
Pembelian betakoin berhasil.
"Kau bisa lihat ini, Sis!" Jay memamerkan ponselnya pada sistem. "Begini caranya jadi kaya raya. Lihat saja, sebentar lagi aku akan membeli sistemmu, Sis! Hahaha!"
[Anda tidak akan mampu membelinya meskipun Anda masih menjadi Jay Wijaya.]
"Kenapa tidak bisa? Semua bisa dibeli dengan uang. Katakan saja di mana letak servernya, aku akan menawarkan dengan harga yang sangat mahal."
[Uang dalam rekening Anda saat ini Rp 20.000.000,00 setelah pembelian betakoin. Anda miskin!]
"Makanya, beri aku misi baru. Kenapa kau selalu memberiku misi menyebalkan? Misi-misi itu juga selalu muncul saat terjadi sesuatu di sekitarku."
[Itu hanya kebetulan.]
"Kebetulan yang kau buat-buat sendiri! Dari mana juga kau bisa tahu begitu detailnya tentang orang-orang di sekitarku? Apa kau semacam dukun atau sejenisnya?" pancing Jay.
[Sistem meninggalkan percakapan.]
***
"Win, belikan kopi untukku," teriak karyawan pria.
Jay berdecih sambil menerima uang dari karyawan itu. Kurang ajar sekali bawahannya menyuruh seenak hati.
"Aku, juga mau, Win," pinta Siska.
"Dengan senang hati, Mbak Siska." Jay mengambil uang dari tangan Siska lalu mengecup uang itu. "Mau dibelikan kue sekalian? Aku yang traktir."
"Ih, Mas Winardi baik, deh! Aku mau kalau tidak merepotkan," jawab Siska.
"Masa cuma Siska saja yang dibelikan? Aku juga mau, Mas," ucap Tania.
"Siap, Mbak Tania."
"Kalau gitu, aku juga sekalian, Win." Karyawan pria tadi ikut-ikutan.
"Beli sendiri," ketus Jay, "Kau pikir gajiku lebih banyak darimu?"
"Pelit sekali, sih! Sama karyawan perempuan saja baik, kau sampai hafal nama mereka. Coba katakan, siapa namaku?"
"Masa bodoh." Jay berlalu pergi.
Sejak kembalinya Hanifa, Jay ditendang dari lantai atas. Tidak diragukan, Hanifa lebih terampil dan rajin darinya yang menghabiskan waktu hanya untuk berleha-leha saja. Dia pun dikembalikan ke lantai sebelumnya.
Jay senang disuruh membelikan sesuatu ke luar kantor. Dia tidak perlu repot-repot lagi membersihkan sampah-sampah yang penuh setiap jamnya.
__ADS_1
Dengan alasan 'disuruh' pula dia bisa melimpahkan tugasnya ke office boy lain. Kalau tidak, dia akan kabur ke lantai atas menemani Wijaya mengobrol seputar bisnis.
"Hai, Win! Kita kerja satu gedung, tapi jarang sekali ketemu," sapa Derry yang juga masuk kafe depan gedung kantor.
"Aku sibuk sekali, Der."
"Kau betah kerja di sini?"
"Lumayan. Oh, ya, semalam aku sudah mentransfer hutangku yang dulu."
"Iya, aku tahu. Aku buru-buru sekarang, duluan, ya?" Derry berlalu pergi setelah menerima kopinya.
Jay berdiri menunggu pesanannya tidak sabar. Sialnya, semua meja kafe telah terisi. Dan itu berhasil membuat emosinya menyala-nyala.
"Mbak, bisa tolong antarkan ke lantai tiga di JW Corp? Bilang saja untuk Siska cantik."
"Maaf, Kak, kami tidak melayani pesan antar."
Jay menyodorkan lima lembar ratusan ribu padanya. "Yakin?"
"Untuk hari ini kami spesial melayani pesan antar, Kak. Terima kasih."
Jay keluar kafe lalu mencari-cari tempat lain untuk makan siang. Arah pandangnya tertuju pada restoran dengan tulisan potongan harga lima puluh persen di depannya.
Namun, sebelum dia sampai ke tempat itu, langkahnya terhenti oleh suara gaduh di gang sempit depannya. Beberapa pria terbahak-bahak sambil mengucapkan kata-kata kotor menghina.
"Ayolah, main sama kita-kita sebentar. Nanti kita pesankan hotel yang bagus," kata yang lain.
