa dengan cepat mengangguk. Dan sampai tengah malam, Jay terus membuat Annisa menganggukkan kepala agar dia bisa menikmati keindahan itu.


***


Kelima nama target berubah menjadi merah dan diberi tanda centang. Jay berseru kegirangan.


[Anda berhasil menyelesaikan misi (walaupun curang). Hadiah misi Rp 50.000.000,00 telah ditransfer ke rekening Anda.]


"Terima kasih, Sis Wina Sayang!"


"Halo, Mas Winardi," sapa Annisa.


"Hai, cantik ... Sudah mulai kerja hari ini?"


"Iya, Mas. Aku barusan bicara dengan papa mertua." Anisa mengikik.


"Selamat, ya."


"Ngomong-ngomong, Mas Winardi kenapa pakai seragam office boy? Katanya semalam, Mas Winardi eksekutif di perusahaan ini." Annisa menyipitkan mata curiga.


"Shhh ... jangan keras-keras. Aku ini agen rahasia untuk memantau karyawan. Cuma kau yang aku kasih tahu."


"O-oh."


Annisa melirik ke kanan kiri. Takut ada orang yang mendengar percakapan mereka.


"Aku akan merahasiakan identitas aslimu, Mas."


'Dasar bodoh. Langsung percaya begitu saja kau.'


"Ya sudah, Mas. Aku balik kerja dulu."


"Bagus, jangan lupa dekati papa mertua. Jangan sampai kalah dengan si Melinda itu."


"Beres, Mas!"


Jay memeluk tongkat pel sambil memandang belakang Annisa yang berlenggak-lenggok menjauh. Pikirannya melalang buana mencari-cari ingatan semalam.


"Haa, dasar wanita ... bikin pusing saja."

__ADS_1


__ADS_2