"Jangan sembarangan! Minggir!"
"Malu-malu kucing dia. Ibunya saja kerja di kelab malam. Dia pasti sering diajak ibunya cari uang haram." Para pria terkekeh-kekeh.
"Aku bayar, deh, Ra. Seratus ribu sekali celup boleh, ya? Di sini ada lima orang. Kau bisa dapat lima ratus ribu sehari cuma membuka paha."
Jay benci sekali melihat orang-orang seperti mereka. Manusia-manusia tidak bermartabat yang hanya mengotori reputasi para pria.
Kedua tangan Jay sampai mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk kulit telapak tangan. Dia ingin menghajar para pria itu sampai kehilangan gigi mereka. Akan tetapi, dia mencoba tidak peduli. Sebab, Winardi, meskipun punya sedikit uang sekarang, dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa.
Ikut campur masalah para preman itu pasti membutuhkan kekerasan fisik yang kemungkinan besar bisa berakhir di kantor polisi. Jay akhirnya hanya mengintip sebentar lalu melewati orang-orang itu.
"Kalian jangan kurang ajar!"
"Halah, cuma pegang dikit saja pelit."
Rahang Jay mengetat. Dia pun berbalik ke gang itu. Kemunculannya membuat para preman itu terkejut, tapi mereka kembali menggoda wanita itu tanpa memedulikan Jay.
__ADS_1
"Lepaskan dia!" hardik Jay.
Salah satu dari mereka berjalan ke arah Jay. Mereka saling menantang dengan sorot mata tajam. Mirip dua harimau yang siap bertarung, tapi tidak kunjung menyerang karena ingin mengamati kekuatan lawannya.
Silau sinar matahari membuat wajah Jay tidak terlalu jelas terlihat. Pria itu memicingkan mata lalu membuka mulut lebar-lebar.
"Teman-teman, lihat siapa yang ada di sini sekarang!" seru pria itu.
"Tidak penting siapa dia. Cepat suruh dia pergi dan jangan sampai melapor polisi."
"Tch, lihat ke sini sebentar. Dia Winardi si kacung! Wow, lihat sekarang gayanya." Pria itu menggerakkan tangan mengikuti lekuk tubuh Jay.
"Kacung katamu?" Jay menggeram marah.
Tanpa peringatan, pria itu menampar-nampar wajah Jay. "Kau tidak ingat dengan kami? Wah, aku sedih sekali. Padahal, dari SMP sampai SMA kau sangat setia melayani kami."
"Itu Winardi yang dulu suka mengompol karena kita kerjain? Hahaha!" Pria lainnya mendekat.
"Aku tidak mengenal kalian," ucap Jay berusaha agar terdengar santai.
Dua pria lain ikut bergabung. Salah satunya memijat-mijat lengan berotot Jay.
"Wah, badannya bagus sekali sekarang. Jangan-jangan kau jual diri ke tante-tante, ya?"
"Bukan, Sob! Dia tidak mungkin suka perempuan! Pasti dia jual diri ke om-om." Semua orang mentertawakan Jay.
[Misi baru! Kalahkan semua preman itu! Hadiah tiap preman yang dikalahkan sebesar Rp 20.000.000,00.]
"Bagus! Kau tepat sekali munculnya, Sis. Aku dari tadi sengaja menunggumu sebelum menghajar mereka sampai jadi debu."
"Apa kau gila sampai bicara sendiri? Dan apa yang barusan kau bilang? Mau menghajar kami? Jangan melantur di siang bolong, Win!"
"Isi celananya saja tidak ada, sok-sokan mau melawan kami?"
"Aku punya ide bagus! Kita bawa perempuan ini ke hotel lalu kita gilir dia. Setelah itu, Winardi kita telanjangi di sana!"
"Wow, kau jenius, Rud!"
"Setelah selesai nanti, kita panggil polisi sekalian. Hahaha!"
"Aku juga ada ide, Rud! Kita bikin video mereka supaya mereka tidak melaporkan kita."
"Kalian sudah selesai berangan-angan?" Jay menyelusupkan kedua tangan di saku celana. "Imajinasi manusia rendahan seperti kalian aku akui sangat hebat! Benar-benar di luar logika manusia normal."
"Jangan banyak tingkah! Bawa dia ke sini sekarang!" perintah Rudi.
__ADS_1
[Hadiah Anda akan ditambah sepuluh kali lipat jika Anda berhasil membunuh semua preman itu.]